Siapa Saja Yang Boleh Mengritik?

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman – teman saya berdebat, lebih tepatnya berdiskusi, tentang baik atau buruknya memberikan kritik terhadap suatu produk. Produk itu katakanlah sabun colek, minyak goreng, film yang tengah beredar di Cinema atau Undang – Undang yang baru saja disahkan oleh DPR.

Teman saya ada yang bilang, daripada mengritik akan lebih baik bila kita menunjukan  karya kita yang lebih baik.

Ehmmm … . Sekarang analogi-nya begini. “Kamu programmer kan?” saya melanjutkan, “Kenapa kita tidak berterimakasih bila ada seseorang yang bisa menunjukan bug pada program buatan kita meskipun orang itu tidak bisa bugs fix sekalipun.

Atau kita masih mau menunggu masalah lebih besar biar datang …”

Sekolah Mahal ya :(

 

Sedih ... Pendidikan Mahal

Sedih ... Pendidikan Mahal

Kemarin, ketika pagi – pagi saya naik angkudes (semacam angkot tapi di pedesaan) bareng anak – anak  berangkat sekolah, seorang bapa – bapa bertanya,”Sekarang berapa uang sekolah bulanan?” Ada yang menjawab 70 ribu/bulan, kalau di SMK N 1 Rp 100 ribu/bulan. Penumpang lain menjawab kalau di SMA Negeri 250 ribu/bulan.

“Wah mahal ya ….” celetuk bapak – bapak itu. Kemudian bapa – bapa itu diam. Dan saya diam – diam mengambil foto ini. 🙂

Muhamad Yunus : Belajar Mempercayai Apa Yang dilihat

Awal bulan Maret lalu, saya sekilas membaca nama Muhammad Yunus muncul di timeline twitter. Muhamad Yunus dipecat dari Grameen Bank, begitu salah satu twit. Karena Grameen Bank bangkrut? Karena kepercayaan Yunus yang berlebihan terhadap orang – orang miskin di Bangladesh?

Baru tadi malam saya sempat, eh ingat untuk mencari tahu penasaran saya akan berhentinya Muhamad Yunus dari Grameen Bank yang ia dirikan di Bangladesh pada tanggal 2 Oktober 1983. Akhirnya saya mendapatkan jawaban tentang Yunus dari sini. Dari halaman berita BBC News Indonesia. Menurut BBC News, Muhamad Yunus diberhentikan dari Direktur Pelaksana Grameen Bank karena menurut Undang Undang di Bangladesh, usia wajib pensiun adalah 60 tahun, sedangkan Yunus berumur 70 tahun. Sudah sangat jompo untuk ukuran pejabat di Bangladesh. Spekulasi lain yang dimuat di BBC News menuliskan pemberhentian ini akibat Yunus berseberangan dengan pemerintahan Liga Awani. Dia pecah dengan PM Sheikh Hasina tahun 2007 ketika berusaha membentuk partai baru. Saham pemerintah sebesar 25% di Grameen Bank cukup untuk mengistirahatkan Profesor Muhamad Yunus.

Untuk mengenal lebih Prof Muhamad Yunus bisa dibaca di halaman wiki di sini.

Tidak penting untuk berpanjang lebar membahas kenapa Yunus berhenti dari Manajemen Grameen Bank. Saya lebih tertarik dengan ide – ide Yunus untuk membebaskan rakyat Bangladesh yang pada saat itu sangat miskin dengan hanya bermodal kemampuan untuk mempercayai orang – orang. Khususnya mempercayai orang – orang miskin untuk diberikan pinjaman mikro, kalau tidak boleh disebut nano 😀 Berikut ini adalah cerita Muhamad Yunus yang saya ambil dari buku The 8th Habits yang ditulis oleh Sthepen R Covey.

[ WARNING: Posting ini sangat panjang, jadi bila tidak tertarik silahkan di skip saja 🙂 ] Baca lebih lanjut

Standing Party! Njamani Ning Ora Njawani

Posted with WordPress for BlackBerry.

