Potret Potensi Wisata di Desa Kanigoro

12568351_1707297469514890_480418782_nSaya tahu banyak orang yang sudah tahu bahwa Pantai Ngobaran adalah salah satu pantai yang memiliki eksotisisme tersendiri di Gunungkidul. Begitu juga dengan Pantai Ngrenehan. Teman-teman saya malah mengenal Pantai Ngrenehan sebagai pantai nelayan yang menghasilkan ikan-ikan paling enak di Gunungkidul. Saya sendiri malah tidak tahu kenapa ikan-ikan di Ngrenehan bagi mereka lebih enak. Setahu saya jenis ikan tangkapan di Ngrenehan tidak berbeda dengan ikan tangkapan di Pantai Baron, Pantai Sadeng dan pantai nelayan lain di Gunungkidul.

Nah, yang jarang diketahui kebanyakan orang adalah bahwa Pantai Ngobaran dan Pantai Ngrenehan terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Bila ditanya, kebanyakan orang, akan menjawab: Pantai Ngrenehan dan Pantai Ngobaran terletak di Gunungkidul.

Kemudian, apa yang amat jarang diketahui oleh orang-orang, terutama wisatawan, adalah bawah Desa Kanigoro mempunyai banyak sekali pontensi wisata yang belum digali dan dikembangkan secara optimal. Untuk itulah, pada hari Senin, 8 Februari 2016, komunitas Gunungkidul Photography mengadakan acara yang tertajuk “Explore Kanigoro”. Yang dimaksudkan agar hobi fotografi mereka memberi manfaat bagi masyarakat. Agar dengan fotografi, potensi-potensi yang selama ini belum terlihat bisa mudah ditemukan dan mengundang benefit bagi masyarakat itu sendiri.

Potret Pengrajin Perak

Salah satu Pengrajin Perak di desa Kanigoro adalah Bapak Riswanto. Pagi itu sambil ditemani oleh istri dan anak semata wayangnya, Pak Riswanto sedang mengrajin perak di rumahnya yang sederhana ketika kami, rombongan dari Gunungkidul Photography bertamu.

12558540_574991312656905_1506779072_nPak Riswanto merupakan pribadi yang bersahaja, santai dan pendiam (atau kontemplatif). Santai dan tidak terganggu ketika teman-teman fotografer dengan lensa masing-masing berusaha membingkai proses mengrajin perak yang ia lakoni dari berbagai sudut.

Baca lebih lanjut

Mencoba Koneksi Internet AXIS

 

axisworldUntuk salah satu gadget, tepatnya tablet saya, kemarin saya membeli kartu perdana baru agar bisa terhubung ke internet tanpa ketergantungan dengan koneksi wi-fi. Kali ini untuk pertama kalinya saya mencoba menggunakan operator seluler AXIS untuk menggantikan kartu perdana XL yang kuota internetnya sudah habis.

Kenapa saya memilih menggunakan AXIS?

Saya tidak punya alasan yang spesifik selain mencoba-coba saja. Saya tidak punya cukup masalah dengan koneksi internet XL yang bisa dibilang cukup baik. Sesekali koneksi internet XL melambat dan mengalami gangguan memang iya, tapi ini dalam batas yang masih bisa saya terima. Yang agak sedikit susah diterima dari XL adalah harga paket isi ulang kuota internetnya yang lebih mahal dibandingkan dengan membeli perdana baru yang sudah menyertakan paket kuota internet.

AXIS kali ini saya pilih karena kabar-kabarnya menggunakan jaringan yang sama yang digunakan oleh XL. Istilahnya adalah shared BTS. Ini kabar-kabarnya dilakukan sejak AXIS dibeli (atau diakuisisi oleh XL). Harapan saya, karena menggunakan jaringan dan infrastruktur yang sama, maka kualitas koneksi dan kecepatan AXIS akan kurang lebih sama dengan apa yang dipunyai oleh XL.
Baca lebih lanjut

Sate Kambing Ledoksari, Kenyal dan Gurih

Salah sendiri bila selama ini sebagai penikmat sate saya terlalu fanatik dengan Sate Kambing Pak Turut. Saya akui dengan sesubyektif yang saya bisa, sate kambing Pak Turut memang enak. Rasanya gurih di atas pengecapan saya, daging kambingnya empuk dan sate-sate tersebut dibakar dengan tingkat kematangan yang menurut saya pas. Lebih dari itu, Pak Turut di semua cabangnya menyediakan Ruang Makan yang luas dan nampak bersih.

