Presensi Sidik Jari

Presensi sidik jari sejak beberapa tahun belakangan marak ditemui di berbagai instansi, perkantoran dan pabrik. Tujuan penggunaan presensi sidik jari itu jelas. Untuk mendisiplinkan orang-orang kantoran dan orang-orang pabrikan. Setidaknya untuk mendisiplinkan waktu kedatangan dan waktu kepulangan. Biasanya pengambil kebijakan tidak melulu memasang mesin presensi sidik jari. Mereka kemudian memberikan insentif bagi kehadiran dan kepulangan tepat waktu. Dan memberikan sanksi bagi yang tidak disiplin?

Beberapa waktu yang lalu saya merasa geli melihat perjuangan seorang kawan agar tidak di-ban oleh sistem insentif karena terlambat absen. Memasuki komplek dia berjalan setengah berlari. Dia mengabaikan salam dari kawan-kawannya. Menolak jabat tangan. Dan segera ke tempat diletakannya finger print sensor. Kayaknya dia seheboh itu karena terjebak macet di jalan, kalau tidak karena ban motor yang ia kendarai kempes karena bocor.

Menempelkan jempol di finger print sensor, dijawab silakan mengulang lagi oleh mesin penjawab. Dia mencoba untuk yang kedua kali dengan jari telunjuknya. Sampai ia mencoba untuk yang kesekian kalinya. Kali ini mesin sidik jari memberi ucapan terimakasih. Tapi wajah kawan saya ini memerah. Rupanya ia telah beberapa detik terlambat dan dikategorikan oleh sistem dalam kelompok yang tidak berhak menerima insentif kehadiran.

Ia terlihat geram seakan ingin meremas-remas mesin presensi sidik jari.

Bagi penyusun kebijakan peristiwa semacam ini bukan perkara mudah. Sistem seperti ini seolah kaku dan nampak tidak manusiawi. Bila sistem di-setting untuk memberikan toleransi kehadiran katakanlah 5 menit, maka aksi kejengkelan ini bisa terjadi pada detik – detik setelah menit kelima.

Atau begini, analisis kehadiran  dibuat dalam kontek satu bulanan. Dalam satu bulan bisa kita lihat berapa kali seseorang terlambat. Berapa lama rata-rata keterlambatannya. Bila terjadi keterlambatan, berapa banyak orang yang terlambat. Angka keterlambatan biasanya terjadi pada hari apa. Nanti bisa dibuat kebijakan misalnya seperti ini, kalau misalnya dalam satu bulan seseorang hanya mengalami keterlambatan maksimal 3 kali dan waktu terlambatnya kurang 5 menit, maka keterlambatan yang seperti ini bisa dimaafkan tetapi bila ia lebih dari 3x terlambat meskipun kurang dari 5 menit maka ia tidak dimaafkan oleh system.

Ide seperti ini terbuka untuk dikembangkan. Bukankah tujuan presensi sidik jari dan insentif merupakan tool untuk meningkatkan produktifitas. Dalam kaitan ini si pembuat system juga dituntut produktifitasnya untuk membuat mekanisme yang paling pas. hehehehe

Iklan

5 thoughts on “Presensi Sidik Jari

  1. benar mas di perusahaan tempat saya bekerja juga sudah diterapkan sistem finger print. Hanya saja sering terjadi hal seperti itu, sidik jari tidak terbaca oleh sistem.
    saya setuju perlu dikembangkan kebijakan baru, untuk toleransi atas kejadian seperti itu.

  2. Di kantor saya juga sudah menggunakan absensi finger print sidik jari ini. Sebelumnya pakai model barcode. Seringkali benar justru finger printnya macet tak mau baca jempol saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s