Lokasi penjual bakmi di Kulon Progo arah Sentolo.
Gambar diambil dari bbm grub telkomsel joglosemar
Posted with WordPress for BlackBerry 1.5 via Telkomsel network
Seorang pengecut mati berkali – kali di sepanjang hidupnya, sedangkan seorang pahlawan hanya mati satu kali dalam hidupnya.
Begitulah kata pepatah yang siang tadi menampar muka saya. Betapa tidak, selama hampir satu jam saya dalam keraguan hanya untuk meng-iya-kan cek darah oleh dokter untuk memastikan apa penyebab sakit yang saya derita. Memang apa sih yang ditakutkan dari test darah dan jarum suntik kecuali ketakutan yang ngga beralasan. 😀
Urusan suntik dan darah memang ketakutan tersendiri buat saya. Sepanjang hidup yang saya ingat, hanya dalam hitungan jari jarum suntik yang pernah menusuk tubuh saya. Keputusan saya dalam ketakutan untuk mengambil sample darah tadi siang merupakan jarum suntik yang pertama dalam 10 tahun terakhir. Persis dengan ketakutan yang sama pada tahun 2001 ketika saya harus opname dan diinfus dan cek darah pula karena sakit tipes yang sudah agak parah waktu itu.
Penyakit typhoid ini pulalah yang dari test darah siang tadi ditemukan sebagai penyebab derita yang sudah menyengsarakan saya hampir satu minggu. Glek … tipes lagi … Untungnya saya tadi memberanikan test darah, jadi dokter tidak salah meresepkan obat untuk saya.
Kata dokter saya harus beristirahat, ngga boleh begadang dulu, ngga boleh memakan makanan yang kasar – kasar dan pedas dan banyak – banyak minum jus jambu biji untuk mendongkrak trombosit saya yang anjlok …
Dalam 5 tahun, anda sudah berapa kali berganti gadget? Berapa bulan usia ponsel yang saat ini anda pakai? Komputer/Laptop. Sering mana sih Anda berganti ponsel dengan berganti laptop? Apa alasan anda berganti ponsel dan komputer/laptop baru?
Pertanyaan – pertanyaan itu mirip dengan yang kami bicarakan dengan teman – teman saya. Laptop Mac teman saya yang dibeli menjelang bulan puasa tahun kemarin, berarti usia Mac -nya belum genap setahun, sudah berulah. Sedangkan Laptop Acer Travelmate yang saya pakai sudah berusia lebih dari 5 tahun. Kerusakan yang terjadi hanya kerusakan ringan – ringan. Misalnya keyboard rusak karena laptop terjatuh dan DVD RW yang kemampuan baca tulisnya sudah jelek.
Kembali ke Laptop MBP teman yang berulah itu, menurut dia si MBP belum pantas mati karena usianya belum genap setahun. Memang pantasnya Macbook Pro itu pantas mati pada usia berapa? Tidak masuk akal bila kita menginginkan tidak rusak selamanya.
Teman saya yang lain nyeletuk. Kalau dalam 1 atau 2 bulan Macbook Pro mu sudah memberi value kepada kamu senilai harga beli Macbook-mu, maka Macbook Pro mu pantas mati pada bulan ke 4. Kalau dalam satu tahun kamu tidak bisa mengharapkan value senilai harga beli Macbook pro -mu, itu artinya kamu ngga pantas pakai Macbook Pro. Pakai laptop low end dan sistem operasi linux saja. 😀
Posted with WordPress for BlackBerry 1.5
ya, hari ini saya terkapar. flu disertai batuk disertai radang tenggorokan dan radang saluran pernafasan selalu tidak mudah. berat. lha pilek saja sudah terasa menderita. apalagi bertumpuk – tumpuk seperti ini.
pokoknya saya harus segera pulih. everything gonna be ok. ok ok ok. mensugesti diri sendiri. ditambah istirahat. ditambah minum obat.

Beginilah kalau musim kemarau di desa dimana saya tinggal sudah mulai tiba. Dingin banget di pagi hari. Panas membakar di siang hari.

Langit di sore harinya biasanya juga bagus. Ada warna – warna jingga di langit barat. Lepas Maghrib biasanya cuacanya mulai turun lagi. Malamnya bintang bertebaran di taman langit. Indah. Mirip seperti langit di film Moon yang disutradarai Duncan Jones itu.
Sayang, saya belum punya kamera bagus yang bisa dipakai untuk memotret langit bertabur bintang.
Secara khusus Google menyebutkan Indonesia bersama – sama dengan Brazil, Bolivia, India dan Singapura dalam usahanya mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) untuk wabah demam berdarah. Program ini disebut sebagai Google Dengue Trend. Program yang berusaha menangkap fenomena yang terjadi di belahan dunia dengan mengalisis korelasi antara keyword dengan tema tertentu yang diproses oleh mesin pencari Google dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya.
