Swiftkey, Quick Type Bahasa Indonesia di iOS 8 (iPhone 5s)

Dalam postingan sebelum ini, saya mengeluhkan kenapa keyboard Bahasa Indonesia di iOS 8 di iPhone 5s saya tidak mendukung Quick Type. Ini keluhan kenapa Bahasa Indonesia seolah tidak dianggap. Apa mereka pikir mengetik dalam Bahasa Indonesia tidak perlu cepat-cepat, tidak perlu dibuat mudah.

Untungnya di iOS 8, API untuk keyboard telah dibuka sehingga developer leluasa untuk mengembangkan aplikasi 3rd party. Bersamaan dengan launching iOS 8 kemarin, ternyata sudah banyak developer yang meluncurkan keyboard 3rd party. Salah satunya adalah swiftkey.

Swiftkey inilah yang saya coba. Saya mencoba Swiftkey karena sebelumnya saya sudah familier dengan Swiftkey di Android dan alasan terpentingnya adalah: GRATIS. Toh, kali ini saya hanya bermaksud coba-coba saja memasang keyboard iPhone yang dibuat oleh bukan Apple. Banyak aplikasi keyboard 3rd party untuk iOS 8 yang berbayar yang tentu belum saya coba.

Untuk menginstall Swiftkey bisa langsung mengunduhnya dari Appstore. Ukuran file cukup besar. Sekitar 26 MB. Begitu selesai di-install, Swiftkey perlu kita tambahkan sebagai keyboard baru dari Menu: Setting > General > Keyboard> Add New: kemudian pilih Swiftkey.

Swiftkey on iPhone 5s

Swiftkey on iPhone 5s

Tampilan keyboard Swiftkey hitam, gelap dan terlihat bagi saya kurang menarik. Saat ini theme dari Swiftkey belum bisa diganti-ganti. Mungkin menunggu update beberapa waktu ke depan. Mencoba-coba mengetik dengan Swiftkey ini saya menemukan hal menyenangkan: yaitu muncul prediksi kata-kata Bahasa Indonesia, yay. Meneruskan mengetik dengan Swiftkey rupanaya keyboard ini menampilkan prediksi kata-kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tanpa perlu mengubah setting apa pun.

Fitur lain yang belum saya rasakan manfaatnya adalah Swiftkey Cloud. Fitur ini hanya aktif bila kita sign in dengan Facebook atau Google+. Fitur ini konon akan mensinkronisasikan suggestion berdasar kebiasaan mengetik kita dengan beberapa mobile device yang sama-sama menggunakan Swiftkey. Barangkali prediksi/suggestion Swiftkey ini akan sama ketika saya mengetik di iPhone dan Android saya. 🙂

Sebagai kesimpulan: Swiftkey merupakan keyboard pihak ketiga yang layak kita install karena: Gratis dan fungsional karena mendukung Bahasa Indonesia.

Upgrade iOS 8 di iPhone 5s dan Sedikit Review

Perlu waktu 2 jam lebih untuk mendownload iOS 8 untuk iPhone 5s dengan koneksi Telkom Speedy yang saya gunakan. Mendownload file sebesar 1.92 GB saja memerlukan waktu selama ini benar-benar sebuah uji kesabaran. Nah, buat yang nanya apa gunanya internet cepat. :_D Kalau bukan karena Apple yang membuat saya penasaran habis dengan fitur-fitur baru yang ditawarkan pada OS ini, pasti saya sudah cancel download yang mengeong ini.

Setelah firmware iOS 8 untuk iPhone 5s siap, proses instalasinya sendiri terbilang cepat. Kurang dari 30 menit saya rasa.

Home Screen iOS 8 on iPhone 5s

Home Screen iOS 8 on iPhone 5s

Untuk upgrade OS ini saya tidak melakukannya secara OTA (over the air). Saya memilih memanfaatkan bantuan iTunes. Karena meski dari info upgrade di iPhone menunjukan perlu mendownload file sebesar 1.2 GB saja, tetap saja diperlukan free space selega 5 GB -an di iPhone. Saya tahu ini karena sebelumnya saya search “iOS 8” di twitter sebelumnya. 😀 Saran saya bagi yang baru akan melakukan upgrade, gunakan saja bantuan iTunes. Ini sangat membantu bagi pemilik iPhone yang memory internalnya 16 GB dan males menghapus-hapus konten. Bagi pemilik iPhone 32 GB ke atas dengan memory yang lega melakukannya secara OTA saya kira tidak masalah.

