Meja Pingpong di Balai Warga Rusak

Apa yang saya rasakan berubah dalam waktu 10 tahun di lingkungan dimana saya tinggal, diantaranya adalah menghilangnya permainan-permainan olah raga. Sebut saja bola voli, sepak bola, tenis meja dan bulu tangkis. Di lingkungan saya tinggal lapangan bola voli sudah lama tidak ada. Lapangan bulu tangkis terbiarkan begitu saja. Lampu-lampunya sudah tidak ada. Meja ping pong pun sudah lama dibiarkan rusak. Keinginan membuat meja ping pong baru sampai sekarang berhenti sebatas wacana.

Saya bukanlah orang yang suka bermain bola voli, sepak bola, dan olah raga permainan lainnya pada masa itu. Saya menulis posting ini karena kangen menonton pertandingan bola voli dan sepak bola antar kampung. Sambil mengobrol menonton teman-teman sebaya saya dulu bermain tenis meja di balai warga adalah hal lain lagi.

Di lingkungan dimana saya tinggal, pada jamannya, pegiat olah raga adalah remaja, pemuda dan anak-anak sekolah. Dewasa dan para orang tua sebatas sebagai pelengkap saja ketika mereka ada waktu luang dan tidak cape. Mereka para dewasa di lingkungan saya adalah orang bekerja.

Internet (baca: facebook dan twitter) harus diakui dalam dasa warsa terakhir ini telah merebut perhatian, remaja, pelajar, pemuda dan bahkan dewasa. Ada sebuah pameo: facebook mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Saya tidak dalam posisi membantah atau mengamini ini. Yang jelas facebook dan twitter sebagai social media baru telah berhasil menarik banyak orang dari media sosial lamanya yaitu: lapangan, balai warga, gardu ronda, dll. Meski tidak sepenuhnya saya benarkan bila menurunnya minat olah raga di masyarakat adalah gara-gara internet. Saya berpandangan malah facebook dan twitter bisa dimanfaatkan untuk mendorong gerakan-gerakan di dunia nyata, meramaikan lapangan pertandingan misalnya.

Hal lain yang saya lihat sangat berdampak bagi menurunnya minat olah raga di masyarakat adalah: sekolah. Benar. Ia adalah sekolah. Sudah saya katakan di awal bahwa tulang punggung olah raga di lingkungan dimana saya tinggal adalah remaja, pelajar dan pemuda. Sampai usia 18 tahun, remaja di lingkungan saya menghabiskan sebagian banyak waktunya di sekolah. Ini sesuatu yang pantas disyukuri karena berarti angka putus sekolah menurun drastis. Pendidikan sampai tingkat SMA bisa dikenyam. Sehingga menjadi bekal untuk mulai mencari nafkah, bekerja.

Sekolah-sekolah tingkat SMA di lingkungan saya biasanya masuk sekolah pukul 07:00 WIB dan pulang sekolah sekitar pukul 14:00 WIB. Bila ada kegiatan ekstra dan pelajaran bisa sampai jam 15:00 WIB atau jam 16:00 WIB. Mereka berangkat sekolah pukul 06:30 WIB atau lebih awal bagi yang rumahnya jauh dari sekolah. Pulang sampai rumah bisa sampai pukul 16:00 WIB atau lebih. Sepulang sekolah mereka mungkin istirahat dan pada malam harinya belajar atau mengerjakan tugas untuk pelajaran esok hari. Tidak ada cukup waktu dan stamina untuk berolah raga di sore hari. Tidak heran bila hasrat dan bakat olah raga di dalam jiwa muda mereka kurang tersalurkan. Tidak heran bila di lingkungan saya tim bola voli dan bola sepak menghilang.

Saya tidak tahu apa alasan sekolah-sekolah kita menerapkan kebijakan berlama-lama di sekolah. Mungkin tantangan masa depan anak-anak jaman sekarang sebegitu besarnya sehingga hal-hal seperti olah raga, dan keterampilan sosial harus sedikit disisihkan. 🙂

Sunday Morning Rainbow is Showing Up

Pelangi Minggu Pagi

Pelangi Minggu Pagi

Awal tahun ini saya merasa beruntung. Kenapa? Karena pada awal tahun ini, tepatnya Minggu pagi kemarin saya bisa memotret dengan tangan saya sendiri satu pelangi yang indah. Sesuatu yang sulit kesampaian pada beberapa tahun yang lalu sampai-sampai saya hanya bisa iri melihat orang lain mengunggah foto-foto indah pelangi di jejaring sosial. 😀

Pelangi yang indah ini terjadi tepat di atas persawahan di sebelah rumah saya. Melihat pelangi yang membentang saya hanya bisa selekasnya mengambil ponsel, berlari ke tempat yang terbuka, dan …. tentu saja memotret. Memotret cepat-cepat sebelum pelangi memudar. Pelangi adalah momen singkat yang tidak pernah mau menunggu orang yang suka berlama-lama. Benar. On rainbow every second is worth shutter count. 😀

Semoga pelangi ini menjadi pertanda bahwa tahun 2015 adalah tahun yang indah untuk saya dan kita semua. Aamiiin.

