Shalat Wajib Tiga Waktu

Di suatu daerah di Indonesia, di Pulau Lombok, ada suatu suku dalam suatu perkampungan, mereka beragama Islam. Lalu apa yang menarik? Mereka menunaikan shalat tiga waktu. Tidak lima waktu seperti yang kita lakukan. Mereka bersikukuh shalat tiga waktu sampai saya mendengar (atau membaca) cerita itu.

Ada yang tertarik meneliti kenapa mereka shalat wajib tiga waktu saja. Peneliti itu mendapatkan cerita begini:

Jaman dulu ketika ada Ulama Islam masuk berdakwah di perkampungan suku itu, mulanya Ulama mengajak mereka untuk shalat sekali seminggu. Shalat Jumat. Setelah shalat Jumat bisa diterima dan berjalan, Ulama mengajarkan untuk shalat satu kali sehari, kemudian sehari dua kali. Ulama meninggal dunia sebelum dapat menuntaskan dakwah yang ia lakukan secara bertahap. Ketika shalat wajib baru ia ajarkan kepada masyarakat sampai tiga kali sehari.

Hingga sampai lama, shalat tiga waktu, itulah yang dipegang oleh masyarakat Muslim di sana. Entah apakah sampai sekarang shalat tiga waktu masih mereka tunaikan. Bukan –belum– shalat lima waktu.

Sebenarnya saya ingin googling untuk menverifikasi kebenaran cerita ini, tapi saya bingung mencari kata kunci yang tepat. 😀

Ada yang bisa membantu saya memberikan link yang relevan?

***

Isra’ Mi’raj sudah lewat diperingati. Kurang dari sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan. Apa persiapan kita menyambut bulan Ramadhan kalau tidak kita mulai dari memperbaiki kualitas shalat kita. Pastinya fardlu shalat lima waktu.

Update:

Setelah googling ternyata di wiki sudah ada artikel tentang shalat wetu telu.

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Wetu_Telu

Posted with WordPress for BlackBerry 1.5 via Telkomsel network

Iklan

23 thoughts on “Shalat Wajib Tiga Waktu

  1. Wah padahal mungkin niat ulamanya waktu penyebaran islam memang nggak mudah tapi paling tidak memperkenalnya dan berharap mereka akan belajar sendiri

    budaya taklid di masyarakat kita rupanya lebih kental jadi bukan ajarannya tapi ulamanya yang di ikuti

    • Benar mbak Ajeng, saya kadang mendengar dari teman saya yang relatif berpendidikan bilang begini, “kata pak kyai begini jadi ngga boleh begitu”.

  2. Oh, masih ada yang begini di jaman modern? He2…. Tapi bagi warga terpencil atau pelosok dengan tingkat pendidikan pas2an memang cara pandangnya lebih melihat keteladanan seseorang ketimbang ilmu yang diajarkannya.

    Mari sama-sama menyambut datangnya bulan puasa, Mas. Tinggal sebulan lagi. 🙂

  3. pendekatan budaya dan yang bersifat syar’i dahulu ternyata menyesuaikan keadaan setempat dulu, sebelum memberikan yang sebenarnya. Dan kayaknya budaya seperti itu di beberapa daerah masih diterapkan antara pencampuran beberapa budaya dan Islam.

  4. Sungguh mulia Ulama yang mengajar itu, mudah-mudahan mereka bisa belajar sendiri karena firman Allah jelas bahwa

    “Ini adalah ayat-ayat Allah Kami membacakan kamu dengan benar, dan Allah tidak menghendaki sebarang kezaliman bagi semua alam.” (3:108)

    “Ini adalah ayat-ayat Allah yang Kami membacakan kamu dengan benar; maka dengan hadis apakah, sesudah Allah dan ayat-ayat-Nya (AlQuran), yang mereka akan mempercayai?” (45:6)

    Salamun Alaikum

    AlQuran jelas sekali perkataanNya, dan jelas sekali pemahamannya, kenapa di buat susah..? tidak perlu di jabarkan atau di kembangkan hingga menyimpang dari perkataan Awal…tinggal kita saja yang niatnya bagaimana…mau hanya membaca saja tanpa pemahaaman yang dibaca, hanya mengikuti nenek ama kakek kita saja pemahamannya atau moyang sekali, gunakan akal dan mengertilah…ingat Allah selalu menjaga AlQuran kita sesuai firmannya yang ada di AlQuran…

    “Apa, tidakkah mereka merenungkan al-Qur’an? Jika ia daripada selain Allah, tentu mereka mendapati di dalamnya banyak perselisihan.” (QS 4:82)

    “Ini adalah ayat-ayat Allah Kami membacakan kamu dengan benar, dan sesungguhnya kamu adalah daripada para utusan.” (2:252)

    “Maka dengan hadis apakah sesudah AlQuran ini yang mereka akan mempercayai?” (QS 7:185 & 77:50)

    Semua mengenai Sholat sudah jelas sekali di berikan Allah di dalam AlQuran, kita tidak perlu kitab lain, bacalah AlQuran dan pahami apa yang dia suruh sesuai yang di wahyukan ke Nabi Muhammad dan Nabi Muhammad sendiri mengikuti apa yang di suruh sama Penciptanya tidak mungkin dia melakukan selain dari AlQuran..

