Nyobain White Coffee

White Coffe

White Coffe


Sore kali ini saya mencicipi White Coffe yang saya beli kemarin sore di Indomart. Setelah agak lama saya sama sekali tidak ngopi setelah lambung saya dituduh oleh dokter mengalami radang akibat asam lambung berlebih. White Koffie merek ini saya pilih karena iklan tv mengatakan aman bagi lambung. Kata iklan, kopi ini rendah asam. Hari gini jadi korban iklan, hehehe

Pertama kali meminum White Koffie 3 in 1 ini, menurut pengecapan saya rasanya lumayan enak. Kopinya lumayan terasa. Krim dan manisnya juga cukup. Tapi kali ini saya belum bisa memberi rating pada White Koffie ini. Bisa jadi lidah saya mengatakan lumayan enak karena selera ngopi saya turun gradasi setelah lama tidak ngopi. Coba apa kata saya setelah 3 atau 4 kali ngopi White Koffie ini.

Oh iya, mengenai rendah kadar asam seperti kata iklan. Yang benar saja. 😉 Tunggu dulu. Apa gejala yang dirasakan perut saya beberapa jam ke depan. Mudah-mudahan si perut ini ngga ngambek. Aamiiin

Kali ini saya sedang melakukan eksperimentasi yang sangat mahal. Dengan diri saya sendiri sebagai kelincinya. 😀

Pondok Seafood Bandar Jakarta-Wonosari, Enak dan Murah

Cumi Asem Manis Pedas di Bandar Jakarta Seafood Wonosari

Cumi Asem Manis Pedas di Bandar Jakarta Seafood Wonosari

Barangkali tidak banyak yang tahu tempat untuk menikmati  Seafood di Kota Wonosari – Gunungkidul. Tidak seperti Baso dan Mie Ayam yang terdapat dimana-mana di hampir tiap jalan gang di kota Wonosari, rumah makan Seafood di Wonosari hanya ada beberapa. Salah satunya adalah Baca lebih lanjut

Mengenang Ersad “Bagong” Andi Hartanto (1)

Ersad Andi Hartanto

Ersad Andi Hartanto

Dari teras depan rumah bapak Supriyadi langit senja yang memerah terlihat menjadi latar belakang pohon-pohon jati yang meranggas di musim penantian hujan. Saya kemarin petang itu dengan Pak Supri dan Dodik sedang menyesap teh. Ngobrol-ngobrol tapi tanpa banyak sendau gurau.

Petang itu (22 Oktober 2011) keluarga dan sanak saudara bapak Supriyadi sedang berkumpul untuk malam harinya diadakan Yasinan untuk peringatan satu tahun meninggalnya putra sulung bapak Supri, Ersad Andi Hartanto atau yang lebih dikenal orang sebagai Bagong.

Saya sedang akan mengikuti suatu acara di kota Yogyakarta ketika saat itu dikabari melalui SMS oleh Mbak Ratmi perihal Bagong meninggal. Setengah tidak percaya bahkan setelah saya menelepon adik saya, Yuliarto untuk memastikan kebenaran kabar duka pada siang hari bolong itu. Ssaya buru-buru pulang ke Gunungkidul dengan naik bus yang berjalan dengan kecepatan yang menguji kesabaran dan disambung ojek motor dari pertigaan Gading sampai rumah duka.

Saya ingat betul, Bagong meninggal pada hari Rabu karena pada saat itu saya terburu-buru ke rumah duka dengan masih mengenakan baju berwarna biru ala pabrik. Bagong meninggal dunia pada hari Rabu, 3 November 2010.

Sesampai di rumah duka, saya melihat dengan mata kepala sendiri, almarhum Bagong telah disemayamkan membujur ke utara di atas dipan dengan berbalutkan kain jarik batik . Baca lebih lanjut

Teh Tarik

Iya, pada minggu pagi ini saya sedang nge-teh tarik. Teh tarik merek S*ri W*ngi. Bagi saya ini adalah penurunan kasta bagi seorang penikmat teh. Turun kasta satu tingkat kasta di bawah teh tubruk. Turun dua tingkat kasta di bawah teh poci. Turun tiga tingkat kasta di bawah teh poci racikan Pak Beder. hehehe

Teh tarik memang tidak akan memberikan kemareman bagi seorang yang sudah nggathok teh. Minum teh tarik itu bisa dibilang hanya daripada tidak nge-teh sama sekali.