Seingat saya ada 2 kali proses restart sampai dilayar iPhone muncul tulisan “Hello” kemudian saya hanya perlu menekan beberapa kali tombol next saja sampai saya mendapatkan Tampilan Home Screen seperti di bawah. Oh, iya, diantara beberapa kali menekan tombol next ada tawaran apakah ingin meng-upgrade iCloud. Kali ini saya menjawa “Tidak” dulu, karena toh file yang ada di iCloud baru bisa dibaca nanti setelah ada OS X Yosemite. Sekarang belum bisa.

Apa yang pertama kali terlihat berbeda dari tampilan iOS 8 ini adalah gambar hati (icon aplikasi Health), gambar buku (icon aplikasi iBook) dan Control Center dengan tampilan yang berbeda. Tidak ada fungsi baru dalam Control Center dengan tampilan barunya yang menurut saya tidak sebagus yang di iOS 7.

Health App di iOS 8

Health App di iOS 8

Aplikasi yang pertama kali saya coba adalah Health. Begitu aplikasi Health terbuka, saya tidak punya ide tentang apa saja yang ditampilkan aplikasi ini. Saya hanya melihat-lihat setting dan menu tanpa tahu pasti apa yang perlu saya lakukan, hehe. Hal yang bisa saya lakukan sebatas memasukkan data tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, tanggal lahir dan jenis golongan darah. Pagi ini, selang sehari saya menggunakan iOS 8, yang sudah bisa saya baca di Health adalah seberapa jauh saya sudah berjalan dari kemarin siang sampai pagi ini. Tentu ini jarak berjalan yang diukur ketika saya membawa iPhone.

Kamera adalah aplikasi yang paling saya gunakan di iPhone. Seharusnya memang saya segera mencobanya.

Kamera di iOS 8 ini mempunyai beberapa fitur yang bisa langsung digunakan. Fitur-fitur itu adalah: timer, manual exposure dan time lapse. Timer ini bisa digunakan untuk kamera depan dan kamera belakang iPhone dan mempunyai dua pilihan waktu yaitu 3 dan 10 detik. Bila mengambil gambar dengan fitur timer, maka kamera akan mengambil 10 foto secara sekaligus (burst). Kita bisa menyimpannya semua atau langsung memilih yang terbaik. Fitur timer ini pun dilengkapi dengan suara beep dan bila yang digunakan adalah kamera depan, maka LED Flash akan flashing beberapa kali sampai Kamera mengambil gambar. Btw fitur ini akan bermanfaat bagi yang suka selfie berjamaah atau welfie. Kehadiran fitur timer di Kamera iOS 8 membuat beberapa aplikasi Timer Kamera di iPhone menjadi tidak berguna. Sekarang aplikasi-aplikasi Timer itu sudah saya hapus.

Manual Exposure di Kamera iOS 8 tidak langsung kelihatan begitu kamera dijalankan. Tap to fucus dimanapun di tampilan view finder kamera, bila kemudian muncul icon bergambar matahari berarti Exposure siap diatur-atur manual. Geser slider ke atas dan kanan untuk menaikan exposure atau ke bawah dan kiri bila menginginkan hasil foto lebih gelap. Time Lapse di Kamera iOS 8 belum sempat saya coba. Bukan karena tidak tertarik, tetapi karena belum sempat saja, dan belum punya Tripod khusus untuk iPhone agar video time lapse yang dibuat bisa leluasa mengkomposisikannya.

Dibandingkan Android dan Blackberry (entah bila di Windows Phone karena saya belum pernah punya), iPhone jauh ketinggalan dalam hal kemudahan untuk mengetik. Untuk itulah barangkali Quick Type dihadirkan di iOS 8 ini. Di keyboard iPhone 5s saya sebelumnya membuat 3 setting bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, US English dan Emoji. Pada mode US English, fitur Quick Type berjalan bagus. Kabar buruknya adalah begitu saya berpindah ke input Bahasa Indonesia. Quick Type nya iOS 8 tidak bisa banyak membantu mengetik dalam Bahasa Indonesia. Padahal ini adalah bahasa yang sering saya gunakan.

