Di Jejaring Sosial Mana Ada Konten Bagus?

Saya tiba-tiba ingat komentar Mas Ikhlasul Amal tentang Google+ ketika pada suatu saat ngobrol-ngobrol dengan saya. Kata Mas Amal, Google+ benar-benar lebih berbagi. Maksudnya orang-orang yang diikuti Mas Amal di Google+ yang lebih mempunyai semangat yang lebih tulen untuk berbagi? Saat itu tentu Facebook yang digunakan sebagai pembanding utama. Karena Mas Amal sendiri tidak begitu suka dengan Twitter karena batasan 160 karakter merupakan ruang yang sempit.

Meskipun kenyataannya sampai sekarang, sampai hari ini, Mas Amal sendiri lebih banyak berbagi di jejaring sosial facebook. Mungkin selama ini Facebook yang dilihat Mas Amal sebagai banyak keisengan dipandang sebagai lahan dakwah tersendiri yang bisa ia mulai dengan memberi contoh dengan konten-konten positif.

Kalau saya tidak salah ingat, ketika saya awal-awal mainan facebook, konten di facebook pada saat itu juga sangat bagus, tidak banyak ke-alay-an, tidak banyak keisengan, dan tidak banyak sampah. Dibandingkan jejaring Frienster (mengetiknya benar ngga ya) yang populer lebih dulu di Indonesia. Saat itu bahkan ada yang berpendapat bahwa Facebook akan menjadi jejaring sosial untuk orang-orang dewasa yang lebih elegan dan Frienster untuk kawula muda.

Melihat transisi jejaring sosial dari Friendster, Facebook dan barangkali kelak Google+ akan menyusul populer, saya kira permasalahan konten tidak akan terlalu dipengaruhi oleh jejaring sosial apa yang mana. Pada saatnya nanti Google+ pun mungkin akan didatangi oleh penyampah.

Konten yang diposting di Google+ saat ini masih relatif bagus bisa jadi karena penghuni Google+ saat ini adalah early adopter, orang-orang yang suka mencoba-coba teknologi baru, yang mana mereka kebanyakan adalah orang-orang yang relatif lebih dewasa dalam mengelola informasi. Tapi ya entah lah. hehehe

Akhir Musim …

Di beberapa daerah di pulau jawa, hujan sudah mulai turun. Musim kemarau tahun ini mulai berakhir. Belum hujan, tetapi di daerah dimana saya tinggal sudah mulai sering mendung. Ini pertanda menyenangkan bagi semua orang di sini yang mana kebanyakan merupakan petani yang mengandalkan hujan dari langit untuk kelangsungan kehidupan.

Kami menunggu musim hujan tiba.

Nuasan Kemarau

Nuasan Kemarau

Nuansa Kemarau

Nuansa Kemarau

Foto di atas saya ambil beberapa waktu lalu di pojokan rumah saya dan beberapa foto lainnya telah saya unggah ke jejaring sosial. Saya suka mengambil nuansa-nuansa langit kemarau. Sebelum musim benar-benar berganti.

Bagi saya nuansa seperti adalah nuansa yang akan sangat saya rindukan beberapa bulan yang akan datang, yang mana saya akan menunggu musim berganti lagi untuk memuaskan diri. Memuaskan diri malam-malam berjalan sendirian melewati jalan kampung yang sepi, menginjak serakan daun-daun kering yang jatuh dan patahan ranting-ranting kering, menginjak bayang-bayang, bayang-bayang yang dibentuk oleh temaram bulan dan dahan-dahan kering tak berdaun.

Halaaaah …. 😀

 

Kerupuk, Kamu Suka?

Kerupuk

Kerupuk

Anda suka kerupuk?

Saya tidak. Serius, saya adalah satu di antara sangat sedikit orang Indonesia yang tidak suka menikmati kerupuk. Baik itu kerupuk untuk pelengkap makan maupun kerupuk sebagai camilan. Kenapa saya tidak suka? Pokoknya saya tidak suka, begitu saja. Tidak perlu ditanya apa alasanya. Saya sendiri tidak punya alasan untuk tidak maupun suka kerupuk.

Terkadang saya heran dan tersenyum mendapati teman-teman saya yang sangat menikmati kerupuk. Misalnya ketika kami sama-sama makan siang dengan lunch box, mendapati teman saya yang menikmati ekstra kerupuk dari porsi lunch box saya yang saya berikan. Kalau ada teman yang mau menikmati extra kerupuk seperti ini, saya tidak jadi merasa berdosa karena kerupuk yang menjadi jatah pada lunch box tidak jadi mubadzir.

Ada lagi, beberapa waktu lalu, ketika kami membayar sarapan bersama, seorang teman meminta ekstra kerupuk kepada pelayan untuk dinikmati sembari berjalan meninggalkan restoran. Yang terakhir ini pasti penikmat kalau malah bukan pecandu kerupuk. hehehe

Selamat Pagi. Apakah kerupuk ada pada menu sarapan Anda pagi ini. 🙂

Gambar kerupuk diambil dari sini.

e-KTP Sampai Sekarang Belum Jadi, Terus Kapan Jadi?