    Sholat

    …..Lakukanlah sholat dua (2) tepi siang awal (1) malam = (3 Waktu)…. (QS 11:114)
    …..Lakukan sholat dari (1) sesudahnya (1) matahari tergelincir sampai (3) kegelapan malam = (3 Waktu juga), dan bacalah AlQuran di waktu Fajar , Waktu Fajar di saksikan…(QS 17.78)

    Apakah tidak Jelas yang Allah suruh..? jelas sekali bukan..(tanpa harus ada kitab lain, AlQuran saja sudah cukup)

    NB harus di ingat subuh tidak sama dengan fajar, fajar adalah setelah subuh, di AlQuran banyak untuk sholat menyebutkan “Fajr”. jadi mohon di pahami

    Wudhu
    Cuci muka, tangan sampai siku dan sapu kepala setelah itu cuci kaki sampai pergelangan kaki (QS 5:6)..selesai…itulah perintah Allah dengan begitu Allah menyempurnakan RahmatNya ke kita…

    Pertanyaan . . .:

    Apakah Nabi muhammad mengerjakan yang lain selain Allah perintahkan…?

    “Dan apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, bukti-bukti yang jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan untuk bertemu dengan Kami berkata, ‘Datangkanlah Qur’an selain yang ini, atau tukarlah ia.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak patut bagiku untuk menukarkannya dengan kemahuan diriku sendiri. Aku tidak mengikuti apa-apa, melainkan apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut, jika aku mengingkari Pemeliharaku (Tuhanku), akan azab hari yang besar,'” (QS 10:15).

    Ayat untuk Nabi Muhammad SAW kita yang di tegur Allah sendiri ke dia

    “Sekiranya Muhammad mengada-adakan terhadap Kami sembarang ucapan selain AlQuran, tentu Allah sendiri yang akan memotong urat jantungnya….(QS 69:43-46)

    Apa Nabi kita ini berani membuat ajaran lain selain Allah berikan Alquran ke baginda..?

    Ingat Nabi kita Wafat pada 11 Hijiriah..! Masjidil Aqsa baru ada setelah 50th Nabi kita wafat, dan juga imam baru ada setelah 200th Nabi kita Wafat..!

    So mau ikut yang mana..? Alquran atau kitab-kitab lain..?

    satu lagi…seperti dari anak anak hingga dewasa apa selama ini mereka mengerti artinya di suruh baca AlQuran, kalau hafal sih bisa tapi apa mereka mengerti maksud dan tujuan arti yang di baca…? pasti tidak ada yang tahu…betul ga..

    Peringatan Allah buat kita adalah “…..jangan mendekati sholat jika kamu dalam keadaan tidak mengerti apa yang dibaca (mabuk) sehingga kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan (QS 4:43)

    Ingat AlQuran memang berbahas arab diperuntukkan untuk orang arab karena diturunkan ke orang Arab dan Nabi kita juga orang Arab karena waktu jaman Nabi banyak Jahiliah di Arab wajar aja Allah memberikan bahasa arab, coba AlQuran itu Allah turunkan ke Nabi Jawa atau China, pasti orang arab tidak tahu bahasa jawa atau china, makanya dari Allah sendiri menyuruh Nabi kita untuk menyebarkan ke seluruh bangsa dengan rasul-rausl pemahaman masing-masing bahasa daerah masing-masing….betul nggak..coba gunakan pikiran. firman Allah :

    “…. Dia membangkitkan antara mereka seorang rasul daripada mereka sendiri, untuk membacakan mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka al-Kitab (AlQuran) dan Kebijaksanaan……….” (QS 3:164)

    Buat kita semua

    Padahal ada bocoran dari AlQuran supaya kita selalu ingat dan ingat apa yang terjadi kelak sampai kiamat tapi kita tidak menyadari tahunya baca dan baca saja tanpa pemahaman..sayang sekali…saya tidak akan memberitahu karena supaya membuat anda lebih mengerti AlQuran kita yang suci bacalah….

