Mencuci Helm

Helmetologi, Tempat Cuci Helm di Ambarukmo Plaza Yogyakarta

Helmetologi, Tempat Cuci Helm di Ambarukmo Plaza Yogyakarta

Helm apabila sudah dipakai dalam waktu cukup lama akan kotor. Bila sudah kotor tidak nyaman dipakai.

Apa masalahnya? Bukankah ini normal. Kalau helm sudah kotor dan tidak enak dipakai yang tinggal dicuci.

Masalahnya terletak di sini. Di “mencuci” nya. Tanpa malu-malu saya akui bahwa mencuci adalah hal terberat dalam hidup saya. Saya malas untuk mencuci. Mencuci pakaian saja saya serahkan kepada pihak ketiga, ke tempat laundry, apalagi ini mencuci helm yang nampak kesulitannya lebih tinggi. Baca lebih lanjut

Pilkada 2015: Kali Ini Saya Nyoblos

Apa yang saya pikirkan ketika tadi berangkat menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) 06 di Balai Dusun Karangmojo B sederhana saja. Saya akan mencoblos Calon Bupati pilihan saya. Calon bupati yang tidak terlalu jelek dari calon yang jelek-jelek lainnya. hihi. Ini subyektif banget ya. Masa iya ngga ada bagus-bagusnya.

Pastinya mereka adalah pribadi-pribadi terbaik di Kab. Gunungkidul yang dengan gagah berani mencalonkan diri untuk mengabdi kepada bangsa dan negara melalui jalur pemerintahan.

Urusan saya memang sebatas mencoblos saja.  Sebatas memberikan suara/aspirasi saya. Menang kalah itu urusan lain dimana saya tidak akan terlalu masuk ke wilayah itu.

Jadi jangan khawatir. Bila Calon Kepala Daerah yang saya jagokan kalah, bisa dipastikan saya tidak akan nyinyir di belakang. Saya tidak ingin cari-cari perkara. Saya tidak mau menderita sakit gagal move on. Hihi.

Saya menuju TPS 06 di Balai Dusun Karangmojo B kira-kira pukul 10:00. Beberapa saat setelah memberikan undangan mencoblos, saya pun segera dipanggil dan diberikan Kartu Suara. Ketika saya datang tadi di TPS memang sepi. Tidak ada antrian.

image

image

image

image

Di bilik suara saya pun menggunakan hak pilih saya. Kemudian memasukkan kartu suara ke dalam kotak suara, mencelupkan jari kelingking ke tempat tinta dan keluar dari TPS. Tidak lupa tentu saja. Saya motret-motret terlebih dulu di sekitar TPS. Mengabadikan momen Pilkada yang berlangsung sekali dalam 5 tahun. Baca lebih lanjut

Musim Panen, dan Itu …

IMG_2421Musim panen di desa dimana saya tinggal belum benar-benar selesai. Musim panen yang sudah dimulai sekitar dua pekan yang lalu mungkin baru akan benar-benar selesai satu sampai dua minggu lagi. Saat ini keluarga saya sendiri baru menyelesaikan memanen padi di sawah. Selanjutnya proses pemanenan masih dilanjutkan dengan mengeringkan gabah, menggiling menjadi padi dan pekerjaan pasca panen lainnya. Kesemuanya itu harus disegerakan agar bisa segera menanam lagi. Menanam lagi ini segera, bila berlambat-lambat tidak segera maka hukum alam yang akan menjawab. Kedatangan musim kemarau tidak bisa ditawar agar ditunda.

Bila dilihat dari hasil panen padi di lingkungan dimana saya tinggal, maka bisa dipastikan untuk desa saya swasembada beras sudah tercapai. Betapa tidak, hampir semua keluarga bertani padi, hasil panen padi pun bagus-bagus, lahan yang ditanami padi pun juga lebih banyak karena lahan yang dulunya ditanami jagung dan kedelai kini dialih fungsi sebagai lahan padi.

Saya dan Adik saya suatu kali berkelakar. Bila beras hasil panen ini dikonsumsi untuk keluarga sendiri, maka panen pada musim ini cukup untuk kebutuhan makan nasi selama 2 sampai 3 tahun. Ini tidak berlebihan. Bila keluarga saya yang terdiri 4 orang dalam satu hari menghabiskan beras 1.5 kg, dalam satu tahun hanya akan habis 540 kg saja. Panenan beras 2 ton akan cukup sampai 3 tahun. Hasil panen para tetangga tidak jauh berbeda. Bahkan yang panen lebih banyak ada banyak.

