Karangmojo B Menyembelih Hewan Kurban

Begitu selesai melaksanakan shalat Ied di Lapangan Desa Grogol, jamaah segera bergegas ke masjid masing-masing untuk melakukan penyembelihan hewan kurban. Penyelesaian hewan kurban pada hari itu harus bergegas mengingat hari kurban bertepatan dengan hari Jum’at. Seyogyanya masyarakat/jamaah menginginkan daging kurban selesai dibagikan sebelum waktu shalat Jum’at.

Saya dulu pernah mendengar jikalau shalat Ied bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi pria yang sudah melaksanakan shalat Ied tidak dikenakan kewajiban shalat Jum’at. Saya sendiri memang tidak tahu pasti apakah hal itu benar. Jadi untuk amannya kami tetap shalat Jum’at. Lagi pula sekarang masjid jami’, masjid yang digunakan untuk shalat Jum’at ada dimana-mana dan mudah dijangkau. Termasuk di dusun dimana kami tinggal.

Informasi Perolehan Korban di Desa Grogol

Dusun Grogol 6 sapi 6 kambing
Dusun Karangmojo a 4 sapi 7 kambing
Dusun Karangmojo b 4 sapi 2 kambing

Dusun Senedi 2 sapi 11 kambing
Dusun Gerjo 4 sapi 5 kambing
Dusun Tungu 4 sapi 11 kambingTotal 24 sapi 42 kambingJumlah ini bisa bertambah sewaktu-waktu

Informasi perolehan kurban ini kemarin diumumkan oleh Pak Edhi Kusmiyanto menjelang dilaksanakan shalat Ied. Persis seperti yang kemudian saya posting di group facebook Konco Ndeso. Jadi bila Anda ingin mendapatkan update tentang apa yang terjadi di desa bisa bergabung di group ini.
Jumlah hewan kurban yang banyak ternyata bukan halangan untuk menyelesaikannya sesuai target sebelum shalat Jum’at. Begitu pun di Masjid At Taqwa Karangmojo B yang di’pangegani’ oleh Pak Suradi. Tentu saja dengan partisipasi semua warga.
Benar bila ada yang mengatakan bahwa Kurban sebenarnya merupakan ibadah sosial. Dalam penyelesaian hewan kurban semua masyarakat berpartisipasi. Tua muda remaja bahkan anak-anak. Tidak ada kelas-kelasan sosial. Semua turun tangan memegang daging tulang bahkan jeroan hewan kurban. Kecuali saya, saya malah asyik foto-foto. hehehe
Berikut ini cerita saya dalam foto ponsel:
Penyembelihan Hewan Kurban di Dusun Karangmojo B

Penyembelihan Hewan Kurban di Dusun Karangmojo B

Pak Suradi, penyembelihnya adalah yang berkaos merah

Pak Suradi, penyembelihnya adalah yang berkaos merah

Foto-foto lebih banyak bisa dilihat di Album Google + saya di :

https: //plus.google.com/u/0/photos/110405561136709185275/albums/5803468131848642001

Urunan Sapi Untuk Kurban

Penduduk desa dimana saya tinggal, khususnya jamaah masjid di kampung saya bukanlah masyarakat yang secara ekonomi bagus. Namun kesederhaan ekonomi mereka tidaklah menyurutkan semangat mereka untuk berkurban di tiap hari raya Iedhul Adha. Terbukti di masjid dengan jamaah kurang dari 100 KK ini jumlah jamaah yang berkorban meningkat dari tahun ke tahun.

Benar bila ada orang yang mengatakan bahwa untuk berkurban itu yang paling penting adalah niat dan ikhlas. Bila niatnya sudah benar maka bagaimana nanti akan berkorban akan mengikuti. Kemampuan ekonomi yang terbatas dan harga hewan kurban yaitu sapi dan kambing yang selalu naik di hari iedul adha nyatanya bisa disiasati.

Misalnya harga sapi yang mahal. Tentu akan sangat berat bagi jamaah di masjid di lingkungan saya tinggal untuk satu orang berkorban satu sapi. Maka solusinya adalah urunan. Untuk satu ekor sapi bisa dibeli secara urunan oleh paling banyak tujuh shohibul qurban. Satu sapi bisa digunakan paling banyak tujuh orang berkorban. Aturannya, haditsnya, seperti itu ya? 🙂

Beberapa waktu lalu, Pak Suradi, sebagai seorang tokoh masyarakat mengajak jamaah untuk urunan berkorban sapi. Dan Pak Suradi mendapatkan anggota yang akhirnya dijadikan dua kelompok kurban. Atau dengan kata lain dari yang bersedia urunan itu bisa digunakan untuk membeli dua ekor sapi.

