Mau Ngasih Duit Pengamen?

Dalam waktu kurang dari 15 menit, di bus “Jaya Sehati” antar kota jurusan Yogyakarta – Wonosari yang tadi siang saya tumpangi, ada 2 kelompok musisi jalanan dan seorang sendirian yang mengamen. Mereka silih berganti membawakan aneka lagu dan diiringi alat musik ala kadarnya. Begitu selesai bernyanyi mereka akan menghampiri penumpang satu demi satu untuk meminta – minta uang. Meski tidak ada kewajiban bagi penumpang untuk memberi duit pada pengamen – pengamen jalan ini.

Tidak satupun dari ketiga kelompok pengamen yang meminta duit pada para penumpang termasuk saya yang saya beri uang ala kadarnya. Biarin saya dibilang pelit. Saya tidak rela merogoh duit walau hanya koin – koin dari tas karena saya pikir merupakan perbuatan yang tidak mendidik. Sebagai penumpang bus, saya merasa tidak nyaman dengan kehadiran pengamen yang sudah suaranya kebanyakan acak adul, masih menghampiri penumpang satu – satu untuk minta duit. Saya kira rasa tidak nyaman ini tidak hanya ada pada saya. Baca lebih lanjut

Populasi Burung Emprit Berlebih, Pak Tani Terancam

Seperti halnya populasi ulat bulu yang berlebih di beberapa daerah di Jawa yang menimbulkan kekhawatiran dan keresahan bagi masyarakat. Di Gunungkidul, terutama di lingkungan petani padi di desa dimana saya tinggal, Desa Grogol, sejak beberapa tahun belakangan ini, populasi burung pipit, di desa ini dikenal sebagai burung emprit, si burung pemakan biji padi muda, yang berlebihan menjadi masalah tersendiri bagi petani. Kawanan burung – burung pipit ini sanggup meludeskan biji – biji padi muda dalam hitungan jam.

Bila tidak ingin gagal panen, tidak ada cara lain yang diketahui petani kecuali menunggui tanaman padi dan menghalau secara manual burung – burung yang tidak pernah jera berusaha meng-invasi sawah ladang padi pak tani. Serangan bertubi – tubi burung – burung pipit ini berlangsung selama sekitar 2 pekan sampai padi menguning dan dipanen. Memang tidak efisien waktu dari habis subuh sampai bakda maghrib yang dihabiskan pak tani bekerja sebagai penunggu padi sawah. Yah! Mau gimana lagi? Mau panen ngga? 😦

Departemen Pertanian punya riset belum sih guna mengantisipasi hama – hama tanaman padi, termasuk burung pipit yang mewabah? Misalnya populasi burung pipit berlebih sebenarnya bukan masalah baru. Serangan burung emprit sudah ada sejak jaman kaki nini, jaman saya masih SD, sekarang ada lagi. Tetapi cara yang digunakan untuk mengamankan tanaman padi agar tidak gembrang masih cara lama. Bukankah produktifitas padi dan swa sembada pangan sangat penting bagi social safety network dan ketahanan negara. Entahlah.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Bisa Memperbaiki Apa Saja

Masih ingat Film “My Name is Khan”? Saya ingat Rizwan Khan. Seorang anak dari Mumbai – India, yang menderita syndrom Asperger. Dia cerdas, berguru pada Mr. Wadia dan lekas pintar memperbaiki apa saja.

Tentu saja bapak – bapak yang saya foto ini yang mengingatkan saya pada Rizwan Khan. Bapak tukang reparasi keliling ini tadi pagi melewati jalanan desa dimana saya tinggal. Dia berteriak menawarkan jasanya. Dia bisa memperbaiki termos, panci, dan macam – macam peralatan dapur.

Bapak tukang reparasi ini sangat luar biasa. Dia bisa memperbaiki termos yang pecah kacanya dalam waktu kurang dari 10 menit. Semangatnya membuat tubuh tuanya kuat untuk berjalan kaki lengkap dengan sepikulan peralatan.

Menurut saya dia berjuang melebihi semangatnya menafkahi keluarga. Dia telah banyak berjasa pada lingkungan dengan memperbaiki perkakas rusak agar tidak lekas dibuang ke tempat sampah.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pernah Bersinggungan dengan NII di Gunungkidul

NII (Negara Islam Indonesia) hingga hari ini masih terasa menjadi berita heboh di koran – koran. Di koran yang ada di warung Soto dimana saya sarapan tadi juga ada berita NII -nya. Kemarin sore saya juga melihat di Metro TV, Al Chaedar yang diwawancari sebagai nara sumber tentang NII.

