Saya tidak tahu apakah jenis makanan dan minuman yang saya pesan pas. Dalam arti Nasi Bakar dan Es Campur itu merupakan perpaduan yang sesuai, match untuk dinikmati begitu. Entahlah. Baca lebih lanjut →
Hari Raya Natal pada tahun ini jatuh pada tanggal 25 Desember.  iya kali sejak jaman dulu juga pada tanggal segitu. 😀 Tepatnya hari Rabu. Kemarin. Jadi hari ini pun di banyak tempat masih dalam suasana merayakan Natal. Selamat Hari Raya Natal bagi teman-teman yang merayakan.
Perayaan Hari Natal di Indonesia pada tahun ini, sepanjang yang saya tahu berlangsung damai, lancar dan semarak. Saya bisa mengatakan demikian karena sampai hari ini saya belum membaca atau mendengar kabar ada insiden keamanan yang terjadi sejak menjelang hari raya Natal sampai sekarang. Saya mengatakan Hari Natal kali ini semarak karena ya memang semarak.
Jauh-jauh hari di dunia maya dan dunia nyata sudah ada kesemarakan menyambut Hari Raya Natal. Di Facebook dan di Twitter meriah. Dari jalan-jalan protokol sampai jalan kampung pun tidak kalah meriah. Ada banyak sepanduk ucapan Natal dan pesan damai yang terpajang lebar-lebar.
Menurut saya ucapan dan sambutan Natal dari berbagai pihak dimana-mana itu bagus dimana di negara yang berketuhanan ini.
Yang menjadi sedikit catatan saya adalah bahwa tiap Hari Natal dari tahun ke tahun selain ada banyak ungkapan sambutan Hari Raya Natal ada makin banyak pula yang mendompleng atau bisa dikatakan mengkomersialisasikan hari raya keagamaan itu. Yang saya maksudkan adalah spanduk-spanduk promosi yang menggunakan momentum hari raya. Misalnya: Diskon Natal dan Tahun Baru up to 70%. Nah
Sebenarnya ini tidak hanya terjadi pada Hari Raya Natal saja. Pada Hari Raya Iedul Fitri juga. Pada hari raya agama lain mungkin juga sama semaraknya. Saya sampai menjadi khawatir fenomena komersialisasi hari raya keagamaan ini makin kelewatan, meski ini tidak terjadi di Indonesia saja. Bayangkan bila sampai kebablasan dengan spanduk promosi begini: Menyambut Hari Raya Nyepi, Supermarket X menggelar diskon sampai 80%. Mari Ramaikan Hari Raya Nyepi.
Beberapa bulan terakhir ini, saya menjadi lebih sering menggunakan cara yang tidak saya suka untuk bepergian ke suatu tempat. Yaitu lebih banyak menggunakan sepeda motor untuk mencapai suatu tempat. Tidak hanya mencapai tempat-tempat yang terbilang dekat misalnya ke pasar terdekat, ambil cucian di laundry atau kemana, bahkan ke kota Jogja yang berjarak 40-an km pun mulai saya tempuh dengan sepeda motor.
Saya terpaksa. Kendaraan umum akhir-akhir ini semakin susah di dapat, hanya beroperasi pada jam-jam tertentu dan waktu tempuhnya terasa semakin lama. Tidak handal.
Kendaraan umum makin jarang dan hanya beroperasi pada jam-jam tertentu karena orang-orang sekarang entah kenapa semakin malas menggunakannya, karena tidak handal? Waktu tempuh menjadi makin lama karena jalanan sekarang makin dipadati dengan kendaraan pribadi dan sepeda motor yang menyesakan jalan sampai bikin macet. Oh iya, menggunakan kendaraan umum memang menjadi boros.