Oleh Pak Suradi masing-masing diajak untuk urunan Rp 1.300.000,-, sesuai kemampuan ekonomi warga kampung dilingkungan saya tinggal. Bila dihitung 7 X Rp  1.300.000,- maka akan terkumpul uang sebanyak Rp 9.100.000,-

Dan rupanya ketika kemarin Ayah saya dan Pak Suradi melihat-lihat harga sapi di pasar hewan Siyono Harjo, uang Rp 9.100.000,- belum cukup untuk membeli seekor sapi dengan besar yang layak untuk berkorban. Harga sapi melambung melebihi Iedul Adha tahun-tahun sebelumnya. Jadi solusinya uang urunan mau ditambah lagi, atau ada yang akan menalangi? hehehe

Korban tahun sebelumnya:

Regenerasi “Jayeng”

Telah saya tuliskan berulang-ulang, bahwa sejak dulu, di desa dimana saya tinggal, teh merupakan minuman default untuk setiap acara. Apa yang saya lihat di hajatan pada beberapa waktu lalu pun belum berubah. Termasuk siapa peramu sajian teh (jayeng) untuk acara hajatan di desa dimana saya tinggal. Masih bapak-bapak yang ini dan itu saja. Bapak-bapak yang sudah mengabdi sebagai jayeng desa sejak saya masih kecil.

Jayeng di Acara Hajatan

Jayeng di Acara Hajatan

Tidak ada regenerasi. Sampai sekarang belum kelihatan ada pemuda yang berminat meneruskan pengabdian bapak-bapak itu untuk menyajikan kekhasan wedhangan dalam acara-acara hajatan, gotong-royong, sambatan, rembug desa, dan lain-lain. Dulu sebenarnya saya berharap kepada teman saya, yaitu Si Kus dan Sutan yang di antara teman sebaya adalah yang paling piawai dalam meramu teh. Namun mereka sekarang telah memilih jalannya untuk mengadu nasib di rantau.

Saya jadi termenung membaca komen Pak Hery Nugroho di suatu foto yang saya unggah di jejaring sosial. Kalau tidak ada regenerasi, akankah kelak wedhang teh ini kedudukanya dalam sebuah hajatan, sambatan, gotong-royong, gugur gunung dan acara rembug desa akan digantikan oleh teh botol dan teh kotak.

Bukan hal yang mengada-ada karena saat ini gelas-gelas air putih di meja prasmanan telah digantikan oleh botol-botol air kemasan ukuran gelas.

Pramu Ladi/Juru Ladi di Acara Hajatan

Pramu Ladi/Juru Ladi di Acara Hajatan

Masih di acara hajatan yang sama di desa dimana saya tinggal. Seharusnya Pramu Ladi/Juru Ladi merupakan tugas para pemuda di suatu desa. Namun foto di atas bercerita sebaliknya. Dengan wajah-wajah lama yang tetap eksis. …

Ada satu pertanyaan, apa tugas-tugas seperti ini memang sudah sampai pada masanya di-out sourcing-kan? Dimana keluarga yang punya hajatan tinggal membayar sejumlah uang kepada penyedia layanan pesta dan terima beres saja tanpa keterlibatan lingkungan sosial dimana mereka tinggal. 🙂 Dengan kata lain sistem sosial yang makin individualis menjadi mudah diterima.

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Selain kemampuan teknis dan artistik beserta dukungan alat (kamera, lensa, dan lain-lain), ada satu hal lagi yang menentukan gambar-gambar bagus ditampilkan dalam foto. Yaitu keberuntungan.

Foto di atas saya ambil di tempat biasa. Di atas persawahan tidak jauh dari rumah saya. Di tempat ini saya sering kali melihat pemandangan bagus. Langit yang berseri-seri dengan warna biru yang bersih dan awan yang menawan.

Namun pada pagi hari ini saya juga kurang beruntung. Ketika saya sedang membawa kamera yang siap digunakan, langit malah kelihatan pucat. Langit sedang murung. Mendung dan awan yang muncul pun nampak biasa-biasa saja.

Langit ceria dan keberuntungan tidak sedang menghampiri. Jadi pagi ini tidak bisa saya gandeng dan ajak ke sini untuk saya pamerkan ke Anda sekalian.