Sedikit obat kecewa dari ketidak mampuan Quick Type di iOS 8 membantu memperlancar mengetik dalam Bahasa Indonesia, fitur dictation yang baru ada ditambahkan di keyboard bahasa Indonesia hampir bisa mengerti semua kata-kata yang saya ucapkan. Kesalahan yang terjadi bisa dibilang sedikit. Misalnya ketika saya mengucapkan “Suro Efendi”, maka iOS 8 selalu gagal dan mengetiknya sebagai: Saran Effendi. hihi

Interactive Notification. Sebagai mantan pengguna Blackberry, tentu Interactive Notification merupakan fitur yang saya tunggu-tunggu. Saya membayangkan membalas semua pesan baik mail, messenger, social media dll melalui satu tempat sebagaimana yang bisa dilakukan melalui Blackberry Hub. Sayangnya fitur Interactive Notification bahkan sepertinya belum jalan di iPhone 5s saya. Semua notifikasi sepertinya masih seperti apa yang ada di iOS 7. Saat ini saya masih mencari apa masalahnya atau dimana saya bisa men-setting Interactive Notification.

Sementara ini dulu yang saya tuliskan dari pengalaman saya meng-upgrade iPhone 5s ke iOS 8. Saya akan tambahkan atau membuat post blog baru seiring saya menggunakan sistem operasi mobile dari Cupertino ini. 😀

Power Song untuk Jogging

Entah angin apa yang mendorong saya pada sore hari tadi hingga saya mencuci sepatu lari yang sudah saya biarkan bulukan selama berbulan-bulan. Dorongan angin apa pun itu, yang jelas bagi saya ini adalah niatan yang lebih nyata untuk besok sore kembali menunaikan ritual jogging/latihan lagi, meneruskan latihan yang sudah saya mulai sejak dua pekan lalu. Semoga besok sore sepatu dan kaos kaki yang tadi saya cuci sudah kering dengan baik dan bisa digunakan dengan nyaman.

Melengkapi niatan jogging dan selakigus mempersiapkan jogging saya besok, kali ini saya ingin menuliskan sound track jogging yang kali ini saya perbaruhi dengan lagu-lagu yang terbilang baru, lagu-lagunya anak muda jaman sekarang, hihi. Oh iya sound track kalau menurut istilah aplikasi Nike Running+ yang saya gunakan disebut sebagai Power Song.

Nah, ini nih beberapa lagu yang saya coba gunakan untuk teman jogging:

  • Wrecking Ball – Miley Cyrus
  • Pompeii – E.S Posthumus
  • Burn – Ellie Goulding
  • Wake Me Up – Avicii
  • Counting Stars – One Republic
  • True Love – Pink ft Lily Allen
  • Royal – Lorde
  • Stay the Night – Zedd
  • Roar – Katy Perry
  • Story of My Life – One Direction
  • Let it Go (from Frozen) – Demi Lovato

Lagu-lagu di daftar yang saya buat ini sengaja tidak saya beri nomer. Urutannya bebas-besar saja. Malah kalau saya saya buat suffle acak saja.

Bila kamu seperti saya, suka jogging lagu-lagu apa saja yang bisa membuatmu bersemangat dan bertenaga? Bagikan dong. 🙂

Sate Kambing

Apabila diolah menjadi sate dan tongseng maka daging kambing akan menjadi makanan favorit saya.

Entah kenapa sejak kecil saya sudah menikmati sate dan tongseng. Mungkin ini gara-gara bapak saya dulu sering membelikan kami (saya, adik dan simbok) sate dan tongseng kambing pada akhir pekan ketika beliau pulang dari buruh. Saya tahu terlalu sering makan sate dan tongseng kambing adalah ancaman kolesterol dan hipertensi, namun sulit rasanya untuk berhenti menikmati sate kambing. Sampai sekarang kami tetap sering menikmati jenis makanan ini. Sebagai kata-kata penghiburan, saya sering bilang kepada diri sendiri dan kami begini: Asal tidak tiap hari dan tetap berolah raga!.

