Paradok: Satu Keluarga Berduka, Tetangganya Pesta – Pesta

Salah satu keluarga tetangga saya saat ini sedang berduka. Keluarga itu pada malam hari ini sedang menyelenggarakan amalan tahil/yasinan. Salah satu anggota keluarga mereka pagi tadi meninggal dunia dan baru dikebumikan siang hari tadi setelah waktu shalat Jum’at. Semoga dosa kekhilafan wo Ngadinah diberikan ampunan oleh Allah dan arwahnya mendapatkan tempat terbaik di sisi -Nya. Wo Ngadinah adalah nenek dari kawan saya Mina dan Ari.

Saya menyebutnya sebagai suatu Paradox, ketika pada malam yang sama ada keluarga bertahlil dalam duka, sementara tidak jauh dari rumah duka, tetangga yang lain sedang pesta – pesta hajatan. Musik dangdut diputar dengan lantang. Bahkan suara dari sound system di tempat hajatan masih meraung – raung pada jam 22 -an WIB saat saya menuliskan unek – unek ini sambil tidak habis pikir geleng – geleng kepala pusing – pusing.

Perlu saya jadikan catatan bagi diri saya sendiri terutama, selain ada satu keluarga yang sedang berduka kesripahan, ada beberapa tetangga lain, yaitu mbah Mento, mbah Wir Mangil, mbah Karso, mbah Ponco dan beberapa beliau berusia sepuh ini sedang sakit lanjut usia. Baca lebih lanjut

Harga Sapi di Gunungkidul Turun lagi …

Untuk yang kesekian kalinya, harga sapi di Gunungkidul turun lagi. Berbeda dengan yang dikeluhkan oleh petani peternak sapi Gunungkidul pada beberapa bulan yang lalu yang saya tulis di sini, beberapa bulan yang lalu dicurigai penyebab penurunan harga sapi dari peternak adalah gara – gara impor sapi illegal, kini penyebab terus merosotnya harga sapi tidak bisa dipisahkan dari akan dimulainya Tahun Ajaran baru 2011/2012 di sekolah sekolah.

Petani Peternak di Gunungkidul menjual hewan – hewan ternak mereka yang sekaligus dianggap sebagai tabungan untuk menopang kelangsungan pendidikan putra – putri mereka. Baik itu untuk melanjutkan kelas di sekolah, mencari sekolah baru di jenjang yang lebih tinggi atau untuk melanjutkan dan biaya kuliah. Mulia sekali iktikad bapak – bapak dan simbok – simbok petani itu.

Baca lebih lanjut

Mengintip Wabah Demam Berdarah di Indonesia

Secara khusus Google menyebutkan Indonesia bersama – sama dengan Brazil, Bolivia, India dan Singapura dalam usahanya mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) untuk wabah demam berdarah. Program ini disebut sebagai Google Dengue Trend. Program yang berusaha menangkap fenomena yang terjadi di belahan dunia dengan mengalisis korelasi antara keyword dengan tema tertentu yang diproses oleh mesin pencari Google dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya.

Mekanisme Google Dengue Trend hampir sama dengan Google Flue Trend yang pernah saya ceritakan di sini. Jadi belajar dari pengalaman Google Flue Trend yang dikeluarkan pada tahun 2008, maka Google Dengue Trend cukup  relevan untuk mempelajari volume pencarian topik demam berdarah dengan berapa banyak sesungguhnya orang yang mengalami gejala demam berdarah. Tentu saja tidak setiap orang yang googling demam berdarah adalah orang yang mengalami gejala demam. 😀

Disebutkan di blog Google Dengue Trend di sini, Singapura mempunyai surveillance system yang mencengangkan yang bisa menyajikan laporan secara rutin dengan cepat, akan tetapi dikebanyakan negara untuk mengumpulkan, menganalisis hingga data dapat disajikan tidak jarang diperlukan waktu mingguan sampai berbulan – bulan. Jangan tanya lagi kalau di Indonesia. 😀 Baca lebih lanjut

Koran Rp 1000 -an

Tribun Jogja adalah koran yang kesekian yang menerapkan price tag Rp 1.000. Sebelumnya saya telah menemukan bacaan di warung – warung sarapan koran – koran dengan price tag Rp 1.000. Seingat saya, yang paling dulu membandrol koran dengan harga Rp 1.000 adalah Meteor, Merapi, Harian Jogja Express Gunungkidul, dan apa lagi?