Semoga lain waktu keberuntungan yang menjemput saya. Eh saya ya yang harus menciptakan keberuntungan untuk diri saya sendiri. 🙂

Awan Melintang

Awan Melintang di Atas Desa

Awan Melintang di Atas Desa

 

Awan melintang seperti ini, di daerah dimana saya tinggal, pada tahun 2006 sempat dikait-kaitkan dengan gempa besar yang menjadi bencana di Yogyakarta dan sekitarnya. Memang tidak ada bukti ilmiah yang bisa menjelaskan keterkaitan awan melintang dengan gempa, maka sore tadi ketika awan ini saya lihat, dan saya menfoto-foto awan itu untuk kemudian men-tweet-nya, saya memberikan hashtag #takhayul. Hal itu memang saya anggap sebagai takhayul sampai ada yang bisa memberikan penjelasan ilmiah. 🙂

Langit senja tadi lama-lama menjadi kelihatan makin indah makin asyik untuk di-tweet-kan. Boleh foto-foto-nya dilihat di tweet-tweet berikut:

 

 

Gotong Royong

Di desa dimana saya tinggal secara turun temurun mengenal apa yang dinamakan gotong royong. Bagi yang belum tahu apa itu gotong royong, gotong royong adalah sekumpulan orang yang bekerja sukarela untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang mereka anggap merupakan kepentingan bersama dan kepentingan umum. Mereka tentu saja bekerja tanpa harap imbalan uang. Benar ngga definisi saya ini ditilik dari pelajaran PMP atau PPKn? hehe

Sependek yang saya tahu, di desa dimana saya tinggal mengenal dua macam gotong royong, yaitu Gugur Gunung dan Sambatan.

Gugur Gunung

Saya pikir kata Gugur Gunung mulanya merupakan kata-kata penyemangat. Pekerjaan sebesar gunung pun kalau dikerjakan bersama-sama pasti akan runtuh, akan selesai. Gugur gunung umumnya merupakan kerja kerelawanan yang dilakukan penduduk pada jaman aki nini untuk membuat fasilitas-fasilitas publik. Misalnya jalan. Kenyataannya jaman dulu memang batu-batu gunung yang besar-besar pun bisa benar-benar diruntuhkan untuk ditata sebagai material untuk membuat jalan.

Maklum pada jaman simbah-simbah aki nini, pemerintahan belum berjalan sebagai mana mestinya. Atau belum ada pemerintahan? Jadi fasilitas dan sarana umum niscaya ada tanpa inisiatif dan komitmen dari masyarakat untuk dikerjakan secara swadaya dan sukarela.

Memang sekarang ada kehadiran pemerintah di tengah-tengah masyarakat. Atau masih sama seperti jaman aki nini dulu? Sama sama belum ada pemerintahan? 😉

Sambatan

Saya menduga kata sambatan berasal dari kata dasar “sambat” dalam bahasa Jawa, sambat berarti mengeluh. Mengeluh bukan dalam artian galau. Penduduk desa yang dari dulu sampai sekarang didominasi oleh mata pencarian petani musiman selalu mempunyai masalah. Bayangkan ketika tiba masanya musim hujan. Semua petani akan menanam. Begitupun ketika musim panen. Semua memanen.

Pekerjaan-pekerjaan sulit bila dikerjakan sendiri-sendiri. Mereka mulai mengeluh. Mengeluhkan bagaimana menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik. Dari situ mereka mulai mengenal untuk saling membantu. Misalnya untuk hari ini secara bersama-sama memanen di ladang si Suto, besuk di ladang si Noyo, si Bero, dan seterusnya. Mereka akhirnya tahu kalau pekerjaan akan lebih tertangani bila dikerjakan secara bersama-sama.

Ada banyak pekerjaan di desa dimana saya tinggal yang perlu diselesaikan secara sambatan selain pekerjaan di ladang pertanian. Sampai saat ini diketahui ada sambatan mendirikan rumah, membuat kandang dan lain-lain.