IMG_8457

Sate Kambing Ledoksari

Sampai beberapa waktu yang lalu ketika saya mengantre service motor di Yamaha Sumber Baru Motor Wonosari. Merasa antrean saya masih terlalu lama, saya merasa akan sia-sia bila hanya duduk di ruang tunggu. Saat itu sebenarnya belum memasuki jam makan siang ketika saya akan mencoba mencicipi Sate Kambing yang terletak tidak jauh dari service center Yamaha SBM Wonosari. Tepatnya persis di depan SMK N 2 Wonosari.

Kepada pelayan saya segera memesan seporsi Sate Kambing. Saya secara khusus memesan Sate Kambing yang tidak terlalu pedas.

Meski belum jam makan siang, rupanya di Sate Kambing Ledoksari pun saya juga harus mengantre. Antrean di depan saya pun tidak sedikit. Saya harus menunggu pesanan saya beberapa lama di sini.

Bedanya, apa yang tidak membuat saya tidak begitu bosan menunggu pesanan sate di sini adalah interior ruang tempat makan yang nampak klasik. Sate Kambing Ledoksari menggunakan sebuah Rumah Limasan (rumah adat Jawa) yang nampak gagah dengan kaso-kaso kayu yang nampak kokoh. Di ruang makan ini meja-meja dan kursi-kursi kayu di tata dengan rapi dan bagi saya nampak artistik. Kebersihan pun nampak dijaga baik di sini. Ini seolah berusaha menegaskan kepada saya bahwa makanan di sini pun dioleh secara higienis.  Baca lebih lanjut

ASUS Zenflash, Jangan Takut (Memotret di) Kegelapan

Sebenarnya saya masih belum puas mengeksplorasi fitur-fitur dan keunggulan Asus Zenflash yang diberikan oleh Mba Davina Larissa di Hotel Victoria – Yogyakarta beberapa waktu lalu. Sayangnya saat ini saya tidak bisa lagi bermain-main mengeksplorasi Asus Zenflash lebih lanjut. Asus Zenfone Selfie yang saya pasangkan dengan Zenflash ini, kemarin siang, “disukai” dan diambil orang secara diam-diam.

zenflash

Jadi saya pun pagi ini segera menuliskan pengalaman saya selama menggunakan ASUS Zenflash. Tentu saja tulisan saya ini berdasarkan apa yang saya ingat saja. Saya tidak bisa menyertakan foto-foto yang saya jepret dengan alat bantu Zenflash. Foto-foto di Asus Zenfone Selfie belum sempat saya salin ke komputer. Begitu pula dengan screenshot-screenshot di sana. Ini adalah “efek samping” dari smartphone berkapasitas penyimpanan besar. Smartphone yang sekaligus saya gunakan untuk ngeblog secara mobile. (mobile blogging)

Begini …

Biasanya ketika mendapatkan gadget baru, saya segera melalukan unboxing dan mencoba-cobanya secara langsung. Begitu pula terhadap Zenflash ini. Dengan Zenflash di tangan, mengamatinya, dan membolak-balikannya beberapa lama saya tetap bingung bagaimana cara memasang Zenflash ini dengan Zenfone Selfie. Kalau bagaimana merekatkannya ke badan Zenfone saya bisa langsung tahu. Dengan terpaksa akhirnya saya membuka buka buku manual untuk menemukan bagaimana cara mengurai kabel USB yang dilipat di tubuh Zenflash ini. Nah, ingat pepatah lama. RTFM. Read The F*ck Manual. 😀 Baca lebih lanjut

Kehilangan Handphone: Asus Zenfone Selfie

Beberapa hari belakangan ini saya merasa dipertemukan dengan beberapa peristiwa kekurang beruntungan. Puncak kekurang beruntungan saya terjadi pada siang hari tadi. Semoga tidak ada peristiwa kekurang beruntungan yang lebih kurang beruntung dari peristiwa kekurang beruntungan siang ini.

IMG_8601

Peristiwa kekurang beruntungan ini terjadi di Lippo Mall – Yogyakarta. Ceritanya setelah cape karena ingin membeli suatu jenis celana lari tapi gagal mendapatkannya setelah menyisir JCM dan Amplaz, saya pun berhenti di Lippo Mall. Saya duduk duduk di bangku di depan ticketing Cinemaxx sambil dengan Zenfone Selfie saya browsing dan memeriksa social media. Saya di sela-sela menggunakan Zenfone sesekali memeriksa Whatsapp yang ada di iPhone.

