Hand on Review Oppo R7s Gold

Selama lebih dari satu bulan terakhir di linimasa baik di Facebook maupun di Twitter saya lihat deras berseliweran tanda pagar atau hashtag #AllAboutFlash dan menangkan sebuah smartphone Oppo R7s. Ya, lomba yang diselenggarakan oleh Oppo Community itu banyak diikuti oleh teman-teman Facebook maupun teman-teman Twitter saya.

Batas waktu pengiriman karya lomba blog tersebut sepertinya sudah berakhir. Kini mungkin waktunya teman-teman menunggu dengan harap-harap cemas apakah ia akan keluar sebagai pemenang atau bila belum silakan mencoba lagi pada kesempatan yang akan datang. Nah, sambil menunggu hadiah dari Oppo tiba di meja, silakan teman-teman membaca review singkat Oppo R7s yang saya tulis. Kebetulan selama seminggu saya beruntung bisa bermain-main dengan review unit Oppo R7s yang dikirim oleh pihak Oppo.

R7s merupakan varian dari seri Oppo R7, yang bersaudaraan dengan seri Oppo R7 lite dan Oppo R7s plus yang berukuran layar lebih bongsor. Membuka kotak paket pengiriman unit Oppo R7s yang berukuran lebih besar dari biasanya saya mendapatkan isinya yang cukup istimewa. Kotak pengiriman itu berisi dus Oppo R7s warna rose gold, kaos Oppo Community, Topi dan Buku Agenda warna hijau yang keseluruhan memberi tema modern sekaligus sangat muda.

Saya pun tidak sabar untuk segera melakukan unboxing. Di dalam dus warna putih itu berisi: 1 unit smartphone Oppo R7s, 1 unit VOOC Charger, 1 unit headset dan 1 nano SIM ejector. Mencoba menyalakan unit Oppo R7s ternyata smartphone itu baterenya sudah diisi penuh sebelum dikirimkan ke saya. Pengalaman  dimulai dengan  sebuah smartphone yang mampu melakukan booting dalam waktu cepat. Mengkoneksikan R7s ke wi-fi hotspot dan memasukkan Google ID agar smartphone ini selekasnya bisa berguna. Baca lebih lanjut

BARON TECHNO PARK Destinasi Wisata Edukasi di Gunungkidul

Baron Techno Park di Gunungkidul, tempat dimana energi baru dan terbarukan saat ini dikaji, diteliti dan dikembangkan.

Gunungkidul tersohor akan pantai pasir putih yang eksotis, pegunungan karst yang khas untuk menikmati sunset dan sunrise, gua dengan stalaktit dan stalakmit serta keunikan yang tidak ada duanya, curuk dan air terjun, pun budaya lengkap dengan adat istiadat kejawaannya.

Namun keberadaan Gunungkidul sebagai destinasi wisata edukasi belum banyak dilirik orang. Padahal di bumi Dhaksinarga ini telah dibangun sarana uji terap, edukasi dan wisata teknologi pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Baron Techno Park yang dibangun dengan dana hibah NORAD – Norwegia pada tahun 2009 di Pantai Parang Racuk (sebelah barat Pantai Baron) ini keberedaannya memang belum begitu banyak diketahui oleh bahkan masyarakat Gunungkidul sendiri.

img20160110071721.jpg

Baron Technopark Gunungkidul

Saya memang sudah agak lama mendengar kabar di Parang Racuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut. Akan tetapi, Minggu pagi, 10 Januari 2016 adalah untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Techno Park yang hanya berjarak kurang lebih 23 km dari rumah dimana saya tinggal, yaitu di Kec. Paliyan, Kab. Gunungkidul.

Saat itu masih cukup pagi ketika saya selesai menuntaskan latihan lari pertama saya di awal tahun ini. Hitung-hitung untuk menghadiahi diri yang berhasil mengalahkan rasa malas setelah libur (latihan) akhir tahun, saya pun menuju ke kompleks Techno Park yang jaraknya cukup saya tempuh dalam hitungan belasan menit.

