Account Corporate di g+, Pertaruhkan Kredibilitas

Dalam waktu singkat, sekitar 6 minggu saya membuat account google+, saya telah men-circle sebanyak 137 account dan dilingkari/di-circle/circled oleh 420 orang. Tepatnya 420 account.

Saya mengamati selain account dengan nama – nama yang menurut saya aneh – aneh, account yang men-circle saya itu  tidak sedikit yang mengatas namakan suatu corporate/perusahaan. Kita tahu bahwa aturan Google+ hanya mengijinkan account hanya boleh dibuka untuk pribadi. Bukan untuk organisasi, lembaga atau perusahaan. Bila ketahuan, nantinya g+ akan men-suspend account – account pelanggar Term of Service itu.

Sepintas resiko suatu account gratis di-suspend bagi suatu corporate bukanlah sesuatu yang dianggap cukup merugikan bila dibanding kemungkinan benefit yang diharapkan.

Pengabaian dan pelanggaran Term of Service oleh corporate/lembaga ini tidak hanya terjadi pada g+. Kita dengan mudah bisa menemukan pelanggaran serupa di Facebook dan layanan online lain.

Pertanyaan saya. Apakah dengan semena-mena terhadap term of service pada corporate lain, si corporate/lembaga itu tidak berpikir bahwa perbuatan itu bisa menurunkan kredibilitas mereka sendiri? Kira-kira bagaimana respon corporate yang melanggar term of service corporate lain ini bila kemudian ada corporate lain yang melanggar term of service mereka? 😀

Sahur di Social Media, Sepi

Dua atau tiga Ramadhan yang lalu, pada waktu makan sahur sampai menjelang subuh, feed dan timeline social media yang saya ikuti (diantaranya adalah twitter dan facebook) ramai. Bisa dibilang sangat ramai. Apapun, oleh kawan – kawan online saya itu dengan mudah dijadikan bahan update.

Berbeda dengan Ramadhan kali ini, feed dan timeline terlihat sepi. Tinggal ada beberapa kawan saya yang kadang kala masih menyempatkan iseng memposting sesuatu di sela – sela menikmati hidangan santap sahur. Padahal pada Ramadhan kali ini di facebook saya berteman dengan lebih banyak orang. Di twitter -pun saya telah men-follow orang yang berjumlah kira – kira dua kali lipat dibanding yang saya follow pada tahun lalu. Baca lebih lanjut

The Morning Sound

Nah, kalau saya telah berulang kali menceritakan di blog ini, di twitter ataupun di facebook tentang suara – suara yang mengiringi pagi hari di sekitar rumah dimana saya tinggal. Maka untuk membuktikan bahwa cerita saya bukan hoax semata, pada pagi tadi mulai sehabis subuh sampai hampir jam 06:00 wib, dengan peralatan seadanya, saya merekam suara – suara itu.

Dan siang ini saya berhasil membagikan di blog ini. Saya tadi bingung file audio mau di host dimana. Bingung mencoba – coba beberapa layanan, sampai akhirnya oleh mas Ndableg, saya direkomendasikan untuk menggunakan soundcloud. Hitung – hitung sambil menjajal layanan cloud ini.

Baiklah, selamat mendengarkan kicauan burung, suara ayam berkokok, suara sapi melenguh, dan suara jangkrik yang sehari – hari saya dengarkan. 🙂

Slamet, Pengusaha Kampung yang Melek Teknologi

Slamet. Saya mengenalnya sebagai pribadi yang tangguh, ulet dan pantang menyerah. Dia adalah salah satu pemuda di desa dimana saya tinggal yang memutuskan untuk tidak merantau. Slamet lebih memilih menjadi juragan bagi dirinya sendiri. Juragan yang memberi manfaat bagi lingkungan tinggalnya.

Kira – kira sudah 10 tahun ia membuka usaha potong rambut di Desa Grogol. Sebagai pengusaha potong rambut satu satunya di desa, tentu warga desa tidak punya pilihan lain untuk merapikan rambutnya agar tampil ganteng ganteng cakep – cakep. Saya bergurau. Tentu saja Slamet mempunyai banyak pesaing. Di jaman yang mana transportasi tidak jadi masalah sekarang ini, orang bisa memilih jasa potong rambut di desa tetangga atau di kecamatan tetangga. Tentu saja sense dan pelayanan Slamet yang membuat ia bisa mengikat banyak pelanggan setia. 😀 Baca lebih lanjut

Lampu Mercu Suar Bertenaga Surya di Pantai Gesing

Saya tadi penasaran dengan Lampu Mercu suar yang ada di Pantai Gesing yang terletak di desa Girikarto kecamatan Panggang, kabupaten Gunungkidul. Di kawasan pantai ini belum terlihat ada jaringan listrik PLN. Saya tidak melihat ada kabel kabel penyulang menuju kawasan pantai nelayan ini. Lalu lampu mercu suar itu bisa menyala dengan listrik apa?

