Pantaskah Hujan Dijadikan Alasan Terlambat?

Hari ini pada jam 09:00 WIB saya punya janji untuk datang (mendengarkan ngomong – ngomong) dengan teman – teman JIS DIJ. Bertempat di Jogja Expo Center. Jaraknya sekitar 40 km dari pabrik dimana pada jam setengan delapan ini saya masih tertahan. Bukan karena menyelesaikan tetek bengek. Segala tetek bengek sudah mulai saya cicil mulai sebelum subuh tadi.

Brrrr … Masih hujan sih, jadi saya malah masih nge-blog disini. Perjalanan 40 km dengan bus umum sekitar 1 jam plus beberapa menit naik transjogja. Jadi kalau berangkat sekarang, waktunya sudah sangat mepet. Kalau saya beruntung maka bisa tiba pas – pasan atau terlambat beberapa menit. Hujan kok dijadikan alasan 😀

Saya berangkat dulu. Nanti lihat saja ada ngga yang terlambat datang mengkambing hitamkan hujan.

 

Manusia Tidak Bisa Bekerja Multitasking?

Teman saya bilang kalau manusia itu tidak bisa benar – benar multitasking dalam bekerja. Bisanya fast switching. Seperti iPad dong. Teman saya yang lain menyanggah. Manusia itu benar – benar multitasking. Apakah misalnya kamu sedang mengetik atau membaca, tubuh kamu berhenti mengatur aliran oksigen dalam pembuluh darah dan tubuh. Apakah kamu berhenti memproses makanan dan gizi dalam tubuh. Teman saya itu terus nerocos dengan argumennya. Saya mendengarkan sambil menulis posting ini.

Dalam kasus ini, meskipun saya tidak mendebat mereka, malah sayalah yang bisa mengalami multitasking. 😀 Mendengarkan sambil sedikit memikirkan dan mengetik. Memang untuk tugas yang berat – berat dan belum terbiasa mengerjakan, akan sulit  menerapkan mode multitasking. Lhaa satu pekerjaan saja, kalau sulit bisa  sangat berat.

Sama halnya dengan komputer yang saya pakai. Komputer ini bisa santai bekerja untuk sekaligus browsing,chating, mendengarkan mp3, menyalin berkas, mendownload file, dll. Satu kerjaan saja bisa bikin komputer ini panas. Misalnya rendering animasi 3D atau editing High Definition Video. Saya tidak perlu melampirkan screenshot task manager kan? 😀

Review Film : Emak Ingin Naik Haji

Posted with WordPress for BlackBerry.

Layar dibuka dengan close up sebatang kuas bergerak – gerak melukis Ka’bah. Zein, diperankan oleh Reza Rahardian, sedang melukis Ka’bah. Melukis mimpi Emaknya. (diperankan oleh Aty Kanser) Melukiskan film Emak Ingin Naik Haji. Jreng – jreng lagu: Cerita Untuk Orang Yang Lupa – Iwan Abdurrahman mengalun. Baca lebih lanjut

Speedy Suka Nyampah, Pantesan Sering Lemot

Melihat sampah – sampah berserakan di pinggiran jalan lintasan jogging pagi ini, saya jadi heran ngga habis pikir. Kok bisa – bisanya ada kertas – kertas brosur speedy yang berserakan. Entah siapa yang membuangnya. Sepertinya ngga masuk akal, di Paliyan, di sebelah selatan pasar Tahunan, di selatan pos Polsek Paliyan ada promo speedy. Setahu saya, di sekitaran sini tidak ada jaringan telepon kabel Telkom atau sinyal CDMA Flexy.