2016-01-10 10.19.26 1.jpg

Menara Prasasti Jam di Baron Techno Park

img20160110073350.jpg

Prasasti Jam di Baron Techno Park

Baron Techno Park nampak sepi ketika saya meminta ijin masuk kepada petugas keamanan yang sedang berjaga. Bapak Petugas Jaga itu mempersilakan saya dengan baik dan menunjukkan saya tempat dimana bisa memarkir kendaraan.

Apa yang pertama kali menarik perhatian saya di kompleks Techno Park adalah beberapa menara Kincir Angin dan Solar Panel yang nampak dari kejauhan. Baca lebih lanjut

Aplikasi Android Wajib Untuk Mobile Blogging

Saya percaya di tahun 2016 yang masih gres ini, banyak  yang sudah mengganti smartphone lamanya dengan yang baru dengan spefisikasi yang lebih tinggi. Bila belum segerakanlah. 🙂 Tidak baik menunda-nunda. Namun bagi yang masih setia dengan smartphone lamanya tidak perlu berkecil hati. Di sini saya akan berbagi tips untuk mengoptimalkan smartphone kita untuk mobile blogging. Untuk membantu meningkatkan produktifitas ngeblog kita dan untuk membantu membulatkan tekad bagi yang baru akan memulai nge-blog.

Kali ini saya akan membagikan aplikasi apa saja yang wajib/setidaknya yang sebaiknya dipasang di smartphone agar kita dimudahkan dalam melaksanakan mobile blogging.

1. Blog Editor

Ini adalah aplikasi yang paling kita butuhkan untuk nge-blog dengan smartphone. Aplikasi ini akan memudahkan kita dalam menulis artikel/menulis blogpost/posting untuk diterbitkan di blog kita. Apa platform blog yang kita gunakan dan dimana blog kita di-host yang akan mendasari kita dalam memilih aplikasi Blog Editor yang akan dipasang di smartphone kita.

Blog saya ini, http://jarwadi.me, menggunakan platform WordPress dan di-host di WordPress.com. Jadi saya memasang WordPress for Android di smartphone android yang saya gunakan. Untuk diketahui aplikasi WordPress for Android pun bisa digunakan untuk mengelola blog yang berplatform WordPress namun dihosting di server kita sendiri (self hosted).

Aplikasi WordPress for Android mempunyai fungsi yang lengkap yang akan memberi banyak kemudahan bagi blogger. Aplikasi ini selain mempunyai fungsi utama untuk membuat blogpost, juga dilengkapi fitur untuk menampilkan statistik, mengelola komentar, mengikuti blog WordPress teman-teman kita, melakukan serangkaian pengaturan, dan lain-lain.

pixlr_20160111075959828_20160111084539464.jpg

Blogger, Medium and Tumbr App for Android on Oppo R7s

Platform blog lain seperti Blogspot, Tumblr, Medium dan beberapa yang lain pun mempunyai aplikasi android tersendiri. Di smartphone saya saat ini setidaknya telah saya pasangi WordPress, Blogspot, Tumblr dan Medium. Iya, saya saat ini mengelola beberapa blog baik yang saya punyai sendiri atau dimana saya menjadi kontributor saja.

2. Keyboard

Namanya mobile blogging, pasti apa yang paling banyak kita lakukan adalah mengetik. Itulah kenapa keyboard yang memudahkan kita ketika mengetik dan menyunting tulisan sangatlah vital keberadaannya. Bagi saya keyboard yang baik adalah keyboard yang bisa membantu kita menulis dengan cepat, mengurangi kesalahan ketik (typo) dan cukup ergonomis atau sesuai dengan jari-jari kita.

Keyboard favorit saya adalah Swiftkey Keyboard, tentu Anda boleh berbeda dengan saya. Itulah kenapa dalam setiap smartphone yang baru saya gunakan hampir pasti aplikasi ini yang pertama saya pasang.

Alasan utama saya menyukai Swiftkey adalah layout keyboard yang saya rasa simple, ergonomis dan terhubung dengan layanan cloud yang didukung dengan teknologi pengenalan pengetikan yang pintar.

