Ketersediaan update iOS 7.1 untuk iPhone 5s ini saya ketahui kemarin, namun saya baru melakukan update itu pada pagi hari ini. Karena kemarin saya kesulitan menemukan koneksi Wi-Fi. File update sebesar 268 MB adalah volume yang besar untuk saya download menggunakan paket data seluler saya.
Melalui jaringan Speedy 3 Mbps, file update sebesar 268 MB bisa diunduh dalam waktu kurang dari 15 menit. Setelah file ini terdownload apa yang perlu saya lakukan adalah menyetujui Term and Conditions. Kemudian proses update berjalan otomatis. Seingat saya perlu satu kali restart otomatis sampai iPhone 5s siap dengan iOS terbarunya.
Perubahan yang paling kentara bagi saya di iPhone 5s dengan iOS 7.1 ini adalah pada tampilan keypad yang menjadi Bold. Bagi saya tampilan keypad yang lebih bold terasa membantu. Semoga dengan keypad bold ini bisa mengurangi tingkat ke-typo-an saya. Baca lebih lanjut →
Bertempat di Hotel Sheraton Mustika Jalan Laksda Adi Sucipto – Yogyakarta, pada tanggal 8 Maret 2014 pekan lalu saya mengikuti acara Konferensi GAPURA yang diselenggarakan oleh Google Indonesia. Acara yang bertujuan mengajak para pelaku UMKM untuk memaksimalkan penggunaan internet untuk mengembangkan usaha mereka, untuk menjangkau pasar yang lebih luas, dan untuk melihat peluang-peluang baru dalam berusaha.
Saya tidak datang sendirian dari Gunungkidul untuk menghadiri acara ini. Melainkan dengan mengajak seorang teman pelaku UMKM yang awam terkait penggunaan internet untuk mendukung bisnisnya. Saya ingin tahu secara langsung bagaimana manfaat acara yang diselenggarakan Google ini terhadap praktisi UKM.
Acara GAPURA dijadwalkan dimulai pukul 08:30 WIB. Sekitar jam 8 saya dan teman yang saya ajak ini sudah sampai di lobby Hotel. Nampak di sana sudah banyak sekali peserta konferensi GAPURA yang datang lebih awal. Berkenalan dengan beberapa peserta GAPURA saya menjadi tahu, kalau banyak peserta yang datang dari luar kota, ada yang datang dari Blitar, Solo, Semarang dan kota-kota tentagga yang lain.
Teman praktisi UMKM yang saya ajak, Pak Ali, langsung nampak antusias sekali dengan acara yang baru pertama kali ia ikuti ini. Ia segera memanfaatkan kesempatan ini untuk berkenalan dengan peserta-peserta konferensi GAPURA lainnya, ngobrol-ngobrol terkait usaha mereka dan lain-lain. Ini bagus.
Pukul 09:30 WIB, setelah registrasi selesai, acara konferensi GAPURA dimulai. Ruang Konferensi Hotel Sheraton Mustika yang berkapasitas 500 orang nampak penuh dengan peserta UMKM yang antusias, dan kebanyakan masih muda-muda. Ibu Shinto Nugroho-lah, yang membuka acara ini dengan banyak paparan-paparan tentang fakta penggunaan media internet bagi UMKM Indonesia, diikuti oleh pengisi acara selanjutnya.
Selebihnya silakan menonton foto-foto berikut ini saja:
Kira-kira untuk yang ke-6 kalinya saya kemarin berbicara memperkenalkan diri di hadapan anggota forum masyarakat pengguna internet di Gunungkidul. Saling memperkenalkan diri, begitulah ritual yang dilangsungkan tiap kali acara ulang tahun forum ini dirayakan. Benar, Minggu, 9 Maret 2014, forum masyarakat pengguna internet di Gunungkidul yang bernama Wonosari.com (Forum Komunikasi Online Gunungkidul/FKOG) merayakan Ulang Tahun yang ke-6 bertempat di Pendopo Embung Langgeran, Patuk, Gunungkidul.