Di kawasan pantai yang dipakai untuk pendaratan kapal – kapal nelayan ini berdiri 3 menara suar. Dua menara suar di kanan kiri pantai pendaratan kapal. Satu lagi ada di bukit di sebelah barat pantai. Saya tadi nekad memanjat menara suar yang ada di puncak bukit ini. Tujuan saya sebenarnya adalah untuk melihat panorama pantai dari ketinggian saja. Saya tadi merekam beberapa menit video pantai Gesing ini dan di antaranya dari atas menara suar ini. Saat ini saya belum sempat menyunting video amatir itu. Kapan – kapan kalau sudah sempat akan saya unggah ke youtube dan saya jadikan posting tersendiri di blog ini.

Nah, tadi di puncak suar, secara tidak sengaja saya bisa tahu tentang asal usul listrik yang menghidupi lampu suar ini. Ternyata menggunakan panel surya (solar cell) Baguslah. Mudah – mudahan tidak ada tangan – tangan vandal yang merusak fasilitas umum yang memberi petunjuk arah bagi nelayan ini. Secara pantai pendaratan ikan Pantai Gesing belum lama dibangun.

Panel Surya ( Solar Cell Panel)

Panel Surya ( Solar Cell Panel)

Suar Lamp at Gesing Beach

Suar Lamp at Gesing Beach

Monitor LCD Rusak?

Saat ini saya sedang menggunakan Monitor LCD pinjaman. Monitornya merk Acer X163w ukuran 16 inch, kalau tidak salah. Beberapa saat menggunakan monitor ini kok rasanya ada yang aneh. Mata terasa tidak nyaman. Seolah olah monitor ini belang – belang. Ada bagian yang bagus (focus) ada bagian yang kelihatan ngga focus. Ada garis yang seharusnya berwarna hitam tampak kemerah – merahan.

Monitor ini memang rusak atau mata saya yang capai. Kalau lihat monitor CRT yang rusak sih sudah biasa. Biasanya kalau tidak focus ya semua bagian layar tampak kabur. Kalau ada belang – belang warna, biasanya ada di pinggir layar dan di pojok layar. Kalau garis nampak tidak convergence di monitor CRT juga bisa.

Penasaran saya googling untuk mencari software untuk mengetes tampilan layar monitor. Oleh google, saya diarahkan untuk download software itu di sini http://www.passmark.com/products/monitortest.htm Meskipun versi trial, software ini menurut saya keren. Software ini bisa dipakai hampir sama dengan Pattern Generator yang saya pakai sewaktu pernah belajar elektronika pada jaman dahulu kala.

Dan kesimpulannya : Monitor ini memang telah rusak. 😀

 

Yang Membosankan Dari Mengedit Video

Ada dua tahapan yang menurut saya membosankan yang harus dilalui saat melakukan video editing.

Pertama adalah capturing. Mentranfer footage video dari camcorder yang bermedia tape. Katakanlah bermedia rekam kaset miniDV atau DVC pro. Waktu yang diperlukan kira – kira sama dengan durasi dari video yang ingin kita capture. Biasanya pada tahap ini saya tidak melulu menunggu saja, tetapi juga mengamati apakah terjadi drop frame. Drop frame memang susah untuk dihindari karena kondisi di medan shooting tidak pernah ideal. hehe

Lhooo bukannya banyak camcorder sekarang yang menggunakan hard disk dan memory card sebagai media penyimpan rekaman. Betul. Tetapi tidak sedikit format video yang dibuat camcorder menggunakan format file video yang compressed. Tidak semua format file video ini bisa langsung dibaca oleh Software video editing. Ada pula yang bisa dibaca tetapi sangat memboroskan tenaga komputasi. Bila ini kejadiannya, biasanya Editor perlu mengkonversi file video itu ke dalam format file yang lebih ramah untuk di-edit. Katakanlah uncompressed avi. Mengkonversi/ mentranscode file perlu waktu lagi. Menunggu … Baca lebih lanjut

Presensi Sidik Jari

Presensi sidik jari sejak beberapa tahun belakangan marak ditemui di berbagai instansi, perkantoran dan pabrik. Tujuan penggunaan presensi sidik jari itu jelas. Untuk mendisiplinkan orang-orang kantoran dan orang-orang pabrikan. Setidaknya untuk mendisiplinkan waktu kedatangan dan waktu kepulangan. Biasanya pengambil kebijakan tidak melulu memasang mesin presensi sidik jari. Mereka kemudian memberikan insentif bagi kehadiran dan kepulangan tepat waktu. Dan memberikan sanksi bagi yang tidak disiplin?