Jauh lebih cepat dan murah menggunakan sepeda motor. Sebagai misal dari rumah sampai suatu venue di kota Jogja saya hanya membutuhkan waktu kurang-lebih 90 menit dengan sepeda motor. Baca lebih lanjut →
Infographic itu apa? Coba lihat yang di bawah ini:
Infographic of Infographic. Infographic ini saya ambil dari sini
Sering, bukan, kita menemukan gambar semacam ini di banyak website dan blog yang kita baca. Tiap hari keberadaan infographic makin mudah kita temukan. Semakin banyak.
Infographic apabila dijelaskan dalam bentuk Infographic (silakan ambil nafas dulu bila membaca kalimat ini malah terasa mbulet. hehe) akan menjadi seperti infographic di atas.
Infographic bila dijelaskan dalam sebuah kalimat singkat begini:
Statistical graphics of complex ideas communicated with clarity, precision and efficiency –Edward F Tufte (“The Leonardo Da Vinci Data” The Newyork Times)
Bagaimana? Mudah mana memahami infographic dengan infographic dibanding memahami infographic dengan kalimat/teks definisi?
Bagi saya sendiri, informasi dalam bentuk infographic jauh lebih mudah dicerna dalam waktu singkat dibanding informasi yang disampaikan dalam bentuk lain, misalnya dalam bentuk tulisan narasi apalagi dibandingkan dengan ceramah ala pak lurah. Saya kira Anda dan kebanyakan orang pun kali ini akan setuju dengan saya.
Kemudah diserapan informasi yang disajikan dalam bentuk infographic ini saya yakini akan semakin populer. Mengingat semakin sekarang dan semakin besok, orang selalu serakah ingin mengkonsumsi makin banyak informasi. Sedangkan waktunya selamanya tidak berubah. Sampai kiamat tidak akan ada jam ke-25 dalam sehari. 🙂
Infographic lebih enak dinikmati, lebih jauh mudah dicerna dalam waktu singkat namun memerlukan waktu lebih lama untuk membuat sajian Infographic. Setidaknya bila kita ingin membuat infographic yang benar-benar infographic, tidak asal-asalan. Membuat Infographic membutuhkan keterampilan dan pengetahuan baru. Langsung jadi teringat dengan buku Envisioning Information, oleh penulis yang kutipannya telah saya tempel di atas, Edward F Tufte, hihi
Nah, untuk bersiap-siap belajar membuat Infographic ini, sambil menulis posting ini saya meng-install Inkscape di Ubuntu saya, untuk melengkapi Gimp yang sehari-hari telah sedikit saya gunakan untuk mempermanis foto-foto saya. Menggunakan Inkscape dan GIMP itu sendiri saya belum pintar, masih perlu banyak belajar. Mengingat latar belakang belajar olah graphic saya dulu di Sisop tetangga. hehe.
Sebenarnya untuk membuat Infographic telah ada tool/layanan online. Salah satunya adalah Infogr.am. Saya belum banyak mengeksplorasinya. Namun saya pikir ini bagus sebagai awal untuk memula membuat Infographic.
Jadi kapan kita akan mulai belajar. Harusnya kamarin, sekarang apa besok? 😀
Membaca di timeline Twitter –lagi-lagi bacaan saya adalah timeline twitter, tidak mengapa, toh begini nasib menjadi bagian dari generasi menunduk– bahwa Ngonoo.com dan Opera akan mengadakan meet up yang bertempat di University Club Universitas Gajah Mada. Waktunya hari Rabu, tanggal 18 Desember 2013, atau persisnya kemarin petang. Acara itu sendiri sekaligus bermaksud memperkenalkan browser baru besutan Opera yang diperuntukan bagi Tablet, khususnya iPad. Tablet browser itu, begitu kemudian saya menyebutnya, adalah Coast by Opera.
