Takut Disuntik

Seorang pengecut mati berkali โ€“ kali di sepanjang hidupnya, sedangkan seorang pahlawan hanya mati satu kali dalam hidupnya.

Begitulah kata pepatah yang siang tadi menampar muka saya. Betapa tidak, selama hampir satu jam saya dalam keraguan hanya untuk meng-iya-kan cek darah oleh dokter untuk memastikan apa penyebab sakit yang saya derita. Memang apa sih yang ditakutkan dari test darah dan jarum suntik kecuali ketakutan yang ngga beralasan. ๐Ÿ˜€

Urusan suntik dan darah memang ketakutan tersendiri buat saya. Sepanjang hidup yang saya ingat, hanya dalam hitungan jari jarum suntik yang pernah menusuk tubuh saya. Keputusan saya dalam ketakutan untuk mengambil sample darah tadi siang merupakan jarum suntik yang pertama dalam 10 tahun terakhir. Persis dengan ketakutan yang sama pada tahun 2001 ketika saya harus opname dan diinfus dan cek darah pula karena sakit tipes yang sudah agak parah waktu itu.

Penyakit typhoid ini pulalah yang dari test darah siang tadi ditemukan sebagai penyebab derita yang sudah menyengsarakan saya hampir satu minggu. Glek โ€ฆ tipes lagi โ€ฆ Untungnya saya tadi memberanikan test darah, jadi dokter tidak salah meresepkan obat untuk saya.

Kata dokter saya harus beristirahat, ngga boleh begadang dulu, ngga boleh memakan makanan yang kasar โ€“ kasar dan pedas dan banyak โ€“ banyak minum jus jambu biji untuk mendongkrak trombosit saya yang anjlok …

t e r k a p a r

ya, hari ini saya terkapar. flu disertai batuk disertai radang tenggorokan dan radang saluran pernafasan selalu tidak mudah. berat. lha pilek saja sudah terasa menderita. apalagi bertumpuk – tumpuk seperti ini.

pokoknya saya harus segera pulih. everything gonna be ok. ok ok ok. mensugesti diri sendiri. ditambah istirahat. ditambah minum obat.

Menunggu itu Super Duper Melelahkan

Pengalaman paling melelahkan dalam hidup saya adalah cape menunggu. Saya kurang terlatih untuk untuk berkompromi dengan keterlambatan. Tidak penting apa yang menjadi alasan keterlambatan.

Seperti pada beberapa waktu lalu. Saya punya janji untuk ketemu dengan seorang teman pada jam 17:00 wib. Karena jarak antara posisi saya dengan tempat bertemu itu cukup jauh, saya pikir jarak sekitar 40 km umumnya bisa ditempuh dalam waktu kira – kira 1 jam, saya pun sudah siap – siap mulai jam 15:00 wib agar jam 15:30 sudah bisa mulai jalan.

Apesnya, kawan saya yang sudah janji untuk mengantar saya pada jam 15:00 wib tidak kunjung datang untuk mengantar saya. Sampai beberapa kali saya telpon dan SMS dan baru bisa meluncur pada jam 16:30 wib. Untuk kasus seperti ini saya harus menanggung kelelahan ganda. Biang cape pertama adalah kompromi dengan jam karet yang sama sekali bukan nature saya. Kedua, saya akan menanggung malu jika tidak bisa datang menepati janji tepat waktu. Ketiga, saya harus menanggung resiko perjalanan karena terpaksa memacu laju kendaraan 2 kali kecepatan aman. Nah, malah jadi triple melelahkan kan ๐Ÿ˜€

Posted with WordPress for BlackBerry.

Menulis Obituari, Bagaimana ya?

Obituari. Merupakan berita tentang seseorang yang baru saja meninggal dunia. Obituari biasanya dibuat untuk orang – orang besar. Atau setidaknya bagi orang – orang yang selama hidupnya memberikan banyak inspirasi. Orbituari adalah “review” tentang seseorang?

Saya mengalami kesulitan untuk membuat semacam ‘obituari’ yang ingin saya buat untuk sahabat dekat yang telah setidaknya memberikan banyak inspirasi bagi saya. Saya juga tidak tahu apakah yang akan saya buat itu bisa disebut sebagai obituari. Karena kawan saya itu telah beberapa bulan meninggal. Ia adalah Ersyad. Meninggal dunia pada tanggal 3 Nopember 2010. Bertepatan dengan hiruk pikuk pengungsian warga yang terkena erupsi Merapi.