Baca lebih lanjut

Masuk Angin

Entah karena tidur dengan posisi miring, karena masuk angin, terlalu banyak duduk atau karena sebab lain pundak sebelah kanan saya sakit. Untuk menengok kekiri sulit. Kaku. Gejala seperti ini, atau bapak saya menyebutnya dengan istilah “tengeng” dalam beberapa bulan terakhir ini beberapa kali saya alami. Umumnya gejala seperti ini akan menghilang sendiri dalam beberapa hari. Sekitar 3 hari.

Untuk meringankannya biasanya saya menggosoknya dengan minyak urut atau balsem. Ayah saya terkadang menyarankan saya agar kerokan. Karena bila ia mengalami hal sama, kerokan baginya sangat membantu meringankan rasa sakit tengeng ini. Saya sendiri tidak suka dengan solusi kerokan. Kerokan ini rasanya sakit dan bekas-bekas merahnya itu terlihat ngeri. Merusak permukaan kulit, saya pikir.

Bila saya duduk sakit pundak sebelah kiri saya kali ini kumat. Bila saya berdiri dan berjalan-jalan sakit pundaknya berkurang drastis. Ini menyebalkan. Masa iya saya harus berdiri dan berjalan-jalan terus menerus biar sakit pundak tidak menggejala. Kebanyakan pekerjaan saya minta dikerjakan sambil duduk. Mengetik di laptop tidak bisa dikerjakan sambil berdiri. Membaca-baca dan mengetik akan aneh dan bisa menjadi bahan tertawaan teman-teman bila saya lakukan sambil berdiri atau berjalan-jalan. Kalau sambil tiduran? Entar tidak jadi mengerjakan melainkan kebablasan jadi tidur beneran.

Kali ini saya mencoba menggunakan koyo. Ada yang tidak tahu koyo? Saya tadi membeli koyo Cabe di minimarket sebelah, kemudian meminta teman saya menempelkan di pundak dan di punggung. Dalam beberapa menit tempelan koyo ini mulai memberi rasa hangat, dan makin hangat. Apalagi setelah saya jalan ke dan dari tempat makan siang. Efeknya jadi makin gerah dan berkeringat. Rasa sakit pundak saya sekarang pun berangsur berkurang. Ini buktinya. Saya bisa mengetik posting ini. Padahal tadi menulis komentar di facebook saja tidak nyaman. 😀

Saya tidak tahu apakah setelah efek hangat tempelan koyo hilang sakit pundak saya akan kambuh atau sembuh. Adakah yang punya pengalaman jitu menyembuhkan sakit pundak seperti yang saya derita ini?

Meja Pingpong di Balai Warga Rusak

Apa yang saya rasakan berubah dalam waktu 10 tahun di lingkungan dimana saya tinggal, diantaranya adalah menghilangnya permainan-permainan olah raga. Sebut saja bola voli, sepak bola, tenis meja dan bulu tangkis. Di lingkungan saya tinggal lapangan bola voli sudah lama tidak ada. Lapangan bulu tangkis terbiarkan begitu saja. Lampu-lampunya sudah tidak ada. Meja ping pong pun sudah lama dibiarkan rusak. Keinginan membuat meja ping pong baru sampai sekarang berhenti sebatas wacana.

Saya bukanlah orang yang suka bermain bola voli, sepak bola, dan olah raga permainan lainnya pada masa itu. Saya menulis posting ini karena kangen menonton pertandingan bola voli dan sepak bola antar kampung. Sambil mengobrol menonton teman-teman sebaya saya dulu bermain tenis meja di balai warga adalah hal lain lagi.

Di lingkungan dimana saya tinggal, pada jamannya, pegiat olah raga adalah remaja, pemuda dan anak-anak sekolah. Dewasa dan para orang tua sebatas sebagai pelengkap saja ketika mereka ada waktu luang dan tidak cape. Mereka para dewasa di lingkungan saya adalah orang bekerja.