Nah, biasanya ketika saya memegang iPhone saya meletakkan Zenfone. Berulang seperti ini. Rasanya saya sudah memasukkan Zenfone ke dalam tas ketika saya berpindah ke bangku lain dan kemudian menuju ke P2 untuk mencari Mushala. Saya bermaksud menunaikan shalat.

Setelah shalat saya kembali ke L1 dan menuju ke ticketing dimana saya tadi duduk-duduk. Nah di situ saya mulai merasa ada yang kurang. Saya pun menggerayangi saku-saku celana dan baju saya untuk mencarinya. Tidak ketemu, saya pun sampai membongkar seisi tas. Hasilnya nihil.

Saya pun menuju ke bangku empuk dimana saya tadi duduk. Ada sepasang remaja yang duduk di sana. Saya dengan sopan menanyakan apakah sudah lama duduk-duduk di bangku ini. Meraka menjawab belum. Saya tanya apakah sebelumnya ada yang duduk di situ. Menurut kedua remaja itu memang ada. Tidak menemukan HP di bangku itu, saya pun menuju ke Mushala di P2 siapa tahu menemukannya di sana. Hasilnya juga nihil.

Karena Zenfone selfie saya isi nomer seluler sekali pakai jadi saya tidak menyimpan nomer itu. Mulanya saya bingung ketika saya mau mencoba menelpon nomer di handphone selfie. Sampai saya ingat kalau kemasan kartu masih ada di dalam tas. Saya pun mencoba menelpon. Dan nada sambung memang terdengar. Sayang dari beberapa kali percobaan menelpon tetap tidak diangkat.  Baca lebih lanjut

Mencoba Keseruan Studio 4DX CGV Blitz Hartono Mall

Jalan Jogja – Wonosari pada malam Minggu biasanya brutal. Lalu lintas dari dan menuju Gunungkidul biasanya padat dan sering terjadi kemacetan di beberapa ruas. Bila sedikit saja ada ruas jalan yang longgar, biasanya para pemotor banyak yang ber-zig zag dengan kecepatan tinggi. Cukup mengerikan bagi saya. Apalagi saat itu baru saja turun hujan. Alih-alih segera pulang dari mengisi acara sharing tentang Mobile Blogging di West Lake Resto saya saat itu (Sabtu, 16 Januari 2016) lebih baik menunggu agak malam sampai jalanan lebih bersahabat untuk mengendarai motor pulang ke rumah.

Untuk menunggu agak malam, pilihan saya setelah shalat Maghrib di mushala di West Lake Resto adalah nonton. Bioskop yang saya pilih saat itu adalah CGV Blitz di Hartono Mall. Alasannya: karena letak Hartono Mall berada di Ring Road utara, searah dengan jalan saya pulang menuju Gunungkidul. Alasan lainnya adalah saya belum pernah menginjakkan kaki di Mall terbesar di Yogyakarta yang baru saja dibangun itu. Kalau CGV Blitz sendiri beberapa pekan sebelumnya saya menonton Star War di CGV Blitz – J-Walk Babarsari.

Dari parkir sepeda motor di Lower Ground Hartono Mall, keberadaan CGV Blitz mudah dijangkau. Ada banyak penunjuk arah menuju ke CGV di sana. Termasuk di pintu-pintu lift. Saya tinggal mengikutinya saja.

12530751_1511493645848031_2012035648_n

Sesampai di depan CGV Blitz saya mendapati bioskop ini nampak belum ramai, masih sepi. Baca lebih lanjut

Early Bird Jakarta Marathon 2016 Habis, Adakah Promo Mandiri e-Cash?

jakmar 2016Kemarin petang saya dikabari oleh teman saya kalau tiket early bird Jakarta Marathon sudah sold out. Saya kaget. Registrasi Jakmar saja saya sebelumnya luput tidak mendengar kalau dibuka per 1 Februari 2016. Di komunitas dan di grub-grup rasanya registrasi Jakmar juga belum menjadi perbincangan. Setengah tidak percaya, saya pun mengguraui, “Mungkin sistem -nya belum siap. Jadi ngasih notifikasi kalau early bird slot udah sold out.

Saya benar-benar terkejut ketika di timeline menemukan twit di atas. Antusiasme mengikuti Jakmar 2016 luar biasa. 1.000 slot early bird Full Marathon habis dalam hitungan menit. Artinya pendaftar early bird saja sudah hampir menyamai finisher FM Jakmar 2015 yang berjumlah 1.365 orang saja.