Mungkin ada pertanyaan, apa saya tidak bosan tiap tahun memperkenalkan diri, kenyatannya toh tahun depan bila berjumpa lagi sudah tidak akan banyak yang mengenalnya. Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab, namun saya akan menjawab: TIDAK BOSAN. Di satu sisi pasti teman-teman sekaliber saya yang terlibat dalam jatuh bangun merintis Wonosari.com akan “tersenyum”, di sisi lain kehadiran member-member baru yang kebanyakan belum saya kenal adalah indikator dari dinamika komunitas. Dimana anggota-anggota baru datang meneruskan partisipasi member-member lama yang karena satu dan lain hal harus memilih berjuang dengan tingkat kebutuhan dan tanggung jawab usia dewasanya masing-masing.
Enam tahun bagi perjalanan sebuah komunitas bukanlah waktu yang singkat. Dalam konteks komunitas, usia 6 tahun adalah usia di atas rata-rata sebuah komunitas. Usia harapan hidup komunitas di Indonesia, menurut salah satu pakar sosial media, yaitu Mas Enda Nasution, adalah 3 tahun. Banyak komunitas yang telah meninggal dunia setelah berusia 3 tahun. Dengan demikian Wonosari.com yang menginjak 6 tahun adalah prestasi tersendiri yang layak dipertahankan. Namun tidak juga boleh disikapi secara berlebihan. Mengutip pendapat pakar start up yang lain, sebuah organisasi akan teruji kemapananya setelah berusia 8 tahun. Bila perpegang pendapat yang terakhir, para pegiat Wonosari.com saat ini harus berjuang lebih keras lagi dalam waktu 2 tahun ke depan. Buktikan Wonosari.com adalah sebuah komunitas yang tangguh teruji waktu, mapan diterpa perubahan jaman.
Baca juga tulisan tentang Ulang Tahun Wonosari.com sebelumnya di:
Banyaknya usulan dan masukan dalam sesi diskusi yang dipandu oleh kang Ragil Sakino Pamungkas kemarin siang membuat saya optimis. Optimis tahun depan Wonosari.com akan merayakan Ulang Tahun ke-7 dan Ulang Tahun ke-8 pada tahun 2016 akan diselenggarakan dengan cara yang jauh lebih berarti bagi bumi Dhaksinarga, Gunungkidul Handayani.
Selama 6 tahun berkiprah, kontribusi yang diberikan oleh Wonosari.com menurut saya luar biasa. Kebanyakan kontribusi yang diberikan adalah kontribusi online, sesuai namanya Forum Komunikasi Online Gunungkidul. Bentuk kontribusi online itu bisa kita lihat dari makin tingginya pengguna internet masyarakat Gunungkidul dan konten-konten positif di internet yang diproduksi oleh masyarakat. Di sini saya tidak bisa menampilkan angka statistik, karena saya bukan peneliti di bidang ini. Namun hanya dengan sedikit saja googling, saya kira Anda semua akan bisa membandingkan. Atau bila sudah aktif menggunakan internet sejak sebelum tahun 2005 akan mudah sekali merasakannya. Wonosari.com yang dulunya adalah berbentuk forum dipercaya menginspirasi tumbuhnya banyak blog, website, jejaring sosial dan layanan internet lain bagi masyarakat di Gunungkidul.
Kemudian apa saja yang telah dilakukan di ranah offline? Sebut saja bakti sosial yang diselenggarakan tiap kali dilangsungkan acara syawalan dan ulang tahun, begitu pula dengan penggalangan kepedulian tiap kali bencana alam terjadi seperti erupsi merapi, bencana gunung kelud, bencana kekeringan, bencana tanah longsor dan lain-lain.