Baiklah, saya meneruskan minum teh tarik dan biskuit kering ini dulu. Keburu teh tariknya dingin. 🙂

Heboh Ketinggalan Pesawat itu …(2)

Tanpa malu-malu mengatakan bahwa bagian terheboh dari cerita perjalanan saya mengikuti event Ulang Tahun ke-3 Telkomsel Blackberry Community yang diselenggarakan di Bandung Super Mall sebenarnya malah terjadi setelah saya usai larut dalam hingar bingar acara puncak, yaitu dalam perjalanan saya pulang balik ke Yogyakarta.

Betapa tidak. Demi penerbangan jam enam petang di Sukarno-Hatta, saya rela dengan berat hati berpamitan bos Arif Setyawiyoga dkk untuk meninggalkan venue pada jam dua siang lebih sedikit meski acara terus berlangsung hingar. Saya rela dengan tidak sopan mem-BBM bos Budi Setyawan agar mempercepat makan siang bareng anak istri. Bos Buset, demikian beliau akrab disapa, adalah satu-satunya tamu kehormatan dari Surabaya yang semobil dengan saya menuju Bandara. Pikir saya ini agar punya waktu cukup longgar untuk mencapai bandara.

Mobil Blackbull Innova yang dikendarai Mang Ujang berjalan dengan kecepatan kura-kura menembus kemacetan Jalan Gatot Subroto sampai pintu tol Buah Batu. Kemacetan memang tidak aneh saya lihat di televisi, tetapi menjadi bagian kemacetan adalah sakit kepala tersendiri. Kali ini saya tidak bisa menjadi teman ngobrol Bos Buset. Saya hanya bisa diam meletakan kepala pada sandaran jok mobil berharap deraan cenat cenut ini sedikit reda.

Laju di Tol Cipularang yang relatif lancar ternyata tidak serta merta meredakan kepala nyut-nyutan pening tujuh keliling ini. Di Rest Area km … kami istirahat untuk mencari toilet. Namun sebenarnya apa yang paling saya butuhkan di Rest Area bukan tempat buang hajat. Saya ingin membeli Paracetamol. Dengan berang saya bilang dalam hati, dua butir tablet paracetamol pasti cukup.

Hal menggelikan terjadi. Keluar dari pertokoan di Rest Area, saya malah bingung mencari dimana Mang Ujang memarkir mobil. Mondar-mandir mencari kok rasanya seperti keliling arena lingkaran setan. Haaduuuh! Telpon-telponan dengan Mang Ujang pun tidak bisa mengembalikan orientasi saya. Baca lebih lanjut

Kesulitan Memilih Batik Secara Online

Bulan lalu, saya ingin membeli batik di toko-toko yang ada di kota Wonosari. Keluar masuk dari toko satu ke toko yang lain, saya hanya menemui batik dengan motif yang itu – itu saja. Padahal tujuan saya membeli batik lagi adalah karena kemeja-kemeja batik saya sudah sering saya pakai ke berbagai acara “njagong” dan pesta. Kalau tiap ketemu orang di pesta, batik yang saya kenakan itu-itu saja dikiranya saya tidak pernah ganti baju. 😀

Hari berikutnya, saya berburu batik ke Yogya. Di sana saya bisa leluasa memilih batik di toko berbeda-beda mulai dari Mirota Batik, Margaria, Danar Hadi dan masih banyak lagi. Saya juga bisa memilih-milih batik di Pasar Bering Harjo. Tapi tempat terakhir ini belum sampai saya coba karena pada hari itu  sudah cukup cape untuk ke sana.

Kalau membeli batik di Wonosari dibatasi oleh sedikitnya pilihan. Masalah yang timbul membeli batik di kota Yogya adalah karena terlalu banyak pilihan. Masalah lain adalah duit. Ternyata batik-batik yang dibanderol harga tinggi itu bagus-bagus. 😀 Jadi di sini saya malah tambah cape dengan mengkompromikan selera dan ketersediaan anggaran. Kalau sudah begini selera harus di re-adjust lagi. Kalau perlu tidak segan pindah toko agar siapa tahu mendapatkan pilihan dan harga yang lebih pantas. Resikonya jadi tambah effort dan tambah cape.