Baca lebih lanjut

Sunset di Puncak Tertinggi Gunungkidul, Seelok Apa?

Tak terasa pekan ini berlangsung begitu cepat. Sekarang sudah akhir pekan. Saatnya (menulis tentang) jalan-jalan. Hayuuk. Siapa yang akhir pekan ini ingin pergi ke gunung menjenguk senja?

“Nampaknya cuaca hari ini bagus. Nanti jadi ke Embung Sriten. Wish sunset would show off” Ajak teman saya, Pran.

“Hayuk, jamber? Jam 4?” Tanya saya.

“Jangan, habis shalat Ashar langsung berangkat. Takutnya sampai sana kesorean” Pran, menegaskan.

“Siaaaap!” Rabu siang itu saya sangat bersemangat. Cuaca Selasa sore yang bergelimang mendung tak bersahabat yang membatalkan rencana kami sunset -an di Embung Sriten-Gunungkidul, kekecewaannya akan, akan segera terbagi.
image

Menikmati sunset dari Puncak tertinggi di sisi utara pegunungan seribu di Gunungkidul bagi saya sangatlah istimewa. Betapa tidak, Embung Sriten merupakan semacam kolam raksasa yang terletak di alam terbuka di ketinggian 898 mdpl. Terbayang bagaimana bias-bias senja menghamparkan warna keemasannya.

Ingin memaksimalkan pengalaman “mencari senja di Embung Sriten”, Baca lebih lanjut

Mau Lebih Hemat Membeli Bluetooth Headset secara Online?

Pada kesempatan-kesempatan sebelumnya saya telah menceritakan pengalaman-pengalaman menikmati konten multi media dari sisi pribadi dengan menggunakan perangkat-perangkat gadget pribadi saya pula. Tengok cerita saya di sini atau di sini.

polytron

Puas dengan menikmati film, musik, podcast dan konten multi media lainnya dengan menggunakan gadget pribadi yaitu tablet dan smartphone, rasanya pada kesempatan berikutnya saya ingin membawa pengalaman tersebut ke tingkatan yang baru. Pada tingkatan tersebut, saya ingin menikmati konten multimedia dengan tingkat kualitas audio yang lebih baik dan bebas belitan kabel atau secara wireless.

Singkatnya saya menginginkan sebuah bluetooth wireless head set dengan kualitas suara high fidelity (hi-fi) yang saat ini belum saya punyai. iPhone 5s hanya menyertakan earpod berkabel yang meskipun kualitas suaranya cukup baik namun koneksi kabelnya seringkali merepotkan dan ketika mengenakannya saya menjadi nampak tidak fashionable. Apalagi Asus Zenfone dan Asus Zenpad yang saya miliki, keduanya bahkan tidak menyertakan headset/earpod dalam paket penjualan yang saya terima.

Mau tidak mau saya harus membeli lagi perangkat bluetooth wireless headset secara terpisah. Baca lebih lanjut

Menikmati Konten Multimedia dengan ASUS Zenpad 7.0 Z370CG

Menjelang liburan pergantian tahun ini hadir anggota baru di keluarga gadget di rumah saya. Anggota keluarga baru itu adalah ASUS Zenpad 7.0 Z370CG. Seperti yang telah saya ceritakan dalam tulisan saya terdahulu di sini, tablet baru ini telah saya setup dengan mudah dan cepat sehingga bisa segera saya gunakan untuk menemani liburan akhir tahun yang akan lebih banyak saya habiskan di rumah. Alhamdulillah, anggota baru ini mampu membawa warna tersendiri bagi masa liburan saya.

wp-1451961545980.jpegNah, kali ini saya akan menceritakan keseluruhan pengalaman saya menikmati konten multimedia dengan tablet berlayar 7.0″.

Dalam paket penjualan yang saya terima ASUS Zenpad 7.0 Z370CG dikemas dengan menyertakan sebuah Audio Cover. Ini menurut saya istimewa karena biasanya perangkat asesoris dijual dalam paket terpisah. Sebuah charger 3A 5V pun tak luput disertakan dalam paket penjualan tablet ini. Memang tanpa power charger, tablet ini mau di-charge menggunakan apa? hehe. Sayangnya, earphone/headset untuk menikmati konten audio secara lebih personal luput tidak disertakan dalam paket. Ini mungkin gaya ASUS, karena di Zenfone yang legendaris pun tidak pernah menyertakan headset/earphone dalam paket penjualannya.