Teman saya tadi kemudian mengajak saya untuk mendaftar slot Half Marathon saja. Saya mengiyakan meski sebenarnya saya mengincar slot Full Marathon. Pikir saya saat itu lumayan bila saya mendapat slot early bird HM dengan biaya registrasi Rp 275.000. Kelak kalau saya bisa dapat slot FM menjualnya akan tidak begitu sulit.

Saya pun meminta tolong teman saya untuk mendaftarkan nama saya. Permasalahan muncul setelah teman saya mau melakukan check out untuk dua registrant. Jumlah biaya yang harus dibayar ternyata bukan Rp 550 ribu. Melainkan Rp 975 ribu. Ini sebenarnya bukan masalah tapi menjadi masalah buat saya. Teman saya tadi masih kebagian slot early bird sementara saya yang kebagian slot reguler. Akhirnya teman saya tadi membatalkan registrasi untuk saya atas persetujuan saya. Baca lebih lanjut

Sharing Tentang Mobile Blogging dengan OPPO Community

Cerita ini bermula ketika Pihak OPPO Community bertanya kepada Om Yahya berkaitan tentang siapa yang bisa berbicara mengenai Mobile Blogging dan Mobile Photography. Hidung saya pun langsung ditunjuk oleh Om Yahya. Mas Kalil (sebagai representative dari OPPO Community) pun langsung menghubungi saya.

Perlu waktu beberapa lama bagi saya untuk meng-iya-kan. Kalau tema yang diusung, tentang Mobile Blogging dan Mobile Photography, sebenarnya saya memang praktisi hobi di kedua hal tersebut. Sedikit banyak saya tahu. Masalah utamanya, bila tidak karena terpaksa dan hal yang sangat penting saya biasanya agak malas berbicara di depan publik. Masalah lainnya adalah tempat diselenggarakan acara itu, yaitu di WestLake Resto yang terletak di sisi paling barat Yogyakarta. Tempat itu “sangat” jauh dari tempat dimana saya tinggal saat ini, yaitu di Kab. Gunungkidul. Kira-kira 60 km.

Sayangnya, Mas Kalil saat itu berhasil meyakinkan saya bila acaranya bukan formal, ngobrol-ngobrol santai, acara kasual saja.

Di tengah kesibukan saya berkecimpung di dapur pengolahan data di pabrik tempat saya bekerja, saya pun mulai menyiapkan materi. Saya membuat slide presentasi singkat yang saya kerjakan dengan Google Slide. Kenapa menggunakan Google Slide? Ini untuk menyiasati di tengah kesibukan saya. Agar saya selalu bisa sewaktu-waktu di waktu yang tepat melakukan tweak, mengutak-atik slide presentasi itu dengan smartphone saya. Dan ini memang kebiasaan saya mengerjakan banyak hal secara mobile bersenjatakan smartphone. 🙂

Ini adalah slide a la saya:

 

Saya yakin tanpa datang langsung di presentasi saya agak sulit untuk memahami maksud yang saya bawakan. Kenapa? Karena datang langsung mendengarkan saja belum tentu semua orang paham akan semua maksud saya. Tidak apa-apa. Bukan salah mereka. Saya saja lebih banyak banyolan daripada seriusnya.

Saya memang lebih lancar menyampaikan dengan tulisan daripada berbicara dengan lisan. Itulah salah satu alasan kenapa saya lebih betah ngeblog. Itulah kenapa saya lebih banyak menyampaikan gagasan-gagasan dalam bentuk tulisan dan visual.

Tahu akan hal ini, sebelumnya saya sudah menulis tentang Mobile Blogging di blog ini. Tulisan saya itu bisa dibaca di:

Nah bagi yang tidak bisa datang di West Lake Cafe Yogyakarta, pada Sabtu tanggal 16 Januari 2016 silakan baca tulisan yang saya link di atas. Begitu pun bagi teman-teman yang datang tapi tetap belum mengerti apa maksud yang ingin saya sampaikan.

Slide Presentasinya sendiri bisa diunduh di SINI.

 

 

Menikmati Alam di Puncak Gunung Ireng – Gunungkidul

image

Menikmati lanskap dan wisata alam di Kabupaten Gunungkidul rasanya tidak akan ada habisnya. Bahkan bagi saya yang bertumpah darahkan Bhumikarta Dhaksinarga pun tetap tidak pernah bosan menikmatinya.

Mendung menggelayut dan hujan yang terus berjatuhan pada Selasa sore pekan lalu tidak menyurutkan nekad saya untuk menikmati sunset di Gunung Ireng yang terletak di desa Pengkok, kecamatan Patuk, kabupaten Gunungkidul.

