Guru Sekolah Dasar Alay di Facebook

Saya lihat beberapa waktu terakhir ini orang-orang baru di internet (di facebook) tidak hanya didominasi oleh remaja dan anak-anak muda. Para dewasa dan orang tua yang sebelumnya tidak mengenal internet pun mulai terjun bergaul di facebook. Ini menurut saya kabar bagus. Internet, dalam hal ini facebook, akan menjadi jembatan komunikasi lintas generasi. Generasi muda dan generasi orang tua.

Karena apa yang saya lihat para dewasa ini tidak hanya berteman dengan sesama dewasa. Mereka berteman pula dengan anak-anak muda. Termasuk yang menjadi perhatian saya adalah beberapa guru sekolah dasar yang mulai eksis di facebook itu juga berteman di jejaring sosial itu dengan siswa-siswi para muridnya.

Kenapa pertemanan guru dan murid di jejaring sosial ini menjadi perhatian saya? Sekaligus terlihat bagi saya sebagai kabar prihatin.

Hal ini bermula dari status-status yang ditulis oleh guru-guru itu. Bapak Ibu guru yang terhormat itu saya sayangkan karena mereka menulis status-status itu dengan ejaan alay dan pesan-pesan lebay. Apa-apaan ini seorang guru seolah lupa kalau dimanapun dan kapanpun ia berada ia tetap adalah seorang guru yang menjadi model bagi siswa-siswi mereka. Interaksi guru dengan siswa termasuk di jejaring sosial bukankah membawa dampak didikan juga.

Mungkin saya berlebihan mengharapkan guru-guru institusi pendidikan dasar ini berkemantaban hati untuk menanamkan karakter yang bagus bagi tunas negeri. Saya masih beranggapan bahwa penulisan alay merupakan penghianatan terhadap bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas karakter bangsa. 😀 Kemudian kelebayan. Lebih no comment saya terhadap lebay-lebay-an yang tidak dicontohkan pun anak-anak akan mudah menemukan dimana saja, di sinetron misalnya.

Saya tidak habis pikir pasangan suami istri yang sama-sama guru senior di sekolah dasar sayang-sayangan di facebook. Apa pula guru sekolah dasar yang mengumbar keluh kesah kesah amarah di facebook. Padahal sekali lagi, mereka berteman di jejaring facebook itu dengan siswa-siswi mereka.

Atau barangkali begini. Para guru itu kalah dulu eksis berjejaring di facebook dengan siswa-siswi mereka. Dan ketika mereka hadir di facebook, mereka meniru/mencontoh perilaku siswa-siswi mereka di facebook karena menganggap apa yang dilakukan siswa-siswi di facebook itulah yang benar. Para guru-guru sekolah dasar yang saya maksud itu mengekor. Mungkin inilah yang dimaksud orang Jawa dengan “Kebo nusu gudhel” Ini ibarat kebo yang seharusnya minum susu Anlene tetapi malah minum sufor Pediasure. Maaf menyebut merek. 😀

Jangan-jangan pengejaan alay dan penyingkatan kata semaunya seperti ini tidak hanya dilakukan oleh guru sekolah dasar ketika mereka berada di ranah jejaring sosial. Saya khawatir mereka juga menulis alay di papan tulis sekaligus mengumbar kelebayan di ruang kelas. Hewduuh

Sajadah

Besok hari Jum’at. Jadi teringat Jum’at lalu dan beberapa  Jum’at sebelumnya saya agak terlambat datang shalat Jum’at, sehingga shaf-shaf depan di dalam Masjid sudah terisi jama’ah. Saya pun hanya kebagian tempat di shaf bagian balakang. Bukan shaf di dalam masjid, melainkan shaf-shaf di teras masjid. Shaf-shaf di teras-teras Masjid itu tidak berkarpet dan hanya beralaskan lantai keramik. Sudah dingin masih sedikit basah karena percikan air hujan musim hujan yang masuk ke teras  dan sisa-sisa air wudhu yang masih menempel di kaki-kaki jamaah yang berjalan memasuki ruang masjid.

Sebenarnya salah saya sendiri kenapa tidak bisa datang Jum’at lebih awal, ya saya kan suka pelancongan, jadi tidak tentu bisa shalat Jum’at di Masjid mana. Makanya malam ini saya menyempatkan untuk membeli Sajadah. Niatan saya Sajadah itu akan saya jadikan ‘gear’ wajib yang senantiasa ada di tas saya. Di tas yang sama dimana biasanya saya membawa gadget kemana-mana. Kalau saya menaruh Sajadah di tas berbeda, takutnya Sajadah yang saya bela-belain beli ini suatu kali ketinggalan.

