Situs Jejaring Sosial (Social Media) dimana saya terdaftar (antara lain) adalah :
- Google+
- Google Buzz
- Quora
- Diaspora
- Koprol Baca lebih lanjut
Situs Jejaring Sosial (Social Media) dimana saya terdaftar (antara lain) adalah :
Tidak jarang saya melihat di televisi, pada acara berita, dalam suatu footage video liputan, melihat ada wartawan yang menggunakan perekam suara kaset (voice cassette recorder) untuk merekam wawancara atau pernyataan nara sumber. Yah, di antara wartawan – wartawati lain yang saya lihat menggunakan perekam digital.
Saya tidak habis pikir, apa sih sebenarnya kelebihan perekam suara bermedia kaset itu. Saya kira biaya operasionalnya pun lebih mahal. Harus membeli lagi kaset baru setelah kaset penuh berisi rekaman. Selain itu saya pikir juga tidak lebih portable di banding perekam bermedia simpan digital.
Itu tadi baru proses pada saat perekaman. Kemudian yang saya bayangkan adalah pasca perekaman, katakanlah bagaimana melakukan transkrip dari kaset tape. Sudah terbayang repotnya misalnya harus menekan tombol Rev untuk mengulang kata atau kalimat yang tidak baik terdengar. Repot sekali. Pengarsipan bukti berita? Misalnya seorang wartawan per hari mengumpulkan materi berita sebanyak satu kaset. Maka ia memerlukan ruangan untuk cukup menampung sejumlah 365 kaset dalam setahun. 😀 Baca lebih lanjut
Tepatnya pada hari Minggu, 3 Juli 2011, stat counter di blog ini menunjukan angka 100.000 hit. Entah pada jam berapa angka hit ini tercapai.
Saya bilang ini ngga penting karena tidak bisa dianggap sebagai sebuah prestasi untuk ukuran blog yang saya mulai pada tanggal 14 Februari 2008. Jadi apa arti 100.000 hit? Artinya ngga penting?
Artinya, mungkin yang lebih penting adalah kalau saya tetap rajin menulis di blog ini meskipun tahu akan kenyataan 100.000 hit dalam rentang waktu lebih dari tiga tahun yang tidak membanggakan itu. 😀
Di suatu daerah di Indonesia, di Pulau Lombok, ada suatu suku dalam suatu perkampungan, mereka beragama Islam. Lalu apa yang menarik? Mereka menunaikan shalat tiga waktu. Tidak lima waktu seperti yang kita lakukan. Mereka bersikukuh shalat tiga waktu sampai saya mendengar (atau membaca) cerita itu.
Ada yang tertarik meneliti kenapa mereka shalat wajib tiga waktu saja. Peneliti itu mendapatkan cerita begini:
Jaman dulu ketika ada Ulama Islam masuk berdakwah di perkampungan suku itu, mulanya Ulama mengajak mereka untuk shalat sekali seminggu. Shalat Jumat. Setelah shalat Jumat bisa diterima dan berjalan, Ulama mengajarkan untuk shalat satu kali sehari, kemudian sehari dua kali. Ulama meninggal dunia sebelum dapat menuntaskan dakwah yang ia lakukan secara bertahap. Ketika shalat wajib baru ia ajarkan kepada masyarakat sampai tiga kali sehari. Baca lebih lanjut
Ide itu biasanya akan muncul ketika kita sedang sibuk atau ketika kita sedang senggang? Dalam hal ini ide untuk menulis posting di blog saja. Banyak orang saya dengar, atau saya baca, kalau sebenarnya mereka itu punya banyak ide tulisan.
Sayang tidak punya cukup waktu untuk menuliskanya. Begitu mereka bilang. Bagaimana dengan yang terjadi pada Anda?
Mbah Pri. Berusia 70 tahun. Selama bertahun – tahun tinggal berdua saja dengan istri di rumah limasan jawa yang sederhana di dusun Senedi desa Grogol kecamatan Paliyan kabupaten Gunungkidul. Kedua anaknya merantau ke kota Jakarta.