    Satu lagi Ahsnul Husma 99 nama Allah di dalam AlQuran tidak ada namanya “Allahu Akhbar..” percayakah anda-anda sekalian…?

    Allah di Sanjung..!

    • terimakasih atas komentar yang panjang pada artikel singkat saya ini, saya sangat berterimakasih, semoga ini dapat bermanfaat bagi saya dan mudah mudahan ada saudara kita yang lain yang turut membaca. semoga Alloh ta’ala mempertimbangkan sebagai amal shaleh/jariyah anda. aamiiin

    • Maaf untuk revisi sedikit barisan sholat :

      Sholat

      …..Lakukanlah sholat dua (2) tepi siang awal (1) malam = (3 Waktu)…. (QS 11:114)
      …..Lakukan sholat dari (1) sesudahnya (1) matahari tergelincir sampai (1) kegelapan malam = (3 Waktu juga), dan bacalah AlQuran di waktu Fajar , Waktu Fajar di saksikan…(QS 17.78)

      Dan nama-nama sholat tersebut adalah yang kita kenal yaitu

      Sholat Fajar (Dua tepi siang yang pertama dan dari matahari tergelincir)
      Sholat Magrib (Dua tepi siang yang kedua dan sesudah matahari tergelincir)
      Sholat Isya (Awal Malam dan sampai kegelapan malam)

      Apakah tidak Jelas yang Allah suruh..? jelas sekali bukan..(tanpa harus ada kitab lain, AlQuran saja sudah cukup)

  5. Salamun Alaikum

    Minta Maaf sebelumnya saya utarakan ini untuk kita bahas dan untuk pengetahuan saja apa yang terjadi di dunia ini, karena kita masih mencari kekosongan rohani karena kita tahu sendiri banyak sekali dalil dalil yang berlaku yang tidak menurut Allah suruh dan tidak sesuai apa yang Baginda kita ajarkan, karena beliau juga mengikuti apa yang Allah suruh yaitu AlQuran , bila ada yang tersinggung atau keberatan harap dilewatkan atau tidak usah di hiraukan. Terima Kasih

    Jumat

    Kebanyakan kita sudah mengenal kata Jumat yaitu hari ke lima dalam kalender masehi (tolong koreksi bila salah)..yaitu hari yang di tetapkan oleh umat islam dari nenek moyang kita yaitu hari istimewa khusus umat islam laki-laki untuk sholat yaitu pengganti sholat dzuhur dari hari jumat tersebut.

    Mungkin banyak yang belum tahu bahwa penanggalan untuk Arab sendiri waktu Nabi Kita ada adalah perhitungan

    1 = ahad = sunday
    2 = isnaini = monday
    3 = thalasa = tuesday
    4 = arba’a = wednesday
    5 = khamis = thursday
    6 = sittah = friday
    7 = saba’ah or sabtu = saturday

    Tidak ada perkataan Jumat di hari tersebut..

    ljum’ati = Berkumpul/Jemaah hanya satu-satunya di AlQuran menyebutkan “ljum’ati” yaitu QS 62:9 – 11.

    Bila disebutkan Hari Jumat sesuai yang kita ketahui sekarang berarti ayat tersebut bukan di artikan berkumpul/jemaah, dan sebaliknya bila kita sebut berkumpul/jemaah bukan berarti pula hari Jumat..?@!

    Pada ayat tersebut menerangkan yang berhubungan dengan sholat tiga waktu tersebut..berkumpul untuk mengerjakan sholat yang 3 waktu tersebut dan sudah selesai bertaburlah mencari rezeki Allah berikan…

    Pada QS 62:11 tersebut didapati pula Nabi sholat seorang diri…

    Sholat Dzuhur dan Ashar

    Banyak dari mereka mengambil dan mengklaim bahwa datangnya sholat dzuhur sama asar dari ayat ini :

    30:17. Maka Allah disanjung, waktu kamu berpetang, dan waktu kamu berpagi.
    30:18. Bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, pada waktu petang dan waktu zuhur kamu.

    Padahal dalam ayat tersebut Allah sendiri tidak menyuruh Sholat karena Allah pasti akan menempati perkataan sholat bila Allah menghendaki. sama seperti ayat yang lain jelas harus sholat dan ada perkatan harus sholat. tapi ini tidak.

    Allah mau kita dalam keadaan mencari rezeki harus juga mengingat dia, sanjung Dia dalam mencari rezeki dari pagi sampai sore karena semua rezeki pemberian kita dan kita harus berterima kasih dan bersyukur..

    Ingat ayat ini :

    “Tidakah Ku ciptakan Jin dan Manusia hanya semata untuk MenyembahKu”

    Terima Kasih

    Allah di Sanjung..!!