Mari bekerja dan berkarya. 🙂

Selamat Datang Optimisme

Ada banyak hal terjadi di sepanjang tahun 2014 saya. Akan panjang bila saya tuliskan semuanya. Bila pun saya mencoba tuliskan semuanya toh ada lebih banyak yang sudah tidak saya ingat dengan baik.

Nah, jadi tahu kalau di sepanjang tahun 2014 kemarin saya jarang membuka blog saya sendiri, blog yang ini. Membuka saja jarang, hihi, apalagi membuat posting di dalamnya. Kalau saja saya rajin setidaknya membuka blog saya sendiri pasti saya akan diingatkan “Menuliskan Sebelum Terlupakan”, tagline blog ini. hihi.

Daripada saya menuliskan satu per satu dengan kurang akurat, maka saya menuliskan garis merah yang ingin saya lihat dengan persepsi saya kali ini saja. Subyektif toh tidak apa-apa.

Di antara banyak peristiwa yang terjadi pada tahun 2014 tersebut beberapa diantaranya adalah sesuatu yang sebelumnya saya pikir mustahil bisa saya lakukan apalagi saya capai. Nyatanya kenyataan berbicara lain. Saya bisa mencapainya dengan cara-cara yang tidak saya duga-duga.

Ini modal besar bagi saya. Ini modal sekaligus kekuatan diri untuk menyambut tahun 2015 dengan optimisme penuh dan positif. Lesson learned dari 2014 adalah: jangan ragu/takut merencanakan dan menentukan target yang besar. Set a target, make plan and and just do it

Selamat datang optimisme dan tak bosan-bosannya berniat untuk lebih rajin nge-blog lagi di tahun 2015 yang penuh optimisme ini. Ini posting pertama saya tahun ini. Jreeeeng! 🙂

Just Do It

Minggu pagi itu saya bangun lebih lambat dari biasanya. Jam 5 pagi lebih saya baru keluar untuk mengambil air wudlu, baru akan shalat subuh. Brrrr… air yang membasuh wajah ini terasa begitu dingin. Di atas nampak mendung menggelayut, gerimis-gerimis kecil jatuh. Saya menggalau. Seolah ini pertanda kurang baik. Saya ragu apakah cuaca Minggu pagi ini memungkinkan untuk lari apa tidak. Lari yang saya rencanakan sebagai latihan lari jarak jauh.

Setelah shalat subuh, saya keluar rumah lagi, memandangi langit lagi. Mendung masih sama pekatnya. Sambil menggerakan badan mulai melakukan peregangan dan sedikit pemanasan, saya bertekad: Aku harus lari. Iya harus lari, oh bila pun nanti hujan turun lebat saya bisa berteduh. Terpaksanya nanti berhenti di km ke-2 atau ke-3 itu sudah lebih baik.

Saya pun segera mengenakan pakaian lari, memakai sepatu, mengikatkan tali sepatu, mengoleskan sunblock di wajah, di tangan dan di kaki. Meraih ponsel dan menyalakan aplikasi lari: Nike Running+, kemudian menyelipkannya di armband di lengan kiri. Saya mulai berlari. Tidak terlalu cepat. Cukuplah untuk mengikis keraguan pagi itu.

Udara pagi yang bercampur gerimis segar. Pelan-pelan semangat saya pun mulai tumbuh. Menjelang km ke-3 sayangnya kaki kiri saya mulai terasa kram. Ini tidak biasa. Sambil mengira-ira apa penyebabnya, saya mengevaluasi gait/gesture saya dan mencoba memelankan langkah sambil berusaha membuat gesture sebaik mungkin. Ini tidak serta membantu mengatasi kram kaki kiri saya. Saya jadi berpikir apakah karena semalam kurang tidur yang berkualitas. Karena semalam saya minum teh dengan kawan sampai waktu larut. Apakah semalam saya terlalu banyak pipis sehingga cairan tubuh banyak berkurang.

Menjelang km ke-4 saya memutuskan untuk membeli minuman isotonik. Bila tubuh kurang hidrasi maka mudah-mudahan ini bisa membantu. Beberapa teguk cairan isotonik mengaliri kerongkongan saya yang terasa kering. Rasanya segar. Saya pun meneruskan pelarian, secara pelan-pelan. Kira-kira dengan pace 6:30 menit/km. 2 km kemudian merupakan bukit sodong. Tanjakan tertinggi yang biasanya menantang untuk saya taklukan.

Minggu pagi itu pun saya tertantang untuk menaklukan tanjakan ber-elevasi sekitar 200 meter itu. Kolaborasi antara otot dan andrenalin pada pagi itu berhasil mengalahkan jalan menanjak sepanjang 2km ber-elevasi 200 meter-an itu dalam waktu sekitar 15 menit. Bukan waktu terbaik yang pernah saya buat tapi ini cukup mengangkat semangat saya untuk terus berlari.