Pertanyaannya:  Kenapa NII bisa berlama – lama menjadi heboh berita nasional? Seberapa bahayakah NII sampai perlu beritanya diangkat tinggi – tinggi hingga seolah olah menenggelamkan kabar permasalahan – permasalahan lain di negeri ini. Kemana berita pembangunan gedung baru DPR, politisi korup, skandal perbankan, dll

Kalaupun NII sangat berbahaya, kenapa tidak diselesaikan sejak dari dulu. Bukankah NII sudah ada di Indonesia dan jadi permasalahan sejak lama. Saya pernah secara kebetulan bersinggungan dan sedikit mencari tahu. Hingga akhirnya tidak terlalu banyak tahu 😀

Ceritanya begini. Baca lebih lanjut

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Beberapa waktu yang lalu, barangkali sudah beberapa tahun berselang, seorang teman saya dengan berapi – api mangatakan kalau kita bisa kaya tanpa perlu sekolah. Sekolah tidak membawa ke suatu tempat yang berlimpah uang. Dia menunjuk kejelekan dan kekurangan sistem pendidikan dan sekolah yang bagai sampah yang terus menggunung. Teman saya yang berprofesi sebagai guru kewirausahaan di suatu SMK itu rupanya baru selesai membaca buku If You Want to be Rich and Happy: Don’t Go to School yang ditulis Robert T Kiyosaki. Entah seperti apa isi buku itu. Saya pun belum pernah membaca meski telah lama dengar tentang buku itu.

“Memang tujuan Pendidikan dan Sekolah kita itu untuk menjadi kaya?” tanya saya. Padahal saya juga tidak tahu tujuan Pendidikan Nasional itu apa. hihihi. Memang apa sih? Rasanya hanya aneh saja kalau manjadi tajir itu sangat penting sekali bagi kebesaran, kewibawaan dan kebanggaan berbangsa Indonesia. Sehingga keberhasilan pendidikan diukur dari kemampuan sekolah menghasilkan alumni yang kaya raya.

Posting saya kali ini karena tergelitik tadi dari dalam angkot saya melihat spanduk di depan Sekolah Dasar Plembutan bertuliskan “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa” Setelah googling, rupanya inilah tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Sedangkan tujuan pendidikan nasional bisa dibaca di sini

Dan pada tanggal 2 Mei 2011 ini adalah untuk pertama kali saya membaca Tujuan Pendidikan Nasional 😉 yah! Tujuan Pendidikan adalah character building. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2011.

Harian Jogja Express Gunungkidul, Semoga Masyarakat Makin Melek Media

Harian Jogja Express Gunungkidul Edisi 28 April 2011

Harian Jogja Express Gunungkidul Edisi 28 April 2011

Koran Harian Jogja Express Gunungkidul yang saya beli kemarinnya kemarin, edisi Kamis 28 April 2011 baru saya baca kemarin. Dan sekarang saya menuliskan review-nya di sini. 😀

Merupakan Koran Harian Jogja Express Gunungkidul kedua yang saya beli. Pertama kali saya membeli edisi 21 April 2011. Tumben – tumbenan saya membeli koran cetak. Biasanya saya mengandalkan media berita online dan sosial media.

Sebenarnya yang menarik bagi saya adalah kata ‘Gunungkidul‘ yang menjadi bagian dari nama koran ini. Harapannya rubrik – rubrik dari koran ini berisi berita – berita seputar kabupaten Gunungkidul. Mengingat, menurut saya, banyak hal yang terjadi di kab. Gunungkidul yang masih kurang tereskpos oleh media. Baca lebih lanjut

Desa Grogol : Pajak Bumi dan Bangunan Bermasalah

Di desa dimana saya tinggal, desa Grogol kecamatan Paliyan kabupaten Gunungkidul , bapak saya mempunyai 5 petak tanah. Kelima petak tanah itu merupakan pemberian dari orang tua bapak dan orangtua simbok. Kelima petak tanah itupun sudah bersertifikat sejak beberapa tahun yang lalu ketika ada pensertifikatan tanah secara masal.