Pertanyaan: Baca lebih lanjut

Angka Kelulusan di Paliyan Terendah se Gunungkidul

GUNUNGKIDUL: Sebanyak 132 siswa SMP di Gunungkidul tidak lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun ini. Berdasarkan data Disdikpora Gunungkidul, angka tersebut setara dengan 1.29% dari jumlah 10.263 siswa yang mengikuti UAN di Bumi Handayani.

Nilai tertinggi se-Gunungkidul diduduki oleh SMP N 1 Wonosari yang merupakan RSBI di Gunungkidul. Sementara sekolah yang memiliki siswa tidak lulus paling banyak adalah SMP N 2 Paliyan dengan 19 siswa tidak lulus. Sekolah lainnya seperti, SMP N 2 Ponjong 2 siswa tak lulus, SMP Taman Dewasa Ponjong dan SMP 2 Playen masing-masing 1 siswa harus mengikuti UN Paket B atau mengulang tahun depan.

Sumber Harian Jogja online.

Pemerintah Daerah Gunungkidul dalam hal ini Disdikpora Gunungkidul boleh jadi merasa lega. Kelulusan siswa SMP pada tahun 2011 ini lebih baik dari tahun 2010. Angka kelulusan SMP se-Gunungkidul yang mencapai 97,2% pada tahun ini atau lebih baik 1,69% lebih baik dari angka kelulusan pada tahun 2010.

Saya sendiri tidak pernah mempermasalahkan tinggi rendahnya angka kelulusan. Baca lebih lanjut

Mengairi Kebun Kacang Panjang

Tidak hujan 2 minggu saja sudah cukup untuk mengeringkan tanah – tanah pertanian di desa dimana saya tinggal. Tanah di kebun kacang panjang keluarga pun sudah pecah – pecah. Istilahnya sudah “nelo”. Memang sih sekarang sudah tiba masanya kemarau tiba. Kebun kacang panjang keluarga sekarang sudah tidak boleh terlalu mengandalkan air hujan. Anggap saja sebagai berkah kiriman Tuhan bila dalam satu atau dua bulan ke depan masih turun hujan.

Tadi pagi, saya, adik dan bapak memasang pompa air di kebun kacang sayur itu. Airnya diambil dari sungai yang mana airnya masih cukup melimpah. Kacang yang sudah berusia sekitar 2 minggu itu masih perlu penyiraman intensif selama sekitar 2 minggu, dosis penyiraman kira – kira 2 kali seminggu, untuk kemudian mulai dapat dipanen.

Baca lebih lanjut

Yogyakarta, Segera Berlakukan e KTP

e KTP

Beberapa hari yang lalu saya men-tweet kan keribetan persyaratan dalam pengurusan KTP di desa saya, desa Grogol, Paliyan, Gunungkidul yang dialami oleh Mas Pandu. Persyaratan mulai dari KTP lama, akta lahir, Kartu Keluarga (C 1), Surat Nikah Orang tua, pengantar dari ketua RT, pengantar dari Desa sampai pas foto 2 x 3.

Padahal KTP yang saat ini kita punya dan model yang di release saat ini beberapa bulan lagi sudah akan tidak berlaku. Propinsi DIY akan menerapkan e KTP mulai pada bulan Agustus 2011. Dan GRATIS. Jadi misalnya sekarang mengurus KTP maka masa aktif KTP anda hanya akan beberapa bulan saja. Sama “eman eman” nya dengan masa aktif KTP saya yang sampai tahun 2015.