  6. Salammun alaikum.
    Shalat wajib tiga waktu , sila renong ayat ayat Quran.
    Solat menurut al-Qur’an

    Solat umat Islam dikatakan telah diajar oleh Rasul. Maka ia adalah Sunnah Rasul. Para ulama tidak pernah mengakui bahawa solat adalah “Sunnah” Allah, iaitu suatu amalan yang diajar Allah melalui Kitab-Nya, al-Qur’an. Sebaliknya mereka selalu berkata “Manakah ada cara bersolat di dalam al-Qur’an!”

    Kertas ini menjawab soalan tersebut. Di dalam jawapan ini, segala keterangan dirujuk kepada al-Qur’an sahaja, dan keterangan yang akan dikemukakan akan menyinggung perasaan kerana bercanggah dengan amalan solat biasa umat Islam. Segala hujah yang dikemuka bukanlah untuk membuktikan umat telah tersilap, tetapi sekadar untuk menyatakan apa yang terkandung di dalam al-Qur’an mengenai solat, di samping menjawab cabaran ulama tadi.

    Nama dan Waktu

    Penjelasan dimulakan dengan memperihalkan nama bagi tiap-tiap solat. Terdapat hanya tiga nama solat di dalam al-Qur’an, iaitu Solat Fajar (24:58), Solat Isyak (24:58), dan Solat Wusta, atau solat yang di tengah (2:238). Tiga nama solat ini menunjukkan waktunya juga. Waktu-waktunya dijelaskan lagi dengan sebuah ayat lain berbunyi:

    “Dan lakukanlah solat pada dua tepi siang, dan awal malam.” (11:114)

    Solat yang pada waktu tepi siang pertama ialah solat fajar, sementara solat wusta, atau solat yang di tengah, pada tepi siang yang kedua. Solat yang dilakukan pada awal malam itu ialah solat isyak.

    Perkataan “wusta” ingin diperjelaskan lagi di sini. Ia bermakna “di tengah”, dan menurut pendapat saya, maksudnya adalah waktu yang di tengah di antara siang dan malam, atau cahaya dan gelap. Waktu yang pendek ini dikenali umum sebagai waktu maghrib. Oleh kerana al-Qur’an menjelaskan sendiri, maka waktu solat wusta selanjutnya dijelaskan dengan sebuah ayat berbunyi:

    “Lakukanlah solat dari terbenam matahari hingga kegelapan malam” (17:78).

    Lantas, waktu solat wusta adalah dari terbenam matahari hingga kegelapan malam, iaitu di tepi siang yang kedua.

    Tiada kaitan

    Walaupun nama-nama lain yang lazim digunakan untuk solat, seperti Zuhur, Asar, Maghrib dan Subuh, tercatat di dalam al-Qur’an, namun mereka tidak dikaitkan dengan solat, atau waktu solat. Umpamanya nama “maghrib”, ia bukan sahaja bukan nama solat, tetapi juga bukan nama waktu. Ia sebenarnya adalah suatu arah, iaitu barat, seperti yang ditunjukkan pada ayat Allah berbunyi “Kepunyaan Allah Timur dan Barat” (2:115)

    Zuhur pula di dalam al-Qur’an adalah waktu berehat pada tengah hari, apabila pakaian ditanggalkan. Firman-Nya,

    “Wahai orang-orang yang percaya, hendaklah mereka yang tangan-tangan kanan kamu memiliki, dan mereka di antara kamu yang belum cukup umur, meminta izin kepada kamu tiga kali – sebelum solat fajar, dan apabila kamu menanggalkan pakaian kamu pada waktu zuhur, dan selepas solat isyak – tiga kali aurat (penelanjangan) bagi kamu.” (24:58)

    Sementara “asar” di dalam al-Qur’an bermaksud “masa” atau “waktu” dan tiada kaitan dengan solat seperti yang terdapat pada ayat yang berbunyi “Demi masa! Sesungguhnya manusia dalam kerugian,” (103:1-2)

    Bukan sahaja tidak disebut nama solat maghrib, atau solat zuhur, atau solat asar di dalam al-Qur’an, tetapi juga, turut tidak disebut adalah nama “solat subuh”. Subuh dan fajar, seperti nama dan sebutan bunyinya yang berlainan, adalah dua masa atau waktu yang berlainan. Waktu subuh adalah sebelum fajar, iaitu waktu akhir malam. Perkataan ‘subuh’ terdapat pada ayat-ayat 11:81, 74:34, 81:18 dan 100:3, dan didapati tiada kaitan dengan solat langsung.

