Apa Manfaat Health Kit di iOS 8?

Apa yang baru dari iOS 8 yang di-release oleh Apple beberapa waktu yang lalu adalah Health Kit (atau aplikasi kesehatan?). Di iPhone 5s yang saya update OS nya ke iOS 8, saya berkesempatan mencoba-coba Health Kit/ Health App ini.

Pertama kali membuka Health Apps bulan lalu saya merasa bingung dan tidak punya ide bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan aplikasi ini. Dibanding dengan aplikasi-aplikasi bawaan iOS 8 yang lain, Health Apps ini menurut saya merupakan aplikasi yang mempunyai menu (menu setting paling banyak). Dengan istilah-istilah kesehatan dan kebugaran yang tidak saya mengerti. Ini tambah membingungkan.

Mencoba mengutak-atik Health Apps, saya mencoba menambahkan sesuatu di dashboard aplikasi ini. Dashboard yang mulanya saya tambahkan adalah Walking+Running Distance dan Steps, kemudian Sleep Analysis. Ketika menambahkan ketiga dashboard itu saya tidak tahu bagaimana data bisa terupdate.

Beberapa waktu menggunakan iPhone 5s ber-iOS 8 sambil membawa-bawanya sambil sesekali membuka Health, rupanya Walking+Running Distance ini ter-update secara otomatis. Mungkin menggunakan GPS untuk menghitung seberapa jauh saya bergerak. Kemudian Steps juga terperbaruhi secara otomatis. Steps ini datanya mungkin mengambil menfaat dari co processor M7 di iPhone 5s saya. Nah bagaimana dengan Sleep Analysis? Ini rupanya tidak bisa terupdate secara otomatis. Kenapa? Karena saya tidak punya sensor atau perangkat fitness yang mampu mendeteksi kapan saya tidur dan kapan terjaga. Karenanya saya terpaksa mengisinya secara manual. Untung bisa diisi manual ya. πŸ˜€

Health Apps Dashboard

Health Apps Dashboard

Tampilan Dashboard Health Apps di atas cukup mudah dibaca. Sederhanya dalam satu bulan terakhir terbaca saya bergerak rata-rata 6,65 km per hari atau rata-rata 8.453 langkah per hari. Ingat ya data langkah ini terdeteksi ketika saya membawa iPhone saya. Padahal saya sering meletakkan iPhone saya. Artinya jumlah langkah saya yang sebenarnya pasti lebih banyak dari yang dibaca oleh Health Apps ini. Data jumlah langkah per hari ini mengingatkan saya pada iklan lama susu Anlene, yang menganjurkan agar kita bergerak sedikitnya 4.000 langkah per hari agar kita sehat dan tulang tidak keropos. Bila apa kata Anlene benar, maka saat ini jumlah langkah kaki per hari saya telah berada dalam angka aman, bahkan lebih dari cukup. Sleep Analysis pun menunjukan kalau dalam sebulan terakhir saya sudah cukup banyak tidur. Saya tidur rata-rata 6 jam 37 menit.

Nike Fuel yang ditampilkan pada dashboard ini saya kira tidak cukup akurat. Karena sumber datanya hanya dari Nike Running+ yang saya gunakan ketika saya lari. Sedangkan aktifitas saya yang lain tidak terlacak. Untuk melacak Nike Fuel secara lebih akurat mungkin saya harus menggunakan Nike Sport Watch atau Gelang Nike Fitness itu, atau Activity tracker yang lain yang compatible dengan iOS 8.

Health Apps Setting di iOS 8

Health Apps Setting di iOS 8

Nah, screen shoot di atas saya kira cukup menjelaskan komentar saya di awal yang menyebut Health Apps ini mempunyai setting yang banyak dengan istilah-istilah yang susah saya mengerti. Hanya ada beberapa data yang bisa saya isi manual seperti tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, tekanan darah yang diukur manual dengan tensi meter. Sementara yang lainnya saya biarkan kosong.

Mungkin Health Apps akan optimal digunakan ketika sudah didukung oleh penyedia aplikasi pihak ketiga dan perangkat fitness/kesehatan pihak ketiga pula. iPhone saja saya pikir belum mampu mengumpulkan data sebanyak itu. Sekalipun iPhone 6 hanya ada satu sensor baru yang ditambahkan, yaitu sensor altimetric barometer. Atau apa yang kelak akan bisa dilakukan Apple Watch untuk memaksimalkan Health Kit. Kita tunggu saja.

Ngomong-ngomong perangkat kesehatan apa saja sih yang sudah mendukung Health Kit di iOS 8? Juga aplikasi apa saja yang sudah dibuat yang memanfaatkan Health Kit ini. Saat ini yang saya tahu baru Nike Running+ dan Endomondo. hihi

Kamu Juga Tahu Lagu Itu?

Saya tahu Siri yang terpasang di iPhone (iOS) sebagai personal digital assistant dengan kemampuannya berkomunikasi dengan pengguna dengan “bahasa sehari-hari” atau natural language saat ini belumlah sempurna.