Pakdhe Tasiman

Pakdhe Tasiman

Bapak Tasiman/Pakdhe Tasiman, tiap guratan  di wajah beliau terbaca apa arti sebuah pengabdian. Bagi saya beliau adalah ikon Sambatan dan Gugur Gunung di desa dimana saya tinggal. Beliau adalah tokoh yang selalu mengingatkan pentingnya arti gotong-royong bagi masyarakat lingkungan. Dia tidak bosan-bosannya mengingatkan untuk wil jinawil menyebarkan kabar sambatan, gugur gunung gotong royong tandang gawe. Tidak terhitung berapa kali beliau telah memukul kenthongan di pojok rumahnya sebagai tanda tiap kali masyarakat melangsungkan Sambatan dan Gugur Gunung. 🙂

Gerah

Siang hari ini tadi saya rasakan sangat gerah. Saya terbangun dari tidur siang dengan tubuh bermandikan keringat. Mau tidur lagi, tapi suhu udara seperti ini membuat tidur siang jadi tidak enak. Oh, iya waktu menunjukan jam makan siang. Tapi lagi-lagi karena suhu gerah berlebih, rasanya saya jadi kurang berselera untuk makan siang. Saya memilih untuk banyak-banyak minum air jernih dulu.

Beberapa saat kemudian saya makan juga. Rasa lapar sudah tidak tertahankan. Kemudian saya ambil air wudlu di luar rumah untuk segera shalat Dhuhur. Di luar rumah matahari terik panas menyengat.

Rencananya setelah Dhuhur saya bersama-sama ayah, simbok, adik dan para tetangga akan memanen jagung di ladang Lor Cangkring, namun lagi-lagi karena panas gerah berlebih, saya menunda ke ladang setelah shalat Ashar. Sekaligus biar tidak tergesa-gesa terburu waktu ketika bekerja di ladang karena takut terlalu sore menunaikan Ashar. Akhirnya ke ladang dan kerjaan memanen selesai.

Langit berubah dari terik menjadi mendung pekat ketika kami dalam perjalanan angkut-angkut panenan jagung. Dan hujan turun beberapa saat setelah panenan jagung selesai diangkut ke rumah. Bress!

Karangmojo B : Mendung

Karangmojo B : Mendung

Malah jadi postingan curhat. hehe! Berlanjut curhat berikutnya dalam posting terpisah selanjutnya. 🙂

Selamat Sore (dari Ladang Jagung)

Karangmojo B : Selamat sore

Karangmojo B : Selamat sore

Langit sore yang indah di atas hutan di sebelah barat desaku (hutan Nggagakan) membuatku tidak tahan untuk tidak menggenapi ucapan selamat pada hari ini. Selamat sore. Dengan foto ini berarti aku sudah memuat tiga foto langit. Langit pagi Selamat Pagi, langit siang dan kali ini langit sore. Dasar pecinta langit. 😀

Ngomong-ngomong masih ingat ceritaku bertanam jagung pada awal November tahun lalu? Atau belum baca? Kalau belum atau sudah lupa silakan baca di Menanam Jagung Jangan Jemu-Jemu di sini. Ceritanya seru. hehe

Cerita itu akan segera berakhir secara Happy Ending. Sore ini tadi, aku dan adiku menengok ladang-ladang yang kami tanami jagung itu. Tanaman jagung tumbuh cukup bagus. Tongkol jagung besar-besar. Satu buah jagung yang aku coba kopas memamerkan biji-biji jagung berwarna kuning keemasan. Minggu-minggu ini sudah siap panen. 🙂

Karangmojo B : Tongkol Jagung

Karangmojo B : Tongkol Jagung

Foto-foto lebih banya dapat dilihat di Album Google+ di sini.

Selamat Pagi

Karangmojo B: Langit Biru

Karangmojo B: Langit Biru

Cuaca bagus. Langit biru. Cerah. Tanah menyebarkan bau basah sisa-sisa hujan semalam. Bulir-butir embun di pucuk-pucuk daun-daun hijau memantulkan cahaya keemasan, membiaskan banyak bayang(mu). Membiarkan aku mengambil satu atau dua foto untuk untuk dibagi dengan mu, di sini. 🙂

Karangmojo B : Embun Pagi

Karangmojo B : Embun Pagi

Semua nampak indah. Dan kalaupun pagi ini aku belum bisa jogging karena belum punya alas kaki sebentuk Nike LUNARGLIDE+ 3 , aku masih bisa blog jogging, tentu dengan sensasi yang berbeda tanpa terpaan udara pagi yang segar di wajah. 🙂

Selamat Pagi!

Update:

Langit di tempat yang sama pada jam 09:56 wib sudah mulai mendung.Foto langit yang pertama diambil jam 08:24 wib. Bisa jadi beberapa saat lagi akan turun hujan lagi seperti kemarin dan kemarinya kemarin. 🙂

Karangmojo B : Langit bermendung

Karangmojo B : Langit bermendung