    Ditentukan

    Solat hendaklah dilakukan pada waktu-waktu yang Allah tentukan, seperti arahan-Nya yang berbunyi:

    “Sesungguhnya solat adalah satu waktu yang dikitabkan (ditentukan) bagi orang-orang mukmin.” (4:103)

    Tiada terdapat pula satu ayat pun di dalam al-Qur’an yang membolehkan solat itu dilakukan pada waktu yang bukan waktunya, seperti mengqadarkannya atau menjamakkannya. Walau dalam keadaan apapun solat hendaklah dikerjakan. Ayat yang berikut menjelaskannya:

    “Jika kamu dalam ketakutan, maka sambil berjalan kaki, atau menunggang. Apabila kamu telah aman, ingatlah akan Allah sebagaimana Dia telah mengajar kamu apa yang kamu tidak tahu.” (2:239)

    Seperkara lagi, daripada ayat tersebut, umat diingatkan supaya melakukan solat seperti yang diajar oleh Tuhan – segala ajaran Tuhan terkandung di dalam al-Qur’an.

    Rakaat

    Cara solat di dalam al-Qur’an adalah senang serta mudah diubah menurut keadaan dan keikhlasan diri. Umpamanya bilangan rakaat. Ia tidak disebut sama sekali di dalam al-Qur’an, dan dengan ini ia memberi peluang kepada umat untuk menunjukkan keikhlasan dalam melakukan solat mereka, sama ada untuk memanjangkan atau memendekkannya.

    Wuduk

    Mengenai wuduk pula (perkataan “wuduk” tidak disebut di dalam al-Qur’an), hanya empat bahagian anggota badan yang terlibat, iaitu muka, tangan, kepala, dan kaki. Ini dijelaskan dengan ayat yang berikut:

    “Wahai orang-orang yang percaya, apabila kamu berdiri untuk solat, basuhlah muka kamu, dan tangan kamu hingga siku, dan sapulah kepala kamu, dan kaki kamu hingga pergelangan kaki. Jika kamu dalam junub, bersihkanlah diri kamu; tetapi jika kamu sakit, atau dalam perjalanan, atau jika salah seorang antara kamu datang dari tandas, atau kamu menyentuh perempuan, dan kamu mendapati tiada air, maka bertayamumlah dengan debu tanah yang baik, dan sapulah muka kamu, dan tangan kamu dengannya. Allah tidak menghendaki untuk membuat sebarang kesulitan bagi kamu, tetapi Dia menghendaki untuk membersihkan kamu, dan supaya Dia menyempurnakan rahmat-Nya ke atas kamu, supaya kamu berterima kasih.” (5:6)

    Ayat ini telah juga disebut oleh Rasul, dan baginda tidak mungkin menambah bahagian-bahagian anggota yang lain dalam wuduk kerana jika baginda berbuat demikian maka Allah akan membunuhnya. Firman-Nya

    “Sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan terhadap Kami sebarang ucapan, tentu Kami mengambilnya dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami memotong urat jantungnya.” (69:43-46)

    Kiblat

    Kiblat menurut al-Qur’an ialah Masjidil Haram, yang di tengahnya terletak Kaaba. Rasul sendiri telah mencari-carinya dahulu lalu Allah menunjukkan kepadanya melalui ayat yang berikut:

    “Kami melihat kamu membalik-balikkan wajah (muka) kamu ke langit; sungguh Kami akan memalingkan kamu kepada kiblat yang kamu berpuas hati. Maka palingkanlah muka kamu ke arah Masjidil Haram; dan di mana sahaja kamu berada, palingkanlah muka kamu ke arahnya. Orang-orang yang diberi al-Kitab mengetahui bahawa itu adalah yang benar daripada Pemelihara mereka; Allah tidak lalai daripada apa yang mereka mengerjakan.” (2:144)

    Pakaian

    Pakaian untuk solat adalah yang baik atau cantik kerana ketika itu umat berhadapan serta berkomunikasi dengan Penciptanya. Malahan, Allah telah menyuruh mengambil perhiasan di setiap masjid, yang bermaksud tempat sujud. Dan sujud dilakukan juga dalam solat. Firman-Nya,

    “Wahai Bani Adam, ambillah perhiasan kamu di setiap masjid” (7:31).

    Berkomunikasi

    Solat adalah suatu cara istimewa dalam interaksi dengan Allah kerana ia dimulakan dengan membersihkan bahagian-bahagian anggota badan yang tertentu. Satu daripada tujuan umat berkomunikasi dengan-Nya adalah untuk memohon pertolongan. Firman-Nya:

    “Kamu mohonlah pertolongan dalam kesabaran dan solat….” (2:45)

    Mohonlah kepada-Nya. Sebaik-baik permohonan adalah menurut apa yang diajar-Nya di dalam al-Qur’an.