Mekanisme Google Dengue Trend hampir sama dengan Google Flue Trend yang pernah saya ceritakan di sini. Jadi belajar dari pengalaman Google Flue Trend yang dikeluarkan pada tahun 2008, maka Google Dengue Trend cukup relevan untuk mempelajari volume pencarian topik demam berdarah dengan berapa banyak sesungguhnya orang yang mengalami gejala demam berdarah. Tentu saja tidak setiap orang yang googling demam berdarah adalah orang yang mengalami gejala demam. 😀
Disebutkan di blog Google Dengue Trend di sini, Singapura mempunyai surveillance system yang mencengangkan yang bisa menyajikan laporan secara rutin dengan cepat, akan tetapi dikebanyakan negara untuk mengumpulkan, menganalisis hingga data dapat disajikan tidak jarang diperlukan waktu mingguan sampai berbulan – bulan. Jangan tanya lagi kalau di Indonesia. 😀 Baca lebih lanjut
Tribun Jogja adalah koran yang kesekian yang menerapkan price tag Rp 1.000. Sebelumnya saya telah menemukan bacaan di warung – warung sarapan koran – koran dengan price tag Rp 1.000. Seingat saya, yang paling dulu membandrol koran dengan harga Rp 1.000 adalah Meteor, Merapi, Harian Jogja Express Gunungkidul, dan apa lagi?
Pertanyaan: Baca lebih lanjut
GUNUNGKIDUL: Sebanyak 132 siswa SMP di Gunungkidul tidak lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun ini. Berdasarkan data Disdikpora Gunungkidul, angka tersebut setara dengan 1.29% dari jumlah 10.263 siswa yang mengikuti UAN di Bumi Handayani.
Nilai tertinggi se-Gunungkidul diduduki oleh SMP N 1 Wonosari yang merupakan RSBI di Gunungkidul. Sementara sekolah yang memiliki siswa tidak lulus paling banyak adalah SMP N 2 Paliyan dengan 19 siswa tidak lulus. Sekolah lainnya seperti, SMP N 2 Ponjong 2 siswa tak lulus, SMP Taman Dewasa Ponjong dan SMP 2 Playen masing-masing 1 siswa harus mengikuti UN Paket B atau mengulang tahun depan.
Sumber Harian Jogja online.
Pemerintah Daerah Gunungkidul dalam hal ini Disdikpora Gunungkidul boleh jadi merasa lega. Kelulusan siswa SMP pada tahun 2011 ini lebih baik dari tahun 2010. Angka kelulusan SMP se-Gunungkidul yang mencapai 97,2% pada tahun ini atau lebih baik 1,69% lebih baik dari angka kelulusan pada tahun 2010.
Saya sendiri tidak pernah mempermasalahkan tinggi rendahnya angka kelulusan. Baca lebih lanjut
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hari ini mengumumkan penggunaan telepon seluler bisa menyebabkan terjadinya kanker otak. Kesimpulan ini merupakan hasil pertemuan 21 ilmuwan dari 14 negara, termasuk riset terbaru yang belum dipublikasikan.
Riset sebelumnya menyebutkan hanya dengan setengah jam saja memakai telepon seluler saban hari, risiko terkena kanker otak bagi penggunanya mencapai 40 persen. “Karena itu penting untuk melaksanakan riset lanjutan dalam jangka panjang soal bahaya penggunaan telepon seluler,” kata Direktur Badan Riset Internasional WHO Dr Christopher Wild.
Nukilan berita dikutip dari Tempo Interaktif di sini.
Ngeri juga bila dugaan para pakar internasional ini terbukti. Terutama bagi orang – orang yang 24 jam per hari dalam hidupnya tidak terpisahkan dengan ponsel. Fungsi ponsel saat ini lebih luas dari sekedar untuk menelepon. Saya misalnya meletakan ponsel di tempat yang mudah diraih pada saat tidur. Lha bangun tidur tepat waktu saya berada pada salah satu fitur alarm pada ponsel. Baca lebih lanjut
Tidak hujan 2 minggu saja sudah cukup untuk mengeringkan tanah – tanah pertanian di desa dimana saya tinggal. Tanah di kebun kacang panjang keluarga pun sudah pecah – pecah. Istilahnya sudah “nelo”. Memang sih sekarang sudah tiba masanya kemarau tiba. Kebun kacang panjang keluarga sekarang sudah tidak boleh terlalu mengandalkan air hujan. Anggap saja sebagai berkah kiriman Tuhan bila dalam satu atau dua bulan ke depan masih turun hujan.
Tadi pagi, saya, adik dan bapak memasang pompa air di kebun kacang sayur itu. Airnya diambil dari sungai yang mana airnya masih cukup melimpah. Kacang yang sudah berusia sekitar 2 minggu itu masih perlu penyiraman intensif selama sekitar 2 minggu, dosis penyiraman kira – kira 2 kali seminggu, untuk kemudian mulai dapat dipanen.