Komik Review: Hidup itu Indah, Bila Memelihara Kambing Hitam

Di lingkungan desa agraris dimana saya tinggal, sampai saat ini masih ada ratusan keluarga penerima bantuan Raskin, Beras untuk Rakyat Miskin. Keluarga – keluarga petani tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sendiri di tengah – tengah sawah ladang pertanian dan lumbung makanan. Raskin yang telah diterima selama bertahun – tahun sampai saat ini belum terbukti dapat membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan.

Ini salah siapa? Tidak salah untuk menyalahkan penguasa korup tamak serakah yang menyunat alokasi anggaran untuk bantuan pengadaan benih, pupuk, insektisida, mekanik pertanian, infrastruktur pengairan, pelatihan – pelatihan pola tanam terkini, dll. Punggawa – punggawa negeri kita sedang khilaf. Tidak salah pula bila kemiskinan dan rendahnya produktifitas petani merupakan bikinan dari konspirasi global agar negara kita tidak pernah mandiri dalam segala aspek kehidupan dan selalu hidup ketergantungan terhadap negara – negara kapitalis barat sehingga selamanya kita bisa diperah dan dieksploitasi oleh keserakahan nafsu syaiton mereka. Panen Padi tiap tahun jelek karena indek Hongkong sedang lesu.

Mbah Wono, sesepuh desa, boleh jadi tidak setuju dengan paragraf diatas. Beberapa keluarga telah tergariskan bernasib miskin abadi karena eyang buyut mereka telah melanggar paugeraning deso sehingga layak mendapat kutukan tujuh turunan. Lebih dari itu, pemuda pemudi desa yang semakin tidak tahu unggah ungguh tata krama menyebabkan kemarahan sing mbaurekso, sehingga Kaki Among Nini Among tidak lagi ngrewang – rewangi menjaga Dewi Sri dari petaka kemamang.

Bencana kemiskinan, gagal panen, wabah demam berdarah dan cikungunya, semua gara – gara merebaknya pornografi dan pornoaksi di masyarakat. Oleh karena itu Facebook itu haram hukumnya. Internet harus diblokir. Website, www, merupakan produk pengikut setan, kaum Satanic. Laptop itu produk bangsa kafir. Begitu teriak pak ustadz dengan lantang.

Tetapi menurut Aji Prasetyo dalam Komik Opini-nya yang berjudul “Hidup itu Indah”, akar dari segala carut marut yang terjadi di tengah kemanusiaan adalah karena satu hal. Karena mereka gemar memiara kambing. Kambing Hitam. Manusia gemar mengkambing hitamkan. Mengukuhkan dirinya yang senantiasa merasa makhluk yang berderajat tinggi. Maka dengan indah dan cerdik manusia menciptakan makhluk imajiner yang bernama Setan. Syaiton. Kepada makhluk inilah segala keburukan, kenistaan, kekejaman, keserakahan, kesalahan dan kesemua hal jelek ditimpakan. Manusia itu suci. Paradoks: Manusia itu tidak pernah salah. Syaiton tidak pernah benar.

Barangkali ide bahwa sumber dari segala sumber kejelekan datangnya dari syaiton dan atas apapun yang dilakukannya manusia akan tetap menjadi manusia yang derajatnya pasti lebih tinggi dari syaiton merupakan ide kenapa komik opini ini diberi judul “Hidup itu Indah” Halaman 66 dari komik ini saya pikir sangat mewakili keseluruhan komik. Satire tentang syaiton pada halaman 66 ini entah apakah sebuah kesengajaan atau kebetulan. Barangkali rahasia Tuhan dan Aji Prasetya semata.

Saya beruntung mempunyai dua cetakan komik “Hidup itu Indah”. Saya dibelikan oleh Mas Edwin Hendra Kusuma pada acara diskusi dan launching buku ini di Studio “Daging Tumbuh” Jalan Parangtritis pada tanggal 27 Oktober 2010. –Saya ingat pasti tanggal ini karena pada malam hari itu saya juga berkesempatan ngobrol – ngobrol semalam suntuk dengan sang komikus bahkan setelah acara diskusi berlangsung. Dan karena sambil mengetik posting ini saya membuka metadata pada photo yang saya ambil pada acara itu. 😀 — Iya, sebenarnya Mas Edwin tidak benar – benar memberikan Komik ini pada saya, melainkan dengan syarat, yaitu saya harus menulis review “Hidup itu Indah”. Singkat kata ini adalah posting membayar hutang meski sudah sangat terlambat. Komik “Hidup itu Indah” saya yang lain dikirimkan Mas Boiga langsung dari Tangerang. Nah, kalau Mas Boiga ini memberikan dengan tanpa syarat. Terimakasih kepada Mas Edwin yang telah memaksa saya menulis sepanjang ini dan Mas Boga dengan keikhlasanmu.

Meski berulang kali membaca, bagi saya, membaca “Hidup itu Indah” tidak akan ada bosannya. Setiap kali membaca, saya jadi ketawa – ketiwi seorangan, meski tawa – tiwi itu seringkali harus berakhir dengan kernyitan dahi. “Aji Prasetya kejam”, begitu kata Mas Boiga dalam komentarnya di Facebook.

Pokoknya Komik “Hidup itu Indah” recommended banget. Silahkan meluncur ke toko buku terdekat untuk melengkapi koleksi bacaan anda.

Posted with WordPress for BlackBerry.

5 thoughts on “Komik Review: Hidup itu Indah, Bila Memelihara Kambing Hitam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s