Entah pencemaran lingkungan akibat brosur – brosur sampah ini tanggung jawab Telkom atau “oknum” tak bertanggung jawab. Yang pasti itu tanggung jawab moral kita semua. Dan yang lebih pastinya bumi tidak akan menggunakan jasa pengacara untuk menuntut pembuang sampah ini ke meja hijau. Hehehe

Pantesan speedy terkenal lemot. Apa karena suka nyampah? Baca lebih lanjut

Wedangan 2.0

Jaman dulu orang menikmati minum the, ya wedangan sambil ngobrol – ngobrol dengan orang – orang disekelilingnya. Dengan beberapa orang di tempat sama tentu saja. Sekarang beda lagi. Saya menyebutnya Wedangan 2.0. Orang wedangan sambil meng update status, nge twit, dan bercakap cakap dengan orang – orang yang barangkali sedang wedangan di tempat lain. Atau barangkali teman cakapnya sedang pengin wedangan tapi tidak ada the siap saji, hehehe

Apakah seperti ini malah tidak mengganggu keakraban wedangan? Bisa iya bisa tidak. Kalau semua teman wedangan suka melakukan hal yang sama ya tidak masalah. Bisa jadi kumpulan wedangan mereka adalah multi tasker hebat yang bisa melakukan semuanya.

Tujuan wedangan kan memang have fun saja. Kalau dengan seperti ini bisa menikmati, kenapa TIDaK. 🙂 Ini saya malah nge-blog Wedangan, meski tidak menyisipkan foto teh poci. Foto Teh Poci-nya silakan cari di posting lain di blog ini atau di blog saya sebelah. 😀

Posted with WordPress for BlackBerry.

Ringkasan Khotbah Jum’at

Pilar peradaban yang tangguh adalah pembangunan akhlak.

Khotib : Ustadz Dedy Mustajab

Theme Mistylook Jelek pada Tulisan Panjang?

Saya suka theme/tema Mistylook yang saat ini sedang saya pakai pada blog ini. Mistylook telah lama saya pakai dan saya pakai dalam rentang waktu paling lama. Saya kembali lagi ke Mistylook meskipun sudah mencoba – coba beberapa theme.

Tampilan Mistylook menurut saya enak di mata untuk posting tulisan – tulisan yang pendek – pendek. Dua atau tida paragraf. Maksimal empat. Cocok pula untuk satu dua foto ditambahi sedikit narasi. Barangkali ini alasan kenapa saya suka Mistylook. Karena saya memang jelek kalau menulis panjang. Selain tidak enak dibaca, pula tidak enak dilihat.

Saya sendiri merasa tidak nyaman melihat posting saya beberapa waktu yang terbilang panjang (dan tidak mutu), tapi sayang kalau sudah cape cape mengetik tidak jadi diposting. 😀 Barangkali besok – besok lagi kalau saya mau berlama lama panjang bercurhat akan lebih memilih outlet yang agak lama teranggurkan di http://jarwadiku.multiply.com . Sekaligus untuk mengurangi rasa malu karena di sana akan dibaca oleh sedikit orang.

Theme Mistylook jelek bila tulisan saya panjang – panjang? BENAR. Karena kualitas menulisnya yang membuat jelek. 😀 Atau ada saran Theme WordPress yang bagus kira – kira cocok untuk style saya?

Gunakan SIM Sesuai Dengan Fungsinya

Memang, tidak ada doktrin “Gunakan SIM sesuai dengan fungsinya”. Orang – orang yang menghuni Lab dan Bengkel secara turun temurun hanya mengenal kata mantra “Gunakan Alat Sesuai Dengan Fungsinya”. Nasihat ini untuklah diri saya sendiri. SIM (Surat Ijin Mengemudi) milik saya memang tidak saya biarkan nganggur. Saya memberdayakanya. Agar duit yang saya bayarkan untuk membuat SIM tidak mubadzir. Karena saya jarang mengemudikan kendaraan sendiri di jalan raya, karena saya tidak punya kendaraan bermotor, maka saya menggunakanya dalam arti luas. Misalnya saya menggunakan SIM untuk jaminan menyewa DVD di rental rental.