Internet (baca: facebook dan twitter) harus diakui dalam dasa warsa terakhir ini telah merebut perhatian, remaja, pelajar, pemuda dan bahkan dewasa. Ada sebuah pameo: facebook mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Saya tidak dalam posisi membantah atau mengamini ini. Yang jelas facebook dan twitter sebagai social media baru telah berhasil menarik banyak orang dari media sosial lamanya yaitu: lapangan, balai warga, gardu ronda, dll. Meski tidak sepenuhnya saya benarkan bila menurunnya minat olah raga di masyarakat adalah gara-gara internet. Saya berpandangan malah facebook dan twitter bisa dimanfaatkan untuk mendorong gerakan-gerakan di dunia nyata, meramaikan lapangan pertandingan misalnya.

Hal lain yang saya lihat sangat berdampak bagi menurunnya minat olah raga di masyarakat adalah: sekolah. Benar. Ia adalah sekolah. Sudah saya katakan di awal bahwa tulang punggung olah raga di lingkungan dimana saya tinggal adalah remaja, pelajar dan pemuda. Sampai usia 18 tahun, remaja di lingkungan saya menghabiskan sebagian banyak waktunya di sekolah. Ini sesuatu yang pantas disyukuri karena berarti angka putus sekolah menurun drastis. Pendidikan sampai tingkat SMA bisa dikenyam. Sehingga menjadi bekal untuk mulai mencari nafkah, bekerja.

Sekolah-sekolah tingkat SMA di lingkungan saya biasanya masuk sekolah pukul 07:00 WIB dan pulang sekolah sekitar pukul 14:00 WIB. Bila ada kegiatan ekstra dan pelajaran bisa sampai jam 15:00 WIB atau jam 16:00 WIB. Mereka berangkat sekolah pukul 06:30 WIB atau lebih awal bagi yang rumahnya jauh dari sekolah. Pulang sampai rumah bisa sampai pukul 16:00 WIB atau lebih. Sepulang sekolah mereka mungkin istirahat dan pada malam harinya belajar atau mengerjakan tugas untuk pelajaran esok hari. Tidak ada cukup waktu dan stamina untuk berolah raga di sore hari. Tidak heran bila hasrat dan bakat olah raga di dalam jiwa muda mereka kurang tersalurkan. Tidak heran bila di lingkungan saya tim bola voli dan bola sepak menghilang.

Saya tidak tahu apa alasan sekolah-sekolah kita menerapkan kebijakan berlama-lama di sekolah. Mungkin tantangan masa depan anak-anak jaman sekarang sebegitu besarnya sehingga hal-hal seperti olah raga, dan keterampilan sosial harus sedikit disisihkan. 🙂

Ajaran Hidup Hemat

Hidup hemat sudah diajarkan kepada kita sejak kecil. Di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat anjuran untuk berhemat mudah sekali kita temukan. Hemat pangkal kaya adalah salah satu bentuk anjuran hidup hemat dalam bentuk kata-kata mutiara yang banyak tertera di buku-buku tulis dan di tempel di dinding-dinding kelas sekolah dasar. Anjuran hidup hemat dalam bentuk lisan seringkali kita datang sebagai nasihat yang datang secara membosankan dari orang tua kita, terutama dari ibu, hihi. Saking pentingnya hidup hemat dianjurkan, lagu pun digunakan untuk membawa pesan ini. Ada yang ingat ngga, apa judul lagu anak-anak jaman kita yang membawa pesan hidup hemat?

Saya kira ajaran (atau anjuran) untuk hidup hemat berawal dari ide untuk menggunakan apa yang kita punya secara lebih bijak. Hidup hemat berbeda dengan pelit. Hidup hemat berawal dari kesadaran bahwa apa yang kita miliki selalu terbatas, ada batasnya dan bisa habis. Ajaran hidup hemat selalu relevan dimana-mana karena pengetahuan koloni manusia menyakini bahwa luas bumi yang kita huni tidak akan pernah bertambah sedangkan manusia terus beranak pinak.

Sayangnya, meski hidup hemat sudah diajarkan dan dinasihatkan secara turun temurun, manusia seringkali melupakannya, atau mengabaikannya. Keabaian manusia akan ajaran hidup hemat itu mudah sekali ditemukan di lingkungan dimana saya tinggal. Entah di lingkungan dimana Anda tinggal. Berbeda ya?