Mudah-mudahan mulai besok biarpun terpaksanya saya agak terlambat shalat Jum’at, namun saya sedikit tertolong dari dingin lantai keramik masjid yang terkadang juga tidak higienis. Saya bisa jadi mudah-mudahan  lebih menyimak khotib berkhotbah dan shalat dengan lebih khusuk.

Aamiiin

Melihat Bulan Januari

Statistik Blog untuk Bulan Januari 2012

Statistik Blog untuk Bulan Januari 2012

Saya merasa bahagia dengan kesempatan yang saya punyai untuk menghirup udara bulan Februari yang beraroma “wangi” ini. Entahlah, saya tidak bisa menceritakan seperti apa aroma mewangi itu. Tapi yang jelas rasa bahagia itu mendorong saya untuk menuliskan beberapa hal menyenangkan yang saya alami di sepanjang bulan Januari 2012. Utamanya cerita dari blog wordpress ini saja.

Alhamdulillah, selama bulan Januari 2012 saya bisa menulis 31 posting ber-tag postaday2012. Bagi saya ini modal penting untuk dapat membuat sejumlah 365 sepanjang 2012. Saya optimis bisa melakukannya. Dengan catatan: Bila tidak jatuh kiamat sebelum 31 Desember 2012.

Statistik yang saya taruh di atas bukanlah angka-angka yang membanggakan banyak orang, namun cukup 11.299 views dan 519 komentar sudah cukup membuat saya senang. Apalagi angka statistik ditampilkan dengan desain yang baru selesai dibuat oleh wordpress. 🙂

Ini ceritaku. Mana ceritamu? hehe

 

Launching Telkomsel Tap Izy di Yogyakarta

Stasiun Tugu Yogyakarta

Stasiun Tugu Yogyakarta

Beberapa bulan yang lalu, melalui komentar di tulisan saya di sini, teman saya, mas Dito Respati memberi tahu saya akan solusi praktis membeli tiket kereta api tanpa antri. Solusi itu seperti apa, ia hanya bilang tunggu tanggal launching -nya. Sampai akhirnya saya diundang oleh Rivo untuk menghadiri acara launching Telkomsel Tap Izy di stasiun Tugu Yogyakarta pada Senin, 30 Januari 2012 kemarin.

Tap Izy hadir di Jogja beberapa waktu berselang setelah orang Jakarta bisa membayar belanjaan hanya dengan mendekatkan ponsel di kasir tanpa perlu membuka dompet mengambil uang tunai atau card di merchant-merchant berlogo Tap Izy. Kehadiran Tap Izy di Jogja rupanya ingin membawa pengalaman berbeda. Tap Izy sekaligus menggandeng  PT Kereta Api dan sejak kemarin menawarkan pengguna kereta Pramex untuk memangkas rutinitas antri untuk mendapatkan tiket. Dan discount Rp 1.000,- tiap pembelian tiket Pramex dengan Tap Izy.

Pasti ini alasan kenapa di Jogja, Tap Izy diluncurkan di Stasiun Tugu, bukan di Ambarukmo Plaza atau Malioboro Mall. 🙂

Sekitar jam delapan saya mengisi buku tamu di meja resepsionist. Ternyata saya tidak perlu menulis nama di situ. Nama saya, dan beberapa teman blogger dan onliner undangan sudah ada di daftar. Tinggal tanda tangan saja. Tunggu. Goody bag untuk undangan biasa dan undangan “istimewa” ternyata berbeda. hehe

Beberapa saat setelah duduk dan ngobrol-ngobrol dengan Jefri, Dito Respati, Senggol, Hendri, Magda Ovi, Iqbal, Lantip, Suryaden, Anno dan kawan-kawan online yang lain, acara pun segera dimulai. Berbicara untuk pertama kali adalah Pak Andi Kristianto (GM Sales & Customer Service Telkomsel Regional Jawa Tengah & DIY) Ia berbiacara menjelaskan Tap Izy secara singkat, dan 2.0 banget, ringkas tanpa bertele-tele.

Giliran berbicara yang kedua adalah Direktur Komersial PT. KAI, bapak Sulistyo Wimbo Hardjito. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Pak Wimbo menyampaikan cita-cita agar pelayanan PT KAI bisa mengalahkan kualitas pelayanan penerbangan. Salah satunya pelayanan di sisi ticketing. Kolaborasi PT KAI dengan Telkomsel Tap Izy merupakan momen itu. Ketika saat ini membeli tiket pesawat tidak bisa dilakukan dengan ponsel, orang sudah lebih dulu bisa membeli tiket kereta dengan Tap Izy.

Ricaredo Babasa, seorang Pilipin yang menjabat VP Digital Money Management di Telkomsel menjelaskan tentang visi future payment sebagai bentuk dukungan terhadap Bank Indonesia yang sedang berusaha mengurangi jumlah uang yang besar, tap izy dan keberhasilan teknologi ini di Cina dan Turki. Dari Babasa saya jadi tahu teknologi Tap Izy merupakan yang pertama di Asia Tenggara.

Peresmian Tap Izy oleh Bapak Haryadi Suyuti

Peresmian Tap Izy oleh Bapak Haryadi Suyuti

Pak Haryadi Suyuti, wali kota Jogja yang baru ini,  dalam kesempatan berbicara berikutnya memberikan komentar-komentar yang lugas terhadap kualitas jaringan telekomunikasi seluler di kota Jogja sekaligus menyampaikan dukungan dan harapan terhadap kerjasama dua BUMN raksasa ini secara singkat sebelum memukul gong tiga kali tanda Telkomsel Tap Izy dan e-ticketing Kereta Api Pramex diluncurkan. Baca lebih lanjut

Ingin Jogging Lagi

Meskipun Matahari belum kelihatan bersinar, cuaca pagi hari Minggu ini bisa dikata cukup bagus. Segar dan tidak turun hujan. Saya sudah bangun dari awal pagi tadi dan rasanya ingin sekali jogging setelah cukup lama, lama sekali saya tidak jogging, sejak saya sakit tipes yang saya ceritakan di sini pada tahun lalu.

Namun rencana untuk jogging ini terpaksa urung. Ternyata Nike Running saya sudah tidak nyaman dipakai. Mungkin karena kelamaan digantung tanpa perawatan. Atau karena usianya yang sudah layak digantung selamanya.

Nike Shoes and Jogging Gears

Nike Shoes and Jogging Gears

Foto diambil dari posting Photo Blog di sini ketika saya masih rajin jogging. Foto-foto blog yang selalu bikin kangen dari jogging track saya dulu bisa ditengok di sini.

Saya harus mulai menabung dulu untuk mendapatkan Nike Running baru. Biar semangat menabung, saya mau browsing-browsing di situs-nya Nike Running di sini dulu. Atau ada yang mau hibah Nike LUNARGLIDE+ 3 untuk saya? Ukuran sepatu saya 40 🙂

Listrik Mati, Internet Mati

Jam 10 -an siang tadi di kantor teman saya dimana saya punya sedikit kerjaan terjadi pemadaman listrik PLN selama beberapa jam. Setidaknya sampai saya meninggalkan kantor itu.

Pekerjaan dan aktifitas kantor yang jumlah karyawannya hanya sekitar 30 orang seolah-olah tidak terganggu ketika listrik PLN tidak mengalir. Karena kebanyakan karyawan bekerja dengan laptop masing-masing. Pekerjaan lancar-lancar saja.

Kecuali untuk mencetak dokumen. 😀 Semua printer di kantor itu tidak ada yang bertenaga barai. Memang ada, printer yang bertenaga baterai? Hehe

Dan tentu saja semua laptop yang dipakai bekerja di situ tidak bisa terkoneksi ke internet, tidak bisa membuka dan mengirim email, mengakses online database dan akses online yang lain, kecuali mungkin yang menggunakan modem pribadi.

Sama seperti printer yang tidak bisa digunakan mencetak selama aliran listrik dari PLN padam, Hotspot Acces Point, Switches, Modem dan semua perangkat jaringan tidak ada yang bertenaga baterai. Semua tidak bisa bekerja selama pemadaman aliran listrik. Sama ya dengan kantor-kantor kecil seperti ini yang lain.

Dari sini saya jadi kepikiran, andai untuk perangkat jaringan itu dibuatkan power supply khusus untuk mengantisipasi down jika aliran listrik PLN terhenti. Cara yang paling murah, namun belum tentu yang paling praktis mungkin adalah dengan menggunakan UPS. Saya pikir modem, switches, acces point dan perangkat jaringan sejenis tidak amat rakus daya. Mungkin 1 atau 2 UPS berdaya menengah sudah mampu menopang supply listrik perangkat jaringan selama beberapa jam.

Sebenarnya saya akan googling untuk melihat-lihat daya UPS yang berharga kurang dari satu jutaan dan berapa konsumsi daya dari acces point, switches, modem dan lain-lain sehingga saya bisa menghitung berapa jam internet yang bisa diselamatkan oleh satu UPS. Sayang cuaca buruk di rumah saya menyebabkan internet saya jatuh bangun. Saya mengetik posting ini dengan Libre Office, kemudian mengirim file ketikan ke Blackberry, baru kemudian saya mempostingnya dengan WordPress for Blackberry. 😀

Anda punya ide lain?

Posted with WordPress for BlackBerry 1.5 via Telkomsel network

Belajar Audio Editing Dengan Audacity

Beberapa waktu yang lalu saya diminta untuk mengajari guru-guru bahasa di suatu SMA tentang audio editing. Sebelum saya menyanggupi kapan bisa mengajari saya memikirkan bagaimana cara yang enak dan mudah untuk belajar audio editing bagi orang-orang yang belum punya cukup pengetahuan teknis tentang perekaman dan penyuntingan suara.

Sebenarnya apa yang ingin mereka capai setelah pelatihan audio editing adalah agar mereka bisa membuat sendiri suatu materi pembelajaran, yaitu menyimak atau listening untuk bahasa Inggris. Materi menyimak/listening itu rencananya akan dibuat dari mencuplik-cuplik dari kaset/cd materi yang sudah ada, merekam dialog mereka sendiri, atau menggabungkan recording yang sudah ada dengan dialog yang mereka rekam sendiri.

Apa yang perlu saya pikirkan pertama kali adalah software audio editing apa yang akan saya gunakan. Untuk mencukupi kebutuhan ini diperlukan software dengan kemampuan multitrack editing. Paling tidak basic multitrack editing. Dan software itu harus cukup mudah dan instuitif digunakan. Dan yang paling penting gratis. Biasanya jarang ada sekolah yang mau keluar duit untuk membeli software. 🙂 Maka pilihan saya adalah Audacity, yang gratis diunduh di sini. Kali ini tidak perlu membayangkan canggihnya Adobe Sound booth, Audio Protool atau Adobe Audition.

Nah, sekarang saya selesai mengunduh dan memasang Audacity di komputer Windows 7. Beberapa saat mencoba-coba software ini ternyata saya sudah bisa menyunting suatu dialog seperti di:

Menyunting Dialog dengan Audacity

Menyunting Dialog dengan Audacity

Kini saatnya memikirkan untuk membuat tutorial yang mudah diikuti, memikirkan cara singkat menjelaskan riple edit, trim, audio track, signal to noice ratio, sampling rate, bit rate, interval, amplitudo, audio format, conversion, dan sejenisnya. Rasanya perlu beberapa hari untuk mencari analogi agar istilah-istilah alien itu mudah dimengerti bagi para guru bahasa SMA. 🙂

Semoga Cepat Kadaluwarsa

Sebuah video berisi photos slide show yang merangkai sebuah kisah inspiratif. Luigi Pralangga, teman blogger senior yang sehari-hari bertugas menjadi bagian  misi perdamaian di Perserikatan Bangsa Bangsa, melalui story telling audio visual menciptakan kesan yang sangat mendalam bagi saya untuk tidak pernah berhenti optimis.  Tonton dulu video youtube nya yah!

Ada satu kalimat yang tidak bisa saya lupakan bertahun-tahun dalam salah satu foto dari rangkaian slide show itu:

Every problem has an expiring date.

Seberapa banyak formalin yang digunakan untuk mengawetkan ikan-ikan asin yang dijual di pasar-pasar, pada akhirnya akan basi juga. Semua ada masa kadaluwarsanya. Bilapun “formalin” bisa mengawetkan masalah bangsa ini sampai selama 66 tahun, pada waktunya nanti semua masalah yang tidak terlihat ujung pangkalnya itu akan kadaluwarsa juga.

Lebih cepat kadaluwarsa lebih baik. 🙂

Bayarlah Dengan Uang Pas

Kalau kita sedang naik angkot sebaiknya kita memang membayar ongkos dengan uang pas. Daripada kita cape sendiri menunggu uang kembalian dari mamang kernet atau mas sopir bila angkot tak berkondektur. Di Angkot biasanya semua serba tergesa-gesa berburu waktu. Memasuki terminal pun sebaiknya kita menyiapkan uang koin recehan untuk membayar tarif peron. Harap maklum.

Namun pemakluman saya itu menjadi kadaluwarsa ketika saya berbelanja di mini market atau super market dan mbak kasir masih bertanya, “Pak. Ada uang pas?”

Dalam hal ini saya menuntut urusan uang kembalian adalah tugas managemen toko, dalam hal ini yang berurusan langsung dengan pembeli adalah kasir. Bisa jadi seorang pembeli membayar dengan uang tidak pas bukan karena dia tidak punya iang pas. Bisa jadi ia sedang membutuhkan uang pecahan. Urusan uang kembalian seharusnya merupakan pelayanan standard di super market/mini market sebagaimana kita berhak dibantu menemukan suatu barang dan sambutan ramah dan sejenisnya.

Saya pernah suatu ketika, alih-alih mbak kasir Indomart cepat-cepat menyelesaikan uang kembalian saya malah dia bertanya apakah saya membutuhkan barang ini itu. Padahal di belakang saya masih ada antrian panjang. Dia seorang kasir atau SPG? grrrrrr

Urusan uang kembalian memang tidak selalu praktis. Namun pengalaman saya, pembayaran elektronik pun tidak serta merta menyelesaikan ketidak praktisan pembayaran secara cash. Misalnya, belanjaan kita minimal harus sekian ratus ribu, misalnya minimal Rp 200.000 untuk bisa dibayar dengan Kartu Kredit atau Kartu Debet.

Nah, bagaimana seandainya tidak ada belanja minimal untuk bisa dibayar dengan CC atau DB?

Memang berapa orang sih di Indonesia yang punya CC/DB, hehe Atau ini kesempatan untuk mengembangkan e-payment /pembayaran secara elektronik, yang lebih sesuai dengan karakter orang Indonesia?

Angin Kencang

Satu pohon jati milik tetangga saya, Kaki Tono, roboh karena terpaan angin kencang. Barat, sebutan orang Jawa untuk angin kencang, yang terjadi pada kemarin siang memang cukup mengagetkan. Biasanya angin kencang, baik barat dan lesus selalu berbarengan dengan awan kelam dan hujan. Dan seharian kemarin tidak turun hujan.

Angin kencang itu sendiri saya rasakan cukup merisaukan. Saya buru-buru menutup daun jendela dan daun pintu yang beradu-adu kencang terterpa angin. Melihat keluar rumahpun jadi menemukan pemandangan tak biasa. Pohon asem, akasia, leresede, jati dan tanaman pagar meliuk-liuk. Daun-daunan yang hijau berubah keputih-putihan terjambak angin.

Simbok sampai memperingatkan saya untuk menebang beberapa pohon yang dekat dengan rumah.  Ia takut kalau angin terjadi lagi, pohon itu roboh menimpa rumah. Pohon-pohon yang dimaksud sebelumnya memang sudah akan ditebang dengan alasan yang sama, namun saya melarang ditebang karena suka dengan lebih banyak pohon di sekitar rumah.

Ketakutan simbok itu barangkali karena teringat peristiwa 20 tahunan yang lalu yang mana genting rumah kami porak-poranda diobrak-abrik oleh anging lesus. Kala itu amukan angin terjadi dua kali dalam waktu kurang satu bulan. Begitu genting dan atap diperbaiki, angin lesus menerpa lagi. 🙂

Rupanya kejadian angin kencang itu tidak hanya terjadi di lingkungan tinggal saya. Angin Barat lebih parah merobohkan pohon yang menimpa dua rumah di Dusun sumberjo, Ngawu, Playen, Gunungkidul. Kabarnya bisa dibaca di sini. Untungnya yang terjadi kemarin siang tidak separah yang terjadi di desa tetangga, desa Pampang, Paliyan, Gunungkidul seperti yang diberitakan di sini.

Nah, nampaknya untuk mencegah terjadinya angin kencang (barat, lesus, puting beliung, dan sejenisnya) masih sulit dilakukan. Mungkin sekarang kita perlu memikirkan untuk meminimalisasi kerusakan dan korban bila fenomena alam ini terjadi lagi. 🙂 Ada ide?