Hukum Tidak Identik Dengan Biaya Mahal

Berurusan dengan proses hukum dan aparat penegak hukum itu berbiaya mahal. Entah sejak kapan stigma seperti ini tertanam di benak  masyarakat. Terutama masyarakat di desa dimana saya tinggal.

Terlepas stigma ini beralasan atau tidak, tetapi hal ini mudah diamati dari keengganan sebagian masyarakat untuk memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum. Mereka tidak mau ketika sudah jatuh masih tertimpa tangga. Apabila mereka sedang tersandung masalah mereka akan lebih memilih untuk mencari penyelesaian di luar jalur hukum, menyelesaikan dengan cara mereka sendiri. Dan bilapun mereka gagal atau tidak menemukan solusi atas rasa keterdzaliman yang diderita, maka mereka pun akan memilih diam.

Saya berusaha mengerti sikap sebagian masyarakat ini terjadi di tengah – tengah mereka yang belum sejahtera dalam pendidikan dan ekonomi, akses informasi yang terbatas masih menjadi barang mewah. Dan “mungkin” juga kultur masyarakat yang terbiasa menerima ketertindasan sebagai sesuatu yang “sudah biasa” dan nrimo.

Itu saja?

Tidak. Stigma ini terus mengakar karena bisa dijadikan komoditas bagi kaum dan golongan tertentu. “Daripada masalah ini dinaikan ke jalur hukum dan menghabiskan banyak uang, lebih baik datang saja ke rumah saya“, jadi jangan heran bila suatu ketika kita mendengar ada oknum yang ngomong seperti itu.

Suara – suara mirip seperti ini terdengar ketika beberapa hari yang lalu di desa dimana saya tinggal terjadi tindak kekerasan sampai pada akhirnya keluarga korban berinisiatif menyelesaikan masalah ini dengan jalur hukum. Perlu diketahui bahwa pelaku masih ada hubungan keluarga dengan tokoh masyarakat. Baca lebih lanjut

Jalan Kemajuankah?

Foto ini mudah – mudah suaranya dapat terdengar. Dia mau bilang kalau simbol moderenisasi akan dipancangkan di sini di desa dimana sejak dulu marjinal daripada kata “pembangunan”.

Hamparan aspal sebentar lagi akan digelar sepanjang beberapa kilometer mengurangi luas permukaan tanah yang mana pada musim penghujan penting untuk menyerap air hujan.

Tugas permukaan tanah itu sebentar lagi akan naik pangkat menjadi full timer yang bertugas memperlancar para petani di desa untuk menjual dagangan ke pasar Playen atau Wonosari bila tidak laku dijual di Pasar desa Grogol.

Baiklah, ternyata membuat posting dari perangkat bergerak itu belum mudah. Mudah – mudahan, lebaran depan warga yang ada di tanah kembara tidak lagi kena jeblok kubangan jalanan bila hujan tiba.

Salam dari kampung halaman.

Bapak Hadi Suwarno berpulang ke rahmatullah

Lagi – lagi masih melanjutkan cerita tentang senang dan susah. Bersama kesenangan bisa jadi tiba – tiba muncul kesusahan.

Menurut perhitungan hari Jawa. Jum’at kemarin disebut Jemuah Legi. Kebetulan Hari Jemuah Legi kemarin, di desa dimana saya tinggal sedang dilangsungkan acara Bersih Dusun, atau disebut Juga dengan Rasulan, atau disebut juga dengan Merti Bumi. Inti dari Acara Upacara ini merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat agraris atas limpahan rahmat Tuhan sehingga warga petani dapat menuai panen untuk dilumbungkan sebagai songsongan musim kemarau yang mana pada saat ini sudah mulai menyapa.

Semua orang bersuka cita.

Orang bijak mungkin sering mengatakan agar kita tidak berlebihan bila sedang mendapat nikmat dan jangan terlalu mendalam berduka bila sedang diujikan musibah. Seolah kata – kata itu menemukan pembuktiannya sendiri.

Pagi hari kemarin, Jum’at 2 Juli 2010. Bapak Hadi Suwarno. Mantan Kepala Desa Grogol yang menjabat pada masa kecil saya ditimbali Gusti Allah untuk berpulang menghadap setelah menunaikan darma baktinya di bumi Desa Grogol. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Menurut saya sendiri beliau merupakan tokoh klasik sekaligus karismatis di desa ini. Apa yang saya ingat adalah pagelaran wayang kulit yang senantiasa dilangsungkan di Joglo kediaman beliau, spel klenengan yang mana simbok saya juga rajin berlatih bersama sampai pohon Asem yang sering saya balangi sepulang dari bersekolah di SD Karangmojo itu.

Sudahlah. Akan terlalu panjang bila saya tuliskan disini. Semoga amal perbuatan beliau diperhitungkan sebagai amal shaleh dan ampulan dilimpahkan oleh Allah terhadap khilaf manusia.