Pada tanggal 24 November 2011 saya menuliskan tentang pengalaman saya sendiri mengikuti tahapan dari proses pembuatan e-KTP di kecamatan Paliyan yang sudah saya tuliskan di sini. Mengherankanya sampai hari ini tanggal 1 Oktober 2012, sudah hampir satu tahun dari proses pembuatan e-KTP itu, saya belum menerima e-KTP.

e-KTP saya belum jadi. Sama seperti nasib banyak warga di desa dimana saya tinggal yang sampai saat ini belum menerima e-KTP. Saya sendiri tidak menganggap aneh proses pembuatan e-KTP yang tidak jelas akan selesai kapan. Meskipun saya akui saya juga berharap dapat segera memegang e-KTP. 🙂

Beberapa unek-unek saya mengenai e-KTP pernah saya tuliskan di sini, di sini, di sini, di sini dan yang ini. 🙂

Menghabiskan Waktu, Mengisi TTS

Mengisi TTS, Mengisi Waktu

Mengisi TTS, Mengisi Waktu

Ketika kebanyakan orang mengisi waktu atau lebih tepatnya menghabiskan waktu dengan mainan gadget baik itu twitter -an, facebook -an, nge-game dan sejenisnya, di kereta pagi Arya Dwipangga menuju Jogja pada hari Kamis yang lalu, saya melihat seorang wanita yang melakukannya dengan mengisi Teka Teki Silang.

Saya pikir ini so 90 😀 meski tidak ada yang mengharamkanya di tahun 2012 ini. 😀 Sensasi mengisi TTS barangkali bagi sebagian orang tidak akan pernah tergantikan dengan mainan apa pun. 🙂

Anda pernah merasa senang bisa memecahkan sebuah Teka Teki Silang?

 

Traffic Blog Menurun

Beberapa waktu lalu, saya menuliskan di blog ini bahwa penggantian nama domain yang baru saja saya lakukan untuk blog ini tidak mempengaruhi traffic ke blog ini. Ternyata saya salah. Selang dua hari kemudian saya baru melihat penurunan traffic yang signifikan. Traffic turun sampai separo sebelum saya mengganti ke top level domain jarwadi.me 😀

Pengecekan saya selanjutnya menunjukan Page Rank blog ini menjadi 0 (nol). Nah, kalau sudah mengalami PR 0 seperti sekarang bisa merasakan secara langsung apa arti page rank. Dulu saya juga pernah menanyakan di sini di blog ini juga. 😀 Beberapa posting saya yang banyak dikunjungi orang dari mesin cari pun sekarang entah terlempar kemana.

Decreasing Blog Traffic

Decreasing Blog Traffic

Dari sini harus kembali melihat niat awal nge-blog dulu untuk apa. Bukankah niatnya untuk curhat saja, dan sekarang pun tetap berisi postingan curhat, hehe. Selebihnya kalau ada orang yang membaca adalah bonus semata. 🙂

Tidak Ada Uang Kembalian

Kemarin pagi saya naik taxi Bluebird dari depan Trans Super Mall ke Gedung Rektorat ITB. Sopir taxi Bluebird itu cukup ramah dam menguasai jalanan kota Bandung. Dalam beberapa menit, kurang dari 20 menit saya sudah sampai di lingkungan parkir rektorat ITB.

Permasalahannya begitu saya akan membayar ongkos taxi sejumlah 23 ribu sekian-sekian, si akang sopir taxi tidak punya uang kembalian. Dia bilang, saya adalah penumpang pertama di hari itu.

Akhirnya saya ajak sopir taxi itu keluar untuk mencari uang pecahan. Sampai saya membeli air mineral di minimarket untuk mendapat uang pecahan. Padahal saya tidak sedang butuh air mineral. Ya, tidak apa-apa. Saya kasih saja ke akang sopir taxi itu,  siapa tahu dia butuh. 😀

Begini, menurut saya alasan sopir taxi sekelas Bluebird tidak punya uang kembalian bagi saya kurang masuk akal. Kenapa manajemen tidak membekali sopir dengan uang pecahan? Dan bagaimana melayani penumpang dengan baik.

Ngomong-ngomong apa tidak mungkin di tiap taxi sekelas Bluebird memasang e-money reader. Sekarang bukankah ada banyak produk uang digital. Hihihi, maksud saya kan jadi bisa memanfaatkan e-money gratisan saya. :d

image

Bluebird driver ID

Ini kemarin saya menfoto ID akang sopir taxi. Tidak saya blurr sih ID nya. Mudah-mudahan akang sopir ini tidak dapat masalah dengan manajemen. Saya toh tidak begitu kecewa karena ketika mencari uang pecahan argo ia matikan.