Alasan lain kenapa mengurangi makan sate dan tongseng kambing sulit, bagi kami adalah terlalu banyaknya tempat Sate Kambing enak di daerah dimana kami tinggal, di Gunungkidul. Sebut saja Sate Yu Tini, Sate Pak Kambing Pak Turut, Sate Kambing Nongko Doyong dan masih banyak lagi. Belum penjual Sate dan Tongseng kambing yang tidak memasang nama. Juga enak-enak seperti halnya yang mangkal di depan Puskesmas Playen.

sate

Tukang Sate Kambing di depan Puskesmas Playen ini meskipun tidak ternama, merupakan salah satu favorit saya. Sampai-sampai dalam satu tahun terakhir ini merupakan tempat Sate dan Tongseng Kambing yang paling sering kami beli.

Sate dan Tongseng kambing di depan Puskesmas Playen ini rasanya pas dengan lidah dan perut saya. Meskipun disate, daging kambingnya empuk dan nyaman dikunyah, juga bau anyir (prengus) kambingnya tidak menyengat. Bila saya memasan sate di sini, saya bilang kepada tukangnya agar jangan dibuat terlalu pedas. Bagi pecinta sate kambing mungkin heran, bagaimana bisa bumbu kecap untuk sate kambing tetap enak bila dibikin tidak pedas. Hanya bercampurkan lebih banyak irisan bawang mewahnya. Nyatanya lidah saya tetap bisa menerima racikan ini.

Di awal saya menyebut pas di perut apa maksudnya. Ini masalah saya saja sebenarnya. Akhir-akhir ini karena gangguan asam lambung, rasanya perut saya menjadi sensitif dengan bumbu rempah, lemak pada daging dan pedas cabai. Itulah kenapa saya berpesan agar sate untuk saya tidak terlalu pedas. Dan nyatanya memang baik sate atau tongseng bikinan tukang Sate yang jualan di depan Puskesmas Playen ini aman-aman saja bagi perut saya. Jadi saya bisa memikmati tanpa rasa khawatir.

Oh, iya, sate dan tongseng depan Puskesmas Playen, selain pas di lidah dan pas di perut, juga pas dan aman untuk dompet saya, harga per porsi Rp 15.000,- saja. 🙂

Satu hal yang Anda perlu tahu sebelum memasan sate di sini adalah: untuk sampai siap dihidangkan, tukang satenya perlu waktu cukup lama. Harus cukup bersabar menunggui mas-mas tukang satenya meracuk bumbu-bumbu dengan cermat dan hati-hati memotong daging kambing agar didapat ukuran yang pas. 😀

Memilih Waktu yang Tepat untuk Jogging

Bagi saya waktu terbaik untuk jogging adalah pada pagi hari. Karena pada pagi hari tubuh terasa lebih segar karena telah beristirahat semalaman, tidak lelah. Udara di lingkungan dimana saya tinggal juga masih bagus, belum banyak debu beterbangan. Jalanan yang saya lalui sebagai lintasan jogging juga belum ramai kendaraan.

Tetapi, dalam 2 pekan ini saya memilih jogging pada sore hari. Ini juga ada alasannya. Alasan utamanya karena pada pagi hari pada musim kemarau ini sangat dingin. Ini mungkin karena faktor “U” yang membuat pertarungan dengan hawa dingin bagi saya terasa cukup berat. Alasan yang tidak terlalu penting adalah: karena saya ingin variasi.

Jogging pada sore hari ini agak tricky. hihi. Ini pengalaman saya dalam beberapa kali jogging sore. Pada sore hari umumnya jalanan ramai oleh kendaraan, sehingga saya perlu memilih lintasan yang tidak terlalu banyak kendaraan. Bukan hanya sepi dari kendaraan, tetapi jalanan yang bagus dilintasi jogging tidaklah baik bila banyak debu jalan, apalagi debu batu kapur khas Gunungkidul. Hembusan angin kemarau adalah  tantangan yang lain lagi. Bila nekad melawan hembusan angin, bukan sehat, salah-salah yang didapat setelah jogging malah masuk angin.