Di Data Petugas Sensus Penduduk 2010

Sabtu kemarin seorang teman saya datang. Dia adalah Wakiyat alias Winarno. Saya kira dia datang untuk nanya – nanya tentang ayam atau mengajak menyabung ayam seperti biasanya. Rupanya saya salah. Tumben. Dia datang sebagai petugas Sensus Penduduk 2010. Setahu saya Sensus Penduduk baru di mulai awal bulan depan. Semoga Sensus pada tahun ini dapat mencacah dengan lebih akurat sehingga data bisa lebih baik dipergunakan untuk parameter pertimbangan pembangunan Indonesia yang lebih baik.

Dari Posterous Photos

Stiker yang ditempel merupakan tanda bahwa suatu bangunan telah di sensus. Termasuk gubug dimana dari situ saya online dan menulis posting ini.

Mbok Yatini : Solusi keseleo

Pekerjaan saya yang keseharianya sering harus mengetikan ribuan karakter dalam waktu amat singkat ke sistem, sedikit demi sedikit telah manabung untuk saya jari dan tangan pegel linu, encok rematik, eh tidak ding, tidak sampai separah itu. Punggung, lengan, tangan dan jari saya saja yang menderita nyeri otot.

Itupun bukan sepenuhnya karena pekerjaan yang ekstra sibuk, melainkan kegemaran dan kecanduan kronis akan internet. Apalagi setelah saat ini era jayanya facebook, twitter dan social media. Maka menjadi – jadilah saya.

Hingga tadi pagi saya merasakan paracetamol tidak lagi bisa membantu mendustai otak akan rasa sakit nyeri sekali ini. Saya menggunakan alternatif terakhir untuk menggunakan jasa mbok Yatini. Beliau adalah profesional pijat otot dan urut paling masyur sekampung halaman. Untunglah rumah beliau berdekatan dengan rumah orang tua. Jadi saya tidak terlalu memeras banyak usaha untuk pagi – pagi bertandang ke tempat praktek.

Sekitar 1 jam saya merasakan sensasi rasa sakit diurut yang luar biasa. Menurut beliau, gangguan otot ini sudah lama. Memang iya. Saya saja yang lebih suka memelihara  sakit.

Nah, sore ini saya malah sudah mengetik untuk blog tercinta.

Iedul Adha 1430 H: 2 sapi, 5 kambing, tidak ada yang hitam

Iedul Adha tahun ini bertepatan dengan awal penghujan. Habis hujan pula. Dingin pula. Pasti tanah lapang desa becek. Pasti jalanan menuju lapangan desa becek. Eh tidak, tahun ini, ruas – ruas jalan utama di desa Grogol sudah bercor blog, sebagian beraspal meski sebagian yang lain dalam pengerjaan.

Shalat Ied di lapangan #grogol #indonesiabanget 02

Masih belum jam 06:00 WIB saya sudah berjalan menuju tanah lapang. Tentu saja setelah saya memenangkan pertarungan dengan kemalasan diri. Mandi bersiramkan kedinginan dan tubuh menggigil dengan pilek menyumbat hidung. Saya berjalan kaki berbarengan dengan Fajar. Sementara bapak dan simbok sudah berangkat lebih dulu. Konon, Shalat Ied tahun ini akan dilaksanakan lebih awal dari tahun – tahun sebelumnya. Karena bertepatan dengan Jum’at, sehingga diharapkan waktu untuk penyembelihan hewan Qurban tidak mengganggu Ibadah Jum’at. Begitu isi Surat Edaran dari P2A Desa Grogol. Setahu saya Ibadah Jum’at sudah tidak wajib bagi yang telah menunaikan Shalat Ied. Tetapi biarlah, mungkin mereka punya pertimbangan tersendiri. Baca lebih lanjut

Proyek Air Bersih di desa Grogol

cleanwaterpro

Proyek Air Bersih, Pembuatan Sumur Bur ini, saat ini sedang dibangun dan memasuki tahap pengeboran. Bertempat di dusun Senedi. Tepatnya di pekarangan Bapak Ngadiyono, Pak Aman, Ayah dari saudara Beby Agung.

Proyek ini merupakan titik cerah harapan masyarakat desa Grogol, khususnya dusun Senedi dan sekitarnya untuk mendapatkan pasokan Air Bersih dengan biaya tidak Mahal. Saat ini sebagian besar masyarakat harus merogoh uang sejumlah sedikitnya 65 ribu rupiah untuk membeli satu tangkiberkapasitas 6000 liter air bersih untuk kebutuhan air minum dan sanitasi.

Menurut Bapak Ngadiyono, diperlukan pengeboran dengan kedalaman lebih dari 80 m dari permukaan tanah untuk mencapai sumber air. Dan pada Minggu sore ketika saya mengambil gambar ini, pengeboran baru mencapai kedalaman sekitar 10 meter. Proyek Air Bersih yang di danai APBD ini nantinya pengelolaannya akan di serahkan kepada Perangkat Desa dan Pendistribusian/Pipanisasi akan diserahkan untuk di swadayai masyarakat.

Semoga Proyek Air Bersih ini benar memberikan manfaat kepada segenap masyarakat Desa Grogol. Amiiin