Menurut Google Map, sebenarnya letak Gunung Ireng tidak begitu jauh dari rumah saya. Kira-kira 16 km saja. Rute menuju Gunung Ireng yang saya tempuh adalah: Paliyan => Playen => Gading => Sambi Pitu => Beji => Jelok kemudian mengikuti petunjuk arah ke Gunung Ireng. Kalau Rute menuju Gunung Ireng dari arah Jogja sebenarnya juga mudah. Tinggal ikuti jalan Jogja Wonosari. Sesampainya di kantor kecamatan Patuk tinggal cari jalan aspal menuju Desa Pengkok dan Gunung Ireng.

Sepanjang jalan yang saya lalui sudah beraspal mulus. Hanya ruas jalan ada yang rusak sepanjang kira-kira 500 m. Dari jalan aspal yang bertuliskan gerbang selamat datang ke Gunung Ireng menuju area parkir juga merupakan jalan yang dicor.

Hujan makin deras ketika hampir Maghrib itu saya memarkir motor. Tidak apa-apa. Ada jas hujan yang sebelumnya saya persiapkan dan tinggal dipakai saja. Petang itu bakalan tidak akan ada sunset. Pun begitu hujan sore itu di Gunung Ireng tidak boleh disia-siakan. Apalagi sore itu tidak ada banyak pengunjung. Gunung Ireng yang jauh dari kegaduhan mungkin kelak akan menjadi sesuatu yang langka.

Saya berjalan kaki melalui setapak di antara bebatuan cadas. Sambil berjalan saya selalu merapikan jas hujan agar air tidak sampai membasahi tubuh. Sesuai namanya di puncak itu saya mendapati batu-batu cadas berwarna hitam, Gunung Ireng. Pemandangan yang kontras saya dapati ketika melemparkan pandang ke sisi selatan. Di sana ada hamparan sawah dengan padi menghijau.
Baca lebih lanjut

Zenfone 5 vs Upgrade ke Zenfone 2 Laser

image

Beberapa waktu yang lalu seorang teman mendatangi saya dengan membawa handphone Zenfone 5 dan Tongsis yang baru saja ia beli. Ia menanyakan kepada saya kenapa shutter release yang ada di Tongsis yang baru dibeli itu tidak bisa digunakan sebagai shutter camera Zenfone 5 -nya. Padahal ia buru-buru ingin berfoto selfie ria.

Saya sendiri tidak punya Tongsis. Jadi saya tidak bisa langsung menjawab pertanyaan tersebut. Apa yang bisa saya lakukan terlebih dahulu adalah mempelajari bagaimana Zenfone 5 dipasangkan ke Tongsis. Melihat bagaimana shutter release di tongsis itu disambungkan dengan sebuah kabel ke Zenfone 5 melalui konektor 3,5mm yang biasanya dipasangi headphone, bukan dengan koneksi bluethooth. Shutter release di Tongsis itu memang tidak bekerja ketika saya coba sendiri. Hmmm

Saya pun mengambil handphone ASUS Zenfone 2 Selfie saya dan memasangkannya dengan Tongsis milik teman itu. Dan, rupanya shutter release di Tongsis ini bekerja dengan baik.

“Kalau suka selfie-selfie -an nih pakai Zenfone Selfie. Mau dijepret pakai tongsismu dan pasti fotonya jauh lebih bagus. Secara camera depannya 13 MP dan ada laser focus nya” ucap saya sambil tertawa-tawa.

Teman saya mengamat-amati Zenfone Selfie saya. Dia nampak tertarik. Tapi tidak jadi tertarik setelah tahu harganya hampir 3 jutaan. Menurutnya lagi, dia lebih suka handphone yang ukurannya 5″ ke bawah. Zenfone Selfie yang 5,5″ susah masuk kantong. Benar juga sih, Saya sendiri sering mengeluarkan Zenfone Selfie dari kantong celana ketika ingin duduk-duduk. Menaruhnya di meja atau memasukkannya ke dalam tas.

Untuk teman saya itu kemudian saya menyarankan untuk meng-upgrade Zenfone 5 -nya dengan Zenfone 2 Laser (ZE500KL). Alasannya: ukuran layarnya 5″, persis dengan Zenfone 5 yang sekarang dimiliki (1), berikutnya: harga tidak mahal, kira-kira 1,8 juta rupiah saja. (2)

Sebenarnya bukan dua di atas itu saja alasan saya menyarankan upgrade ke Zenfone 2 Laser ZE500KL. Berikut ini adalah alasan berikutnya:
Baca lebih lanjut