Sambil sesekali meneguk minuman isotonik, saya terus berlari. Saya tetap berusaha menjaga pace lari pada 6:20 menit/km – 7 menit/km. Saya tidak ingat kapan kram di kaki kiri saya menghilang. Seingat saya, saat itu saya sudah menempuh km ke-14 ketika botol minuman isotonik yang saya bawa sudah habis. Saya berusaha terus berlari. Sinar matahari pagi yang menerobos bukit yang menerpa wajah ini benar-benar membakar semangat di dalam dada.

Tidak mau dehidrasi mengganggu tubuh untuk terus berlari, di km ke-15 saya pun membeli sebotol air mineral 600 ml. Ah rupanya saya sudah berhasil berlari sejauh 15 km. Ini hanya terpaut 2,5 km dari lari terjauh yang pernah saya buat minggu lalu. Saya harus berlari lebih jauh dari minggu lalu, atau setidaknya sejauh minggu lalu. Toh saya merasa masih cukup kuat.

Km ke-15 dimana saya membeli air mineral tadi adalah di perbukitan sekitar Goa Maria Tritis, Giring, Paliyan. Ini rute lari yang pertama kali saya ambil. Gilanya lagi, saya kali ini berlari ke arah Pantai Baron. Kira-kira 7 km lagi.

Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang saya lintasi mempunyai kontur yang naik dan turunannya sangat menantang. Modal saya kali ini adalah sebotol air mineral dan rasa percaya diri yang mulai terbentuk. Bila pada lari-lari sebelumnya saya bersusah payah untuk menaklukan tiap tanjakan, kemudian menikmati bonus pada turunan yang mengikuti. Kali ini turunan pun harus diselesaikan dengan susah payah, bahkan lebih sulit dari tanjakan yang tinggi sekalipun. Mengontrol badan dan postur lari melintasi turunan yang ekstrim merupakan pengalaman baru. Kaki dan lutut saya seolah dipaksa menerima pelajaran hidup yang baru.

3 km menjelang pantai Baron, gerimis jatuh lagi, dengan butiran-butiran yang lebih besar. Hujan. Ini tantangan untuk daya tahan tubuh saya. Flu yang saya takuti bisa-bisa menyusup bersama hujan. Tapi saya harus terus berlari. Pahala besar sedang saya kejar. Terus berlari 3 km lagi adalah HM pertama saya. 21.2 km pertama saya.

Melalui earpod yang menyelip di telinga, Nike Running+ membisikan sesuatu. Intinya saya sudah sampai jarak 21.2 km dalam waktu 2 jam 17 menit. yay!

image1

Tenaga saya seolah bertambah. Saya jadi ingin terus berlari dan berlari. Saya berhenti berlari ketika ponsel saya memberi notifikasi bahwa batere tinggal 20%. Rupanya sebelum saya cabut dari charger nya tadi batere ponsel saya belum banyak terisi. Mau tidak mau saya harus berhenti sebelum sampai di bibir pantai. Toh saya sudah mencapai jarak terjauh saya selama 3 bulan berlatih lari.

image2

Dengan perasaan lebih baik, dengan perasaan senang, saya duduk dan meluruskan kaki di balai-balai bambu yang banyak terdapat di area pantai. Saya beranjak untuk mencari minuman isotonik dingin lagi setelah nafas dan detak jantung tertata. Kemudian saya menikmati minuman isotonik dingin di pasir putih pantai baron, menikmati wajah diterpa segarnya angin pantai.

selfood on the beach

 

Just Do it

Finish Strong

Mari lari

 

2 nd Birthday Run Indorunner Jogja

Sudah telat posting. Memang. Mau apa lagi. Birthday Run Indorunner Jogja atau lari ultah ke-2 komunitas lari Playon Jogja sebenarnya sudah dilangsungkan lebih dari 2 minggu yang lalu. Tepatnya Sabtu, 22 November 2014. Hihi, sekarang sudah Desember.

533

2 nd Birthday Run Playon Jogja mengambil rute di pusat kota Jogja. Ada 2 rute yang bisa dipilih peserta fun run kali itu. Rute untuk 11 K dan Rute untuk 22 K. Sebagai pelari ndeso sekaligus pelari pemula, saya memilih mengambil 11 K. Saya khawatir bila sekalinya ikut lari di kota dengan rute 22 K malah merepotkan panitia atau sesama peserta fun run. Rasanya akan tidak jadi fun run bila teman-teman menurunkan pace karena kasian melihat saya kecapean. Bila tidak sanggup meneruskan lari dan dibonceng motor panitia rasanya juga tidak lucu. Pikir saya lagi, berlari dengan rute di perkotaan tidaklah semudah rute-rute yang biasa saya gunakan untuk berlari di lingkungan desa dimana saya tinggal.

Pagi itu saya bangun lebih awal. Tidak banyak yang perlu saya persiapkan karena semua rasanya sudah saya siapkan malam hari sebelum tidur. Pukul 03:30 saya naik motor berangkat ke Jogja. Saya shalat subuh di Masjid di dekat Polsek Banguntapan baru kemudian menuju ke tempat dimana Playon Jogja akan start berlari.

