Pantai Kayu Arum: Menemukan Melankoli di Hamparan Pasir Putih

Hamparan Pasir Putih di Pantai Kayu Arum - Kanigoro Gunungkidul Yogyakarta

Hamparan Melankoli di Pantai Kayu Arum – Kanigoro Gunungkidul Yogyakarta

Hamparan pasir putih di pantai yang masih sepi, yang belum banyak terjamah oleh kegaduhan, yang masih tersembunyi dari ketamakan selalu menjadi daya yang akan menarik jiwa saya untuk kembali.

Pantai seperti ini masih ada. Secara tidak sengaja saya menemukan jiwa ini terdampar di pantai yang namanya baru saya ketahui. Pantai ini bernama Pantai Kayu Arum. Terletak di Desa Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul. Persisnya di sebelah barat Baron Techno Park. Bisa ditempuh dengan jalan kaki kurang lebih 20 menit melewati jalan setapak.

Peladang di sekitar Pantai Kayu Arum Kanigoro Gunungkidul Yogyakarta

Peladang di sekitar Pantai Kayu Arum Kanigoro Gunungkidul Yogyakarta

Saya : Mbakyu, badhe ndherek tanglet, radosan dateng pantai ingkang pundi nggih? Leres menika?

Peladang : Pantai Arum nggih mas? mrika, liwat belah wit cikal. lempeng kemawon.

Saya : Maturnuwun mbakyu 🙂

Tentu saja bukan jalan setapak yang mudah. Petugas Keamanan Baron Techno Park yang saya tanyai mewanti-wanti saya untuk sering-sering menanyakan arah ke pantai kepada peladang yang saya temui.  Bila tidak salah ingat, saya sampai tiga kali bertanya sampai hidung ini mencium bau pantai.

Pantai Kayu Arum Jalan Setapak Berumput

Pantai Kayu Arum : Jalan Setapak dan Rerumputan

Sendirian meniti setapak kecil yang ditumbuhi aneka rumput, onak dan duri, bagi saya merupakan perjalanan yang kontemplatif. Saya dengan mudah bisa berdamai dengan diri sendiri. Bebas terdiam maupun tersenyum. Melihat, mendengar, meraba, merasakan, tanpa banyak bertanya.

Sekedar memotret daun nyiur yang membentuk siluet yang syahdu, menemukan petani yang mencari pakan ternak, bertemu dengan ketegaran kakek nenek di ladang, melewati kebuh singkong yang luas menjadi bahasa yang bisa digunakan untuk berbicara.

Padang Rumput Kecil Terapit Bukit Bersebelahan dengan Pantai Kayu Arum Kanigoro Gunungkidul

Padang Rumput Kecil Terapit Bukit Bersebelahan dengan Pantai Kayu Arum Kanigoro Gunungkidul

Sebagaimana perjalanan yang tidak pernah sia-sia, Gunungkidul pun selalu punya kejutan. Kali ini Gunungkidul yang terkenal cadas dan tandus memberi saya kejutan berupa sepetak padang rumput hijau. Padang rumput yang kecil, tapi kesejukan yang dibawanya sampai ke hati. Selintas terpikir untuk duduk-duduk atau sekedar rebahan di sini. Sejurus kemudian terbersit untuk tidak membuat rumput-rumput itu patah hati kepada manusia.

Saya memotretnya saja.

Hamparan Bunga Rumput di Pantai Kayu Arum Kanigoro Gunungkidul

Hamparan Bunga Rumput di Pantai Kayu Arum Kanigoro Gunungkidul

Kamis, 14 Juli 2016 sore habis Ashar itu adalah sebuah keberuntungan. Di Pantai Kayu Arum saya hadir sebagai satu-satunya pengunjung.

Sactuari place for every soul Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Sactuari place for every soul Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Sore itu Kayu Arum bagaikan sehampar pantai pribadi dengan pasir putih bersih yang diterpa matahari sore yang masih hangat, dihampiri bayangan-bayangan punggung bukit dan daun pandan, dan bayang-bayang kerinduan yang entah dibuat oleh apa.

