Presensi Sidik Jari

Presensi sidik jari sejak beberapa tahun belakangan marak ditemui di berbagai instansi, perkantoran dan pabrik. Tujuan penggunaan presensi sidik jari itu jelas. Untuk mendisiplinkan orang-orang kantoran dan orang-orang pabrikan. Setidaknya untuk mendisiplinkan waktu kedatangan dan waktu kepulangan. Biasanya pengambil kebijakan tidak melulu memasang mesin presensi sidik jari. Mereka kemudian memberikan insentif bagi kehadiran dan kepulangan tepat waktu. Dan memberikan sanksi bagi yang tidak disiplin?

Beberapa waktu yang lalu saya merasa geli melihat perjuangan seorang kawan agar tidak di-ban oleh sistem insentif karena terlambat absen. Memasuki komplek dia berjalan setengah berlari. Dia mengabaikan salam dari kawan-kawannya. Menolak jabat tangan. Dan segera ke tempat diletakannya finger print sensor. Kayaknya dia seheboh itu karena terjebak macet di jalan, kalau tidak karena ban motor yang ia kendarai kempes karena bocor.

Menempelkan jempol di finger print sensor, dijawab silakan mengulang lagi oleh mesin penjawab. Dia mencoba untuk yang kedua kali dengan jari telunjuknya. Sampai ia mencoba untuk yang kesekian kalinya. Kali ini mesin sidik jari memberi ucapan terimakasih. Tapi wajah kawan saya ini memerah. Rupanya ia telah beberapa detik terlambat dan dikategorikan oleh sistem dalam kelompok yang tidak berhak menerima insentif kehadiran.

Ia terlihat geram seakan ingin meremas-remas mesin presensi sidik jari.

Bagi penyusun kebijakan peristiwa semacam ini bukan perkara mudah. Baca lebih lanjut