Setibanya di sana beberapa peserta sudah berkumpul. Saya pun segera berganti pakaian. Sekitar pukul 5 briefing singkat dan pemanasan dimulai. Suasanya akrab, santai dan banyak canda tawa. Kemudian saya pun turut berlari mengikuti pacer pada saat itu.

Pacer nya sendiri enak diikuti. Berlari dengan tempo yang tidak membuat nafas ngos-ngosan. Sadar bahwa berlari di perkotaan yang banyak lalu lalang kendaraan berbeda dengan lari di jalan-jalan desa, saya pun mempelajari cara berlari teman-teman. Mereka sangat berhati-hati dalam berlari. Rombongan lari tidak menghabiskan badan jalan dan sangat waspada bila melintasi pertigaan, perempatan atau lampu lalu lintas.

Berlari dalam group terasa lebih menyenangkan. Bila berlari sendirian saya memanfaatkan musik untuk mengurangi lelah dan bosan, ngobrol dan mengamati gestur pelari lain rupanya jauh lebih menyenangkan. Lari sejauh 11 K jadi tidak terlalu melelahkan. Meski keringat tetap bercucuran.

Sesampainya di tempat finish (tempat dimana tadi digunakan untuk start), di sana panitia sudah menyiapkan air mineral dan pisang. Teman-teman yang sudah finish pun ada yang melakukan pendinginan, ada yang lari-lari kecil dan ada pula yang istirahat. Ngobrol-ngobrol itu pasti, dan menyenangkan.

Dalam 2nd Birthday Run Indorunner Jogja ini teman-teman dari komunitas lari Semarang dan Cepu juga turut berlari menyemarakan. Kalau sudah begini foto-foto merupakan hal wajib. Begitu pun bagi-bagi door prize yang dari sponsor. Sabtu pagi itu sekaligus merupakan hari beruntung saya. Saya mendapatkan door prize tutup kepala Eiger. Mendapat door prize secara undian benar-benar hal langka dalam hidup saya. Jadi layak disyukuri.

#MariLari

Tung Tak Tung Jazz, Ngayogjazz 2014

Esensi ngayogjazz adalah hujan-hujan. Begitu seorang kawan meyakinkan saya agar tidak jera untuk datang lagi menikmati ritual ngayogjazz tahun ini di Dewa (Desa Wisata) Brayut, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Saya memang ragu apakah tahun ini saya akan ke ngayogjazz apa tidak. Ini tidak lepas dari pengalaman saya hampir masuk angin ketika pada tahun 2012 saya kedinginan dan hujan-hujanan di tengah-tengah Ngayogjazz. Ngayogjazz yang sama-sama bertempat di Desa Brayut. Hujan-hujanan yang tidak kalah basah terjadi pada Ngayogjazz tahun 2013 di Desa Sidoakur, Godean, Sleman, Yogyakarta.

Ngayogjazz memang selalu unik dan kreatif. Konsep membaur dan merakyatnya saya kira tidak akan pernah ada di tempat lain. Inilah yang menghapus bimbang saya.

Tidak peduli pagi harinya (Sabtu, 22 November 2014) saya sudah menguras banyak energi mengikuti 11 K Birthday Run Indo Runner chapter Yogyakarta, sore harinya saya lanjutkan mengeluarkan motor dari rumah. Motor yang akan saya kendarai sejauh lebih dari 50 km menuju Desa Wisata Brayut dimana Tung Tak Tung Jazz dihelat.

Dengan mengendarai sepeda motor, saya memperkirakan akan sampai dalam waktu 1 jam. Saya berangkat jam 4 sore berharap akan tiba di sana sekitar pukul 5 menjelang Maghrib. Saya membayangkan jam-jam itu adalah waktu ideal memotret kreatifitas yang bertaburan di Ngayogjazz sepanjang sore.

Sayang keberuntungan kurang begitu berpihak. Macet di Jalan Wonosari – Jogja menahan laju saya. Kenaikan harga BBM rupanya tidak cukup menghalangi nafsu orang untuk berwisata ke Gunungkidul. Banyaknya bus wisata dan kendaraan pribadi wisatawan, diperparah oleh sebuah truk rusak membuat ruas jalan Pathuk, Gunungkidul sampai Piyungan macet total dengan panjang macet sekitar 5 km. Perjalanan Rumah – Ngayogjazz yang seharusnya cukup sekitar 1 jam berubah menjadi 2,5 jam.

554

Sekitar pukul 18:30 WIB tempat-tempat parkir di area Ngayogjazz penuh. Beruntung saya masih mendapat satu slot  parkir di SMA N 2 Sleman.

555

Saya segera bergegas menembus kepadatan manusia di Ngayogjazz, melihat peta panggung dan jadwal pentas untuk kemudian menuju Panggung Bangbung dimana Dewa Bujana melakukan pertunjukan. Manusia berjubel di depan dan kanan kiri Panggung Bambung. Panggung Bang Bung -nya sendiri tidak cukup terlihat dari balik manusia yang berjubel. Saya berusaha menengok Panggung Bang Bung dengan memanjat pagar tembok seperti orang-orang yang lain. Hanya untuk mendapati bahwa menembus ke depan panggung itu susah.