Pagi ini saya mencoba mencari batik secara online. Dengan bantuan googling, saya melihat-lihat koleksi dan harga batik di  toko – toko online yang disarankan Paman Google. Mudah sekali mendapatkan, atau lebih tepatnya melihat foto koleksi dan desain batik yang bagus-batus dan kreatif. Saya tidak perlu cape berjalan kaki dari satu toko ke toko lain, dari satu rak ke rak yang lain yang terpajang dari satu lantai ke lantai yang lain.

Kendalanya adalah, ternyata saya lebih sreg kalau membeli batik itu yang bisa disentuh bahan kainnya, dilihat dari dekat, dan dicoba di kamar pas dan mendengarkan pendapat teman apakah suatu motif batik pantas saya kenakan. 🙂

Jadi saya menulis posting ini dulu sebelum memutuskan apakah mau jadi membeli batik secara online atau tetap menggunakan cara konservatif membawa pulang baju batik dari toko.

Selamat Hari Batik Indonesia. Selamat Hari Minggu Kisanak 🙂

 

Roti Bakar Gosong

Memang ada resep rahasia membuat roti bakar? Tukang roti dimana saya biasanya membeli roti bakar terlihat mudah sekali membuat roti bakar untuk pelanggan-pelanggannya. Alat panggang roti dilumasi dengan margarin. Kemudian di situ digunakan untuk memanggang roti tawar yang telah diisi cokelat, strawberry, pisang atau bahan perasa lain sesuai permintaan. Dibolak balik sebentar. Itu saja. Roti bakar yang enak siap dalam hitungan menit.

Sore tadi, alih-alih membeli roti bakar di tempat biasa. Saya ke Swalayan “Istana” untuk membeli roti tawar, margarin dan beberapa bahan roti bakar seperti strawberry dan lain-lain untuk saya bakar sendiri di rumah. Sebenarnya ini bukan ide saya. Ini ide simbok. Karena di mata simbok, mas – mas tukang roti itu seolah mendemokan cara mudah membuat roti bakar. 😀

Sesampainya di rumah, saya dan simbok mempraktekan cara membakar roti seperti yang biasanya kami lihat di tempat roti bakar. Pada percobaan pertama jadi roti bakar gosong. Baru tahu kalau mas – mas itu bohong kalau memanggang roti bakar itu mudah. Tidak jera, kami membuat roti bakar berikutnya. Pada percobaan kedua roti tidak terlalu gosong.

Nah, saya dan simbok mulai merasa senang. Karena dari dua kali mencoba, terlihat ada kemajuan. Sebenarnya kami ingin mencoba untuk yang ketiga atau keempat kali, tapi roti-roti gagal produk itu nantinya mau dipakai buat apa. 😀

Kami membawa produk roti bakar kami ke depan untuk dinikmati sambil menonton TV. Apapun ini adalah karya kami berdua. Jadi kamilah yang harus pertama kali menikmatinya. Syukur-syukur bapak saya juga mau diajak makan roti bakar produk gagal ini.

Roti bakar ini enak, lebih enak dari buatan tempat roti bakar biasanya” siapa lagi yang akan memuji roti bakar buatan saya kalau bukan saya sendiri. Setelah kami memakannya, kami jadi tahu, masalah dari roti menjadi gagal produk, selain karena gosong, ternyata rasanya terlalu asem. Karena lapisan strawberry dalam roti terlalu tebal. Nah pelajaran kedua setelah bagaimana cara agar roti tidak gosong adalah agar tidak berlebih dalam membuat lapisan strawberry. 😀

Entah itu gosong-gosong, entah terlalu ber-strawberry, toh roti bakar home made ini ludes juga. Bahkan sebelum saya sempat menfoto roti bakar gosong itu. Memang mau pamer aib memajang roti bakar buatan sendiri yang gagal produk. 😀

 

 

 

 

Telapak Tangan Kanan Belum Sembuh

Diantara luka-luka akibat kecelakaan sepeda motor yang terjadi menimpa saya pada sekitar dua minggu yang lalu, yang belum sembuh sampai sekarang adalah di bagian telapak tangan kanan. Sementara luka-luka di bagian tubuh saya yang lain seperti punggung tangan, dengkul, kaki dan lengan sudah berangsur sembuh.

Selain karena memang luka pada telapak tangan kanan ini cukup dalam dan lebar, telapak tangan kanan, bagi saya sulit untuk diistirahatkan terlebih dulu. Hampir semua aktifitas sehari-hari saya sulit untuk tidak melibatkan tangan kanan.