Sosial Media dan Perjuangan Hak di Depan Hukum

Permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan oleh Ibu Prita Mulyasari atas dakwaan pencemaran nama baik terhadap RS Omni Internasional akhirnya dikabulkan oleh Mahkamah Agung. Prita sekarang terbebas dari status hukumnya yang menggantung. Alhamdulillah.

Kabar ini telah berlangsung beberapa hari yang lalu. Sudah bergeser dari halaman utama media. Sekarang sudah tertimpa oleh berita kekalahan Foke Nara dalam perhelatan Pilkada Jakarta.

Namun ada hal menarik yang ingin saya catat di sini. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di hari lebaran, saya  berbincang-bincang dengan teman-teman sepermainan saya dulu ketika mereka sedang pulang mudik. Di antara yang kami percakapkan adalah dampak sosial media dan keterbukaan pers terhadap kesempatan memperjuangkan hak-hak orang yang lemah secara ekonomi.

Saya menceritakan kasus yang terjadi di desa saya beberapa tahun yang lalu, yang saya tuliskan di sini. Di antara teman-teman saya ada yang bisa menerima sebagai dampak positif sosial media.

Dan ada yang kurang optimis. Yang kurang optimis mengkritisi bahwa untuk kasus yang saya ceritakan itu, karena di antara pihak yang bersengketa tidak terlalu kaya dan penguasanya tidak terlalu berkuasa. Dia mencontohkan kasus di perusahaan-perusahaan di Jakarta yang mengingkari janji kepada para karyawan namun tidak tersentuh hukum. Perusahaan itu tidak tersentuh hukum karena mereka punya uang yang bisa digunakan untuk mempengaruhi segalanya (perangkat-perangkat hukum). Dengan begitu mereka dengan berbagai cara bisa memecundagi serikat pekerja yang ada di sana. …

Dalam kasus ini, kepada teman saya itu, saya memberi contoh kasus Prita Mulyasari. Rumah Sakit Omni Internasional jelas mempunyai semua uang yang diperlukan. Namun kenyataan Prita mendapat dukungan yang sangat luas karena mendapat dorongan dari sosial media dibuktikan dengan ratusan juta uang receh koin yang terkumpul, dan pengabulan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung yang baru saja diberikan.

Perjuangan butuh waktu. Perlu kesabaran dan keuletan seperti yang ditunjukan oleh Ibu Prita. Dan kebenaran pun tidak bisa menang secara serta merta.

Sekali lagi yang ingin saya sampaikan: Sosial Media dan Kebebasan Pers menurut saya memberi/memperluas kesempatan semua orang untuk berjuang memperjuangkan hak-hak hukumnya. Atau dengan kata lain ruang ini akan sempit sampai hampir tiada tanpa adanya kemerdekaan pers dan sosial media.

Suara Rakyat Adalah Suara Rakyat, Bukan Suara Partai

Kemenangan pasangan Jokowi – Ahok mengalahkan pasangan Foke – Nara pada Pilkada DKI Jakarta yang dilangsungkan kemarin (Kamis, 20 September 2012) sampai saat ini masih mendominasi pemberitaan baik di media mainstream maupun di media sosial. Apa yang ditampilkan media-media tersebut menggambarkan bahwa kemenangan Jokowi – Ahok merupakan kabar baik. Ini tentu saja sepihak, pasangan Foke-Nara tentu menganggapnya sebagai berita duka.

Saya sendiri tidak terlalu mendukung Jokowi, tetapi jelas sangat tidak mendukung Foke. Faizal Biem yang saya jagokan telah jatuh pada Pilkada putaran pertama. Habis saya tidak memiliki KTP Jakarta sih, jadi saya tidak bisa menyoblos Faizal. hehe

Begini; menurut saya, kabar kemenangan Jokowi setidaknya menunjukan bahwa suara partai, elit-elit partai tidak begitu mencerminkan suara rakyat. Ada yang bilang suara partai sama sekali berbeda dengan suara rakyat. Foke – Nara yang didukung secara keroyokan oleh partai-partai gajah pemenang pemilu legislatif di Jakarta tidak mengalahkan Jokowi – Ahok yang hanya didukung oleh PDI P dan Gerindra. Keduanya tidak mendapatkan suara yang sangat signifikan pada pemilu-pemilu legislatif di Jakarta.

Apakah ini berarti suara-suara (elit) partai kelak tidak akan laku lagi dijadikan barang jualan oleh pihak-pihak tertentu? Entahlah, Mau tidak mau, setidaknya saya sendiri makin muak dengan ulah (elit) partai yang makin tidak malu untuk mengambil posisi oportunis. 😀

Belajar Memotret (Bunga)

Bunga MerahJambu

Bunga Merah Jambu

Bunga Merah Jambu ini baru saja saya potret dengan ponsel Android entry level, Samsung Galaxy Ace Duos.

Maksud saya tadi sebenarnya hanya ingin mencoba fasilitas unggah gambar di Scope, suatu twitter client di Android yang menurut saya mempunyai tampilan yang enak dibaca. 🙂