Ringkasan Khotbah Jum’at

Pilar peradaban yang tangguh adalah pembangunan akhlak.

Khotib : Ustadz Dedy Mustajab

Meringkas Pendidikan Kita

 

Melihat gambar ini sekilas barangkali anda  menduga kalau saya akan menceritakan kebandelan yang saya tekuni di Sekolah Dasar SD Negeri Karangmojo II atau SMP N 1 Playen. Betapa tidak. Perintah Guru agar siswa meringkas pelajaran dari Buku. Di tulis dengan kapur pada papan tulis berwarna hitam. Dikukuhkan oleh Garuda Pancasila disaksikan oleh Presiden dan Wakil Presiden.

Tetapi, silakan lihat lebih lama. Itu BUKAN gambar Bapak Suharto dan Bapak Sudharmono. Bukan pula Bapak Suharto dan Bapak Try Sutrisno. Melainkan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Budiono. Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yang dipilih secara langsung oleh segenap rakyat Indonesia pada Pilpres 2009 yang lalu.

Hadeuh! Ternyata Presiden dan Wakil Presiden yang baru yang dipilih secara langsung oleh rakyat belum terasakan pada perbaikan pendidikan yang dikenyam oleh sebagian rakyat Indonesia. Mudah – mudahan siswa siswi yang masih mendapatkan tugas meringkas buku pelajaran dari guru – guru mereka hanyalah sebagian kecil putra putri Indonesia. Atau masih banyak?

Anugerah Nikmat Sepanjang Jum’at

Alhamdulillah, saya panjatkan rasa syukur dengan sebesar – besar yang saya mampu, karena pada siang hari ini, Allah telah memberikan saya nikmat yang istimewa. Salah satu nikmat istimewa itu adalah dengan kekuatan yang Allah berikan pada sepasang mata sehingga saya bisa menyimak sepanjang khotbah jum’at tanpa belenggu rasa kantuk.

Rasa syukur berikutnya atas anugrah rasa penasaran yang kuat yang ter-install di dalam hati ini sehingga saya terus berjuang bagaimana caranya untuk terus mendengarkan khotbah Jum’at yang disampaikan oleh beliau, kawan saya, Ali Shodikin. Seperti yang sering saya ceritakan berulang – ulang, bagi saya mendengarkan bukanlah hal yang mudah. Yang mana fitur membaca sebagai input utama informasi lebih dominan dalam tubuh saya. Saya juga yakin, hanya atas kehendak Allah -lah, hadir salah satu ciptaan di muka bumi berwujud seorang Ali dengan gaya berkomunikasi lisan yang memukau.

Rasa syukur berikutnya berupa upaya untuk menuliskan kembali apa yang saya input melalui indera pendengaran dengan susah payah agar kemudian bisa semakin bermanfaat bagi saya.

Bahwasanya janji Allah yang pasti, Allah akan menghadirkan orang – orang shaleh sebagai pemimpin umat. Dengan syarat. Kita meneguhkan syahadat (1), mendirikan/mendisiplinkan Shalat(2), membaca Al Qur’an(3), memperbanyak dzikirullah(4), dan menganggap semua muslim sebagai saudara.(5)

Akhirnya, posting ini saya tutup dengan wasiat default dari setiap khotbah jum’at. Agar kita selalu bertaqwa kepada Allah. Menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya dan mengerjakan apa yang menjadi perintah-Nya. Menjauhi larangan adalah mutlak. Tidak boleh TIDAK. Titik. Mengerjakan perintah -Nya adalah sebatas kemampuan kita. Tentu saja kita harus senantiasa melatih dan mengupayakan  kemampuan semaksimal mungkin. Karena hanya Allah -lah yang Maha Mengetahui batas.