Perawatan yang saya lakukan untuk telapak tangan saya sampai saat ini pun cukup repot meski saya tahu itu harus saya lakukan. Setiap hari, dimanapun saya dan sesibuk apapun, saya harus mengganti pembalut, membersihkan luka dengan cairan rivanol dan memberikan antiseptic betadin.

Untuk telapak tangan kanan ini saya juga mencegahnya dari terkena air. Saya membungkus telapak tangan kanan dengan plastik ketika mandi dan sangat berhati-hari saat wudlu yang saya lakukan setiap akan shalat sebanyak sedikitnya lima kali sehari. Sangat repot. 🙂

Saya membayangkan andai ada obat yang bisa mempercepat proses penyembuhan sehingga derita ini bisa terbebaskan dalam dua atau tiga hari saja. 🙂

Kadang kala kalau sedang sakit begini saya membayangkan andai saja saya hidup pada jaman berburu dan meramu. Bagaimana susahnya hidup dengan tangan terluka atau sedang sakit, tetapi pada saat itu juga harus berburu binatang di hutan agar dapat makan, harus melindungi diri dari buas alam, dll

Kecanduan Bau Solder

Saya bisa mengingat solder pertama saya bergagang kayu yang saya beli di toko Satria Jaya – Playen pada sekitar tahun 1992. Saya mulai belajar menggunakan Solder pada kelas elektronika yang saya ikuti di SMP. Dari kelas ekstra itu solder menjadi “gadget” kesayangan saya pada waktu itu.

Sampai akhirnya ngoprek-ngoprek atau rangkai-merangkai dan elektronika menjadi hobby yang menghabiskan duit sampai sekarang. Dan kadang menghasilkan duit. Meskipun saya sekarang sudah jarang menyolder sendiri kaki-kaki kompenen elektronika dan kabel-kabel pada papan rangkaian tercetak (PCB). Kecuali kalau terpaksa. 😀

Namun, meskipun saya sudah lama tidak menyolder, tiap kali saya mencium bau solder yang mulai memanasi kawat timah (tenol), hidung ini rasanya pengin mencium dan menghisap aroma yang mengepul dari ujung solder. Dan tangan rasanya gatal ingin bermain-main dengan solder lagi. Bau panas solder serasa addictive. Entah sejak kapan atau siapa yang mengajari, tidak ada ya, saya waktu itu memastikan apakah ujung soldir sudah cukup untuk melelehkan tenol untuk menyolder pada PCB adalah dengan menciumnya. Soldir dirasa telah cukup panas bila mengeluarkan bau tertentu. Bau seperti apa itu susah saya definisikan di sini. Hanya hidung saya yang tahu, hehehe

Menyolder

Menyolder

Ada yang kecanduan bau solder seperti saya? Jangan-jangan orang yang kecanduan lem Aica Aibon awalnya juga seperti saya … 😀

Gambar saya ambil dari: http://www.ladyada.net/images/wavshield/v11/103solder.jpg

Lecet – Lecet Jatuh Dari Motor

Telapak tangan kanan saya masih berbalut perban saat mengetik posting ini. Ujung jari telunjuk masih terasa ngilu. Sakit bukan alasan untuk tidak nge-blog. Nah, biarlah posting ini membuktikannya. hehe

Ceritanya begini. Sore tadi, dengan sepeda motor, saya  dari main – main ke air terjun Sri Gethuk yang terletak di dusun Menggoran, desa Bleberan, kecamatan Playen. Kebetulan saya tadi yang mengendarai sepeda motor. Beda dari biasanya yang mana saya lebih suka di belakang pengendara sambil foto sana foto sini dengan kamera ponsel.

Tulisan tentang tips praktis melakukan pertolongan pertama luka-luka lecet lecet pada kecelakaan kendaraan sepeda motor bisa dibaca pada artikel ini:

Pertolongan Pertama Luka Lecet Jatuh dari Sepeda Motor

Apes bagi saya yang jarang mengendarai motor, rupanya keterampilan bermotor saya yang pas – pasan harus dihadapkan dengan sepanjang jalan aspal yang rusak. Lebih separo jalanan yang kami lalui rusak. Kubangan hampir ditemukan tiap 10 meter. Doh! Padahal ini jalan utama menuju tempat wisata air terjun Sri Gethuk yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan. 😦

Nah, ketika tadi mau menghindari gundukan dan lobang pada jalan, saya menginjak pedal rem dan menarik rem depan pada saat yang kurang tepat. Saya mengerem motor ketika motor sedang berada di aspal yang berpasir.