Saya membeli kartu perdana XL paket 2 GB untuk saya pasang di tablet ini. Agar nanti saya mudah memasang aplikasi-aplikasi yang saya butuhkan. Sebuah micro SD card berkapasitas 32 GB class 10 merk Trancend saya beli dari toko asesoris terdekat di kota saya. Saya ingin ruang penyimpan yang leluasa untuk menampung konten-konten multimedia yang ingin saya nikmati.

Untuk memasang SIM Card dan SD Card saya harus terlebih dulu membuka back cover. Ini harus dilakukan dengan cukup hati-hati karena pengait di back cover terasa sangat kuat ketika saya coba menyisirnya dengan kuku jempol saya. Memasang SIM Card dan SD Card -nya sendiri bisa dilakukan dengan cukup mudah. Apa yang terpenting diperhatikan adalah gambar penunjuk arah di masing-masing slot SIM maupun SD. Awas jangan terbalik. Toh kalau terbalik kedua kartu ini tidak akan bisa masuk dengan baik.

Penasaran dengan kualitas suara yang dibawa oleh Audio Cover, kali ini Cover ASUS Zenpad ini segera saya pasang menggantikan back cover bawaan. Sedikit catatan saya adalah bahwa Audio Cover harus dipasang secara cermat dengan hati-hati. Pasang dengan mulai memasukkan pengait di sisi bawah, kemudian berturut-turut dirapatkan dibagian atas. Tekan dengan lembut sampai terdengar bunyi “klik”.

Baca lebih lanjut

5 Tips Memilih Operator Seluler Untuk Smartphone

opselBeberapa teman saya heran dan sering bertanya-tanya kenapa saya menggunakan beberapa operator seluler sekaligus. Apa tidak ribet? Pertanyaan berikutnya kenapa saya tetap memakai layanan operator seluler pasca bayar dari operator pelat merah yang terkenal paling mahal itu.

Jawaban saya untuk pertanyaan pertama adalah: karena saya mempunyai beberapa gadget. Kalau saya hanya punya satu gadget pasti saya hanya akan menggunakan layanan dari satu operator seluler. Benar ngga? Keuntungan menggunakan beberapa operator seluler yang berbeda-beda adalah bila satu operator sedang mengalami gangguan, saya akan tetap bisa eksis dengan operator yang sedang tidak gangguan. Semua gadget saya mempunyai fitur portable hotspot/tethering yang sangat memudahkan.

Jawaban untuk pertanyaan kenapa saya setia menggunakan nomor pasca bayar dari operator pelat merah (Telkomsel) yang terkenal mahal adalah: karena nomor itu sudah lama saya gunakan. Mengganti nomer handphone utama bagi saya ibarat membakar investasi dan branding yang sudah puluhan tahun saya semai. (1) dan Operator ini mempunya coverage area tak tertandingi. Jadi kemana pun saya bepergian kemungkinan blank spot nya lebih minim. (2)

Berikut ini adalah tips-tips dari saya tentang memilih operator seluler untuk koneksi internet gadget-gadget kita. Saya percaya sekarang ini setiap satu orang mempunyai lebih dari sebuah gadget.

1. Posisi Menentukan Prestasi

Kenali lokasi kita tinggal. Kenali daerah dan lokasi dimana sehari-hari kita beraktifitas baik itu kantor, pabrik, atau tempat favorit dimana kita asyik mengerjakan pekerjaan kita (bagi freelancer).