    Solat bukan sahaja masa untuk memohon pertolongan tetapi juga suatu masa untuk mengingati-Nya. Ini dijelaskan dengan sebuah ayat lain berbunyi

    “Dan lakukanlah solat untuk mengingati aku.” (20:14)

    Bahasa

    Bahasa bukanlah satu isu dalam menyembah Tuhan. Dia tidak pernah mengarahkan bahasa Arab dijadikan bahasa pengantar dalam solat untuk semua kaum. Sebaliknya, Dia melarang melakukan solat jika apa yang diucapkan di dalamnya tidak difahami. Firman-Nya:

    “Wahai orang-orang yang percaya, janganlah mendekati solat apabila kamu sedang mabuk sehingga kamu mengetahui apa yang kamu mengucapkan,” (4:43)

    Setelah dilarang mengerjakan solat apabila segala yang diucap tidak difahami dan seseorang itu terus bersolat juga, maka apakah hukumnya? Ingin diingatkan di sini bahawa Iblis telah menjadi kafir setelah mengingkari hanya satu (sahaja) perintah Allah!

    Suara

    Nada suara dalam solat tidaklah terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah tetapi di pertengahan, dan ini adalah untuk semua solat. Firman-Nya:

    “Dan janganlah kamu melantangkan dalam solat kamu, dan jangan juga mendiamkannya, tetapi carilah kamu satu jalan di antara yang demikian itu.” (17:110)

    Seru

    Solat dimulakan dengan menyeru Nama-Nya, seperti Allah, atau Ar-Rahman (Yang Pemurah) atau mana-mana nama-Nya yang indah yang diajar di dalam al-Qur’an (nama Allahu Akbar tiada di dalamnya). Firman Allah:

    “Katakanlah, ‘Serulah Allah, atau serulah Yang Pemurah; apa sahaja yang kamu seru, bagi-Nya nama-nama yang paling baik.’ Dan janganlah kamu melantangkan dalam solat kamu, dan jangan juga mendiamkannya, tetapi carilah kamu satu jalan di antara yang demikian itu.” (17:110)

    Ayat yang menyusulinya menetapkan apa yang harus diucap selepas seruan itu, iaitu:

    “Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil seorang anak, dan yang tidak ada sebarang sekutu dalam kerajaan, dan tidak juga sebarang wali (pelindung) daripada kerendahan diri.’” (17:111)

    Bacaan

    Bacaan di dalam Solat boleh dipetik daripada mana-mana ayat yang sesuai yang berjumlah dengan banyak di dalam al-Qur’an. Pilihan adalah berdasarkan keperluan dan selera sendiri kerana solat adalah suatu alat perhubungan yang amat peribadi antara hamba dan Pemeliharanya.

    Sebagai contoh, ayat yang lazim diucapkan umat Islam pada permulaan solat mereka berbunyi “Inna solati wanusuki wamahyaaya wamamaati lillaahi rabbil aalamiin” yang bermakna, “Sesungguhnya solatku, dan ibadahku, dan hidupku, dan matiku, untuk Allah, Pemelihara semesta alam”. Ini sebenarnya adalah ayat 6:162 di dalam al-Qur’an.

    Akan tetapi, di dalam al-Qur’an ayat tersebut bermula dengan kata “qul” atau “katakanlah”, iaitu “Qul inna solati wanusuki…” atau “Katakanlah, ‘Sesungguhnya solatku, dan ibadahku ….”

    Meninggalkan kata “qul” atau “katakanlah” pada ayat ini di dalam solat adalah wajar kerana ketika itu umat bercakap dengan-Nya. Mahukah kita menyuruh Dia dengan “Katakanlah …”?

    Justeru itu, pada ayat-ayat lain seperti “Qul a’udzu birabbin naas ….” (Surah 114) yang bermaksud “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Pemelihara manusia ….’”, atau “Qul huwal laahu ahad …” (Surah 112) yang bermakna “Katakanlah, ‘Dialah Allah yang satu …”, haruslah ditinggalkan qulnya juga kerana meninggalkannya adalah amat munasabah.