Untuk beberapa perintah dasar seperti: memerintahkan Siri untuk membuatkan saya sambungan telepon ke pacar, memutar lagu-lagu yang terdapat dalam iPhone, menjalankan aplikasi, melakukan pencarian di internet, memang Siri sudah bisa melakukannya dengan cukup baik. Kendalanya paling-paling hanya kekurang mampuan Siri mengenali bahasa sehari-hari saya. Itulah kenapa saya terpaksa berlatih menekuk lidah untuk melafal bahasa ala Paman Sam. Selain tentu saja, dukungan Apple untuk mengenali lingkungan saya tidaklah sebaik apa yang sudah dilakukan Google saat ini.

Pasti bukan saya kalau tidak suka iseng. Di tengah-tengah kebebalan mengerjakan rutinitas, “keluguan” Siri sering menjadi sasaran iseng saya. Saya tahu Siri tidak bisa menyanyi (karena ia pernah menolak permintaan saya untuk menyanyi), nyatanya setelah saya paksa beberapa kali berakhirlah dengan ketawa-ketiwi seorangan mendengarkan Siri yang terbata-bata menyanyi untuk saya. Memenuhi permintaan saya membaca puisi pun Siri bisa lakukan. πŸ˜€

Ada kemampuan baru yang ditambahkan Apple kepada nona Siri dalam upgrade iOS 8 yang bulan lalu saya pasang. Kemampuan itu adalah kemampuan Siri mengenali lagu-lagu yang diperdengarkan. Beberapa lagu barat yang saya coba tanyakan kepada Siri bisa dijawabnya dengan baik. Iseng lagi menjajal telinga Siri dengan lagu-lagu Indonesia, ia pun berhasil mengenali lagu-lagu Chrisye, Nicky Astria dan lain-lain. Sedikit sayang, Siri belum mengenal lagu campur sari terhosor karya Manthous sang maestro. πŸ˜€

siri 01 siri 02btw Siri lucu ya πŸ˜€

Swiftkey, Quick Type Bahasa Indonesia di iOS 8 (iPhone 5s)

Dalam postingan sebelum ini, saya mengeluhkan kenapa keyboard Bahasa Indonesia di iOS 8 di iPhone 5s saya tidak mendukung Quick Type. Ini keluhan kenapa Bahasa Indonesia seolah tidak dianggap. Apa mereka pikir mengetik dalam Bahasa Indonesia tidak perlu cepat-cepat, tidak perlu dibuat mudah.

Untungnya di iOS 8, API untuk keyboard telah dibuka sehingga developer leluasa untuk mengembangkan aplikasi 3rd party. Bersamaan dengan launching iOS 8 kemarin, ternyata sudah banyak developer yang meluncurkan keyboard 3rd party. Salah satunya adalah swiftkey.

Swiftkey inilah yang saya coba. Saya mencoba Swiftkey karena sebelumnya saya sudah familier dengan Swiftkey di Android dan alasan terpentingnya adalah: GRATIS. Toh, kali ini saya hanya bermaksud coba-coba saja memasang keyboard iPhone yang dibuat oleh bukan Apple. Banyak aplikasi keyboard 3rd party untuk iOS 8 yang berbayar yang tentu belum saya coba.

Untuk menginstall Swiftkey bisa langsung mengunduhnya dari Appstore. Ukuran file cukup besar. Sekitar 26 MB. Begitu selesai di-install, Swiftkey perlu kita tambahkan sebagai keyboard baru dari Menu: Setting > General > Keyboard> Add New: kemudian pilih Swiftkey.

Swiftkey on iPhone 5s

Swiftkey on iPhone 5s

Tampilan keyboard Swiftkey hitam, gelap dan terlihat bagi saya kurang menarik. Saat ini theme dari Swiftkey belum bisa diganti-ganti. Mungkin menunggu update beberapa waktu ke depan. Mencoba-coba mengetik dengan Swiftkey ini saya menemukan hal menyenangkan: yaitu muncul prediksi kata-kata Bahasa Indonesia, yay. Meneruskan mengetik dengan Swiftkey rupanaya keyboard ini menampilkan prediksi kata-kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tanpa perlu mengubah setting apa pun.

Fitur lain yang belum saya rasakan manfaatnya adalah Swiftkey Cloud. Fitur ini hanya aktif bila kita sign in dengan Facebook atau Google+. Fitur ini konon akan mensinkronisasikan suggestion berdasar kebiasaan mengetik kita dengan beberapa mobile device yang sama-sama menggunakan Swiftkey. Barangkali prediksi/suggestion Swiftkey ini akan sama ketika saya mengetik di iPhone dan Android saya. πŸ™‚

Sebagai kesimpulan: Swiftkey merupakan keyboard pihak ketiga yang layak kita install karena: Gratis dan fungsional karena mendukung Bahasa Indonesia.