Kemarin sore, untuk ke sekian kalinya saya memilih Jogging di jalan raya di sekitaran Bukit Sodong. Saya memulai jogging pada sekitar pukul 5 sore. Pada jam-jam segitu hari sudah tidak terasa panas terik. Matahari sore hangat menerpa wajah dan tubuh saya.Rasanya langkah kaki saya ringan berlari dari selatan ke utara, ke arah Paliyan. Setengah joggin berikutnya, ketika saya berlari balik dari utara ke selatan, langkah lari saya terasa berat. Rupanya saya melawan hembusan angin dari selatan. Sampai sampailah saya ke titik dimana seharusnya saya berhenti, yaitu dimana saya tadi mulai jogging. 😀

Saya jogging kurang lebih 19 menit. Jarak tempuh saya waktu itu tidak bagus. Hanya 3 km yang biasanya bisa saya selesaikan dalam waktu kurang dari 14 menit. 😀

Di ujung lintasan jogging saya beristirahat beberapa menit sambil menenggak air mineral. Kira-kira jam 6 kurang udara sudah berubah menjadi dingin. Bisa dibilang sangat dingin disertai hembusan angin kemarau. Apalagi saya pulang ke rumah dengan mengendarai motor. Ini berarti besok-besok saya harus jogging lebih awal. Mungkin jam setengah lima lebih baik. 

Sampai ketemu pada jogging sore berikutnya. 😀

Kemeriahan Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta di Gunungkidul

Sebelumnya saya tidak mengira kalau kirab budaya pada pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta ke 26 di kota Wonosari meskipun akan diikuti oleh kesenian unggulan dari masing akan berlangsung meriah. Kenapa, karena sejak awal kemarau ini di Gunungkidul sedang marak musim rasulan yang mana masing-masing membawa kemeriahan kirab budaya. Juga di bulan Agustus yang baru saja berlalu telah banyak sekali menyuguhkan banyak pameran seni dan kreativitas di tengah masyarakat. Itulah alasan saya kenapa saya tidak berencana menonton kirab budaya dalam pembukaan FKY 26 di Wonosari selain karena alasan cuaca panas dan berdebu yang saya khawatirkan mengganggu kesehatan tubuh saya yang sedang sensi.

Sampai saya terganggu oleh akun twitter @TentangGK yang Rabu sore itu me-live tweet kemerihanan Kirab Budaya Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta. Foto-Foto Kirab Budaya dari Jalan Baru sampai sepanjang jalan menuju eks terminal Baleharjo Wonosari dimana upacara pembukaan nantinya akan digelar menggugurkan niatan saya untuk tetap tinggal di rumah dan menonton pentas FKY nanti malam harinya. Saya pun segera shalat ashar, men-starter motor dan meluncur ke eks terminal Baleharjo.

tari reog jalanan

Benar apa kata @TentangGK. Di sepanjang jalan Baron penuh keramaian pawai kirab budaya dan masyarakat yang menonton penuh kegembiraan. Di sana saya pun bertemu dengan teman-teman fotografer yang mencoba menangkap keindahan kirab siang itu dengan melukiskannya dalam format digital. Saya pun segera berbaur dengan mereka dan masyarakat untuk menikmati keragaman kreativitas kelompok-kelompok kesenian di Gunungkidul sambul sesekali memotret dengan kamera ponsel. Dengan kamera ponsel tentu saja akan susah bagi saya mendapatkan foto-foto terbaik, tetapi lumayan untuk sekedar saya tempel-tempel di sini. 😀

Pada akhir sore, kemeriahan pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta di Wonosari ditutup dengan pementasan tari kolosal yang atraktif.

Tari kolosal yang berjudul Bregada Harga Daksina ini menurut koreographer -nya, Sri Hartati (38) dimainkan oleh lebih dari 200 penari yang berasal dari berbagai sanggar dan sekolah di Gunungkidul. Dikatakan oleh Tatik, memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk menyelaraskan gerak dan bermacam karakter dan penari sampai tercipta perpaduan yang harmonis dan indah.

Agak berbeda dengan kebanyakan tarian yang umumnya membawakan sebuah kisah, tidak halnya dengan Bregada Harga Daksini. Tarian ini mengangkat unsur etnik dan gerak yang disari padukan dari berbagai kesenian yang telah dan pernah berkembang di Gunungkidul. Jadi tidak heran bila lebih banyak gerakan dan tempo yang dengan mudah dilihat diambil dari seni reog dan jathilan. Harus diakui seni inilah yang terbukti sampai saat ini makin berkembang di Gunungkidul. Ini juga terbukti dengan pada kirab kali ini dimana hampir ke-18 kecamatan se-Gunungkidul membawa kesenian unggulan berupa kreasi reog jathil dan variannya.