    Akulah Allah

    Sesetengah pihak mendakwa bahawa solat adalah masa untuk membaca al-Qur’an. Ini tidak benar, kerana amalan mengerjakan solat dan membaca al-Qur’an adalah dua perintah Tuhan yang berlainan, seperti yang disebut di dalam ayat 73:20. Seterusnya ada juga orang yang mendakwa bahawa mana-mana ayat al-Qur’an boleh dibaca dalam solat. Ini juga tidak benar. Sebagai contoh, bolehkah dibaca ayat al-Qur’an yang berikut di dalam solat:

    “Sesungguhnya Akulah Allah; tidak ada tuhan melainkan Aku; maka sembahlah Aku, dan lakukanlah solat untuk mengingati aku.” (20:14)

    Mahukah diucap kata-kata tersebut kepada Allah, walaupun ia ayat al-Qur’an?

    Laku

    Berdiri, rukuk (tunduk) dan sujud disebut berulang kali di dalam al-Qur’an. Bagaimana seseorang itu menyesuaikan diri dengannya adalah keputusannya yang paling baik untuk dirinya. Begitu juga dengan bacaan bagi tiap-tiap laku, terpulanglah kepada individu untuk memilih ayat-ayat yang bermakna lagi wajar dalam solatnya. Mungkin boleh dipersoalkan bagaimana orang-orang yang berikut, iaitu orang-orang yang telah dijanjikan Allah dengan janji yang baik, melakukan solat mereka? Firman-Nya:

    “Sesungguhnya orang-orang yang percaya, dan orang-orang Yahudi, dan Kristian, dan Sabiin, sesiapa percaya kepada Allah dan Hari Akhir, dan membuat kerja-kerja kebaikan, maka upah mereka adalah di sisi Pemelihara mereka, dan tiadalah ketakutan pada mereka, dan tidaklah mereka bersedih.” (2:62)

    Apa yang ingin dibaca semasa tunduk (rukuk) misalnya, bolehlah mengambil teladan daripada Nabi Daud yang memohon ampun semasa tunduk:

    “Dan Daud menyangka bahawa Kami mengujinya; maka dia meminta ampun kepada Pemeliharanya dan dia jatuh, tunduk, dan dia berkesesalan” (38:24).

    Atau semasa sujud, ambillah pengajaran daripada ayat-ayat di bawah ini:

    2:58. Dan apabila Kami berkata, “Masuklah bandar raya ini, dan makanlah dengan senang daripadanya di mana sahaja kamu mengkehendaki, dan masuklah pada pintu gerbang dengan bersujud, dan katakanlah, ‘Tidak membebankan’; Kami akan mengampuni kamu atas pelanggaran-pelanggaran kamu, dan menambahkan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

    7:120-121. Dan ahli-ahli sihir melemparkan diri, bersujud. Mereka berkata, “Kami percaya kepada Pemelihara semua alam,

    17:107-108. Katakanlah, “Percayalah kepadanya, atau tidak mempercayai; orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila dibacakan kepada mereka, jatuh di atas dagu-dagu mereka dengan bersujud, Dan berkata, ‘Pemelihara kami disanjung! Janji Pemelihara kami dilakukan.’

    25:64-65. Yang melalui malam dengan bersujud kepada Pemelihara mereka, dan berdiri. Yang berkata, “Wahai Pemelihara kami, Engkau palingkanlah daripada kami azab Jahanam; sesungguhnya azabnya adalah penderitaan yang paling ngeri,

    32:15. Orang-orang yang mempercayai ayat-ayat Kami hanyalah yang apabila mereka diperingatkan dengannya jatuh bersujud, dan mereka menyanjung dengan memuji Pemelihara mereka,

    50:40. Lafazlah sanjungan-Nya pada malam hari, dan pada hujung-hujung sujud.

    Akhir

    Seperti mana-mana seruan kepada-Nya, solat diakhiri dengan memuji Allah. Pujian kepada-Nya berbunyi “Alhamdulil lahi rabbil alamin” atau “Segala puji bagi Allah, Pemelihara semua alam.” Ini diketahui daripada ayat-Nya yang berbunyi:

    “Dan akhir seruan mereka, ‘Segala puji bagi Allah, Pemelihara semua alam.’” (10:10)

    Dan Kata-Nya lagi, “Dan Dia, Allah; tidak ada tuhan melainkan Dia. Bagi-Nya segala pujian pada permulaan dan akhir, dan bagi-Nya juga Putusan, dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” (28:70)

    Larangan

    Satu lagi larangan yang ketara dalam solat (selain ucapan yang tidak difahami) yang termaktub di dalam al-Qur’an ialah menyeru, atau menyebut, mana-mana nama yang selain daripada Nama-Nya. Hanya Nama Allah disebut di dalam solat. Ini difahamkan daripada ayat yang berikut berbunyi:

    “Masjid-masjid adalah kepunyaan Allah; maka janganlah seru, berserta Allah, sesiapa pun.” (72:18)

    Penutup

    Banyak telah diperkatakan mengenai solat menurut ajaran Tuhan di dalam al-Qur’an di sini. Tentulah ia didapati bertentangan dengan ajaran para ulama yang menyatakan solat mereka datang dari Rasul atau sunnahnya. Walhal, di dalam kelima-lima kitab hadis terbesar di dunia mereka, tidak terdapat keperincian dalam melakukan solat seperti yang diajar kepada umat. Yang terdapat hanyalah beberapa hadis Nabi mengenai solat yang tidak diamalkan oleh mereka yang juga tidak diajar kepada umat Islam yang menuruti mereka dengan taat.