Opera adalah web browser yang sudah lama saya kenal. Di lingkungan desktop saya mengenalnya sebagai browser yang ringan, yang ramah dengan sumber daya komputer yang pas-pasan. Jadi tidak heran bila di tiap komputer yang saya pakai selalu ada Opera terpasang di dalamnya. Di lingkungan ponsel apalagi. Malah saya sejak lama menggunakan Opera sebagai web browser utama saya. Saat itu ketika saya mempunyai ponsel Sony Ericsson W200i tidak saya ketahui ada mobile browser yang lebih baik dibanding Opera Mini. Opera Mobile dan Opera Mini kemudian selalu menjadi mobile browser wajib untuk ponsel saya berikutnya. Opera Mobile pun terpasang di Blackberry dan Android yang saya pakai sekarang ini. Namun Coast by Opera adalah nama baru bagi saya.
Coast by Opera saja tidak tahu. Bagaimana saya sebagai seorang yang mengaku blogger tidak merasa gagal? Tidak merasa gaptek? hehe. Untungnya bacaan tentang Coast by Opera sudah terpampang secara gamblang di situs Anti Gaptek NGONOO.com. Bagi yang merasa gaptek Coast by Opera seperti saya silakan membaca artikel: Yuk Kenalan Sama Coast, Browser Baru dari Opera dan: Cost dari Opera, Lebih Ramping dan Lebih Cepat.
Membaca-baca kedua artikel di situs Anti Gaptek Ngonoo.com bukannya membuat saya puas, melainkan membuat penasaran saya menjadi-jadi. Saya pun googling sana sini mencari bacaan terkait Coast by Opera. Offial web dan Official Blog Coast by Opera yang saya ketemukan pun akhirnya kemarin saya tweet:
cost by opera promises bringing web browsng into apps-like experience http://t.co/zH3eEZnCtg sadly coast only runs on iPad 😦 #coastbyopera
Belum juga puas dengan membaca, kemudian saya memutuskan untuk mendengar langsung apa kata Huib Kleinhout (Head of Coast by Opera Software) yang akan sharing tentang pengalaman dan inspirasinya selama mengembangkan tablet browser yang disebut-sebut revolusioner ini.
Janjian dengan Paman Jauhari untuk turun gunung dari Yogyakarta lantai 2  selepas waktu Ashar membuat saya tidak khawatir terlambat mengikuti event ini. Saya bahkan merasa beruntung karena sebelum menuju ke University Club UGM, saya terlebih dulu diajak Paman Jauhari jalan-jalan ke Head Quarter NgonooCom. Orang-orang kreatif dan suasana kerja di HQ NgonooCom saya lihat tidak kalah menyenangkan dibandingkan dengan kantor Google. 🙂
Menjelang maghrib saya kemudian dibawa Paman Jauhari meluncur ke UC UGM. Di Ruang Yustisia lantai 2 University Club saat itu saya lihat tim Ngonoo dan tim Opera sedang mempersiapkan acara sampai beberapa saat kemudian peserta meet up mulai berdatangan. Acara pun segera dimulai begitu peserta Meet Up melakukan registrasi dan makan malam.
Rupanya sharing dengan Mr Huib Kleinhout jatuh pada sesi kedua. Sesi yang pertama diisi oleh Paman Irwan Kartadipura. Beliau adalah founder dari IndoCPA Network. Topik yang dibawakannya adalah bagaimana menghasilkan uang dengan perangkat bergerak yang tiap hari kita gunakan. Sebuah topik menarik yang mungkin akan saya tulis dalam posting terpisah. Fokus saya kali ini adalah Mr Huib yang ganteng. 😉
Yang saya tunggu-tunggu pun tiba. Seorang Huib yang semangatnya berapi-api pun segera mempresentasikan apa yang ia sebut future mobile browser, apa yang ke depan ia inginkan bisa dilakukan oleh mobile/tablet browser dan pengalaman pengguna seperti apa yang ia mimpikan. Sampai hadirlah apa yang dibawa sekarang. Yaitu Coast atau Coast by Opera. Sebuah tablet browser yang sekarang dikhusukan untuk iPad.
Designed for touch. Menurut Huib, terlalu banyak mengetikan input dalam berinternet itu sudah tidak jaman. Membosankan. Kita sekarang sudah bukan jaman hidup di era DOS yang mana segala sesuatunya harus diketikan pada command prompt. Itulah kenapa Coast menawarkan bookmark yang lebih baik, dihilangkannya tab, tombol back dan forward, address bar, dan lain-lain. Coast by Opera menggantikanya dengan Swipe and Gesture.