Saya tidak menargetkan kapan obituari yang akan saya buat itu akan selesai. Yang saya lakukan saat ini adalah baru mengumpulkan hal – hal yang bagi saya menarik dan berkesan yang berserakan di dalam ingatan dan kenangan saya ke dalam suatu catatan. Dan karena saya sama sekali tidak punya ide akan bagaimana seharusnya obituari itu dibuat, saya membaca – baca obituari tokoh – tokoh terkenal. Berharap dari tulisan obituari itu saya dapat belajar dan mendapatkan style yang cocok dengan pembawaan saya.

Barangkali anda punya pengalaman membuat obituari. Atau anda punya link tentang tutorial/guideline dalam membuat suatu obituari. Atau anda punya link obituari yang menurut anda bagus. Mohon untuk beritahu saya.ย Terimakasih.

Konyol: Mencampur Air Panas dan Air Dingin

Kisah konyol ini terjadi ketika siang ini saya yang sedang menderita radang tenggorokan sedang perlu untuk banyak – banyak meminum air mineral atau air putih jernih yang bersuhu ruangan. Tau sendiri, radang tenggorokan tidak mau toleran dengan minuman dingin atau minuman panas. Apalagi minuman bergula seperti teh panas kental manis kesukaan saya.

Sambil memendam rasa konyol dalam hati dengan bibir menahan ketawa, apa yang saya lakukan tadi adalah menuangkan air panas dari kran dispenser sebanyak kira – kira sepertiga tempat minum, kemudian sedikit demi sedikit menuanginya lagi dengan air dari kran berwarna hijau yang bersuhu dingin. Saya berhenti menuangkan air dingin setelah saya rasa mendapatkan suhu yang sesuai.

Pikir saya, betapa mubadzir perilaku seperti ini memboroskan energi. Salah saya? Atau salah orang yang mendesain Dispenser yang sok punya asumsi bahwa orang itu hanya minum air panas atau air dingin ๐Ÿ˜€

Berinternet Ala Orang Aneh

Apakah beberapa tahun belakangan ini internet Indonesia lebih sepi pada akhir pekan dan hari libur. Kalau dilihat dari seberapa banyak teman saya yang online baik di Yahoo Messenger, Gtalk, Facebook memang benar. Orang โ€“ orang yang kelihatan online hanya beberapa saja. Itu pun kebanyakan online dari perangkat bergerak mereka. Trafik blog saya ini pun menurun tajam pada akhir pekan. Terlebih pada long weekend.

Beda banget dengan apa yang saya alami pada sekitar tahun 2000-an. Terlebih tahun 1999-an ke belakang. Saat itu saya sering kali menghabiskan akhir pekan ke warnet. Maklum, internet pada saat itu belum cukup terjangkau bagi pelanggan rumahan. Browsing, Email-ing, Chatting Y!M (atau malah IRC) adalah hiburan yang saya dinikmati pada jamannya. Koneksi lemot dan ruangan warnet yang sumpek belum jadi masalah saya saat itu. Enjoy aja ๐Ÿ˜€

Kegemaran berinternet pada akhir pekan dan hari liburan saya dulu itu bukan karena saya mengidap kelainan. Online diakhir pekan malah gaya pada jaman itu. Buktinya, saya menemukan banyak teman chating. Tidak sedikit dari mereka yang tetap jadi teman sampai sekarang. Jaman dulu itu kalau chating pada hari kerja malah temannya hanya sedikit.

Kini orang yang duduk seharian di depan internet di akhir pekanlah yang โ€œtidak biasaโ€. Kalau bukan workaholic, sysadmin, penjaga warnet, apa lagi? Pasti dia adalah โ€œorang anehโ€. Termasuk penulis posting ini. hihihi

Posted with WordPress for BlackBerry via Telkomsel Network

Etika Memakai Gadget Pada Meeting

Pekan lalu, ketika ada ribut โ€“ ribut tentang penyalah-gunaan fungsi galaxy tab di gedung dewan yang terhormat, seorang teman senior saya nyeletuk, โ€œKenapa sih man โ€“ temen di DPR dari partai XYZ, -secara teman saya ini big fan partai XYZ– ngga bikin kode etik agar tidak pakai henpon yang mahal โ€“ mahal. Secara mereka kan hanya perlu telpon sama SMS -an doangโ€

Menurut saya sih ngga ada salahnya seorang anggota dewan punya gadget mahal. Asal bisa menggunakan pada tempatnya. Dan meningkatkan produktifitas kerja. Bukan meningkatkan kepuasan syahwat saja.

