Kang Slamet Cumik Hari Ini Menikah

Turut bersuka cita atas menikahnya sahabat kita, Kang Slamet Cumik, nama aselinya Slamet Haryanto, putra semata wayang dari Bapa Pardi, yang bertempat tinggal di dusun Senedi, Grogol, Paliyan, Gunungkidul.

Pernikahan dilangsungkan pada hari ini bertempat di rumah bahagia Bapak Sumartono, Carik Desa Grogol, pada jam sekitar jam 10:30 WIB Sungguh merupakan kehormatan dan kebahagian yang tidak terkira bagi Bapak Sumartono beserta keluarga yang anak wanitanya, Sri Untari, diperkenankan Kang Slamet untuk dipersunting sebagai istri pertama.

***
Sah? Sah!

***

Akhirnya, saya menghaturkan banyak sekali ucapan selamat dan doa, dari saya sendiri dan para sahabat, Mas Tunjung, Mas Firman, Mas Kothol, Kangmas Istono, Mas Gareng dan sangat banyak teman lain yang mana tidak bisa semuanya saya tuliskan satu demi satu di sini, Semoga menjadi Keluarga Sakinah, Mawadah, Warramah. Tak lupa Ersyad, semoga dia senantiasa damai di negeri di sisi-Nya sana, teman kita Bagong pasti bahagia yang tak terperi mendengar kabar baik ini.

Amiin.

Posted with WordPress for BlackBerry.

18 Jam Mati Listrik di Desa Grogol

Listrik PLN padam selama hampir 18 jam bukanlah sebuah berita. Listrik padam itu hal biasa. Apalagi hanya menimpa kira – kira separo wilayah desa. Desa Grogol. Desa pinggiran di kabupaten Gunungkidul. Gunungkidul yang ada dedemit yang suka mematikan aliran listrik pada malam Jum’at Kliwon, ehhh, mematikan korbannya.

Hidup tanpa listrik dari sore, malam, sampai pagi, selama 18 jam itu tidak enak, tidak produktif. Sampai saya tidak betah untuk tidak menelepon kantor PLN.

Menurut petugas pelayanan pelanggan yang saya telpon, pihaknya belum menerima laporan gangguan yang terjadi di desa Grogol dari kemarin siang itu. Belum ada laporan. Petugas berjanji akan mengirim petugas ke lapangan setelah mendapatkan informasi dari saya kalau jalur listrik yang padam adalah mulai dari sebelah rumah “Mbah Atemo Tolu” yang mana di sana dipasang sekering jaringan. Kemungkinan, gangguan terjadi pada sekering jaringan yang njeglek. Saya disuruh menunggu.

Listrik menyala pada kira kira jam 09:40 WIB. Saya tadi menelepon pada jam 09:19 WIB. Bukan waktu kira – kira, ya itu adalah log pada ponsel saya. 😀 PLN bisa menyelesaikan gangguan listrik dalam waktu kurang dari setengah jam. Jadi orang – orang desa bisa mendengar khotbah Jum’at dari pengeras suara di Masjid – Masjid.

Mengapa bisa terjadi mati listrik sampai 18 jam? Karena BELUM menerima laporan. Baca lebih lanjut

Mengecam Film ” Dedemit Gunung Kidul “

Malam tadi, melalui facebook seorang teman menyebar undangan/mengajak saya untuk menghadiri aksi mengecam film berjudul “Dedemit Gunungkidul”. Aksi akan dilangsungkan pada siang ini pada acara launching film itu di Rumah Makan dekat SMP N 2 Wonosari.

Entah apa alasan pengecaman terhadap film ini. Saya memang tidak suka genre film horor macam “Dedemit Gunungkidul. Meskipun saya tidak tahu seperti apa kualitas film ini, rasanya sayang kalau saya membeli tiket dan meluangkan waktu 2 jam duduk di bioskop.

Kemudian apakah saya akan ikut melakukan aksi mengecam film ini? Tidak. Selain aksi pengecaman yang menurut saya tidak akan membatalkan pemutaran “Dedemit Gunungkidul” di jaringan bioskop.  Makin dikecam orang – orang malah akan makin penasaran untuk menyaksikanya. Pengecaman malah akan menjadi promosi gratis bagi film ini. Masih ingat kan dengan film “2012” yang menunai promosi dari kecaman.