589

592

Meski sulit, saya pun berusaha legowo untuk tidak merangsek ke depan. Saya legowo dengan mencoba menikmati permainan gitar bujana dengan telinga dan dari kejauhan saja. Tidak apa-apa tanpa melihat wajah Bujana. Aku ora popo.

607

609

613

Dewa Bujana kelar, saya pun menuju ke panggung yang lain. Sayup-sayup terdengar suara seorang MC Senior yang sudah lama hilang dari peredaraan. Ia adalah Endro Plered. Saya pun segera mendekat ke panggung itu dan ketawa ketiwi bebarengan dengan penonton-penonton lain yang mulai merangsek ke depan panggung. Blues is another Jazz. Di Panggung ini artis nge-blues Syarif Hidayatullah saya nikmati beberapa permainan lagunya.

Panggung yang menurut saya berdesain paling unik dan indah dengan konsep hutan cahayanya adalah Panggung Dang Dung. Di sinilah saya menyelesaikan menonton Ngayogjazz dengan pementasan Band Syahdu yang luar biasa.

578

621

622

625

Oh iya…

Ada satu hal yang menurut saya istimewa dalam Ngayogjazz 2014 ini. Dalam 3 pentas Ngayogjazz yang terakhir, ini adalah satu-satunya Ngayogjazz yang tidak diguyur hujan. Sehingga pengalaman ber-ngayogjazz bisa dinikmati tanpa khawatir masuk angin. Sekaligus bisa dianggap sebagai satu-satunya Ngayogjazz “tanpa esensi”, tanpa hujan-hujanan. Ini sekaligus menjadi berkah bagi warga Desa Brayut yang aneka dagangannya laris manis tanpa takut rusak oleh hujan. Mati listrik di sepenjuru desa yang terjadi sejak pukul delapan malam tidak begitu masalah. Malah menciptakan potongan-potongan romantisme.

Lorong Gumantung Tresnamu/Lurung Gumantung Atimu

Lorong Gumantung Tresnamu/Lurung Gumantung Atimu

Menurut Mas Lantip desa dimana yang akan ditempati Ngayogjazz itu “pepulungan”, serba kebetulan, termasuk tahun 2014 yang “balen” di Brayut maupun dimana Ngayogjazz 2015. Apakah #ngayogjazz 2015 kelak akan diguyur hujan atau tidak itu juga sepenuhnya hak prerogatif Gusti Alloh, bukan tergantung kinerja pawang hujan apalagi pawang ular.

Semoga kita senantiasa Sehat Jazz-mani dan Rohani. Sampai Jumpa di Ngayogjazz 2015, bila kita dikaruniai umur panjang! 🙂

2 Bulan Berlari dengan Nike Pegasus 31

Alasan saya membeli sepatu lari yang agak mahal sebenarnya ini: agar bila saya sedang malas berlari, saya akan merasa merugi, sudah membeli sepatu mahal-mahal kok hasilnya tetap saja sama: malas berolah raga. Jadi saya harus terus semangat berlari agar tidak merugi.

Mahal dan tidak mahal untuk sebuah sepatu lari itu subyektif. Maka mahal ini adalah mahal berdasarkan standar saya. Saya menganggapnya mahal karena saya berlu mengumpulkan uang sedikit-sedikit sampai terkumpul uang sepatu ini.

Karena mendapatkan uang sepatu ini tidak mudah, maka sebelum memutuskan untuk membelinya saya melakukan riset kecil-kecilan. Agar uang itu terbelikan sepatu yang tepat. Saya memang sebelumnya sudah mempunyai preferensi sepatu lari sepatu apa yang ingin saya beli. Di samping untuk memastikan tidak salah pilih, saya browsing-browsing tentang sepatu lari dan review atau pendapat orang-orang tentang suatu sepatu lari.

Saya akan berlari di jalan aspal bukan di lintasan lari sintetis bukan pula trail. Karenanya saya tidak akan membeli trail running shoes. Trail running shoes ini menjadi pertimbangan saya setelah saya merasa teruji berlari di jalanan. hihi.

Pertimbangan penting berikutnya adalah bentuk telapak kaki. Melalui pengamatan sederhana dengan menempelkan telapak kaki yang dibasahi ke lantai, bisa saya ketahui jenis telapak kaki saya tergolong normal dengan agak high arch.

Pertimbangan berikutnya adalah gaya lari. Ini yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya. Sebelumnya saya hanya yang penting berlari. Ini cukup memakan waktu sampai saya mengetahui saya termasuk tipe pronator.

Dalam beberapa tahun terakhir kebetulan saya menggunakan sepatu lari merk Nike. Yaitu Nike Airmax 2010 dan Nike Lunar Forever. Pertimbangan kenapa saya membeli sepatu itu adalah karena menurut saya bentuknya: keren. Begitu saja. Kali ini bentuk dan desain keren saya pikir tidak cukup. Selain bentuk dan desain keren, haruslah sepatu yang tepat juga.

Pilihan saya akhirnya jatuh kepada: Nike Zoom Pegasus 31. Saya membelinya di Nike Store di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Dengan harga 1.599.000,-. Nah, mahal? Jangan nyinyir meski bagi anda harga segini tidaklah mahal. Sekali lagi, ini mahal untuk standar saya sendiri.

