Ramadhan, Jalan – Jalan Sehabis Subuh

Orang – orang di desa dimana aku tinggal tidak mengenal Ngabuburit. Kalaupun mereka tahu apa itu Ngabuburit , aku kira mereka tahu dari televisi. Bukan kebiasaan para tetangga dan muda – mudi di sini untuk jalan – jalan menghabiskan waktu menjelang buka puasa.

Yang ada, biasanya, anak – anak dan remaja di sini, seusai  berjamaah shalat Subuh di Masjid, mereka menikmati udara segar dengan berjalan kaki. Biasanya ada pula yang sambil iseng menyulut petasan. Biasanya pula komplek sekitar Puslatpur Paliyan sampai Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam  Paliyan Bukit Sodong -lah yang paling ramai dengan penikmat pagi Ramadhan itu. Perlu kamu tahu pula komplek ini adalah tempat favorit yang mempertemukan anak – anak dari Desa Grogol, Desa Tahunan, Desa Karang Asem dan Desa Mulusan.

Jam lima lebih, aku tadi bersama Harmanto langsung menuju ke komplek Puslatpur. Bukan berjalan kaki. Aku dan Harmanto membawa motor. Dan membawa Kamera dan Camcorder. Seperti yang aku tulis pada posting terdahulu, aku ingin membuat suatu video tentang Ramadhan. Aku pikir orang – orang yang berjalan – jalan menikmati kesegaran udara di komplek Puslatpur sampai KSDA Paliyan merupakan sesuatu yang tidak boleh dilewatkan dari video Ramadhan yang ingin aku buat.

Semangat hunting footage video ini adalah tekadku yang menyisihkan hawa dingin menggigil di musim kering pagi tadi. Sayang, aku tidak mendapatkan apa yang aku cari. Banyak orang jalan – jalan yang ingin aku rekam tidak terlihat. Aku hanya melihat satu atau dua orang. Paling banyak ada empat orang jalan bareng. itu tentu bukan yang aku inginkan. Sudahlah. Barangkali kali ini mereka lebih menikmati menarik selimut lagi setelah menunaikan shalat Subuh. Udara sedingin pagi tadi mungkin tidak baik bagi kesehatan kebanyakan orang.

Berusaha menghibur diri, aku tadi mengajak Harmanto untuk meneruskan perjalanan menuju ke Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Paliyan, ke Hutan di bukit Sodong. Kalau aku beruntung, di sana aku akan melihat gerombolan kera – kera ekor panjang liar.

Matahari  sudah mulai kelihatan kemerahan ketika aku melewati komplek Pusat Latihan Tempur TNI AD. Lumayan untuk mengurangi gigilan pada tubuhku yang dibawa Harmanto melaju menembus musim dingin dengan motornya. Dari motor yang melaju aku memotret matahari yang nampak mewah kemerahan dengan kamera pada ponsel.

Dalam beberapa menit, di kanan kiriku sudah merupakan hutan jati yang daun – daunnya mulai meranggas. Pohon – pohon jati di sini merupakan tanaman baru yang ditanam pada masa pemerintahan Megawati sebagai bagian dari Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan atau yang oleh masyarakat di sini dikenal sebagai GNRHL. Pepohonan asli di hutan lindung di sini sudah rusak ketika marak terjadi penjarahan hutan pada sekitar tahun 1998 sampai tahun 2000.

Aku dan Harmanto kemudian memarkir motor di dekat Gardu Jaga yang sudah tidak terpakai lagi. Aku tidak tahu kenapa Gardu ini tidak lagi dipakai dan hanya menjadi tempat untuk menyalurkan nafsu tangan – tangan vandal. Aku memotret Gardu penuh coretan anarki ini sebelum meneruskan dengan berjalan kaki menuju ke puncak bukit dimana di sana terdapat Gardu Pandang.

Jalan setapak yang dibuat berundak nan alami yang di kanan kiri berdiri pohon – pohon jati dengan semak bertumbuhan liar nan alami. Kicauan burung kutilang, trotokan, pentet, pipit yang bersimponi dengan tupai. Meski tiap beberapa lampah aku lihat kontaminasi sampah plastik dan kertas.

Tiap kali aku sampai di Gardu Pandang yang ada di puncak bukit ini di pagi hari, aku hanya bisa merasakan damai, mensyukuri bahwa udara yang bersih dan segar masih bebas gratis dihirup sepuasnya. Sekaligus merasa kagum dengan orang yang memilih tempat ini untuk dibangun sebuah gardu pandang. Tapi …. selalu ada tapi nya nih, kenapa Gardu pandang yang dibangun di tempat “mewah” ini dibiarkan tidak terawat dan tidak dijaga dari tangan – tangan jahil.

Tidak perlu aku tuliskan panjang lebar ketidak nyamanan akibat vandalisme ini. Lebih baik aku bagikan foto – foto yang tadi aku jepret dengan kamera Sony Ericsson Cybershoot tercinta.

Nah, benarkan! Sampai di sini aku sudah lupa kekecewaan  akan kegagalan mendapatkan footage orang – orang jalan – jalan tadi. Berarti acara menghibur diri telah sukses 🙂

…. dan acara ingin melihat gerombolan kera berekor panjang liar di perbukitan …. tidak satu pun terlihat 😀

Iklan

6 thoughts on “Ramadhan, Jalan – Jalan Sehabis Subuh

  1. Ngabuburit saya baru tahu setelah saya merantau ke Jakarta..hehehe
    Bukit sodong puncaknya Paliyan sayang orang-orang gak punya rasa handarbeni,bangunan bagus saja ampe di corat-coret….klo ketemu orangnya suruh beli buku gambar tempat saya om,sama pastel biar nanti tak ikutin PAUD…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s