Razia, Cegatan, Operasi Lalu Lintas pagi tadi, di Jalan arah ke Semanu, dekat POM Bensin Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul, adalah kali pertama saya menggunakan SIM, sesuai dengan fungsinya. Dari sana saya jadi tahu, menggunakan SIM sesuai dengan fungsinya tidaklah semudah menggunakan SIM dalam arti luas.

Polisi Lalu Lintas, dengan gaya formalitas mengucapkan “Selamat Pagi, maaf perjalanan anda terganggu … , dst dst” Entah apa seterusnya yang diucapkan itu tidak jelas. Jadi benar kan bila saya menganggapnya sebagai formalitas belaka. Petugas polisi itu, kemudian, sambil memeriksa SIM dan STNK, menanyakan tanggal lahir saya, saya menjawabnya, kemudian ia menanyakan alamat. Apa – apaan ini? “Loh bukannya yang kamu tanyakan itu sudah ada di SIM? Bisa baca ngga sih?” Bentak saya. Polisi yang bertugas di Lantas Polres Gunungkidul itu menjawab “Bukan gitu, kok foto di SIM beda sama orangnya?” Baca lebih lanjut

Komik Review: Hidup itu Indah, Bila Memelihara Kambing Hitam

Di lingkungan desa agraris dimana saya tinggal, sampai saat ini masih ada ratusan keluarga penerima bantuan Raskin, Beras untuk Rakyat Miskin. Keluarga – keluarga petani tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sendiri di tengah – tengah sawah ladang pertanian dan lumbung makanan. Raskin yang telah diterima selama bertahun – tahun sampai saat ini belum terbukti dapat membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan.

Ini salah siapa? Tidak salah untuk menyalahkan penguasa korup tamak serakah yang menyunat alokasi anggaran untuk bantuan pengadaan benih, pupuk, insektisida, mekanik pertanian, infrastruktur pengairan, pelatihan – pelatihan pola tanam terkini, dll. Punggawa – punggawa negeri kita sedang khilaf. Tidak salah pula bila kemiskinan dan rendahnya produktifitas petani merupakan bikinan dari konspirasi global agar negara kita tidak pernah mandiri dalam segala aspek kehidupan dan selalu hidup ketergantungan terhadap negara – negara kapitalis barat sehingga selamanya kita bisa diperah dan dieksploitasi oleh keserakahan nafsu syaiton mereka. Panen Padi tiap tahun jelek karena indek Hongkong sedang lesu. Baca lebih lanjut

ServiceTrackball – Trackpad Macet pada Blackberry

Kemarin, saya menemani teman saya untuk mengganti track ball dan track pad pada blackberry-nya. Teman saya itu punya dua Blackberry, yang satu masih menggunakan trackball, yaitu Bold 9000 dan yang satunya sudah menggunakan trackpad, Onyx 9700. Saya pikir blackberry yang bisa rusak pada alat navigasinya hanya yang ber-trackball, ternyata trackpad juga bisa rusak.

Atas anjuran teman, kami ke counter tukang – tukang service  yang ada di Lantai I Ramai Mall – Yogyakarta. Biar lebih murah. Karena di tempat service di sini harga bisa ditawar – tawar. Setelah keliling muter – muter tanya sana sini, akhirnya kami mendapatkan tukang service yang memberikan  harga lebih murah. Yaitu di “26 Cell”

Di “26 Cell” harga trackball untuk bold yang ori, Rp 70.000, sudah termasuk ongkos pasang. Sedang trackpad pada Onyx ngga nyampe Rp 200.000 sudah termasuk ongkos pasang. Lupa harga persisnya. Mengganti trackball dan trackpad bisa ditunggu. Paling – paling 15 menit selesai. Asal tidak ada kerusakan lain pada Blackberry. Di sini kita juga bisa membeli trackball dan trackpad untuk dipasang sendiri. Ini cocok bagi yang suka mengoprek seperti saya. Komponen – komponen, suku cadang HP dan Blackberry juga tersedia di sini. Baca lebih lanjut