Di lokasi-lokasi dimana kita lebih banyak beraktifitas, kenali operator apa saja yang sinyalnya di situ bagus. Bagaimana caranya? Anda bisa mengamati operator apa saja yang digunakan oleh rekan-rekan, kolega dan orang-orang di sekitar Anda. Tanya dan amati operator apa saja yang sinyalnya bagus dan koneksi internetnya cepat dan stabil. Bila cara ini belum memuaskan, pergilah ke counter pulsa/simcard, mintalah rekomendasi dan beli beberapa simcard dari operator yang berbeda sekaligus. Ujilah masing-masing operator dengan beberapa skenario, misal untuk melakukan panggilan, untuk SMS, untuk browsing, untuk streaming, untuk download, chatting dan sebagainya. Lakukan hal itu di beberapa tempat berbeda dan dalam rentang waktu yang berbeda. Operator seluler tertentu bagus untuk koneksi internet pada siang hari dan buruk pada malam hari, dan sebaliknya.  Baca lebih lanjut

4 Hal Menarik di Puncak Green Village Mertelu, Gedangsari-Gunungkidul

Bisa dibilang jalan-jalan saya kemarin sore ke Puncak Green Village yang terletak di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah perjalanan tanpa rencana. Puncak Green Village menjadi ide spontan ketika siang harinya saya ngobrol sambil wedangan di rumah dengan Maryanto, Yuliarto dan Teguh. Puncak di Desa Mertelu ini menjadi pilihan pada hari Sabtu yang memang seharusnya masih menjadi bagian liburan pergantian tahun ini.

image

Alasan utama kami ke puncak ini sebenarnya adalah potensi kemacetan di jalan-jalan menuju pantai selatan dan ke spot-spot wisata yang lebih dulu terkenal seperti Goa Pindul dan Sri Gethuk. Alasan pendukungnya adalah karena kami belum banyak mengeksplorasi (baca: memotret) sisi menarik di sebelah utara pegunungan seribu ini.

Kira-kira pukul 16:00 WIB kami berangkat dengan berkendara sepeda motor matic. Tentu saya membuka Google Map sebelum berangkat ke sana. Ada dua alternatif jalan yang bisa dilalui bila kami berangkat dari kec. Paliyan. Melalui arah Gading-Sambi Pitu-Gedangsari nampak lebih dekat. Namun Google Map memberi warna merah di sekitar pertigaan Gading. Artinya ada kemacetan. Mengingat ruas ini adalah jalan utama dari luar kabupaten. Mau tidak mau kami memilih jalan memutar dengan melewati Siyono-Wonosari-Nglipar-Gedangsari.

Perjalanan sore itu kali lewatkan dengan santai. Sore habis hujan melewati jalan berkelok yang di kiri kanannya terbentang sawah dan pepohonan yang menghijau yang menyelimuti bukit-bukit kapur akan terlalu sayang dilewatkan dengan ketergesa-gesaan. Dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam kami tiba di Green Village sudah jam 17:00 WIB lebih. Kecepatan kami pastinya kurang dari itu. 8 km terakhir yang kami lalui adalah jalan corblok yang bersambung jalan berbatu. Pastinya tidak nyaman ditempuh oleh pemotor matic seperti kami.

Kami pun segera memarkir motor di pelataran parkir, membayar tarif parkir Rp 3000,-/motor dan tak lupa “melepas beban” ke toilet yang baru saja dibangun bersebelahan dengan pelataran parkir.

Tidak jauh dari pelataran parkir ini sudah ada banyak penjual aneka jenis minuman seperti air mineral, teh botol, minuman berkarbonasi, makanan ringan dan lain-lain. Saran saya belilah minuman dan makanan ringan secukupnya sebelum menuju puncak Green Village. Saya kira di atas sana kita akan betah berlama-lama sedangkan di atas sana tidak ada orang berjualan.

Sebenarnya apa saja sih 4 Hal Menarik di Pucak Green Village yang ingin saya bagikan? Ini:

1. Selfie dan Orang-Orang Berselfie

Di sepanjang jalan setapak dari pelataran parkir menuju Puncak Green Village saya terpesona dengan banyaknya orang-orang yang berfoto selfie. Keriangan dan wajah-wajah ceria mereka, saya tidak peduli apakah keceriaan mereka tulus atau dibuat-buat, bagi saya ini menunjukkan optimisme di awal tahun.
Baca lebih lanjut

One Last Sunset of 2015 & Pantai Kesirat – Gunungkidul

Masih ingat dengan Pantai Kesirat yang terletak di kecamatan Panggang kabupaten Gunungkidul Yogyakarta yang saya tulis pada bulan Ramadhan tahun lalu?  Bila sudah lupa silakan baca lagi tulis saya terdahulu di sini. Namun tanpa membaca tulis lama saya pun saya rasa sunset penghujung tahun yang akan saya post di sini pun saya rasa tidak kurang menarik.