Di sisi jejaring, Wonosari.com telah banyak membantu silaturahmi antara warga Gunungkidul yang telah lama merantau menjadi pengembara dan musafir dengan handai taulan dan orang-orang tercinta di kampung halaman. Banyak kemitraan bisnis yang terjalin antar sesama member wonosari.com. Bahkan tidak satu dua saja silaturahmi antar member yang meningkat ke “jenjang yang lebih serius”. Video berikut adalah salah satu kemaslahatan yang dibawa Wonosari.com bagi umatnya:
Minggu pagi, 9 Maret 2014, warga pedukuhan Karangmojo B, Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul bergotong royong membangun rumah sementara untuk Lek Tini. Dengan dikoordinasikan oleh kepala dukuh pedukuhan Karangmojo B, Latif Wahyudi, masyarakat dengan antusias dan penuh semangat menunaikan tanggung jawab sosial menolong korban musibah kebakaran rumah yang terjadi pada pekan lalu. Gotong royong yang berlangsung sehari penuh itu didukung oleh lebih dari 50 orang warga yang berpartisipasi. Jadi tidak heran pada sore harinya rumah tinggal sementara yang dibangun warga itu sudah bisa ditinggali oleh keluarga Lek Tini.
Masyarakat Berembug Bagaimana Rumah Sementara Akan Dibangun
Gotong Royong pada hari Minggu kemarin itu merupakan puncak gawe kepedulian berbagai elemen masyarakat. Usaha menggalang kepedulian sosial untuk menolong keluarga Lek Tini yang terkena musibah kebakaran sudah berlangsung bahkan ketika kebakaran rumah itu sedang terjadi. Masyarakat sekitar yang mengetahui korban kebakaran terjadi langsung berusaha memberikan pertolongan dengan turut berusaha memadamkan api dan menyelamatkan benda-benda yang masih bisa diselamatkan. Masyarakat melalui pemerintah desa setempat berusaha menghubungi dinas-dinas terkait untuk menyampaikan kabar ini. Baca lebih lanjut →
Apabila Anda menengok akun jejaring sosial saya, baik facebook, twitter, google+ apalagi instagram, maka apa yang didapati adalah banyaknya foto-foto landscape yang saya posting di sana. Yah, akhir-akhir ini saya memang sedang kembali menekuni sebuah hobi lama, yaitu landscape fotografi (fotografi pemandangan). Meskipun masih menggunakan peralatan dan kamera seadanya. Belum mampu sih membeli kamera SLR full frame lengkap dangan kit lensa lebar dan filter-filter yang mahal-mahal. Bagi saya yang penting memotret dulu. Saya memotret di sungai, di bukit, di pantai atau di tempat-tempat dengan pemandangan bagus lainnya.
Nah, hobi memotret ini ternyata membuat saya sering kali menjadi lupa waktu. Kalau saya merasa menemukan obyek foto yang bagus, saya selalu terlena untuk mengkomposisikan sebagus mungkin. Ini sebuah masalah. Karena menjadi tidak sadar waktu akan membuat saya kehilangan momen-momen bagus yang tidak mungkin terulang. Momen itu misalnya momen sunset (matahari tenggelam) atau sunrise (matahari terbit). Untuk diketahui momen bagus untuk memotret sunset (golden hour) hanya berlangsung beberapa menit saja. Sangat cepat.
Untuk itulah saya berpikir memerlukan sebuah jam tangan baru. Jam tangan yang cocok saya gunakan di alam terbuka, tahan air, tahan debu, tahan goncangan, mudah dibaca dibawah paparan sinar matahari dan kaya fitur (misalnya fitur calendar, alarm, timer, stop watch, dan lain-lain).
Saya pun mulanya berpikir untuk membeli jam tangan ini ke toko-toko jam dan elektronik terdekat, yaitu di kota Wonosari. Kemudian saya ingat di toko-toko di Wonosari cukup susah mendapatkan jam tangan dengan kualifikasi yang benar-benar seperti saya sebutkan di atas. Kalau di kotak dus nya sih mungkin semua fitur itu tertera, namun jaman sekarang bagaimana saya bisa percaya begitu saya dengan tulisan di kotak pembungkus jam. Perkembangan teknologi manufaktur bukankah memudahkan pemalsuan produk apa saja, termasuk jam tangan. Saya tidak ingin kecewa dengan di sembarang toko elektronik membeli jam yang bisa sewaktu-waktu rusak atau tidak berfungsi seperti keinginan saya.
Saya pun kemudian teringat Lamido. Lamido merupakan suatu marketplace di internet dimana pembeli bisa menemukan barang-barang berkualitas namun dengan harga yang sesuai (tidak mahal). Membuka website Lamido, saya pun segera menavigasi untuk mencari-cari jam tangan dengan fitur, spesifikasi sesuai kebutuhan dan yang sekiranya berharga pas di dompet.
Casio AL-190W
Ketemulah jam tangan digital merek Casio AL-190W. Sebuah jam tangan digital warna hitam bergaya moderen yang akan memoles penampilan saya menjadi lebih digital. 😀 Suatu jam tangan yang menggunakan solar cell sebagai sumber catu daya ini saya pikir cocok bagi saya yang malas mengganti-ganti batere tiap jangka waktu tertentu. Garansi 1 tahun yang disebutkan di halaman web ini juga cukup meyakinkan untuk memiliki jam tangan jenis ini.
Lamido mempunyai perbedaan dengan market place yang lain yang menguntungkan calon pembeli, di sini yang meyakinkan saya adalah adanya mekanisme Trusted Seller dan Lamido Secured Bank Tranfer yang akan memastikan uang saya keluarkan benar-benar tidak disalah gunakan oleh penjual-penjual yang nakal.
Beberapa hari terakhir ini saya merasa jengkel dengan komputer yang dipakai bersama di pabrik. Komputer bersistem operasi Windows 8 dan Windows 7 di pabrik, tiap kali web browser yang ada di dalamnya dibuka, pasti langsung mengarah ke qvo6.com. Semua web browser di komputer itu bertingkah sama, baik Google Chrome, Firefox maupun Internet Explorer. Susah sekali jadinya. Bahkan tiap kali dengan susah payah membuka suatu halaman web, maka di halaman itu muncul link-link yang tidak karuhan dan menjerumuskan. 😦 Lagi di jendela web browser juga dipenuhi iklan-iklan tidak jelas. 😦
Banyak cara yang saya coba untuk memperbaiki web browser-web browser di komputer-komputer itu agar tidak mengarah ke qvo6.com. Mulai dari memeriksa dan mengembalikan ke posisi default tiap option di masing-masing web browser, sampai mencoba cara-cara manual. Semuanya nihil, gagal. 😦
Adware Removal Tool
Nah, setelah googling sana-sini, akhirnya saya menemukan Adware Removal Tool yang saya coba berhasil. Saya mengunduh software Adware Removal Tool dan menjalankannya. Dalam beberapa menit software ini bekerja dan meminta semua browser agar ditutup dulu dan meminta komputer direstart. Setelah komputer di-restart, saya pun menjalankan web brower. Kali ini web browser tidak langsung mengarah ke qvo6.com. yay.
Namun demikian ketika saya mencoba membuka blog saya sendiri dan halaman web lain, tampilan iklan-iklan tidak jelas tadi masih memenuhi jendela web browser. Saya pun googling lagi dan menemukan Adware Cleaner. Saya pun segera mengunduh dan menjalankan Adware Cleaner. Adware Cleaner juga memerlukan waktu untuk bersih-bersih diakhiri dengan restart Komputer.
Yay, setelah restart kali yang kedua. Komputer ini ketika saya gunakan untuk mengetik posting ini sudah bersih dari Adware-Adware jahanam nan jalang itu.
Bila Anda mempunyai masalah yang sama dengan Komputer Windows Anda, Anda bisa mengunduh file-file program Adware Removal Tool dan Adware Cleaner yang sudah saya unggah ke Google Drive:
Undangan untuk menghadiri dialog yanag bertema: Peran Sosial Media di Tahun Politik sampai di inbox email saya pada Selasa sore kemarin. Undangan untuk hari Rabu, 5 Maret 2014 itu datang dari sekretariat Kraton Kilen Yogyakarta. Dalam undangan itu disebutkan bahwa yang diundang adalah Wartawan Media, Komunitas Social Media, Pemilih Pemula dan perwakilan Karang Taruna se propinsi D I Yogyakarta.
Bagi sebagian orang, mungkin undangan ini akan dikaitkan dengan pencalonan kembali GKR Hemas sebagai anggota DPD daerah pemilihan D I Yogyakarta. Meski bagi saya pengkaitan seperti ini agak kurang masuk akal. Mengingat tanpa kampanye secara intensif pun saya mengira perjalanan GKR Hemas menuju Senayan sebagai anggota DPD akan mulus-mulus saja. Karisma dan kewibawaan keluarga kraton Yogyakarta selama ini sangat kuat mengakar di masyarakat Yogyakarta, apalagi di lingkungan pedesaan dimana saya tinggal sampai saat ini.
Menghadiri acara ini, saya tiba pada jam makan siang, beberapa saat sebelum acara diskusi dimulai. Di sana saya bertemu dengan Pakdhe Senggol, teman-teman pegiat sosial media dan teman-teman wartawan media. Saya pun menyusul mereka menikmati makan siang yang disediakan oleh panitia di Kraton Kilen.
Acara pun segera dimulai, dibuka oleh Ibu Maria Kadarsih dan sambutan dari Bapak Gatot Marsono. Acara dialog sendiri diisi langsung oleh GKR Hemas dan Pakdhe Senggol, dimoderatori oleh Ibu Martha Sasongko.
Dialog pada siang hari itu berlangsung cair dan sangat akrab dengan gaya GKR Hemas yang akrab dan Pakdhe Senggol yang santai tanpa basa-basi. Seperti tertera pada undangan acara ini memang membahas seputar peran sosial media di tahun politik, penyampaian gagasan dan pandangan GKR bagaimana seharusnya social media digunakan secara tepat untuk menyerap aspirasi masyarakat (bagi politisi) sekaligus bagaimana mengedukasi pengguna sosial media yang kebanyakan merupakan pemuda untuk lebih partisipatif dalam konteks berbangsa dan bermasyarakat.
Lebih lanjut GKR Hemas meminta hadirin untuk memberikan kritik, saran masukan dan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya beliau bersosial media. Banyak sekali usulan dan pertanyaan yang datang dari hadirin siang itu, yang langsung direspon sendiri oleh GKR Hemas. Saran yang paling saya ingat diberikan oleh hadirin adalah agar GKR Hemas tidak temperamental dan suka marah-marah seperti halnya Bu Ani. Nah…
Dikritik dan dibully bukanlah hal baru. Hal itu dianggapnya penting sebagai feedback dalam kiprahnya bersosoal media sejak tahun 2009. Ada kritik yang memang bisa ditanggapi dan ada juga respon masyarakat melalui sosial media yang tidak perlu disikapi perlebihan. Begitu penjelasan pemilik aku twitter: @RatuHemas itu.
Setelah acara selesai pada sekitar jam 2 siang. Saya dan beberapa orang teman pegiat sosial media melanjutkan ngobrol-ngobrol santai dengan Ibu Martha Sasongko dan Kanjeng Pangeran Haryo Wironegoro (menantu Hamengku Buwono X). Ada banyak yang kami biacarakan secara santai, mulai dari iklim sosial media di Yogya, Facebook, Twitter, Blogger dan lain-lain. Juga bagaimana berbicara tentang keistimewaan Jogja kepada anak-anak muda dengan pendekatan konten digital. Menarik…
Sejak akhir tahun 2013 sudah santer beredar gosip tentang Nokia Normandy. Sebuah proyek Android yang secara diam-diam dikembangkan oleh Nokia. Ini terdengar ganjil mengingat pada tahun yang sama Nokia diakuisisi oleh Microsoft, pemabrik Windows Phone 8.
Awal tahun 2014 ini, tepatnya di Mobile World Congress di Barcelona, Nokia mengkonfirmasi kebenaran gosip ini. Nokia benar-benar mengumumkan secara resmi produk Androidnya, yaitu Nokia X, Nokia X+ dan Nokia XL.
Mengikuti diumumkannya secara resmi Nokia Android, Nokia pun segera mensosialisasikan environment baru ini kepada developer mobile apps di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk mensosialisasikan environment baru ini Nokia menggelar acara yang disebutnya DVLUP di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk Yogyakarta.
Sabtu siang, 1 Maret 2014, saya pun menyempatkan diri menghadiri acara DVLUP ini di Hotel Cokro Yogyakarta. Di sana oleh pihak Nokia dijelaskan secara gamblang spesifikasi teknis, fitur dan panduan pengembangan aplikasi untuk jajaran Nokia X. Termasuk di dalamnya bagaimana melakukan porting aplikasi Android, khususnya Jelly Bean agar berjalan lancar di lingkungan Nokia X. Baca lebih lanjut →
Foto ini saya terima pada Kamis siang, tanggal 27 Februari 2014. Foto yang dikirim oleh adik saya melalui pesan Whatsapp ini adalah yang disisakan api yang melalap rumah Bu Tini di RT 22/06 Karangmojo B, Grogol, Paliyan, Gunungkidul.
Seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas, bangunan rumah yang berbahan utama kayu itu rusak parah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kondisi bangunan tidak bisa lagi ditinggali. Sejak kebakaran sampai sekarang Bu Tini sekeluarga terpaksa menumpang tinggal di rumah tetangganya, yaitu di rumah Bapak Ngatiyo.
Tadi malam ketika saya bersilaturahmi –ngaruhke– peristiwa naas ini, Bu Tini menceritakan bahwa semua harta benda yang ia miliki habis terbakar api. Lemari berisi pakaian ludes. Pakaian yang tersisa saat ini hanya pakaian yang saat itu melekat di badannya. Uang yang disimpan di dalam lemari berjumlah Rp 800.000,- juga ludes. Simpanan gabah padi sebagai cadangan makan sehari-hari hangus. Begitu pula dengan pecah belah seperti piring, gelas dan semua perlengkapan masak, semua rusak.
Penyebab pasti kebakaran rumah Bu Tini itu sendiri tidak ada yang tahu pasti.
Menurut cerita adik saya, Kamis pagi itu semua warga di lingkungan dimana saya tinggal sedang menghadiri hajatan pernikahan Elmi dan Wiwin, termasuk Bu Tini. Saat itu ketika juga sedang di tempat hajatan, adik saya mendengar kabar ada kebakaran rumah dari salah serorang tetangga. Adik saya pun bersama Edi segera meluncur ke rumah yang terbakar itu.
Si Jago Merah telah berkobar, asap membumbung tinggi. Melihat besarnya kobaran api, adik saya berpikir tidak mungkin memadamkan api itu. Apa yang bisa dilakukan adalah menghambat api agar tidak merembet membakar benda-beda lain dan menyelamatkan benda-benda yang memang masih bisa diselamatkan secepatnya.
Beberapa waktu kemudian warga yang lain baru berdatangan berusaha memadamkan kebakaran. Api memang mejadi terkendali meski tidak banyak yang bisa diselamatkan. Siang harinya, karena berpikir sisa-sisa dan puing rumah itu berbahaya bila dibiarkan berdiri, warga pun bergotong royong membersihkan bekas rumah dan lokasi kebakaran.
Saat ini Bu Tini belum tahu akan sampai kapan hidup tinggal menumpang di rumah tetangga. Membangun rumah baru pun bukanlah hal mudah baginya. Biaya menjadi kendalanya.
Saya sendiri pun tidak bisa berbuat banyak kecuali berusaha membantu semampunya bersama-sama para tetangga yang lain. Apa yang bisa kami lakukan saat ini baru sebatas berusaha mengurangi penderitaan beliau ala kadarnya dan saya akan berusaha mencarikan bantuan dari para dermawan.