Jadi kalau tidak akan segera dipergunakan, akan lebih irit waktu dan tenaga dengan menunggu pemberlakuan  e KTP saja? 🙂

Foto kliping koran Kedaulatan Rakyat diambil dari sini  Courtesy of Mas Dedy Heriyadi

Apakah Desa Grogol Miskin dan Terbelakang?

Beberapa bulan yang lalu, di status facebook teman saya, yaitu Mas Pandu, terjadi diskusi menarik. Tepatnya, obrolan kawan – kawan kampung saya. Obrolan yang mengerucut pada pertanyaan, “Apakah desa Grogol dimana kami tinggal itu terbelakang?” dan “Apakah desa kami itu miskin?

Kali ini saya akan mulai melihat dari kemiskinan. Berbicara mengenai kemiskinan suatu wilayah, dalam hal ini institusi desa, maka  menurut saya salah satu indikator yang cukup relevan adalah keberadaan infrastruktur transportasi dan komunikasi – informasi.

Bagi kawan – kawan yang saya yang dulu dibesarkan mulai dari anak – anak gembala yang kini telah lama merantau Baca lebih lanjut

Pasar Trowono : Connecting People

Connecting People

Connecting People

Foto di atas adalah salah satu dari foto – foto yang saya ambil dari Pasar Trowono, Paliyan, Gunungkidul. Sebagian kecil foto – foto yang lain saya upload sebagai rangkaian entry di photoblog saya yaitu di http://jarwadi.posterous.com  Dan sebagian besar foto – foto saya yang lain tetap tinggal dengan nyaman dan damai di dalam harddisk saya. Dengan pertimbangan tidak layak buat konsumsi publik. Karena jeleknya.

Kemudian kenapa saya memilih untuk memasang foto yang di atas? Klik link berikut untuk tahu jawabnya http://jarwadi.posterous.com/pasar-trowono-connecting-people

Mudah mudahan saya dalam waktu tidak sangat lama dapat mengumpulkan informasi lebih lengkap tentang pasar Trowono Paliyan Gunungkidul dan dapat membagi cerita dengan lebih komplit dan ada feel -nya.

Ngumpul – Ngumpul dengan Politikana

Istilah jaman dulunya adalah kopdar (kopi darat), tapi kali ini disebut ngumpul ngumpul warga P saja. Kenapa? Karena di tempat ngumpul kali ini tidak ada kopi. Tidak ada asap rokok. Tidak ada Pak Botak Sakti dan sahabat karibnya, Muhamad Tarmin Pardede. 😀

Sebenarnya dipilihnya Resto Jepang Kawaii Sushi yang adem dan lega  sebagai tempat ngumpul adalah untuk meredam kemarahan dan pisuhan bilamana style berdiskusi online politikana terbawa – bawa ke ranah offline. Kemarin siang itu di luar resto, saya melihat aparat satpam dan polisi yang barangkali dipersiapkan oleh manajemen Kawaii Sushi sebagai tindakan preventif antisipatif.

Jadi terimakasih kami ucapkan duluan kepada Kawaii aka mba Wawajie yang telah menggratiskan fasilitas ini agar tidak terlalu merasa dimanfaatkan secara paksa oleh warga P yang lain 😀

Alhamdulillah acara berlangsung lancar tanpa ada insiden. Bahkan peserta ngumpul – ngumpul lebih banyak dari yang diperkirakan. Bukan hanya penulis dan tukang komentar, salah satu konglomerat langsat, Oh Yusro M Santoso pun berkenan membagikan perjalanan ide nya yang inspiring.

Nama – nama dan id P pada foto di atas tidak perlu saya sebut satu – satu. Berikut dibawah ini saya hanya akan menyebarkan secara luas mereka – mereka yang pulang duluan jauh sebelum sesi unjuk narsisme ini. Baca lebih lanjut