Berbalut warna sunset, gelar tarian masal ini akan berakhir dengan meninggalkan kesan tersendiri bagi ribuan penonton yang tetap enggan beranjak sampai hentakan musik gamelan yang mengiringi berhenti. …

🙂

Jadwal Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Gunungkidul

Semarak Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2014 telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Even kebudayaan yang dihelat setahun sekali ini digelar di banyak tempat di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Jogja yang dikenal sebagai kota budaya tentu saja menampilkan produk kreatifitas terbaiknya pada acara festival seperti ini. Banyak pentas dan pertunjukan yang bagi saya sangat menarik. Hanya saja karena tempat pertunjukannya jauh dari rumah tinggal saya membuat tidak memungkinkan bagi saya untuk menonton semua event dalam rangkaian acara FKY ini.

Beruntung event Festival Kesenian Yogyakarta itu juga digelar di Gunungkidul, di kota Wonosari, tepatnya di bekas terminal lama yang terletak di desa Baleharjo. Event FKY diselenggarakan juga di Gunungkidul ini baru saya ketahui siang tadi ketika ada pemasangan jadwal FKY di pertigaan Siyono.

Berikut ini adalah Jadwal Festival Kesenian Yogyakarta di Gunungkidul:

1. Rabu, 3 September 2014

  • Jam 11:00 – 15:00 WIB – Kirab Budaya yang diikuti 18 kesenian unggulan yang mewakili 18 kecamatan se-Gunungkidul
  • Jam 15:00 – 17:00 WIB – Upacara Pembukaan dan Tarian Jathilan Kolosal
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Gelar Sanggar Tari
  • Jam 21:00 – 23:00 WIB – Pentas Campursari SRGK – Dhimas Tedjo Blangkon Gunungkidul

2. Kamis, 4 September 2014

  • Jam 15:00 – 17:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:30 WIB – Pentas Seni Reguler: Parade Kesenian Anak
  • Jam 21:30 – 02:00 WIB – Wayang Kolaborasi PEPADI Gunungkidul

3. Jum’at, 5 September 2014

  • Jam 15:00 – 17:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 23:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Parade Band

4. Sabtu, 6 September 2014

  • Jam 15:00 – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Gelar Sanggar Tari
  • Jam 21:00 – 23:00 WIB – Sendratari Ramayana

5. Minggu, 7 September 2014

  • Jam 15:00 WIB – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Gelar Sanggar Tari
  • Jam 21:00 WIB – 23:00 WIB – Reog Wayang Satria Pinandhita

6. Senin, 8 September 2014

  • Jam 15:00 WIB – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Musik Tradisional Thek Thek Laras Mudho – Tawar Sari
  • Jam 21:00 – 23:00 WIB Wayang Kampung Sebelah Ki Jlitheng Suparman

7. Selasa, 9 September 2014

  • Jam 15:00 WIB – 16:00 WIB – Pentas Reog dan Jathilan
  • Jam 19:30 – 21:00 WIB – Pentas Seni Reguler: Orkes Keroncong
  • Jam 21:00 WIB – 23:00 WIB – Kethoprak Kolosal karya Bondan Nusantara

Mata acaranya ada banyak sekali. Rencananya besok malam saya akan menonton Gelar Sanggar Tari di Panggung Pentas Reguler dan bila tidak belum ngantuk akan menonton Campur Sari Tejo. Jadi bila kebetulan di sana ada yang melihat saya jangan segan untuk menyapa. Apalagi bila mau nraktir saya wedhang ronde, hehe.

Harga Berbanding Kualitas?

Beberapa waktu yang lalu, saya main ke rumah seorang teman lama. Kebetulan saat itu teman saya sedang menyetem/tune gitar akustik miliknya. Sayang ada beberapa senar gitar yang sudah rusak. Ada yang putus dan ada yang kusut. Gitar itu pun kemudian digantung lagi.

Hari berikutnya, kebetulan saya ke kota. Teringat gitar teman saya yang belum bersenar, saya pun mampir ke toko alat-alat musik untuk membeli senar gitar. Di toko alat-alat musik itu saya ditanya mau beli senar nomor berapa. Lupa senar nomer berapa di gitar teman saya yang rusak/kusut, saya pun ingin membeli satu set senar gitar. Penjaga toko pun menyodorkan banyak jenis senar gitar dari harga termurah sampai yang mahal.