Simplicity. Kesederhanaan user interface pada Coast dengan dihilangkannya beberapa element yang umum ditemukan pada web browser kebanyakan seperti yang saya sebutkan sebelumnya.
Apps like experience. Coast mengajak pengguna untuk merasakan pengalaman baru dalam berinternet. Sudah saatnya setiap website diperlakukan seperti halnya aplikasi secara terpisah. Bayangkan bila anda sedang membaca sebuah portal berita dan disaat bersamaan anda ingin mendengarkan music streaming dari suatu web. Susah ya bila hanya dibayangkan. Makanya segera install Coast by Opera di iPad Anda, hehehe
Versi saat ini Coast by Opera bisa dipasang pada semua iPad kecuali iPad generasi pertama. Coast by Opera bisa diunduh dari App Store dan digunakan secara gratis.
Ada banyak sekali pertanyaan yang dilayangkan oleh peserta yang menyesaki Ruang Yustisia kepada Mr Huib pada sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan yang bagi saya menarik adalah:
Pertanyaan Mas Sandalian: What is the running engine behind Coast  by Opera? Is it Presto, the same engine used on Opera Desktop? Jawabnya, ternyata Coast by Opera menggunakan Webkit yang telah di-open source-kan oleh Apple.
Pertanyaan menarik berikutnya adalah: Kapan Coast by Opera tersedia bagi platform OS yang lain. Jawabnya: tunggu saja. 🙂 Saya sendiri kemarin mempunyai sebuah pertanyaan yang saya tweetkan, hehe
I have a question to Mr Huib Kleinhout: Can users syncronize #coastbyopera browser if they have it installed on multiple device? @ngonoocom — jarwadi MJ (@jarwadi) December 18, 2013
Tahu apa jawabnya? Jawabnya: Tunggu saja versi Coast by Opera berikutnya. Saat ini usia Coast baru beberapa bulan saja. Tapi mengingat antusiasme pengguna yang sangat tinggi dari seluruh dunia, saat ini Coast telah menjadi aplikasi popular di Appstore, penambahan fitur sesuai kebutuhan pengguna tentu adalah masukan berarti. 😀
Acara yang sangat meriah ini tambah meriah dengan dibagikannya goody bag dan doorprize. Ada banyak souvenir yang dibagikan kepada penanya, kepada partisipant dan kepada siapa saja yang beruntung melalui mekanisme pengundian. Saya pun turut kebagian keberuntungan. Tweet saya rupanya menarik perhatian tim Meet Up Opera dan NgonooCom sampai saya diberikan sebuah kaos eksklusif NgonooCom. Meski ukuran kaos untuk saya itu tidak cukup compatible alias kedodoran dengan tubuh saya yang portable. Saya dapat kaos ukuran L, harusnya M. Tubuh saya itu melalui proses yang sama yang digunakan processor Intel Hashwell, teknologi 22 nano, hehehe. Terimakasih kaos nya ya 🙂
Ooiya, karena tulisan saya sudah terlalu panjang, sudah adzan maghrib pula, lesson learned/hikmah yang ingin saya sampaikan adalah:
1. Rajin-rajinlah membuka website NgonooCom agar Anda tidak gaptek dan selalu update. Ketidak tahuan saya akan Coast by Opera agar jangan sampai terulang.