Anehnya dari kelima petak tanah milik dan bersertifikat atas nama bapak saya itu, hanya dua yang keluar “kohir” atau lembar pajaknya. –tentu saja pajak yang lebih sedikit dari yang seharusnya ini bukanlah karena saya mempunyai kedekatan dengan Gayus Tambunan– 😀 Dalam lembar pajak yang dibagikan oleh Pemerintah Desa Grogol melalui ketua RT itupun, nama wajib pajak masih kakek – kakek saya. Bukan atas nama Bapak.

Sebagai orang tua yang ogah ambil pusing, simbok sayapun segera melunasi pembayaran Pajak Bumi itu melalui ketua RT. Dan barangkali karena nominal pajaknya kecil, pak RT yang sekaligus pakdhe saya itu tidak dibekali oleh tanda terima oleh pejabat diatasnya yang memberikan tugas pengumpulan uang Pajak Bumi dan Bangunan. Baca lebih lanjut

RM Padang Siyono – Gunungkidul, Ramah Murah Meriah

Menu Murah Meriah RM Padang Giwangan

Menu Murah Meriah RM Padang Giwangan

“Dimana – mana orang Indonesia pengin makan, yang dicari pasti masakan padang” kata Gayus Tambunan ketika dipulangkan dari pelariannya di Singapura oleh Denny Indrayana dan Mas Ahmad Sentosa.

Saya tidak sedang ingin mengobrol tentang pat gulipat mafia pajak Gayus Tambunan yang penuh kebohongan sulit dipercaya itu. Barangkali satu – satunya ucapan Gayus yang bisa dipercaya hanya yang saya kutip di atas. Susah untuk menyangkal kalau kebanyakan orang Indonesia suka masakan Padang. Termasuk saya yang orang Jawa tulen dan tinggal di pelosok Gunungkidul. Kabupaten yang berjarak, barangkali, lebih 1.000 km dari kota Padang. Termasuk orang – orang di lingkungan dimana saya tinggal pun menyukai cita rasa Padang. Buktinya setiap ada Rumah Makan Padang baik di Wonosari maupun kota – kota kecil sekitarnya, umumnya ramai orang makan. Baca lebih lanjut

Gara – Gara Impor Ilegal, Harga Sapi Anjlok

Calon Induk Sapi

Calon Induk Sapi

Adalah foto calon induk sapi yang saya beli pada bulan Juli 2009. Seharga tujuh juga rupiah. Sekarang sapi ini sudah mempunyai anak jantan berusia 5 bulan.

Harusnya anakan sapi jantan ini saja sebulan lagi sudah bisa saya tukarkan ke iBox dengan iPad 2. Induknya diharapkan beranak lagi tahun depan. Naasnya beribu naas harga sapi malah anjlok terjun bebas.

Menurut yang saya baca di koran Kedaulatan Rakyat dan Harian Jogja pada tanggal 21 April 2011 yang memberitakan hasil Rapat Dengar Pendapat dengan Drs Djuwarto, anggota Komisi IV DPR RI yang berasal dari daerah pemilihan Yogyakarta, keluhan masyarakat petani – peternak akan melorotnya harga sapi mendapatkan keterangan karena merebaknya import daging sapi beku ilegal dari Australia. Baca lebih lanjut

Animo Siswa Mencari Bocoran UN di Internet

Menepati janji saya pada pekan lalu untuk menampilkan jumlah hit pada posting saya di https://jarwadi.wordpress.com/2011/04/16/bocoran-soal-ujian-nasional-sma-smk-tahun-2011-beserta-kuncinya/ Posting tersebut mendapat sebanyak 226 hit. Dapat dilihat pada screenshot berikut:

Angka 226 hit selama seminggu sebenarnya tidak bisa dibilang tinggi dan tidak bisa dikatakan sedikit untuk ukuran blog saya yang tidak ramai pengunjung. Masih dalam batas wajar. Beberapa pengunjung mengeklik tulisan ini ada yang dari link yang saya taruh di twitter atau di facebook. Kebanyakan memang dari mengetikan kata kunci di google. Misalnya “bocoran soal unas 2011” dan sejenisnya.

Berdasarkan pada angka hit pada posting ini dan dari jalan hit menuju posting ini, dapat saya simpulkan bahwa animo siswa siswi pada tahun 2011 ini untuk mencari bocoran soal UNAS di internet masih ada. Tetapi tidak banyak.

Apakah kesimpulan ini cukup akurat untuk menggambarkan animo siswa siswi untuk mendownload soal UN? Bisa saja sangat TIDAK AKURAT. Kenapa bisa tidak akurat? hehehe …