Batoer Hill Resort and Resto

Mendengar nama Batoer apa yang serta merta terlintas di pikiran saya adalah deret gunung api purba Batur. Sisa gunung api purba yang telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai heritage gugus Gunung Sewu Geopark. Terbentang mulai dari Nglanggeran sampai pantai Wedi Ombo.

Tak heran ketika saya memberi tahu seorang kawan bila foto senja yang saya kirimkan melalui whatsapp merupakan yang saya potret di Batoer Hill Resort, kawan saya mengira saya sedang berada di suatu tempat di sekitar pantai Wedi Ombo.

Sejujurnya, saya malah mengira Batoer Hill Resort didirikan di sekitar Gunung Nglanggeran atau tidak jauh-jauh dari Embung Nglanggeran. Mengingat Gunung Nglanggeran dan Embung Nglanggeran merupakan salah satu destinasi Eko Wisata yang mendapat apresiasi positif dari banyak pihak. Ia bahkan mendapatkan pengakuan sebagai Desa Wisata dengan pengelolaan terbaik.

Saya salah. Namun tidak sepenuhnya salah. Batoer Hill Resort terletak di dusun Batur, Putat, Patuk, Gunungkidul. Batur terletak berdekatan dengan kampung kerajinan Batik Topeng Bobung, berdekatan dengan Kampung Emas Plumbungan, sekaligus tidak jauh-jauh dari Kampung Pitu di Nglanggeran. Untuk menuju ke Batur Hill Resort saya bisa mengikuti jalan yang sama yang menuju Gunung Nglanggeran. Baca lebih lanjut

Iklan

Menikmati Senja di Jogja Sunset Park

Capturing Sunsut Moment at Jogja Sunset Park (Bukit Paralayang)

Capturing Sunsut Moment at Jogja Sunset Park (Bukit Paralayang)

Jogja Sunset Park merupakan destinasi baru di sisi timur kabupaten Bantul, di sebelahnya Pantai Parangtritis. Atau lebih tepatnya di sisi barat kabupaten Gunungkidul, di Purwosari, di atas Pantai Parang Endog. Penjelasan kedua ini merupakan versi orang Gunungkidul, versi saya, haha.

Meski saya tidak yakin siapa sebenarnya yang mengembangkan Bukit Paralayang sebagai taman matahari tenggelam, sebagai Sunset Park. Anggap saja orang Gunungkidul.

Saya mendengar keberadaan Jogja Sunset Park seingat saya baru menjelang bulan Ramadan kemarin. Saat itu konon Sunset Park ini pembangunannya dikebut agar pada bulan puasa siap menjadi destinasi wisata ngabuburit di kawasan pesisir selatan Jogja.

Bosan menghabiskan akhir pekan dengan berleha-leha tidur, kemarin pagi setelah kira-kira satu jam menunaikan kewajiban recovery run/workout saya tidur sampai kurang lebih jam 12:00, saya pun mulai kepikiran untuk mencari pelampiasan menghabiskan akhir pekan. Salah satu pilihan yang muncul adalah melewatkannya dengan menikmati sunset. Salah satu pilihannya adalah ke Jogja Sunset Park. Baca lebih lanjut

Mencari Gua Pertapan di Turunan Panggang Gunungkidul

Saya telah beberapa kali menyebut nama Gua Pertapan ketika saya menceritakan tentang betapa indahnya matahari terbit berbalut kabut di Watu Payung Turunan Geoforest Panggang Gunungkidul. Bahkan saya sampai menamai “Punthuk Setumbu”nya Watu Payung sebagai Bukit Pertapan. Karena di punggung bukit ini konon terdapat sebuah gua yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Gua Pertapan.

Bukit Pertapan  Turunan Watu Payung Girisuko Panggang Gunungkidul Yogyakarta

Bukit Pertapan Turunan Watu Payung Girisuko Panggang Gunungkidul Yogyakarta

Padahal, saat itu saya belum berhasil menemukan sendiri Gua Pertapan. Pencarian saya saat itu belum berhasil menemukan gua yang tak banyak dijamah orang. Jalan setapak di punggung bukit yang memang mempunyai banyak percabangan cukup menyesatkan saya ke belukar satu ke balik belukar yang lainnya.

Namun bukan saya namanya kalau tersesat sekali saja menjadi putus asa. Pencarian saya ulangi lagi pada Sabtu sore, 16 Juli 2016. Bukan 100% niat untuk ke Pertapan, melainkan alternatif ketika gerimis sore itu menggagalkan perjalanan saya ke Pantai Kayu Arum lagi.