Ada beberapa pilihan warna Peg 31 ini. Karena saya belinya sudah 2 bulan yang lalu, saya sudah lupa ada warna apa saja. Yang jelas, saya membawa pulang Peg 31 warna Biru Volt.

Saya mencoba sepatu ini pertama kali untuk berlari-lari kecil di landasan pacu Lapangan Udara TNI AU Gading. Saya pikir landasan pacu di Lapangan Udara jauh lebih bagus dari jalanan aspal di lingkungan saya, bebas kubangan, bebas batu dan kerikil, bebas asap kendaraan pula. Saya ingin pengalaman yang optimal.

Pegasus 31 menurut saya baru merasa nyaman di kaki setelah digunakan berlari 1 sampai 2 km. Sebelum mencapai 2 km rasanya foot strike saya aneh. Beberepa km berikutnya Peg 31 terasa nyaman. Apalagi dalam berlari saya terbiasa mendarat dengan bagian tengah kaki. (mid foot). Oh, iya. Untuk diketahui: berat badan saya sekitar 50 kg dan tinggi badan 165 cm. Kurus ya? 😀

Sedikit ketidak nyamanan Pegasus 31 bagi saya adalah: Peg 31 mempunyai bagian depan/ fore insole yang sempit. Ujung-ujung jari kaki saya rasanya terjepit ketika mengenakan sepatu ini. Ini juga yang saya curigai sebagai penyebab blister yang pertama kali saya alami. Blister di kedua kaki saya itu terjadi ketika saya berlari dengan Peg 31 sejauh 8,5 km di Lapangan Udara TNI AU Gading beberapa waktu yang lalu.

Mungkin kaki saya memang yang punya bagian depan yang melebar. Bagian depan sepatu yang terasa beruang sempit ini mungkin bisa diatasi dengan memilih sepatu yang satu ukuran lebih besar. Saya kemarin memilih Pegasus 31 yang berukuran 41. Kenapa, karena sebelumnya saya merasa nyaman dengan Nike Airmax 2012 dan Nike Luar Forever berukuran 41. Mungkin untuk Peg 31 harusnya saya memilih ukuran 42.

Jadi bimbang apakah akan membeli lagi Pegasus yang sama dengan satu ukuran lebih tinggi. Tentu saja saya harus sedikit sabar mengumpulkan uang lagi bila harus membeli Peg 31 ukuran 42. Lari berikutnya saya mencoba berlari dengan Peg 31 yang sama, tetapi tidak menggunakan kaos kaki. Ternyata Peg 31 juga sangat nyaman digunakan berlari tanpa kaos kaki. Sedikit yang mengganggu adalah bila kaki sudah berkeringat, di telapak kaki bagian tumit terasa lengket.

Kemudian saya berpikir untuk membeli kaos kaki baru yang tipis. Setelah melihat-lihat jenis-jenis kaos kaki di Planet Station, kemudian saya membawa pulang kaos kaki dry fit buatan Nike, yaitu: Nike Elite socks.

nike 1

Untuk berikutnya Peg 31 + Nike Elite Dry Fit saya coba untuk berlari downhill sejauh 8 km di perbukitan di lingkungan saya tinggal. Kali ini jari-jari dan ujung kaki saya tidak terasa begitu terjepit. Bahkan bisa dibilang lebih nyaman. Peg 31 + Elite Dry Fit ini sampai sekarang sudah saya gunakan berlari beberapa kali. Ah berarti saya tidak harus berganti ke ukuran 42. 🙂

Dalam 2 bulan berlari menggunakan Nike Pegasus 31, hari Minggu kemarin (16 November 2014) adalah lari terjauh saya, 15 km, meski masih dengan pace yang santai, yaitu 6 menit per kilo meter.

nike 2

Mampu berlari sejauh 15 km dengan pace 6’00” tentu saja menyenangkan bagi saya. Karena target saya ketika membuat komitmen lari 2,5 bulan yang lalu adalah bisa berlari sejauh 10 km pada penghujung 2014 ini. Berarti saya sekarang sudah over target. Satu setengah bulan tersisa ini barangkali bisa saya gunakan untuk berlatih memperbaiki pace. Kalau PB saya (Personal Best) untuk lari 10 km adalah 58 menit 12 detik menurut Nike Running+ di iPhone saya, mungkin saya akan menargetkan 10 km dalam 55 menit pada penghujung tahun. Atau saya perlu berlatih endurance dulu, agar saya mampu berlari sejauh 21 km terlepas berapa saja pace nya? hehehe.

IMG_0981

Saat ini di desa dimana saya tinggal sedang musim penghujan. Saya tidak ingin hujan menjadi penghalang bagi latihan lari. Saya malah membayangkan menikmati berlari trail di hutan sebelah barat desa saya. Untuk itulah saya sekarang berkeinginan mempunyai sebuah Traill Running Shoes. Sepasang sepatu The North Face Single Track Kayasa atau Nike Wild Horse. Hihi, uang saya belum ada tapi sudah berangan-angan.