Lhoh, kok saya malah membuat tulisan kecaman film “Dedemit Gunungkidul” di blog ini. Berefek promosi ya? Maaf saya tidak dibayar oleh manajemen film untuk berpromosi di blog. Mudah – mudahan yang membaca tulisan saya ini tidak malah jadi makin penasaran 😀

Penolakan Immawan Wahyudi sebagai Wabup Gunungkidul

Immawan Wahyudi bukanlah orang yang saya kenal. Bukan tokoh yang namanya sering saya baca seperti Steve Job, Linux Torvald, Richard M Stallman, Bill Gates, Mark Zukerberg atau Mark Suttleworth. Kedengaranya memang bukan nama yang berkaitan dengan Onno W Purbo, Andika Triwidada, Enda Nasution, Ndorokakung atau Tikanget. Pak Tasiman, pakdhe saya yang menjadi ketua RT yang legendaris pun tidak mengenalnya. hehehe

Nama Immawan pertama saya baca di perempatan Playen. Pada kain spanduk penolakan pencalonannya sebagai Wakil Bupati Gunungkidul. Penolakan pada spanduk di Playen itu sebelumnya saya pikir keisengan masyarakat Playen saja, tetapi selebaran penolakan seperti yang saya tempel di atas dibagi – bagikan di jalan raya depan Pemda Gunungkidul kepada pelalu lalang ketika saya tadi sedang bersepeda motor.

Entahlah, dia pantas menjadi Wakil Bupati Gunungkidul atau tidak. Karena bagi saya pasti tidak akan berdampak terhadap makan siang esok atau lusa. Saya tadi memang penasaran dan meng googling nama ‘Immawan Wahyudi’ dan kok rasanya hampir semua yang disodorkan paman google merupakan link berita penolakan masyarakat pada Immawan 😀

Meringkas Pendidikan Kita

 

Melihat gambar ini sekilas barangkali anda  menduga kalau saya akan menceritakan kebandelan yang saya tekuni di Sekolah Dasar SD Negeri Karangmojo II atau SMP N 1 Playen. Betapa tidak. Perintah Guru agar siswa meringkas pelajaran dari Buku. Di tulis dengan kapur pada papan tulis berwarna hitam. Dikukuhkan oleh Garuda Pancasila disaksikan oleh Presiden dan Wakil Presiden.

Tetapi, silakan lihat lebih lama. Itu BUKAN gambar Bapak Suharto dan Bapak Sudharmono. Bukan pula Bapak Suharto dan Bapak Try Sutrisno. Melainkan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Budiono. Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang dipilih secara langsung oleh segenap rakyat Indonesia pada Pilpres 2009 yang lalu.

Hadeuh! Ternyata Presiden dan Wakil Presiden yang baru yang dipilih secara langsung oleh rakyat belum terasakan pada perbaikan pendidikan yang dikenyam oleh sebagian rakyat Indonesia. Mudah – mudahan siswa siswi yang masih mendapatkan tugas meringkas buku pelajaran dari guru – guru mereka hanyalah sebagian kecil putra putri Indonesia. Atau masih banyak?

Trotoar Bermetamorfose (jadi Pasar)

Gerobak Nasi Uduk

Saya tidak sedang ingin membeli Nasi Uduk. Melainkan saya terpaksa berjalanan di aspalan karena jatah  trotoar buat pejalan kaki diserobot oleh ulah pedagang nasi uduk. Jadinya saya juga tanpa permisi mengurangi jatah bagi pengendara mobil dan motor.

Penjual Nasi Uduk dengan gerobak biru itu bukanlah satu satunya yang nekad semena – mena terhadap fasititas umum. Foto – foto berikut ini adalah bentuk kekerasan terhadap trotoar yang saya temua sepanjang perjalanan  kaki saya dari makan siang. 😀 Baca lebih lanjut

Tempat Parkir Semrawut di RSUP Sarjito

Bepergian dengan sopir yang kurang pengalaman memang tidak enak. Kurang pengalaman bukan berarti kemampuan menyetir yang buruk. Melainkan pengalaman akan tempat – tempat yang mau saya kunjungi. Dan jalanan ke arah tempat itu.

Peta jalanan mudah kita dapatkan dengan beberapa kali pencet di gadget  yang berkelengkapan google maps. Sayangnya google map tidak dilengkapi dengan informasi jalanan, mana yang semrawut, mana yang macet, jalanan mana yang sedang direnovasi. Mengandalkan rambu rambu penunjuk jalan? Ini Indonesia bung.

Jalanan bukan akhir derita. Menyambut dengan derita berikutnya adalah tempat parkir. Sopir kami yang kurang pengalaman sudah membuat keputusan kurang tepat seketika memasuki area parkir. Dia mengemudi keluar dari tempat parkir serta merta setelah tahu bahwa dia berada di ruang parkir untuk pasien UGD. Padahal tujuan kami ingin menbesuk seorang teman yang sedang di rawat.