Dalam keseharianya, Mbah Pri menghabiskan waktu dengan bertani sambil memelihara beberapa kambing dan sapi. Profesi yang dia lakoni sejak kecil sebagai warisan dari keluarga yang turun temurun.
Sebagaimana anak petani kebanyakan, masa kecil Mbah Pri dilewatkan tanpa mengenyam pendidikan formal di bangku sekolah.
Yang membuat banyak orang dan saya kagum adalah “keilmuan” mbah Pri. Beliau fasih membaca baik huruf latin maupun huruf hijaiyah . Entah dari mana keterampilan itu beliau pelajari.
Itu saja, tidak! Mbah Pri dikenal sebagai orang yang berpengetahuan luas dengan kebijaksanaan yang menyertainya. Tidak sedikit orang yang bertamu ke rumah beliau untuk “ngangsu kawruh”, mendengarkan nasihat – wejangan beliau serta meminta pertimbangan dan arahan dalam berbagai hal dan kepentingan. Mbah Pri bahkan seringkali dimintai pendapat dan pangestu oleh tokoh – tokoh masyarakat dan perangkat desa. Baca lebih lanjut
Web http://snmptn.ac.id yang saya buka melalui ponsel pada jam 19:34 WIB hanya berhasil menampilkan halaman utama. Pencarian dan daftar yang diterima tidak bisa saya klik. Komentar error saja yang saya dapati.
Apakah galat ini hanya didapati bila dibuka dari browser ponsel saja? Saya belum sempat mencoba dari browser pada PC. Atau memang traffic yang membanjir terlalu berat ditangai oleh kemampuan web server yang dipakai situs web ini.
Bila ya, seberapa susah sebenarnya memprediksi besarnya traffic suatu web. Dalam hal ini traffic density dari web server http://snmptn.ac.id Apakah jumlah peserta snmptn yang sudah diketahui dengan pasti tidak berarti apa – apa dalam memperhitungkan kemungkinan traffic web ini….
Posted with WordPress for BlackBerry 1.5 via Telkomsel network
Mengering
Bukan perlambang, tetapi ini adalah gambaran sebenarnya tentang tanah pekarangan yang dulu pernah selama puluhan tahun berdiri rumah yang menaungi hidup manusia sampai akhir hayatnya. Rerumputan kering ini kini menghuni pekarangan. Menggantikan rumah yang telah dirobohkan beberapa tahun lalu. Pasangan kakek nenek bahagia telah menyelesaikan pengarungan samudra hidup dan berpamit pada senja.
Untuk tiba di tempat peristirahat yang mana hanya ia yang kini tahu …

Bunga Kapas
Untuk siapapun kalian yang googling buat mencari foto bunga kapas.
Kalau sedang blogwalking dengan ponsel, umumnya saya jarang meninggalkan jejak di blog – blog yang menggunakan layanan blogger/blogspot. Kenapa? Karena umumnya pemilik blog di blogspot belum mengaktivasi mobile view yang baru – baru itu difiturkan oleh blogger. Blogspot terasa berat dan memakan banyak memory pada perangkat dengan resource terbatas. Dan ternyata pada blog – blog di blogspot yang telah mengaktivasi fitur mobile view pun tidak serta merta memacahkan masalah commenting. Melalui browser pada ponsel saya/BB, commenting form belum bisa dibuka.
Dalam banyak hal sebenarnya Blogspot memang punya banyak kelebihan. Diantaranya blog di blogger mudah sekali SERP nya terdongkrak. Pun banya survey yang menunjukan bahwa blogger lebih lama dipantengin onliner dibanding penyedia layanan blogging yang lain. Jadi barangkali itu yang membuat Blogger ogah – ogahan membuat engine mereka ramah dengan device dengan limited resources.
Blog pertama saya dulu juga di Blogspot, tepatnya di sini. Sekarang sudah tidak terurus. Karena saya sekarang terlanjur jatuh cinta dengan kemudahan dan kesederhanaan wordpress.com.