Beberapa waktu yang lalu saya merasa geli melihat perjuangan seorang kawan agar tidak di-ban oleh sistem insentif karena terlambat absen. Memasuki komplek dia berjalan setengah berlari. Dia mengabaikan salam dari kawan-kawannya. Menolak jabat tangan. Dan segera ke tempat diletakannya finger print sensor. Kayaknya dia seheboh itu karena terjebak macet di jalan, kalau tidak karena ban motor yang ia kendarai kempes karena bocor.

Menempelkan jempol di finger print sensor, dijawab silakan mengulang lagi oleh mesin penjawab. Dia mencoba untuk yang kedua kali dengan jari telunjuknya. Sampai ia mencoba untuk yang kesekian kalinya. Kali ini mesin sidik jari memberi ucapan terimakasih. Tapi wajah kawan saya ini memerah. Rupanya ia telah beberapa detik terlambat dan dikategorikan oleh sistem dalam kelompok yang tidak berhak menerima insentif kehadiran.

Ia terlihat geram seakan ingin meremas-remas mesin presensi sidik jari.

Bagi penyusun kebijakan peristiwa semacam ini bukan perkara mudah. Baca lebih lanjut

Nyiapin Belajar Bareng Video Editing Sederhana

Rencananya pada Minggu depan saya diminta untuk bareng dengan adik – adik belajar video editing. Goal nya adalah untuk merapikan footage – footage video yang diambil dari beragam camcorder (mulai camera ponsel sampai handycam) dan menyusunnya  menjadi sebuah cerita yang enak dimengerti maksudnya. Syukur – syukur bisa dipercantik biar enak ditonton.

Untuk software video editing, saya memilih Windows Movie Maker. Karena komputer – komputer yang bisa dipinjam untuk latihan ini ber OS Windows 7. Saya kira Windows Movie Maker yang bisa diunduh secara gratis ini cukup untuk keperluan video editing sederhana. Cukup nati ditambahkan codec pack agar format video yang beragam, karena diambil dari camera yang beragam pula, bisa dibaca oleh Movie Maker.

windows movie maker

Ini adalah pertama kali saya mencoba Windows Movie Maker pada beberapa tahun terakhir. Seingat saya, saya pernah memakai program ini ketika jaman itu saya masih memakai Windows XP

Windows Movie Maker, pada bagian yang saya lingkari merah, menawarkan banyak pilihan sharing. Memudahkan untuk meng-upload ke social media sekaligus tanpa mengurangi pilihan untuk ke format media player portable. Nampaknya Movie Maker versi baru ini menawarkan lebih banyak fitur.

Sebenarnya saya pengin menunjukan pada adik – adik bagaimana menyunting video dengan iMovie (pada Mac) dan Pitivi Video Editor (pada Linux Ubuntu) yang tidak kalah asyiknya, tapi ngga apa – apa mungkin besok ada waktu buat menunjukan demo-nya.

Oh, iya. Posting ini saya buat dengan Windows Live Writer. Untuk mencoba client blogging bikinan Mircrosoft. Untuk anda tahu, ternyata Windows Live Writer dipaket bersama – sama dengan Windows Movie Maker, Windows Photo Gallery, Windows Live Messenger, Windows Live Mail dan Windows DVD Maker dalam Windows Live Essential.

Bagi yang pengin menjajalnya bisa mengunduh Windows Essential Offline Installer di http://g.live.com/1rewlive4-all/en/wlsetup-all.exe

Ikut – ikutan Ngomong Jingle Sari Roti

Padahal sudah basi. Biarlah. Bagi yang alergi sama roti yang sudah basi lebih baik memeriksa tanggal kadaluwarsa yang seharusnya tercantum dalam kemasan makanan.

Kebetulan saat itu saya juga bisa ikut menyaksikan Metro TV menyiarkan secara langsung wawancara dengan Muhamad Nazarudin. Terus terang saya kurang memperhatikan noise dari wawancara itu kecuali tele wicara itu sempat terjadi suara patah – patah. Baru kemudian di time line twitter banyak dikicaukan tentang jingle Sari Roti yang tersohor itu ada dibelakang suara Nazar.

Banyak spekulasi terjadi kalau artinya Nazar melakukan telewicara itu dari Indonesia saja. Bukan dari luar negeri seperti yang ditegaskan oleh Nazar sendiri.

Pro kontra akan spekulasi ini kemudian berkembang. Ada seorang pakar yang cukup rajin berkicau di ranah twitter mempublikasikan analisisnya yang menduga suara jingle Sari Roti itu kemungkinan adalah suara ring tone/ nada panggil dari ponsel atau BB milik Nazar.

Sepintas Analisis ini masuk akal meski kemudian ada analis lain yang men-twit analisis tandingan. Baca lebih lanjut