Tiap hari kira-kira pukul setengah tujuh pagi dalam perjalanan saya meninggalkan rumah, saya sering kali melihat lampu-lampu penerangan di jalan dan di teras-teras rumah warga masih menyala belum dimatikan. Padahal lingkungan dimana saya tinggal adalah di wilayah tropis Indonesia dimana jam enam saja matahari sudah tinggi. Kran-kran pengisi kulah di toilet-toilet umum pun saya dapati sering lupa ditutup dan air meluber mengalir kemana-mana. Padalah ini di Gunungkidul dimana pada musim kering kekurangan air selalu datang menjadi masalah.

Dalam dua yang saya contohkan di atas, saya kira masalahnya adalah kurang bijaknya kebiasaan orang dalam menggunakan listrik dan air. Padahal listrik dan air bukanlah sesuatu yang melimpah. Penggunaannya secara bijak adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan ketika kita sembarangan menggunakannya kemudian kita secara sembarangan pula menyalahkan pemerintah (meski bisa jadi pemerintah ada salahnya) bila kemudian terjadi pemadaman listrik secara bergilir terjadi karena kemampuan pasokan listrik PLN tidak lagi mencukupi. Bukan kita kemudian merengek-rengek minta bantuan air bersih kepada pemerintah dan donator bila ketersediaan air bersih di lingkungan kita kekurangan karena kekeringan atau terjadi pencemaran air. Toh masalah kekurangan air bersih terjadi dimana-mana di Indonesia. Konon prosentasi masyarakat Indonesia yang belum bisa menikmati pasokan air bersih secara cukup masih besar.

Listrik dan air di atas hanya sedikit contoh saja. Melalui tulisan blog ini, saya mengingatkan terutama kepada diri saya sendiri mengenai pentingnya hidup hemat. Mengingatkan saya sendiri bahwa seyogyanya saya tidak meninggalkan sisa air minum di gelas dan mengambil makan secukupnya saja sehingga tidak meninggalkan sisa di piring dan di meja makan, tidak menghamburkan bensin untuk bepergian yang tidak penting, dan lain-lain.

Ngomong-ngomong, bagaimana sih cara menghidupkan kesadaran hidup hemat yang lebih menggebrak begitu, sehingga sikap dan perilaku hidup hemat terjadi secara masal?

 

 

 

 

Rasulan atau Bersih Dusun di Padukuhan Karangmojo B

Di desa dimana saya tinggal, tradisi Rasulan atau Bersih dusun (atau di desa lain dikenal dengan sebutan Bersih Desa) sudah lama dikenal dan sampai sekarang masih rutin dilaksanakan oleh masyarakat. Sebagaimana di desa-desa agraris lain di Jawa, Rasulan merupakan salah satu cara masyarakat Petani dalam mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan yang telah melimpahkan sejahtera di bumi yang dihuni manusia ini. Jadi tak heran bila tradisi Rasulan dilaksanakan tiap selesai musim panen padi. Mengingat padi (beras) merupakan makanan pokok masyarakat Jawa dan mansyarakat di desa dimana saya tinggal.

Di desa dimana saya tinggal, Rusulan atau Bersih Dusun tidak dilaksanakan secara serentak. Desa saya yang terbagi menjadi beberapa dusun, masing-masing dusun umumnya mempunyai hari Rasulan tersendiri. Misalnya di dusun Senedi dilaksanakan pada hari Rabu Legi tiap selesai musim panen dan di dusun Karangmojo dilaksanakan pada hari Jumat Legi seusai musim panen. Seiring waktu, hari pelaksanaan Rasulan bukan lagi hal yang sakral. Jadi tak heran bila terkadang masyarakat menunda atau mengubah hari diadakannya acara Rasulan atau Bersih Dusun ini. Misalnya: Di Padukuhan (dusun) Karangmojo B, Bersih Dusun/Rasulan sudah dilaksanakan pada Hari Jumat Legi, 2 Mei 2014 sedangkan di Padukuhan Karangmojo B rasulan baru akan dilaksanakan setelah Puasa Ramadhan tahun ini, atau sekitar bulan Agustus kelak. Alasan penundaannya karena pada bulan-bulan ini masyarakat padukuhan tersebut sedang sibuk dan bila ditunda sampai bulan Agustus dipandang Rasulan bisa dilaksanakan dengan lebih meriah.