Bingung set senar gitar mana yang sebaiknya saya beli. Saya tidak tahu bagaimana cara memilih senar gitar yang bagus kualitasnya. 😀 Penjaga toko itu pun enggan menyarankan saya mana set senar gitar yang baik. 

Orang Jawa bilang, “Ana rega ana rupa“. Ada harga ada kualitas. Menggunakan kaidah ini maka set senar yang paling mahal adalah yang bagus kualitasnya. Kaidah ini benar ngga sih? Yaudah, kalau ragu diiyakan saja. 😀

Namun kali ini saya tidak membeli set senar yang paling mahal. Kaidah orang Jawa di atas masih saya tambahkan parameter kedua saya, yaitu yang kemasannya bagus, yang desain kemasannya lebih saya sukai. Jadilah saya membeli set senar gitar yang harganya nomer dua dari atas tetapi yang desain kemasannya terbaik menurut saya. Ini subyektif ya?

Nah, Ini nih suara senar gitar seharga Rp 42.500. Ada yang tahu apa judul lagu yang dicoba dimainkan oleh teman saya ini?

 

Memperbaiki Power Amplifier Rakitan

2 akhir pekan terakhir ini saya disibukan dengan hobby baru saya, yaitu ngoprek elektronika. Bukan benar-benar hobby baru sebetulnya karena sejatinya ini adalah hobby saya sejak kecil. Bahkan akhirnya saya pun sekolah jurusan elektronika. Jadi jangan heran ketika saya keasyikan ngoprek sampai-sampai blog ini terlantar. Sepi posting, hehe.

Niatan ngoprek saya kali sebenarnya bukanlah murni ingin bersenang-senang dengan tenol dan solder. Ini karena kebetulan Power Amplifier yang saya rakit (DIY (Do It  Yourself) Amplifier) sudah beberapa lama mangkrak, tidak terurus. Kebetulan pula saya membutuhkan sebuah Power Amp karena kangen dengan musik yang diputar dengan volume keras-keras. Dipikir-pikir daripada membeli Power Ampli baru, Amplifier DIY lama ini bisa diberdayakan kembali.

Berbekal peralatan seadanya, saat ini saya sudah tidak punya perlengkapan ngoprek proyek elektronika seperti dulu, alat-alat seperti multitester sudah lupa siapa yang pinjam kalau saya telah lupa dimana dulu menaruhnya. 😀 Saya mula-mula memeriksa kerusakan berbekal pengamatan visual saja. Tentu saja cara ini sangat tricky karena kebanyakan kerusakan pada komponen elektronika tidak bisa diamati secara visual. Bisanya bila kita mengujinya dengan serangkaian pengukuran.

Langkah pertama yang saya lakukan dengan power amplifier saya adalah dengan membukanya dan membersihkan dari debu-debu yang menggumpal. Setelah itu baru memeriksa tiap sambungan, konektor dan pengabelannya. Kamudian saya mencoba menghubungkan Amplifier ini dengan speaker dan input saya sambungkan ke laptop, karena ternyata saya sudah tidak ada head unit di rumah. 

Setelah semua tersambung, rupanya Amplifier ini masih berbunyi. Meski beberapa masalah langsung ketahuan. Masalah ini diantaranya adalah suara sember. Yang setelah saya cek ternyata speaker saya yang lama tidak terpakai sudah robek-robek. :-D. Masalah selanjutnya adalah ketika saya mencoba mengatur volume, bass, treble dan balance. Masalah yang ini pun solusinya mudah, karena kerusakan ini bisa dipastikan Potensiometer yang aus/kotor yang akhirnya perlu diganti.

Saya pun segera ke toko elektronika untuk membeli potensio meter dan speaker. Suara menjadi lebih baik setelah speaker dan potensio saya ganti. Tapi tetap saja suaranya belum seperti yang saya inginkan. Saya pun melakukan pemeriksaan lanjutan sampai saya memutuskan penggantian beberapa elco, resistor, capasitor dan yang paling mahal adalah IC STK 443. Sampai langkah terakhir ini, power amplifier telah sembuh dari sakitnya dan bisa kembali mengalunkan suara musik yang volume nya mampu memenuhi kamar saya. 😀

[[Playing : Queen – Love of My Life]] jreeeeeeeeng!