Motor menjadi oleng tak terkendali. Saya jatuh. Tubuh saya jatuh ke tengah jalan. Untungnya mobil yang berjalan dari arah berlawanan bisa menghentikan lajunya sehingga tidak menginjak tubuh saya yang terjatuh. Alhamdulillah. Alhamdulillah lagi teman boncengan saya bisa bangun lebih cepat dari saya. Artinya dia tidak luka parah akibat terjatuh.

Untungnya lagi, di tempat saya kecelakaan motor itu, tinggal orang-orang yang berbaik hati untuk segera menolong saya. Motor segera mereka bawa ke pinggir jalan. Dan saya pun pelan – pelan bisa bangun.

Setelah bangun saya memastikan kalau saya tidak terluka parah. Saya tidak pusing. Saya tidak mual. Yang terlihat hanya lecet – lecet pada telapak tangan kanan, punggung tangan kiri, dengkul, dan lecet – lecet pada kulit pinggang. Alhamdulillah. Teman boncengan saya juga hanya lecet – lecet pada punggung tangan dan jari – jari. Alhamdulillah.

Kemudian motor. Spion motor terlepas dan patah. Penutup lampu sein kanan pecah. Stang agak miring. Sepertinya itu saja. Sementara motor dinomor duakan dulu. Urusan tubuh orangnya lebih penting.

Oleh warga sekitar tadi, kami diberikan pertolongan awal. Mereka memberikan betadine pada luka – luka kami. Dan seorang cewek cantik yang menolong kami memastikan apakah mau bila luka – luka saya diobati dengan Albotyl. Karena reaksi Albotyl akan sangat pedih pada mulanya. Saya setuju.

Sambil mengobati luka – luka, warga yang menolong kami bercerita kalau di tempat dimana saya terjatuh sudah berulang kali terjadi kecelakaan. Menurut mereka telah lebih dari 10 kejadian yang mana salah satu diantaranya terdapat korban meninggal dunia. Seren sekali. Untung lagi saya bukan termasuk korban meninggal itu.

Orang Indonesia walau sedang tertimpa musibah masih pandai bilang “untung” ya. 🙂

Penyebab utama kecelakaan di tempat itu menurut mereka adalah karena pengendara sering kali harus mengemudi zig zag untuk menghindari jalanan yang rusak berlubang – lubang. Cewek cantik yang menolong saya itu juga bilang kalau telah berulang kali kecelakaan motor sambil menunjukan bekas luka yang lebar pada sekujur kaki.

Saya pulang terlebih dahulu sebelum memeriksakan luka – luka ke Puskesmas. Tentu saja saya meminta bantuan teman untuk dijemput. Tangan kanan saya yang lecet tidak cukup meyakinkan untuk mengendarai motor sendiri sampai rumah. Kenapa saya tidak langsung ke Puskesmas saja?

Saya ingin agar keluarga di rumah tahu kalau saya tidak menderita luka parah karena jatuh dari motor. Biasa orang tua suka panik bila mendengar ada kecelakaan. Apalagi menimpa si anak sulung tersayang ini. 😀

Setelah beberapa saat cerita – cerita dengan orang rumah dan cukup meyakinkan mereka kalau saya hanya luka lecet, dengan diantar kawan, saya segera ke Puskesmas kecamatan Playen.

Di Puskesmas kecamatan Playen ini sedang jaga dua perawat cantik yang melayani kami. Luka – luka pada tangan kami cukup dibersihkan dari aspal dan pasir. Kemudian bagian terparah pada telapak tangan kanan cukup dibalut untuk sementara. Menurut perawat, luka pada tangan saya cukup diberikan Betadin saja. Sayangnya di Puskesmas sedang kehabisan stok Betadin. Tidak apa – apa. Saya bisa membeli Betadin di Minimarket terdekat.

Oh, iya. Tidak perlu saya berikan foto kecelakaan saya sore tadi. Orang tertimpa kecelakaan mana sempat foto – foto. Untuk foto air terjun Sri Gethuk akan saya upload dan jadikan posting terpisah. hehe