Di beberapa desa di Gunungkidul, pelaksanaan Rasulan dari tahun ke tahun memang dilaksanakan dengan semakin meriah. Rasulan yang pada jaman dulu sebatas berupa kenduri sederhana di balai desa/balai padukuhan dan pada malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang kulit, di beberapa desa kini Rasulan atau Bersih Desa berubah menjadi semacam pesta rakyat yang dilaksanakan secara meriah dalam beberapa hari. Ada desa yang dalam melaksanakan rasulan ini menggelar pasar malam, pesta rakyat, pameran, berbagai pentas seni tradisional dan lain-lain. Ada pula desa-desa di Gunungkidul yang mengoptimasi tradisi Rasulan sebagai daya tarik wisata budaya.

Rasulan di padukuhan saya sendiri bukan termasuk Rasulan yang meriah itu. Dari dulu sampai sekarang tetap dilakukan dengan cara sederhana. Bila tidak mau dibilang makin “sederhana”. Masyarakat di padukuhan dimana saya tinggal merasa cukup melaksanakan Rasulan dengan menggelar kenduri di balai padukuhan. Dengan membawa ke balai padukuhan makanan berupa masakan tradisional yang terdiri dari: nasi, sayur, tempe, rempeyek, nasi gurih, ingkung, ketan, jadah, masakan-masakan lain yang berbahan hasil bumi lainnya. Sesampainya di balai pedukuhan semua jenis masakan itu dikumpulkan dan setelah didoakan oleh pemuka agama, dibagikan lagi kepada masyarakat padukuhan itu sendiri dan kepada masyarakat padukuhan tetangga yang pada hari itu tidak melaksanakan tradisi Rasulan.

Begitu saja.

Bahkan beberapa rangkaian acara Rasulan yang oleh masyarakat dianggap bertentangan dengan ajaran agama, saat ini sudah dihilangkan, tidak dilakukan lagi. Apa yang dihilangkan itu diantaranya adalah: Mbuangi. Mbuangi adalah mengirimkan makanan dalam porsi dan cara tertentu kepada para penunggu sumur-sumur tua yang ada di sekitar Padukuhan.  Mbuangi ini mengingatkan masa kecil saya ketika bersama beberapa teman sebaya diperintah oleh pemuka adat untuk mbuangi ke Sumur Gede, Sumur Senedi dan Sumur Nglundo 🙂

Berikut ini adalah beberapa foto yang saya ambil dari tradisi rasulan yang diselenggarakan di padukuhan dimana saya tinggal:

 

Tulisan Mengenai Rasulan sebelumnya;

Oleh-Oleh dari Rasulan di Padukuhan Karangmojo B

Rasulan, Nonton Wayang

 

 

 

Nonton Pasar Malam di Karang Duwet

Gerimis kemarin petang tidak menghalangi semangat saya untuk menonton pasar malam di desa Karang Duwet Kecamatan Paliyan. Entah angin apa yang meniup-niup semangat saya petang itu, yang jelas dalam beberapa menit secara sendirian saya tiba di lapangan dimana diadakan Pasar Malam.

Sayangnya di sana semangat menonton saya dipertemukan dengan kenyataan sepinya pasar malam. Petang itu sekitar pukul setengah tujuh saya melihat tidak banyak pengunjur pasar malam. Hanya ada satu dua pengunjung yang jumlahnya saya kira sama dengan jumlah pedagang-pedagang di pasar malam yang mulai melangsuti dagangan mereka. Para pedagang dan krue wahana permainan pasar malam mulai mengemasi barang-barangnya bersiap untuk meninggalkan tempat pasar malam itu.

Hihi rupanya, petang kemarin merupakan malam terakhir pasar malam di desa Karang Duwet. Ya salah sendiri saya tidak datang ke pasar malam pada malam-malam minggu sebelumnya. Toh saya sendiri sudah sejak beberapa lama mendengar kabar tentang pasar malam itu.

Sebagai penghiburan buat saya, di atas adalah tiga dari puluhan foto yang saya jepret di tengah-tengah sepinya penghujung pasar malam yang bersiap-siap tutup. 🙂

Meng-Ungu-kan Jari untuk Negeri? #Pemilu 2014

Hari ini, pagi tadi, akhirnya saya memutuskan untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara Pemilu 2014 yang bertempat di Balai Padukuhan di lingkungan dimana saya tinggal. Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya ke TPS. Di antaranya adalah karena petugas PPS di lingkungan saya merupakan tetangga dan teman-teman saya sendiri. Misalnya saya tidak datang pasti mereka akan bertanya-tanya ada apa gerangan. Celakanya kalau mereka mengira saya tidak datang karena sakit. Nah.