Siang tahun lalu (baca: siang hari tanggal 31 Desember 2015), ini sih kemarin,  awan nampak bergerombol di langit Gunungkidul, tapi sampai Azhar tidak hujan. Cuaca bagus. Saya rasa ini adalah akhir tahun yang bagus untuk memotret sunset.

Angan angan saya untuk memotret senja di Pantai Kesirat seperti yang saya tuliskan dulu bisa saya eksekusi hari itu. Tidak apa apa meski saya hanya berbekalkan kamera ponsel. Iphone lawas 5s dan sebuah Asus Zenfone.

Karena kebetulan saudara saudara saya sedang ngumpul di rumah,  ada adik saya dan kakak anak dari pakdhe sedang liburan akhir tahun, saya pun mengajak mereka untuk menikmati senja terakhir di tahun 2015 lalu. Senangnya mereka tanpa basa basi mengiyakan ajakan saya. Kami bertiga pun menuju pantai dengan mengendarai sepeda motor. Meniti jalan yang naik turun berkelok apalagi 5 kilometer sebelum pantai merupakan jalan cor blok yang diujungnya terdapat turunan ekstrim benar-benar memacu adrenalin kami.

Sesampai di pantai yang biasanya sepi pengunjung, rupanya menjelang malam pergantian tahun ini banyak sekali orang yang ingin menikmati malam pergantian tahun di alam. Nampak banyak yang mulai dan sudah mendirikan tenda. Nampak pula banyak orang berfoto foto bersenjatakan tongsis. 

Saya pun,  dan tentunya kedua saudara saya tidak mau ketinggalan memotret apa saja.

Pemandangan pantai kesirat sore itu memang bagus. Terpapar sinar matahari air laut nampak kuning keemasan.  Sinar matahari menjelang senja yang lembut membuat rumput rumput yang mulai menghilang di awal musim hujan ini nampak lebih indah.

Nah,  ini foto foto yang saya jepret kemarin sore dengan ponsel.

image

Baca lebih lanjut

Video Player Terbaik Di ASUS ZenPad 7

zenpadLiburan akhir tahun kali ini ingin lebih banyak saya nikmati di rumah saja. Alasan saya? Karena seperti yang sudah-sudah Jogja dan sekitarnya macet dimana-mana, tempat-tempat yang enak ditumpahi wisatawan dari beragam asal. Bagi saya ini tidak asyik dan hitung-hitung memberi kesempatan kepada oranglain yang belum menikmati Jogja. Alasan saya yang lain? Saya belum sepenuhnya sehat.

Jadi …? Saya menikmati santai di rumah saja. Saya sudah menyiapkan beberapa film untuk saya tonton sambil tiduran. Masih ingat cerita saya yang ini? Nah, ulam tiba ketika dipucuk mulai ada cinta. Pekan ini tiba di meja saya sebuah tablet keren dari ASUS, yaitu Zenpad 7.0. Ini pasti asyik banget buat santai nonton film-film yang sudah saya siapkan. Apalagi oleh ASUS juga sudah disertakan sebuah Audio Cover terteknologi Dolby DTS.

Tanpa berpikir panjang, saya pun melakukan set up secara cepat, kemudian menyalin file-file film ke dalam tablet ini. Eh sebelumnya saya membelikan tablet ini sebuah SD Card Trancend class 10 sebesar 32 GB. Tidak perlu lama untuk menyalin beberapa film yang masing-masingnya berukuran kira-kira 1 GB. Iya 1 GB, ini file untuk film-film beresolusi HD (1280p) dan setidaknya SD (720p). Baca lebih lanjut