Hawa adem yang sempoi menyambut begitu saya memarkir motor tidak jauh dari pohon sawo milik warga setempat. Seolah tak menghiraukan kesejukan yang mengajak berleha-leha itu saya langsung bergegas, berjalan cepat menyusuri setapak menuju ke balik bukit, ke Gua Pertapan. Seorang pecari rumput yang kebetulan saya temui saya sapa sekenanya saja. Baca lebih lanjut

Ke Laut Bekah Saja

Laut Bekah Gunungkidul

Tebing Laut Bekah Gunungkidul

Sebenarnya, Minggu siang tadi (8 Mei 2016) saya tidak sedikit pun mempunyai rencana untuk pergi ke pantai, Pantai Laut Bekah . Yang terletak di Dusun Temon, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, sisi barat daya Gunungkidul.

Niat yang menggerakkan kaki saya ke luar rumah hanyalah untuk riding around. Berkendara sepeda motor kemana saja, membakar Pertamax, kemudian balik pulang ke rumah lagi.

Sudah pukul 8 lebih ketika saya mengarahkan sepeda motor ke selatan, ke Paliyan, Trowono, mengikuti JJLS ke barat sampai di Purwosari. Sampai di suatu ruas Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang tembus ke Parangtritis, terlihatlah sebuah plang nama bertuliskan Laut Bekah. Baca lebih lanjut

4 Hal Menarik di Puncak Green Village Mertelu, Gedangsari-Gunungkidul

Bisa dibilang jalan-jalan saya kemarin sore ke Puncak Green Village yang terletak di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah perjalanan tanpa rencana. Puncak Green Village menjadi ide spontan ketika siang harinya saya ngobrol sambil wedangan di rumah dengan Maryanto, Yuliarto dan Teguh. Puncak di Desa Mertelu ini menjadi pilihan pada hari Sabtu yang memang seharusnya masih menjadi bagian liburan pergantian tahun ini.

image

Alasan utama kami ke puncak ini sebenarnya adalah potensi kemacetan di jalan-jalan menuju pantai selatan dan ke spot-spot wisata yang lebih dulu terkenal seperti Goa Pindul dan Sri Gethuk. Alasan pendukungnya adalah karena kami belum banyak mengeksplorasi (baca: memotret) sisi menarik di sebelah utara pegunungan seribu ini.

Kira-kira pukul 16:00 WIB kami berangkat dengan berkendara sepeda motor matic. Tentu saya membuka Google Map sebelum berangkat ke sana. Ada dua alternatif jalan yang bisa dilalui bila kami berangkat dari kec. Paliyan. Melalui arah Gading-Sambi Pitu-Gedangsari nampak lebih dekat. Namun Google Map memberi warna merah di sekitar pertigaan Gading. Artinya ada kemacetan. Mengingat ruas ini adalah jalan utama dari luar kabupaten. Mau tidak mau kami memilih jalan memutar dengan melewati Siyono-Wonosari-Nglipar-Gedangsari.

Perjalanan sore itu kali lewatkan dengan santai. Sore habis hujan melewati jalan berkelok yang di kiri kanannya terbentang sawah dan pepohonan yang menghijau yang menyelimuti bukit-bukit kapur akan terlalu sayang dilewatkan dengan ketergesa-gesaan. Dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam kami tiba di Green Village sudah jam 17:00 WIB lebih. Kecepatan kami pastinya kurang dari itu. 8 km terakhir yang kami lalui adalah jalan corblok yang bersambung jalan berbatu. Pastinya tidak nyaman ditempuh oleh pemotor matic seperti kami.

Kami pun segera memarkir motor di pelataran parkir, membayar tarif parkir Rp 3000,-/motor dan tak lupa “melepas beban” ke toilet yang baru saja dibangun bersebelahan dengan pelataran parkir.

Tidak jauh dari pelataran parkir ini sudah ada banyak penjual aneka jenis minuman seperti air mineral, teh botol, minuman berkarbonasi, makanan ringan dan lain-lain. Saran saya belilah minuman dan makanan ringan secukupnya sebelum menuju puncak Green Village. Saya kira di atas sana kita akan betah berlama-lama sedangkan di atas sana tidak ada orang berjualan.

Sebenarnya apa saja sih 4 Hal Menarik di Pucak Green Village yang ingin saya bagikan? Ini:

1. Selfie dan Orang-Orang Berselfie

Di sepanjang jalan setapak dari pelataran parkir menuju Puncak Green Village saya terpesona dengan banyaknya orang-orang yang berfoto selfie. Keriangan dan wajah-wajah ceria mereka, saya tidak peduli apakah keceriaan mereka tulus atau dibuat-buat, bagi saya ini menunjukkan optimisme di awal tahun.
Baca lebih lanjut

Bukit Sodong, Pesona Paliyan

Sunset view on top of Sodong Hill

Sunset view on top of Sodong Hill

Bila ditanya dimana tempat paling eksotis dari penjuru kecamatan Paliyan, tentu jawab saya, eksotisme itu terletak tepat di Puncak Bukit Sodong. Menjelang Matahari terbenam di ufuk barat, alam telah siap dengan sepenuh sensasi.

Baca lebih lanjut