    Othman Ali
    1992
    (dikemaskini 2002)

    Bacaan Selanjutnya:

    Solat dan Kejahatan
    Solat – perintah dalam Isra?
    Islam Tiga Waktu

    Tambahan (1)
    (Mei 2002)

    Satu golongan kecil telah timbul mempertikaikan solat tiga kali sehari. Mereka menyatakan solat adalah dua kali sehari. Pedapat mereka berdasarkan ayat 11:114 juga.

    “Dan lakukanlah solat pada dua tepi siang, dan awal malam”

    Akan tetapi mereka mengertikan ayat itu seperti yang berikut:

    “Dan lakukanlah solat pada dua tepi siang iaitu yang dekat dengan malam”

    Mereka mengertikan frasa “wa zulafan minal laili” sebagai “iaitu yang dekat dengan malam”. Bagi penulis frasa itu bermakna – wa (dan) zulafan (dekat/yang dekat) minal (daripada, bukan “kepada”) laili (malam).

    Justeru, bagi penulis frasa “yang dekat daripada malam” bermaksud “awal malam”.

    Untuk meringkaskan penolakan pada pendapat yang menyatakan solat adalah dua kali sehari, diturunkan sebab-sebab atau persoalan-persoalan berikut:

    1. Frasa “zulafan minal laili” pada ayat tersebut bermakna (menurut *Lexicon) “a portion of the first part of the night, whether small or large”. Begitu juga dengan beberapa penterjemah al-Qur’an yang lain yang menterjemahkannya seperti Bacaan, iaitu “dan awal malam” bukan “dekat dengan malam” seperti yang diertikan oleh pihak tersebut.

    2. Adakah terdapat tepi-tepi siang yang lain sehingga Tuhan menegaskan 2 tepi siang yang dekat dengan malam itu?

    3. Tepi siang yang kedua ialah dari terbenam matahari hingga ke malam (“lail”), sementara yang pertama adalah dekat dengan fajar, bukan lail. Andaikata fajar itu tepi siang yang pertama maka ia adalah dekat dengan subuh, bukan lail juga.

    4. Maka solat Isyak “mereka” adalah pada waktu matahari terbenam hingga malam (gelap). Menurut ayat 24:58 pula, selepas waktu Isyak adalah waktu aurat (penelanjangan). Adakah waktu mengunci pintu bilik tidur itu begitu awal, kira-kira pukul 8.00 malam? Dan,

    5. Waktu berbuka puasa adalah malam, atau gelap, iaitu selepas matahari terbenam. Maka waktu berbuka puasa bagi orang yang bersalat 2 kali sehari adalah pada waktu aurat (penelanjangan).

    Kerana persoalan-persoalan seperti inilah maka penulis agak keberatan untuk menerima pendapat yang menyatakan solat adalah 2 kali sehari.

    *E.

  7. salamunalaikum .hanya orang yg hatinya terpanggil kepada allah yg mahu memahami ayat ayat allah. selamaini kita sudah dibelokkan begitu jauh. dengan ajaran yg bukan dalam quran. karna sunah sunah inilah islam terpecah.ada nu ada muhamadiah ada salafi ada jamaah tablik ada suni ada si,ah dll.tidakkah kita merenungkan islam yg mana yg kitaamalkan.sedangkan selama ini kita tidak blh memahami alquran dengan alasan kita bisa sesat.tetapi setelah di pahami satu per satu ayat ayat alquran ini.saya takut dengan larang larangan allah.yg selamaini saya tidak tahu ygmengikuti di luar alquran.bahkan arti alquran ygsekarang bnyak yg dibelokan.agar kita tersesat.sy senang ada yg sefaham dengan saya.di indonesia ini saya yakin banyak yg memahami alquran.hanya orang orang bodoh yg mengatakan ada ajaran baru.salam sahabatku.

  8. subhanallah… ingin bertanya utk memperjelas…shalat juhur/azhar sptnya tidak diatur dalam al quran, namun apakah kita tetap boleh shala juhur/ashar krn dalam artikel disebutkan waktu2 tsb adalah waktu “memuji Allah” ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s