Musim Panen di Gunungkidul

Saat ini semua penduduk di desa dimana saya tinggal sedang menikmati masa-masa bahagia. Bukan bahagia menyambut Pemilihan Umum yang jatuh pada tanggal 9 April kelak tentu saja. Musim panenlah yang membuat penduduk desa berbahagia.

Musim panen kali ini tentu disyukuri. Panen Jagung melimpah. Apalagi panenan padi, lebih melimpah. Curah hujan yang bagus dari musim tanam sampai menjelang musim panen padi adalah penyebab bagusnya panen padi kali ini. Begitu juga pola tanam para petani yang sudah lebih baik. Panenan padi yang melimpah di Gunungkidul ini semoga bisa menjadi tambahan cadangan pangan ketika panen padi di daerah-daerah lumbung seperti di Sukabumi, di Pantura dan lain-lain sedang menurun akibat dilanda banjir bandang.

Beban kerja para petani di musim panen memang selalu meningkat. Betapa tidak ketika para petani harus berburu dengan waktu untuk memastikan padi, jagung, kedelai dan panenan lain terselesaikan dengan baik dan cepat agar bisa segera menanam untuk musim berikutnya. Tak heran terkadang saya mendengar para petani sedikit berkeluh karena kelelahan. Mendengar ada petani mengeluh demikian, biasanya saya menimpali, “Selelah-lelahnya orang bekerja ekstra mengurus panen, orang-orang yang tidak panen tentu akan lebih lelah, cape hati cape pikiran :)”

Iklan

Gerah

Siang hari ini tadi saya rasakan sangat gerah. Saya terbangun dari tidur siang dengan tubuh bermandikan keringat. Mau tidur lagi, tapi suhu udara seperti ini membuat tidur siang jadi tidak enak. Oh, iya waktu menunjukan jam makan siang. Tapi lagi-lagi karena suhu gerah berlebih, rasanya saya jadi kurang berselera untuk makan siang. Saya memilih untuk banyak-banyak minum air jernih dulu.

Beberapa saat kemudian saya makan juga. Rasa lapar sudah tidak tertahankan. Kemudian saya ambil air wudlu di luar rumah untuk segera shalat Dhuhur. Di luar rumah matahari terik panas menyengat.

Rencananya setelah Dhuhur saya bersama-sama ayah, simbok, adik dan para tetangga akan memanen jagung di ladang Lor Cangkring, namun lagi-lagi karena panas gerah berlebih, saya menunda ke ladang setelah shalat Ashar. Sekaligus biar tidak tergesa-gesa terburu waktu ketika bekerja di ladang karena takut terlalu sore menunaikan Ashar. Akhirnya ke ladang dan kerjaan memanen selesai.

Langit berubah dari terik menjadi mendung pekat ketika kami dalam perjalanan angkut-angkut panenan jagung. Dan hujan turun beberapa saat setelah panenan jagung selesai diangkut ke rumah. Bress!

Karangmojo B : Mendung

Karangmojo B : Mendung

Malah jadi postingan curhat. hehe! Berlanjut curhat berikutnya dalam posting terpisah selanjutnya. ­čÖé