Pukul 09:30 WIB, waktu kira-kira, saya berangkat dari rumah. Beberapa puluh meter dari TKP eh dari TPS, ternyata saya tidak membawa Undangan Memilih. Ini membuat saya kembali ke rumah untuk mengambilnya. Sesampai di TPS mengantri beberapa bapak dan beberapa itu. Tidak banyak. Sampai giliran saya mendapatkan kartu suara dan mencoblosnya di bilik yang disediakan.

Nah, ceritanya sampai di sini dulu saja. Jangan tanya siapa dari partai mana yang saya coblos. Apalagi menanyakan apakah saya sudah benar mencoblosnya, hihi. Ini rahasia. Memilih (dan tidak memilih adalah hak saya sebagai warga negara. Asas Pemilu, kalau tidak salah dan belum berubah adalah langsung, umum, bebas, rahasa, jujur dan adil. Benar Ngga?

Foto-foto berikut ini adalah bukti saya tadi sampai di TPS di balai padukuhan Karangmojo B:

 

 

Nah tuh…

Sekarang saya akan ke TPS. Mungkin di sana sedang dilakukan penghitungan suara. 🙂

Kenthong Titir, Aksi Keprihatinan Masyarakat Gunungkidul Terhadap Money Politik

Kenthong Titir Tolak Politik Uang

Kenthong Titir Tolak Politik Uang

Partai Politik sebagai instrumen demokrasi di Indonesia diharapkan diantaranya melahirkan kader-kader politik yang siap di gedung parlemen memperjuangkan hak-hak rakyat dan memberikan fungsi pendidikan berdemokrasi kepada rakyat Indonesia. Kenyataannya harapan-harapan itu belum bisa dipenuhi oleh partai politik. Alih-alih partai politik malah menjadi kendaraan politisi jahat untuk mengangkut harta benda hasil korupsi. Lebih parah lagi, politisi-politisi jahat yang pada Pemilu 2014 kali ini berebut kursi legislatif  menghalalkan segala cara untuk mendulang suara konstituen dengan menggunakan politik uang. Politisi-politisi tak bermoral itu sekaligus mengajak dengan uang agar masyarakat menganggalkan standar moralnya. Parah!

Penggunaan uang (money politic) oleh banyak calon legislatif yang di Gunungkidul marak sampai ke pelosok-pelosok desa ini banyak menimbulkan keprihatinan. Kamis malam, 3 April 2014, di jejaring pertemanan Facebook beredar ajakan untuk melakukan keprihatinan menolak politik uang berupa doa bersama dan memukul Kenthongan Titir. Dalam ajakan itu disebutkan aksi keprihatinan ini akan bertempat di bunderan PLN sebelah timur kompleks perkantoran Pemda Gunungkidul pada keesokan harinya, Jumat siang, 4 April 2-14. Bak gayung bersambut, ajakan itu mendapatkan respon positif dari banyak pihak.

Sekitar jam 2 siang, ketika saya tiba di lokasi aksi, telah banyak berkumpul orang-orang yang bersiap melakukan aksi dengan segala perlengkapannya. Dalam aksi itu partisipasi datang dari berbagai elemen masyarakat. Di antaranya ada ikatan pelajar, mahasiswa, karang taruna, tokoh-tokoh agama Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan para pegiat kejawen di Gunungkidul, dan lain-lain.

Aksi keprihatinan menentang politik uang berupa doa bersama dan menabuh Kenthongan Titir berjalan lancar dan tertib. Acara yang diisi oleh orasi-orasi keprihatinan itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka-pemuka agama-agama yang hadir dan menabuh kenthongan titir secara bersama-sama. Menabuh kenthongan ini seolah kedengaran unik. Sesungguhnya menabuh kenthongan titir merupakan bentuk perlindungan keamanan komunal masyarakat di Gunungkidul ketika marabahaya terjadi. Kali ini marabahaya yang disebutnya memasuki Siaga 1 adalah politik uang yang diyakini sangat merusak kebangsaan kita.

Aksi keprihatinan menentang politik uang akhirnya selesai sekitar pukul 3 sore. Silakan menonton apa yang saya videokan dengan smartphone saya berikut ini: