Memotret Bulan

Saya memotret bulan ini pada dua petang yang lalu. Saya memotretnya bukan dengan Camera Digital seperti biasa. Saya memotretnya dengan Handycam yang mempunyai fitur untuk mengambil still image. Karena pada Handycam ini mempunyai optical zoom lens sebesar 60x. Jauh lebih besar dari Camera Digital pocket entry level yang kebanyakan hanya mempunyai optical zoom lens 3 – 8x.

Petang ini bulan juga kelihatan sangat keren, tetapi saya tadi sibuk bereksperimen untuk memvideokanya. Jadi lupa tidak mengambil still images 🙂

 

Teknik Mengetik Yang Benar

Teknik mengetik dokumen dengan komputer yang benar itu yang seperti apa? Apakah:

1. Mata melihat pada lembar draft/dokumen yang akan kita ketik ulang dengan komputer. Mata tidak melihat pada monitor dan keyboard. Penyuntingan salah ketik dilakukan belakangan?

2. Mata melihat pada lembar draft/dokumen, kemudian kita mengingat beberapa kata dan kalimat. Kemudian mata beralih melihat monitor sambil mengetik agar bila terjadi salah ketik bisa langsung memperbaiki. Bila kita sudah selesai mengetik kata/kalimat yang kita ingat, maka mata beralih memelototi lembar draft/dokumen. Berulang – ulang seperti ini.

3. Lebih repot lagi kalau begini, pertama-tama mata melihat lembar draft/dokumen, mengingat beberapa kata/kalimat, mata beralih melihat keyboard untuk mengetik, mata beralih melihat layar monitor untuk memeriksa bila terjadi salah ketik, kemudian berulang lagi melihat lembar draft/dokumen …

Bagaimana menurut Anda? Secara saya belum pernah  menyelesaikan kelas belajar mengetik. Saya telah menyerah dalam beberapa kali datang mengikuti kelas mengetik dengan mesin ketik mekanik pada  kegiatan ekstra waktu SMP. hehehe

 

Cerita Pagi Seorang Siswi Difabel …

Saya tadi pagi satu angkot Kobutri dengan seorang anak difabel yang berangkat ke sekolah SLB setingkat SD. Anak difabel ini mempunyai masalah dengan lisan. Orang Jawa menyebutnya bisu. Saya tahu karena saya sudah sering satu angkot dengan anak siswi ini. Tiap pagi anak ini berangkat ke sekolah naik angkot dari Paliyan. SLB dimana dia bersekolah terletak di desa Bogor kecamatan Playen. Sejauh kira – kira 13 km.

Untuk menempuh jarak yang menurut saya cukup jauh bagi anak seusianya, siswi difabel ini tidak diantar oleh orang tua/keluarganya. Ia lebih sering berangkat naik angkot sendirian. Kadang ia berangkat bareng dengan teman difabel satu SLB yang sama – sama dari Paliyan, tapi berbeda desa. Kalau tidak salah, temannya yang sesama difabel itu berasal dari desa Karang Asem.

Bersekolah di kecamatan yang berbeda, dengan jarak yang cukup jauh pula, bagi anak seusianya, apalagi difabel, tentu  bukan hal mudah.

Seperti yang saya lihat ia alami pagi tadi. Si Pak Sopir yang sedang heboh berebut penumpang demi kejar setoran lupa kalau ia harus menurunkan siswi difabel ini di tempat pemberhentian di depan Gereja Bogor. Saya melihat bagaimana dengan kesal, siswi difabel dengan masalah lisan ini berusaha berteriak menghentikan laju angkot. Akhirnya Pak Sopir menghentikan laju Angkot di tempat yang lebih jauh dari seharusnya.

Kali ini nampaknya keberuntungan sedang tidak berpihak pada si difabel. Ia harus menyeberang jalan sendiran dan berjalan lebih jauh dari biasanya menuju sekolahnya yang terletak cukup jauh dari jalan utama yang dilalui angkot.

Kalau ia sedang cukup beruntung menaiki angkot bersopir manusia yang memiliki cukup empati. Dia akan dibantu menyeberang jalan. Atau diantar sampai ke pintu gerbang sekolah yang terletak tidak dekat jalan utama.

Jangan tanya dimana fungsi negara dalam menyediakan hak-hak publik bagi difabel

Account Corporate di g+, Pertaruhkan Kredibilitas

Dalam waktu singkat, sekitar 6 minggu saya membuat account google+, saya telah men-circle sebanyak 137 account dan dilingkari/di-circle/circled oleh 420 orang. Tepatnya 420 account.

Saya mengamati selain account dengan nama – nama yang menurut saya aneh – aneh, account yang men-circle saya itu  tidak sedikit yang mengatas namakan suatu corporate/perusahaan. Kita tahu bahwa aturan Google+ hanya mengijinkan account hanya boleh dibuka untuk pribadi. Bukan untuk organisasi, lembaga atau perusahaan. Bila ketahuan, nantinya g+ akan men-suspend account – account pelanggar Term of Service itu.

Sepintas resiko suatu account gratis di-suspend bagi suatu corporate bukanlah sesuatu yang dianggap cukup merugikan bila dibanding kemungkinan benefit yang diharapkan.

Pengabaian dan pelanggaran Term of Service oleh corporate/lembaga ini tidak hanya terjadi pada g+. Kita dengan mudah bisa menemukan pelanggaran serupa di Facebook dan layanan online lain.

Pertanyaan saya. Apakah dengan semena-mena terhadap term of service pada corporate lain, si corporate/lembaga itu tidak berpikir bahwa perbuatan itu bisa menurunkan kredibilitas mereka sendiri? Kira-kira bagaimana respon corporate yang melanggar term of service corporate lain ini bila kemudian ada corporate lain yang melanggar term of service mereka? 😀

Hari ini 68 Tahun Indonesia Merdeka

Bertepatan ummat Islam menjalankan ibadah puasa, pada 9 Ramadhan pada 68 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 9 Ramadhan 1364 H, Ir Sukarno memproklamirkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Hari ini adalah ulang tahun Indonesia yang ke-68. Bila yang digunakan adalah penanggalan Hijriyah. 😀

Tidak lama lagi, seminggu lagi, pada tanggal 17 Agustus 2011, secara nasional, Indonesia kita akan memperingati ulang tahunnya yang ke-66. Indonesia yang memperingati peristiwa sangat penting dari perjuangan para pendahulu dan founding father membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan yang sama sekali tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan … hehehe

Sebagai suatu peristiwa yang langka, seumur – umur saya baru mengingat dua kali peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI terjadi bertepatan dengan bulan Ramadhan, yaitu pada 17 Agustus tahun 2010 dan Insya Allah pada 17 Agustus pekan depan, tidak ada salahnya kita menggunakan “ilmu” otak atik gatuk. Diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk berpuasa diantaranya untuk membebaskan diri manusia dari belenggu hawa nafsu. Hawa nafsu menurut saya adalah “simbah”nya tiap-tiap penjajahan di muka bumi.

Bukankah hanya bangsa yang dijajah oleh hawa nafsu yang secara tidak berperi menjajah bangsa lain? 😀

Nampaknya, pada usia Indonesia yang bila menggunakan patokan umur manusia sudah sangat dewasa, coba lihat betapa nampak dewasa ayah atau simbah kita yang berusia 66+ tahun, membebaskan diri dari hawa nafsu masih merupakan perjuangan panjang. Mengusir Belanda bisa bersenjatakan bambu runcing. Kalau menegakkan shalat dan mengendalikan hawa nafsu?

Betapa angkaranya nafsu manusia yang tidak kunjung terkalahkan bisa dengan mudah kita lihat dari aspal di jalan-jalan di desa kita yang mulai rusak, bisa kita lihat pada pipa saluran air bersih dan bak-bak penampungan air yang distribusinya tidak merata, buruknya pelayanan publik dan lain – lain …

Iklan Antibiotik di Apotek

Saya bingung sendiri untuk memberikan judul yang komunikatif untuk tulisan saya kali ini. Intinya saya ingin menceritakan apa yang saya lihat terjadi pada kemarin sore di  Apotek Bang*n. Salah satu Apotek di kota kecamatan Playen.

Apa yang membuat saya heran sekaligus tidak habis mengerti adalah si mbak – mbak apoteker menawarkan Antibiotik pada seorang ibu – ibu setengah baya yang sedang membeli suatu obat. Mendapatkan tawaran antibiotik, si Ibu setengah baya itu nampak bingung. Lalu si mbak apoteker menanyai ibu itu apakah tubuhnya terasa “gembreges“. Si ibu setengah baya menjawab “iya”. Apoteker bilang itu artinya ibu perlu Antibiotik. Baca lebih lanjut

“Aq” Kata Baru Dalam Bahasa Indonesia

Pernah dapat SMS atau email yang didalamnya ada kata “Aq”? Saya tidak ingat persis kapan persisnya pertama kali membaca kata “Aq” dalam kalimat berbahasa Indonesia. Akhir-akhir ini saya semakin sering mendapatkan kata “Aq” dalam setiap pesan elektronik yang saya terima.

Saya tahu maksud kata “Aq” bisa dipandankan dengan kata baku “Aku” dalam bahasa Indonesia yang telah saya kenal sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Tetapi perubahan kata “Aku” menjadi “aq” bagi saya yang bukan ahli bahasa bukan sesuatu yang mudah dimengerti. Yang saya tahu beberapa tahun belakangan ini nampaknya (hampir) semua orang bisa mengerti maksud dan menerima kata “Aq”. Baca lebih lanjut

Ramadhan, Jalan – Jalan Sehabis Subuh

Orang – orang di desa dimana aku tinggal tidak mengenal Ngabuburit. Kalaupun mereka tahu apa itu Ngabuburit , aku kira mereka tahu dari televisi. Bukan kebiasaan para tetangga dan muda – mudi di sini untuk jalan – jalan menghabiskan waktu menjelang buka puasa.

Yang ada, biasanya, anak – anak dan remaja di sini, seusai  berjamaah shalat Subuh di Masjid, mereka menikmati udara segar dengan berjalan kaki. Biasanya ada pula yang sambil iseng menyulut petasan. Biasanya pula komplek sekitar Puslatpur Paliyan sampai Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam  Paliyan Bukit Sodong -lah yang paling ramai dengan penikmat pagi Ramadhan itu. Perlu kamu tahu pula komplek ini adalah tempat favorit yang mempertemukan anak – anak dari Desa Grogol, Desa Tahunan, Desa Karang Asem dan Desa Mulusan.

Jam lima lebih, aku tadi bersama Harmanto langsung menuju ke komplek Puslatpur. Bukan berjalan kaki. Aku dan Harmanto membawa motor. Dan membawa Kamera dan Camcorder. Seperti yang aku tulis pada posting terdahulu, aku ingin membuat suatu video tentang Ramadhan. Aku pikir orang – orang yang berjalan – jalan menikmati kesegaran udara di komplek Puslatpur sampai KSDA Paliyan merupakan sesuatu yang tidak boleh dilewatkan dari video Ramadhan yang ingin aku buat.

Semangat hunting footage video ini adalah tekadku yang menyisihkan hawa dingin menggigil di musim kering pagi tadi. Sayang, aku tidak mendapatkan apa yang aku cari. Banyak orang jalan – jalan yang ingin aku rekam tidak terlihat. Aku hanya melihat satu atau dua orang. Paling banyak ada empat orang jalan bareng. itu tentu bukan yang aku inginkan. Sudahlah. Barangkali kali ini mereka lebih menikmati menarik selimut lagi setelah menunaikan shalat Subuh. Udara sedingin pagi tadi mungkin tidak baik bagi kesehatan kebanyakan orang.

Berusaha menghibur diri, aku tadi mengajak Harmanto untuk meneruskan perjalanan menuju ke Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Paliyan, ke Hutan di bukit Sodong. Kalau aku beruntung, di sana aku akan melihat gerombolan kera – kera ekor panjang liar.

Matahari  sudah mulai kelihatan kemerahan ketika aku melewati komplek Pusat Latihan Tempur TNI AD. Lumayan untuk mengurangi gigilan pada tubuhku yang dibawa Harmanto melaju menembus musim dingin dengan motornya. Dari motor yang melaju aku memotret matahari yang nampak mewah kemerahan dengan kamera pada ponsel.

Baca lebih lanjut

Sahur di Social Media, Sepi

Dua atau tiga Ramadhan yang lalu, pada waktu makan sahur sampai menjelang subuh, feed dan timeline social media yang saya ikuti (diantaranya adalah twitter dan facebook) ramai. Bisa dibilang sangat ramai. Apapun, oleh kawan – kawan online saya itu dengan mudah dijadikan bahan update.

Berbeda dengan Ramadhan kali ini, feed dan timeline terlihat sepi. Tinggal ada beberapa kawan saya yang kadang kala masih menyempatkan iseng memposting sesuatu di sela – sela menikmati hidangan santap sahur. Padahal pada Ramadhan kali ini di facebook saya berteman dengan lebih banyak orang. Di twitter -pun saya telah men-follow orang yang berjumlah kira – kira dua kali lipat dibanding yang saya follow pada tahun lalu. Baca lebih lanjut

The Morning Sound

Nah, kalau saya telah berulang kali menceritakan di blog ini, di twitter ataupun di facebook tentang suara – suara yang mengiringi pagi hari di sekitar rumah dimana saya tinggal. Maka untuk membuktikan bahwa cerita saya bukan hoax semata, pada pagi tadi mulai sehabis subuh sampai hampir jam 06:00 wib, dengan peralatan seadanya, saya merekam suara – suara itu.

Dan siang ini saya berhasil membagikan di blog ini. Saya tadi bingung file audio mau di host dimana. Bingung mencoba – coba beberapa layanan, sampai akhirnya oleh mas Ndableg, saya direkomendasikan untuk menggunakan soundcloud. Hitung – hitung sambil menjajal layanan cloud ini.

Baiklah, selamat mendengarkan kicauan burung, suara ayam berkokok, suara sapi melenguh, dan suara jangkrik yang sehari – hari saya dengarkan. 🙂