Bukan salah si sopir sebenarnya. Karena sekali lagi tidak ada papan informasi yang memadai. Sesampainya di tempat parkir pengunjung pun kesemrawutan masih terus – terusan menambah panas siang yang sudah terik. Tidak ada petugas parkir di RSUP Sarjito yang membantu menunjukan dimana tempat parkir yang masih kosong. Petugas yang tetap bekerja sepertinya hanya petugas tiket dan pemungut uang parkir di pintu gerbang tempat parkir.

Kunci kenyamanan memang sopir yang berpengalaman 😀

Alih – alih. Kami mengucapkan rasa terimakasih kepada mas Ikhsan yang sudah kami paksa untuk menjadi sopir bagi kami – kami, mengantarkan untuk menjenguk sahabat kita juga ,yang tengah mengemban penyelesaian uji kesabaran di RS Sarjito. Kami – kami tahu, ujian kesabaran yang harus kami lalui di sepanjang perjalanan yang panas dan di parkiran semrawut masih tidak ada apa – apanya dibanding yang sedang menimpa seorang sahabat. Hanya Allah yang maha sabar. Allah mengembalikan saudara kita di tengah – tengah keluarga tercinta pada waktu yang Ia kehendaki.

KTP Gratis ? Gorengan Saja Tidak Gratis

Almarhum sahabat saya, Ersad dan sahabat baik saya yang masih berumur panjang, Tunjung, pernah suatu kali menanyai seorang staf desa Grogol kecamatan Paliyan yang sedang membeli jajanan gorengan di warung. “Apakah duit yang dipakai untuk membeli gorengan itu merupakan uang urunan atau uang dari mana?” Jawab staf desa Grogol itu singkat, “Sudah ada anggarannya“. Muka staf desa perempuan itu pucat pasi dicecar dengan pertanyaan tanpa basa basi itu.

Ersad dan Tunjung, ketika menceritakan peristiwa itu pada saya, merasa penasaran  dengan perilaku suka jajan para penghuni Balai Desa Grogol. Staf itu disuruh jajan lagi setelah tidak beberapa lama berselang dari membeli jajan di tempat yang sama.

Menurut saya, Ersad dan Tunjung merupakan muka dari potret  rakyat  yang menginginkan transparansi dari pemerintah yang berkuasa di desa dimana mereka tinggal. Tetapi mereka tidak cukup mempunyai akses untuk menonton transparansi itu. Kalau memang transparansi itu ada. Ada banyak masyarakat kecil di Desa Grogol selain Ersad dan Tunjung yang penasaran ingin tahu untuk apa uang sewa tanah desa untuk tower XL, dana ADD, dan uang dari sumber keuangan lainnya, asbes dan barang-barang bongkaran SD N Karangmojo 1 dan SDN Inpres Karangmojo 3. Dan lain lain, dan lain – lain.

***

Membaca koran harian Kedaulatan Rakyat pagi hari ini  membuat saya menghela nafas panjang. Paguyupan Dukuh se Gunungkidul yang menemui Bupati Gunungkidul, Hj Badingah, S.Sos, meminta peninjauan kembali keputusan Pemda Gunungkidul yang memberlakukan penggratisan biaya KTP terhitung mulai Januari 2011. Mereka beralasan kebijakan itu akan mengurangi pendapatan aseli desa dari sumbangan suka rela pengurusan KTP.

Yang bener saja. Pendapatan Aseli Desa atau Pendapatan pribadi perangkat desa?

***

Apa …, KTP Gratis? Gorengan saja tidak GRATIS.

Pengendara Motor Usia Belia dan Kenyamanan Lalu Lintas

Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu. Pagi – pagi ketika saya sedang di dalam angkudes kobutri dikagetkan oleh suara gemertak benturan. Rupanya ada pengendara sepada motor yang terjatuh. Peristiwa ini terjadi di sebelah selatan Masjid Pemanahan, dekat Pasar Desa Grogol Kecamatan Paliyan. Beberapa saat kemudian saya dibuat lebih kaget oleh suara pisuhan dan umpatan yang diteriakan secara lantang.

Saya kaget bukan karena tidak pernah mendengar umpatan pisuhan dengan kalimat – kalimat sekotor itu sebelumnya. Melainkan kekagetan saya itu lebih karena pisuhan itu keluar dari mulut anak – anak seusia SMP atau SD. Saya kurang dapat membedakan karena pengumpat – umpat itu mengenakan seragam Pramuka. Pengumpat umpat itu adalah pengendara sepeda motor yang baru saja terjatuh. Saya katakan pengedara itu mereka karena satu sepeda motor digunakan untuk berboncengan bertiga. Rupanya mereka ini menyalahkan pengemudi kendaraan pick up yang sedang mengangkut sapi sebagai penyebab kecelakaan sepeda motor yang mereka alami.