Sebenarnya, seberapa etis sih menggunakan gadget saat meeting. Secara saat ini, yang bukan anggota DPR pun susah untuk pisah dengan gadget. Termasuk saya, tentu saja. ๐Ÿ˜€

Kalau tiba โ€“ tiba handphone mendering โ€“ dering ditengah – tengah meeting diikuti pembicaraan telepon, maka hampir semua orang menyepakatinya sebagai perbuatan asusila. Apalagi clang cling clang cling bunyi notifikasi email+chat client pada gadget. Baca lebih lanjut

Penyebaran Virus Lewat Kebiasaan Jabat Tangan?

Apabila sedang sedang sakit, terutama sakit yang saya ketahui disebabkan oleh bakteri dan virus seperti flu, saya merasa risih/enggan bila harus bersalaman dengan teman – teman saya dan orang – orang disekitar saya. Saya meyakini bahwa kontak langsung adalah media penularan yang bagus. Saya tidak ingin jadi penebar petaka. Semua orang memang tahu kalau dengan rajin mencuci tangan setelah kontak dengan banyak orang akan mengurangi resiko penularan penyakit karena bakteri dan virus, tetapi siapa yang mau peduli untuk repot – repot mencuci tangan. Jarang ada orang serajin itu. Termasuk saya. Sayapun sering merasa ย agak ngeri untuk bersalaman dengan banyak – banyak orang terutama ketika sedang wabah flu dan wabah virus. Tempat mencuci tangan tidak selalu tersedia di banyak tempat.

Baca lebih lanjut

Siapa Saja Yang Boleh Mengritik?

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman – teman saya berdebat, lebih tepatnya berdiskusi, tentang baik atau buruknya memberikan kritik terhadap suatu produk. Produk itu katakanlah sabun colek, minyak goreng, film yang tengah beredar di Cinema atau Undang – Undang yang baru saja disahkan oleh DPR.

Teman saya ada yang bilang, daripada mengritik akan lebih baik bila kita menunjukan ย karya kita yang lebih baik.

Ehmmm … . Sekarang analogi-nya begini. “Kamu programmer kan?” saya melanjutkan, “Kenapa kita tidak berterimakasih bila ada seseorang yang bisa menunjukan bug pada program buatan kita meskipun orang itu tidak bisa bugs fix sekalipun.

Atau kita masih mau menunggu masalah lebih besar biar datang …”

Wajah Indonesia Lebih Cantik dari Rasellya Rahman Taher alias Selly

  • Dompet saya pernah tercecer di sekitar lapangan basket di suatu sekolah. Petang itu saya mencarinya, tapi hasilnya nihil. Barangkali itu belum rejeki saya. Beberapa hari kemudian, saya menerima SMS yang berisi agar saya mengambil dompet yang hilang itu di rumahnya. Dompet saya dikembalikan dengan segenap isi tidak ada yang kurang oleh seorang Pak Wasto.
  • Di Angkot Kobutri, ada seorang siswi SMK N 1 Wonosari yang memberikan sebuah flashdisk. Dia bilang itu flashdisk milik saya karena di dalamnya ada foto – foto mirip saya. Rupanya flashdisk itu tercecer ketika saya ke sekolah dia.
  • Seseorang menemui saya dan mengembalikan ponsel Sony Ericsson Cybershoot kesayangan saya. Padahal saya belum merasa kehilangan.
  • Kamera Digital Nicon Coolpix saya disimpan oleh seorang sopir angkot jurusan Paliyan – Wonosari sehingga ย dapat dengan mudah saya temukan lagi.
  • Lupa tidak membawa dompet membuat saya panik ketika harus membayar ongkos angkot. Untungnya ada seorang cewek cantik yang tiba – tiba membayari ongkos itu. Pak Sopir maklum untuk kesekian kalinya saya tidak bisa membayar angkot karena ketinggalan dompet. Sambil senyum – senyum, pak sopir bilang, “Ngga apa apa mas. Lain kali masih ngangkot lagi kan :), Enak ya mas diongkosin sama cewek cantik”.

Cerita – cerita saya ini membuat saya tidak mudah untuk mengerti bila ada orang yang mengidentikan watak orang Indonesia itu sama dengan wajah Rasellya Rahman Taher alias Selly, Melinda Dee, Gayus Tambunan, dan lain – lain.

Ada lebih banyak wajah Indonesia yang lebih cakep dan ganteng dari mereka.ย Apabila ada orang mengidentikan wajah Indonesia itu secantikย Rasellya Rahman Taher alias Selly, itu karena mereka kurang beruntung tidak lebih dulu bertemu dengan Indonesia Indonesia yang hatinya sehari hari saya temui.