Tidak Posting Bukan Karena Sibuk

Kemarin saya tidak membuat tulisan untuk One Post A Day seperti yang saya rencanakan pada awal tahun lalu. Permasalahanya adalah bukan karena saya sibuk sampai tidak punya waktu untuk menulis. Bukan pula karena tidak punya ide menulis. Sepanjang hari Jum’at kemarin saya bisa dibilang ‘selo‘, luang. Tidak ada hal-hal penting sekaligus genting yang harus selesai hari itu juga.

Permasalahan yang sebenarnya adalah karena saya suka menunda-nunda. Nanti juga ada waktu, begitu tiap kali saya berkata untuk diri sendiri. Sampai di akhir hari rasa malas semakin menumpuk yang terus menjadi penghalang yang akhirnya tidak bisa saya lewati.

Hal ini mengingatkan saya akan nasihat Fauzan, sahabat karib saya, yang ia katakan pada sekitar tahun 1998 kalau bukan tahun 1999. Kurang lebih begini kata Fauzan, “Serahkan pekerjaan kepada orang sibuk, bukan kepada orang yang tidak sibuk. Karena orang sibuk akan selalu mencari waktu luang untuk menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan orang tidak sibuk, orang selo, akan selalu mencari kesibukan untuk mengisi waktu luangnya.”

Benar juga yah! Nah, sekarang saya lebih tahu dan sadar permasalahan. Namun bukan berarti saya bisa langsung meningalkan kebiasaan dan tabiat buruk ini. Bisa saja tahu atau tidak tahu hanya akan sama saja bagi diri saya. ­čÖé

Iklan

Membaca Proposal

Dalam catatan sejarah, bangsa Indonesia secara legal formal telah merdeka lebih dari setengah abad. Pada bulan Agustus 2011, Indonesia telah memasuki usia kemerdekaanya yang ke-66 tahun. Dalam usia tersebut, rupanya kemiskinan masih menjadi permasalahan dan isu terpenting bangsa kepulauan ini. Beraneka program pembangunan, pemberdayaan masyarakat, bantuan-bantuan sosial, dana insentif, hibah, penguatan modal, maupun pinjaman telah digulirkan di negeri ini, tetapi masih saja banyak daerah dan desa yang tertinggal pada berbagai aspek. Pembangunan dan program-program strategis masih terfokus di pulau Jawa, sedangkan pulau-pulau di luar Jawa masih banyak yang belum tersentuh pembangunan dengan ideal dan merata.

***

Seseorang yang ditugasi untuk membaca dan menilai proposal untuk suatu tujuan tertentu mungkin pernah mendapatkan bagian pembukaan proposal yang mirip-mirip antara proposal yang satu dengan yang lain. Seolah para pembuat proposal itu menggunakan template yang terjatuh dari langit. Mungkin template tiban itu juga dipakai untuk bagian-bagian lain sepanjang proposal.

Bila sudah membaca beberapa proposal dengan bab pembukaan yang sangat mirip, apakah umumnya si pembaca masalah akan merasa jemu membaca semua bagian pada proposal dan melompat ke bagian bahasan inti permasalahan? Atau apakah seorang pembaca/penilai proposal yang baik dan bertanggung jawab akan berusaha untuk adil membaca semua proposal dari lembar judul sampai lembar penutup?

Termasuk kreatifitas membuat sampul, pembukaan, inti masalah, tawaran solusi dan penutup semua mempunyai andil untuk menentukan nilai akhir. Ada teman saya yang menghakimi suatu proposal dengan melihat sampul dan kata pendahuluan pengantar. Dari pendahuluan itu teman saya memutuskan untuk terus membaca proposal atau segera menutup kembali proposal itu untuk tidak akan pernah ia baca lagi. ­čśÇ

 

Komitmen Belajar Menulis

Fungsi utama blog ini adalah untuk belajar. Untuk belajar menulis. Lebih tepatnya mencari, mendokumentasikan dan menyampaikan ide dalam bentuk tulisan. Sebagai sarana untuk belajar, tentu saja tulisan-tulisan saya ini belum baik. Masih jauh dari baik. Masih membosankan untuk konsumsi publik.

Saya memulai menulis di blog ini pada kira-kira 4 tahun yang lalu. Sudah cukup lama juga ya. Apalagi kalau dihitung dari blog-blog saya sebelum yang ini. Lebih lama lagi. ­čÖé Saya tidak akan bilang “seharusnya“. Kalau menggunakan ukuran “seharusnya”, seharusnya tulisan saya sudah tidak terlalu jelek bila melihat kembali kapan saya mulai belajar membuat posting di blog. Tapi sekali lagi saya tegaskan “tidak apa-apa“. Baca lebih lanjut

Ide

Ide itu biasanya akan muncul ketika kita sedang sibuk atau ketika kita sedang senggang? Dalam hal ini ide untuk menulis posting di blog saja. Banyak orang saya dengar, atau saya baca, kalau sebenarnya mereka itu punya banyak ide tulisan.

Sayang tidak punya cukup waktu untuk menuliskanya. Begitu mereka bilang. Bagaimana dengan yang terjadi pada Anda?

Mengapa ngeBLOG ( … bagian 2 )

Dalam mengapa ngeBLOG bagian 1, alasan utama saya adalah untuk mendokumentasikan pengalaman saya, baik suka maupun suka banget sama … biar kalaupun 10 tahun atau 20 tahun lagi tidak ngeBLOG, jarwadi tetap ada bekasnya. Saya tidak perlu bercerita dengan anak cucu tentang masa lalu. Saya lebih suka berbicara tentang masa depan ( dan mimpi mimpi saya yang tidak kunjung menjadi kenyataan)┬áDan biar mereka mencarinya di Google

OK … alasan diatas tidak salah. Itu benar.

Saya ngeBLOG adalah untuk belajar. Saya belajar untuk menulis. Saya┬ámenulis untuk belajar.┬áDan mengungkapkan gagasan dan┬áide┬áide ┬ásaya. Menuliskan Informasi. Bukankanya tiap orang itu punya informasi. [ Aku juga punya loh … ]

Saya menulis di Blog ini bukan bertujuan untuk “sok” tahu. Alasan lain saya menulis adalah karena saya belum tahu ( dan ingin tahu), Makanya saya sering bertanya dalam tulisan tulisan saya.┬áDan lebih suka untuk tidak membuat kesimpulan sendiri. Saya adalah pembelajar. Saya sedang (ingin) belajar apa saja. Dari siapa saja makanya …

Walaupun belum banyak dilirik eh di klik orang, ada satu dua orang yang berkenan untuk memberikan kebaikan hatinya dengan memberikan ide dan informasi yang relevan di blog ini. Dari lubuk hati saya yang terdalam saya sungguh berterimakasih.

Kata Mantra dari Empu saya : Tulis sebanyak banyaknya …

Menulis lebih banyak artinya belajar lebih banyak, Eeeh Bener ngga ya?

[ Alasan ngeBLOG selanjutnya … masih saya cari cari … Dasar … Bisanya mencari cari alasan … ]