Tidak mudah untuk mengatakan siapa benar siapa salah dalam peristiwa kecelakaan itu. Bagi saya yang paling menyebabkan rasa miris di jalanan adalah pengendara – pengendara sepeda motor berusia sangat belia yang jarang – jarang bisa mengindahkan etika berlalu lintas. Memang sih, secara mereka juga belum cukup umur untuk mengantongi SIM sebagai lisensi untuk bisa mengendarai kendaraan di jalan raya. Ditambah lagi kultur berlalu lintas di daerah dimana saya tinggal yang menurut saya sangat semrawut. Dan menurut saya sangat – sangat membahayakan keselamatan terutama pada jam – jam menjelang masuk sekolah.

Demi keselamatan bersama, utamanya untuk kepedulian kita pada adik – adik usia belia ini, bukankah kasih sayang dan partisipasi orang tua bisa sangat membantu ….

 

Kena Tilang Operasi Lantas? Jangan Bayar Di Tempat. Itu Ilegal

@dennyindrayana: 1. Jangan bayar denda razia di tempat. Dulu ada dasarnya. Sekarang sudah tidak. Datanglah ke sidang atau bayar dibank. #razia

@dennyindrayana: 2. Pagi tadi saya naik sepeda motor di suatu kota. Ada razia. Kami dicek tidak ada masalah. Surat lengkap, helm standar. #razia

@dennyindrayana: 3. Saya minta istri lihat kerumunan orang yang kena tilang. Saya menunggu di sepeda motor. Karena wajah saya dikenali. #razia

@dennyindrayana: 4. Istri kembali mengabarkan terjadi pembayaran di tempat. Satu pelanggar berkisar lebih kurang 30 ribu. Tidak ada tanda terima #razia

@dennyindrayana: 5. Saya kebetulan bawa kamera. Dengan helm standar terpasang, saya coba ambil gambar dokumentasi. #razia

@dennyindrayana: 6. Setelah terkumpul cukup bukti ganbar, saya tanya komandan lapangan, apa dasarnya pembayaran di tempat. #razia

@dennyindrayana: 7. Sang komandan ngotot ada dasarnya, sambil tunjukkan surat perintah razia dari atasannya. Saya tegaskan bayar di tempat tidak boleh #razia

@dennyindrayana: 8. Saya lepas helm. Polisi yang mengenali wajah saya meminta maaf dan mengaku salah. Razia segera berhenti. Polisi mengaku ditarget #razia

@dennyindrayana: 9. Saya tanya dapat berapa sekali razia. Disebut angka, tidak sampai 2 juta. Untuk dibagi-bagi hingga ke jaksa. #razia

@dennyindrayana: 10. Dia katakan berani jamin di kota lain juga begitu. “Kami hanya dapat tambahan biaya makan”, katanya.

@dennyindrayana: 11. Ini model corruption by need yang sudah parah. Corruption by greed lebih parah dan merusak. #razia

@dennyindrayana: 13. Setelah saya korek semua informasi, sang polisi berkata, “habis ini kami harus razia tempat lain, kejar target”. #razia

@dennyindrayana: 14. Sebentar saya masuk desa yg sulit sinyal, cerita #razia akan saya sambung lagi ketika sinyal kembali kuat.

@dennyindrayana: 15. Teman Polisi saya memastikan bayar razia di tempat sudah tidak boleh. Sebaiknya memang denda razia dibayar dng cara lain. #razia

@dennyindrayana: 16. Banyak contoh denda dikaitkan dengan kewajiban warga yang lain. Misalnya perpanjangan SIM, STNK dll. Tentu dng sistem yg canggih. #razia

@dennyindrayana: 16. Masalah razia ini adalah contoh yang ada di keseharian kita. Sebagaimana pungli koruptif lainnya. #razia

@dennyindrayana: 17. Peningkatan kesejahteraan adalah salah satu solusi. Tetapi itu hanya satu cara. Penyelesaian menyeluruh yang lebih diperlukan. #razia

@dennyindrayana: 18. Pungli razia: Corruption by need tentu tidak boleh. Meski corruption by greed yang harus dibasmi dan diberi sanksi menjerakan. #razi

Posting ini merupakan dokumentasi yang saya buat dari rangkaian twit Denny Indrayana, Sekretaris Satgas Mafia Hukum. Agar kelak kemudian saya mudah menemukan informasi penting ini. Mengingat saya sendiri sering berpapasan dan diperiksa oleh Petugas Operasi Lalu Lintas.

Anda bisa menfollow account twitter @dennyindrayana untuk berinteraksi dan mendapatkan update dari beliau.

Dan menfollow @jarwadi untuk berinteraksi dengan saya. Kalau yang terakhir ini promosi diri 😀

Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.5