***

Memperkenalkan Kambing Hitam Pada Anak

Gara-gara kesandung kaki meja, Balin jatuh dan nangis. Kemudian ibunya ngomong : “kenapa jatuh, sayang? Mejanya nakal ya? Ayo pukul mejanya.” Balin pun memukuli meja. Hahaha, setelah ini Balin jadi ngerti dua hal. Kambing hitam dan balas dendam.

Baca lebih lanjut

Dipanggil “Pak J”

Pak J. Nama yang sering orang – orang pakai untuk memanggil saya. Terutama orang – orang yang belum berkenalan baik dengan saya. Atau orang – orang yang saya kenal dari Social Media. Jujur, saya terkadang agak risih  dipanggil dengan sebutan “pak”. Apalagi oleh orang – orang yang berusia jauh lebih senior dari saya. Meski lama demi lama saya mulai membiasakan diri dengan panggilan yang belum menjadi hak saya itu.

Celakanya ketika seseorang sudah akrab memanggil saya “pak”, kemudian terpaksa bertemu dengan saya, mereka akan menganulir label ‘pak’ yang dulunya ia sematkan di dada saya. Penganuliran label “pak” ini menjadikan penghiburan tersendiri buat saya. Misalnya, ketika kemarin saya ditugasi oleh kawan – kawan relawan peduli Merapi untuk melakukan fun raising yang mana kepedulian teman – teman social media mendorong mereka untuk menitipkan kedermawanan kepada saya. Sesuatu yang istimewa bagi saya untuk bertemu tatap muka dengan teman – teman social media itu. Sebelumnya, kalau tidak ‘terpaksa’ saya memang enggan untuk kopdaran dengan dalih alasan yang sengaja saya cari – cari.

Sedikit bercerita. Panggilan “Pak J” pertama kali keluar dari rongga mulut teman – teman dekat. Saat itu sekitar tahun 2002 ketika Mas Susilo, Mas Mahmud SB, Mas Puguh, Mas Amri dkk mendirikan start up yang bertempat di Jalan Sumarwi Wonosari. Hari demi hari dengan panggilan “Pak J”. Anehnya, sampai start up yang kami rintis itu jatuh tewas, nama “Pak J” masih melekat pada saya. 😀

Tetapi kenapa tiba – tiba “Pak J” muncul di social media sejak beberapa tahun. Padahal saat itu geng perintis start up itu tak satupun muncul pada senarai teman.

Wallahu alam bisawab! Hanya Allah Yang Maha Mengerti atas segala fenomena alam.

Nestle Pure Life: Kekuatan Desain

Untuk mengenyahkan rasa haus selama mengantri pada kemarin siang, saya mampir ke warung kelontong pinggiran jalan untuk membeli air mineral. Saya menuju warung kedua setelah di warung pertama tidak mendapatkan merk air mineral dalam kemasan yang saya cari. Di warung pertama tadi saya ditawari Aquaria. Padahal saya penginnya Aqua. Maaf ya dalam postingan ini saya secara blak – blakan menyebut merek. Tidak sopan ya 😀

Nah, di toko kedua, saya langsung melihat deretan botol Aqua yang tertata apik. Dan di tidak jauh dari tatanan botol – botol Aqua itu saya melihat air minum dalam kemasan yang lain, yaitu Nestle Pure Life. Di kebanyakan toko – toko kelontong Pure life tidaklah selalu tersedia. Dan saya baru sadar rupanya di minimarket/supermarket saya terlalu cuek sehingga Pure Life luput dari perhatian saya.

Singkatnya, saya terpesona dengan desain kemasan apik dari Nestle Pure Life dan mengurungkan niatan yang sujak semula sudah berniat fanatik dengan Aqua. Apa yang membelokan iman saya adalah desain. Baru kemudian dijustifikasi oleh nama besar merek dagang Nestle. Saya tidak tahu apakah saya juga akan murtad ke lain hati bila melihat misalnya air minum dalam kemasan merk Sega yang notabene saya meresa pernah terkena radang tenggorokan gara – gara setengah hati meminumnya.

Nestle Pure Life

Nestle Pure Life

Gambar saya comot dari sini