Tahun berganti masih satu setengah bulan lagi. Tidak ada salahnya bila saya sedikit mengintip target saya tahun 2015. Minimal saya sudah harus mampu berlari Half Marathon. (21 km). Bila awal 2015 sudah mampu berlari HM entah dalam waktu berapa, saya ingin mensyukurinya dengan sebuah Nike Airmax 2014 atau Airmax 2015 bila sudah keluar di Nike Store. Tepok jidat. Uangnya menabung dulu ya. 🙂

***

Dan 5 tahun kemudian saya tidak pernah membeli Nike Airmax. Tetap setia berlatih dengan Pegasus dan telah membeli Nike Air Zoom Pegasus 36 warna hitam.

Running Log dan Mulai Latihan Lari Lagi

Bulan November ini adalah menginjak bulan ketiga saya berlatih lari/jogging lagi. Setelah lama sekali, hampir setahun karena satu dan alasan lain saya bermalas-malasan tidak berolah raga lari. Motivasi saya berlari selama itu hilang entah kemana. Padahal lari adalah sedikit dari berjenis olah raga yang bisa saya nikmati. Awal September lalu akhirnya saya memutuskan untuk berlari.

Memulai selalu tidak mudah. Performa lari pertama saya di bulan September ini begitu payah. Berlari dengan kecepatan pelan saja rasanya susah untuk mencapai jarak 2 km. Apakah ini faktor U? Bisa saja. Tapi bukankah banyak orang yang sudah tua masih kuat berlari dengan performa bagus. Apa iya akan kalah sama kakek-kakek yang tetap sanggup long run. Teman-teman saya yang sudah beberapa kali melahirkan anak saja masih kuat menyelesaikan Half Marathon bahkan Full Marathon.

Saya tidak akan dan tidak berhenti pada lari pertama September itu. Saya terus berlatih. Masalah berikutnya adalah sepatu lari saya sudah tidak nyaman digunakan. Cushion di Sepatu Nike Run Forever saya rasanya sudah tidak empuk, tidak stabil. Mungkin karena kelamaan tidak dipakai atau memang sudah saatnya digantung. Kemudian saya mulai berusaha mengumpulkan uang untuk membawa Nike Zoom Pegasus 31.

Masalah seolah tidak ada habisnya. Saya cidera karena keapesan saya. Saya diseruduk sapi yang mengakibatkan paha dan lutut cedera. Usaha untuk memulihkan cedera kaki ini menjadi ujian kesabaran tersendiri. Pulih dari cedera membutuhkan waktu dan perawatan. Dan di saat yang sama saya harus menjaga komitmen untuk tetap berlatih lari. Saya pun tetap berlatih pada saat kaki saya masih cidera. Saya berlari semampunya dengan lebih berhati-hati. Berhati-hati berlari adalah hal yang sulit ketika saya berambisi untuk mampu berlari dengan performa baik sedang di sisi lain tubuh saya perlu menjalankan proses alami: penyembuhan. Tidak jarang saya over training sehingga kaki dan tubuh tambah sakit.

Cedera kaki saya sembuh dalam waktu kurang lebih 6 minggu. Minggu-minggu terakhir ini saya baru bisa merasakan berlari dengan stamina yang bisa diajak berlatih meningkatkan performa berlari. yay! Saya menikmati berlari. Lari untuk dinikmati dulu saja. Saya belum membuat target-target tertentu. 🙂

Berikut ini adalah running log yang saya buat dengan aplikasi Nike Running+ di iPhone 5s saya:

Nike Running+ workout log

Nike Running+ workout log

Nah, kalau berikut ini lari terakhir saya tadi pagi:

my updown hill running log

my updown hill running log

IMG_0851

Apa Manfaat Health Kit di iOS 8?

Apa yang baru dari iOS 8 yang di-release oleh Apple beberapa waktu yang lalu adalah Health Kit (atau aplikasi kesehatan?). Di iPhone 5s yang saya update OS nya ke iOS 8, saya berkesempatan mencoba-coba Health Kit/ Health App ini.

Pertama kali membuka Health Apps bulan lalu saya merasa bingung dan tidak punya ide bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan aplikasi ini. Dibanding dengan aplikasi-aplikasi bawaan iOS 8 yang lain, Health Apps ini menurut saya merupakan aplikasi yang mempunyai menu (menu setting paling banyak). Dengan istilah-istilah kesehatan dan kebugaran yang tidak saya mengerti. Ini tambah membingungkan.

Mencoba mengutak-atik Health Apps, saya mencoba menambahkan sesuatu di dashboard aplikasi ini. Dashboard yang mulanya saya tambahkan adalah Walking+Running Distance dan Steps, kemudian Sleep Analysis. Ketika menambahkan ketiga dashboard itu saya tidak tahu bagaimana data bisa terupdate.