Sebentuk bayang-bayang akan kerinduan di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Sebentuk bayang-bayang akan kerinduan di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Hamparan Melankoli di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Hamparan Melankoli di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Meletakkan Jiwa di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Meletakkan Jiwa di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

 

Ketika handphone menjadi satu-satunya teman bicara:

 

Shalat Ashar di Pantai Kayu Arum

Kalau sial sering mengantarkan manusia untuk kembali kepada Rabb -nya, keberuntungan sebaliknya. Keberuntungan seringkali membuat orang lupa. Begitu juga keberuntungan yang dibawa oleh Arum. Keberuntungan yang membawa saya menjadi lupa waktu.

Tiba-tiba sudah pukul 5 sore ketika saya ingat bahwa saya belum shalat menunaikan shalat Ashar. Sempat terpikir dimana saya akan shalat, tidak ada mushala di sini. Nampaknya juga tidak ada fasilitas air bersih untuk berwudlu di sini.

Kali ini saya memutuskan untuk shalat dengan alas yang seumur hidup belum pernah saya gunakan. Kali ini untuk pertama kalinya saya akan shalat beralaskan hamparan pasir putih, di pinggir pantai. Sedianya saya akan wudlu dengan air laut. Bukankah air laut termasuk jenis air suci yang mensucikan yang bisa digunakan untuk berwudlu.

Peladang dan Sumur Air Tawar di Pantai Kayu Arum

Peladang dan Sumur Air Tawar di Pantai Kayu Arum

Namun saya teringat dengan sumur air tawar yang terlihat ketika saya tadi berjalan ke arah pantai. Jadi sebelum benar-benar menggunakan air asin, saya mencari air sumur dulu untuk berwudlu. Alhamdulillah di sumur itu terdapat tali dan ember yang bisa saya gunakan untuk menimba air, kemudian berwudlu di sana.

Shalat Ashar beralaskan pasir putih pantai sore itu menjadi pengalaman spiritual tersendiri. Menjadi pengalaman berbicara dengan sang Rabb di tengah-tengah alam yang tak henti bertasbih dengan hembus angin, debur ombak dan segenap suara alam. Jawaban suara alam akan dua salam yang saya ucapkan.

Iya sore itu mungkin saya sedang tidak piknik, tidak sedang beperjalanan, mungkin begini adalah bertadabur alam.

Kelapa Muda di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Kelapa Muda di Pantai Kayu Arum Kanigoro Saptosari Gunungkidul Yogyakarta

Sebenarnya sebelum meninggalkan Arum menjelang Maghrib itu saya ingin melepaskan dahaga dengan membeli Kelapa Muda yang mungkin dijual oleh bapak-bapak yang tadi saya lihat di sumur ladang. Setandan kelapa muda hijau yang menggoda kerongkongan saya yang mengering itu masih nampak di bangunan semacam gubug tidak jauh dari bibir pantai. Saya berusaha memanggil siapa pun yang menjual kelapa muda hijau ini.

Dua, tiga sampai panggilan yang kesekian tanpa jawaban. Mungkin bapak-bapak penjual kelapa muda ini sudah pulang ke haribaan keluarga. Meninggalkan dagangannya kepada kejujuran dan prasangka baik. Tanpa takut ada yang mengambilnya tanpa hak.

Di ladang-ladang sekitar pantai ini saya memang melihat ada banyak prasangka baik. Prasangka baik itu terlihat dari kambing dan sapi yang ditinggal di kandang-kandang tak berpenunggu. Khusnudzan itu nampak dari hasil pertanian yang disimpan dan ditinggal di gubung gubug tak berpenjaga. Semoga kearifan ini tidak tercemar oleh kerakusan atas nama moderenisasi.

Saya melangkah pulang sembari berjanji untuk kembali … mengunjungi melankoli …

Iklan

13 thoughts on “Pantai Kayu Arum: Menemukan Melankoli di Hamparan Pasir Putih

  1. Habis minum berapa botol mas? Lumayam juga jalan kakinya…
    Tulisannya bagus, ceritanya oke, suasananya dapett, gambarnya kece semuaa bikin keburu pingin ke sana e.

    • sampai di parkiran motor di Baron Techno Park, jalananya sangat bagus. Setelah itu berjalan kaki melewati setapak sekitar 20 menit 🙂

      layak dicoba mas dokter

  2. Ping-balik: Mencari Gua Pertapan di Turunan Panggang Gunungkidul | Gadget, Running & Travelling Light

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s