Beberapa waktu menggunakan iPhone 5s ber-iOS 8 sambil membawa-bawanya sambil sesekali membuka Health, rupanya Walking+Running Distance ini ter-update secara otomatis. Mungkin menggunakan GPS untuk menghitung seberapa jauh saya bergerak. Kemudian Steps juga terperbaruhi secara otomatis. Steps ini datanya mungkin mengambil menfaat dari co processor M7 di iPhone 5s saya. Nah bagaimana dengan Sleep Analysis? Ini rupanya tidak bisa terupdate secara otomatis. Kenapa? Karena saya tidak punya sensor atau perangkat fitness yang mampu mendeteksi kapan saya tidur dan kapan terjaga. Karenanya saya terpaksa mengisinya secara manual. Untung bisa diisi manual ya. 😀

Health Apps Dashboard

Health Apps Dashboard

Tampilan Dashboard Health Apps di atas cukup mudah dibaca. Sederhanya dalam satu bulan terakhir terbaca saya bergerak rata-rata 6,65 km per hari atau rata-rata 8.453 langkah per hari. Ingat ya data langkah ini terdeteksi ketika saya membawa iPhone saya. Padahal saya sering meletakkan iPhone saya. Artinya jumlah langkah saya yang sebenarnya pasti lebih banyak dari yang dibaca oleh Health Apps ini. Data jumlah langkah per hari ini mengingatkan saya pada iklan lama susu Anlene, yang menganjurkan agar kita bergerak sedikitnya 4.000 langkah per hari agar kita sehat dan tulang tidak keropos. Bila apa kata Anlene benar, maka saat ini jumlah langkah kaki per hari saya telah berada dalam angka aman, bahkan lebih dari cukup. Sleep Analysis pun menunjukan kalau dalam sebulan terakhir saya sudah cukup banyak tidur. Saya tidur rata-rata 6 jam 37 menit.

Nike Fuel yang ditampilkan pada dashboard ini saya kira tidak cukup akurat. Karena sumber datanya hanya dari Nike Running+ yang saya gunakan ketika saya lari. Sedangkan aktifitas saya yang lain tidak terlacak. Untuk melacak Nike Fuel secara lebih akurat mungkin saya harus menggunakan Nike Sport Watch atau Gelang Nike Fitness itu, atau Activity tracker yang lain yang compatible dengan iOS 8.

Health Apps Setting di iOS 8

Health Apps Setting di iOS 8

Nah, screen shoot di atas saya kira cukup menjelaskan komentar saya di awal yang menyebut Health Apps ini mempunyai setting yang banyak dengan istilah-istilah yang susah saya mengerti. Hanya ada beberapa data yang bisa saya isi manual seperti tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, tekanan darah yang diukur manual dengan tensi meter. Sementara yang lainnya saya biarkan kosong.

Mungkin Health Apps akan optimal digunakan ketika sudah didukung oleh penyedia aplikasi pihak ketiga dan perangkat fitness/kesehatan pihak ketiga pula. iPhone saja saya pikir belum mampu mengumpulkan data sebanyak itu. Sekalipun iPhone 6 hanya ada satu sensor baru yang ditambahkan, yaitu sensor altimetric barometer. Atau apa yang kelak akan bisa dilakukan Apple Watch untuk memaksimalkan Health Kit. Kita tunggu saja.

Ngomong-ngomong perangkat kesehatan apa saja sih yang sudah mendukung Health Kit di iOS 8? Juga aplikasi apa saja yang sudah dibuat yang memanfaatkan Health Kit ini. Saat ini yang saya tahu baru Nike Running+ dan Endomondo. hihi

Curhat: Angkutan Umum Murah itu Penting

IMG_0800Foto ini saya ambil di Pasar Trowono pada kemarin pagi setelah saya jogging.

Bagi banyak orang foto ini mungkin dianggap membawa pemandangan aneh. Apa gerangan yang dilakukan orang-orang ini dengan menaiki kendaraan open cab.

Mobil open cab berplat hitam ini bagi masyarakat ini dianggap dan berfungsi sebagai angkutan umum. Angkutan yang mengantarkan mereka dari dan ke pasar dari tempat tinggal mereka di pelosok-pelosok dan desa-desa.

Ini memang praktik ilegal. Menyalah gunakan kendaraan pribadi, kendaraan pengangkut barang berplat hitam untuk mengangkut penumpang manusia. Mereka tidak ambil pusing apa ilegal apa resmi. Toh ini satu-satunya sarana mobilitas. Sejak Indonesia konon merdeka sampai sekarang belum ada angkutan umum yang memadai yang bisa membantu kegiatan dan ekonomi mereka.

Peristiwa ini adalah potret masyarakat di sekitar pasar Trowono, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Tidak mustahil di sisi lain Indonesia pun masih terjadi.

Semoga Pak Jonan, Mentri Transportasi Kabinet Kerja sekarang ini bisa melihat foto saya ini. Agar bisa menjadi renungan. Syukur-syukur ada tindak nyatanya. Eh ngga mungkin ya Pak Jonan lihat foto ini. Beliau kan tidak berteman dengan saya.

PS: Posting saya kali ini sebenarnya adalah posting status Facebook kemarin. Saya repost di sini agar ramah Google dan mudah ditemukan. Agar mudah ditemukan Pak Jonan. hihi