2. Untuk merasakan user experience yang ditawarkan Coast by Opera adalah dengan memasang Coast by Opera di iPad Anda sendiri. Bila belum punya segera beli. Kecuali Pak Nugrahadi yang kemarin mendapatkan doorprize iPad Mini. Titik
Om @BabadDito sedang mempresentasikan TemanDev di Telkom JDV
Acara  di Telkom Jogja Digital Valley ( @Telkom_JDV) sebenarnya sudah dilangsungkan pada beberapa pekan lalu. Tetapi saya tidak akan merasa terlambat untuk mempostingya di sini. Karena sesuai tagline dari blog ini “Menuliskan Sebelum Terlupakan”, jadi tidak ada kata terlambat terlambat sepanjang saya masih ingin mengingat apa saja yang ingin saya ingat. hehe
Saat itu saya memang ingin meluangkan waktu untuk mengikuti acara yang akan dihadiri oleh banyak teman developer aplikasi mobile di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Dan syukurlan keinginan saya itu kesampaian. Sesampainya di Gedung Telkom JDV saya langsung bertemu dan bisa ngobrol-ngobrol santai dengan beberapa teman developer mobile, yang kebanyakan adalah pengembang mobile game. Apa yang paling menarik dalam ngobrol-ngobrol dengan developer game adalah ide-ide mereka yang kreatif, hehe.
Tidak lama berselang, setelah berkumpul kira-kira 50an yang hadir, acara yang diisi dengan presentasi teman saya, @Bababdito pun segera dimulai. Seperti yang sudah-sudah Om @Bababdito selalu membawakan presentasi secara menarik. Presentasi yang terlihat sangat memberikan inspirasi bagi teman-teman developer yang muda-muda ini untuk mulai melihat peluang dari hobby yang mereka tekuni.
Seperti kita  tahu,  programmer/developer adalah orang mengerjakan passion mereka. Seolah berbeda tipis dengan orang-orang yang bermain-main dengan hobby mereka. Mereka tidak akan pelit dengan waktu untuk katakanlah mengembangkan aplikasi mereka. Pertanyaannya: Bagaimana melihatnya sebagai Potensi Bisnis di Era Digital.
Om @Bababdito mempresentasikan dengan gamblang bahwa “potensi” ini terbuka lebar. Tidak hanya menjelaskan dengan berandai-andai, lebih lanjut Om @Bababdito yang notabene adalah: Manager Mobile Apps Developer Community Telkomsel ini menjelaskan Program dari Telkomsel untuk bermitra dengan Developer Lokal dalam suatu model bisnis yang baik. Yaitu: TemanDev
Untuk lebih jelasnya silakan lihat presentasi Om @Bababdito di slide berikut:
Timeline twitter saya pada siang hari ini dimeriahkan oleh dua hashtag seperti yang saya gunakan dalam judul tulisan kali ini. Yaitu #BanggaPakaiFirefox dan #FirefoxBatik . Memang, awal pekan ini adalah minggu ke-empat Mozilla melangsungkan kuis (atau kontes) #FirefoxBatik dan #BanggaPakaiFirefox . Kuis yang bertujuan untuk menggiatkan penggunaan browser berkode sumber terbuka produk dari keluarga Mozilla, yaitu Mozilla Firefox bagi pengguna internet di Indonesia. Browser yang dicikal bakali oleh Netscape Navigator yang pada hari ini 19 tahun yang lalu diluncurkan ke publik. Atau bila boleh, pada hari ini saya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun Firefox, semoga semakin memberi manfaat bagi umat manusia.
Tidak hanya latah menggiatkan penggunaan produk web browsernya, Mozilla dengan #FirefoxBatik sekaligus membawa sesuatu yang berbeda ke dunia internet. Mozilla membawa Batik Indonesia untuk masyarakat pengguna Internet. Dibawanya Batik kepada masyarakat pengguna Internet oleh Mozilla Firefox tentu saja membuat semua orang Indonesia termasuk saya merasa sangat bangga. Bangga dalam arti yang utuh karena add on #FirefoxBatik yang membawa motif sangat Indonesia ini benar-benar Indonesia, Indonesia banget begitu, karena dirancang dan dikembangkan oleh tangan anak bangsa sendiri. Mau tahu siapa Mozillian dibalik #FirefoxBatik? Beliau adalah Pak Hendra AB. Baca selengkapnya di sini
Sebagai bentuk kebanggaan dan kecintaan saya terhadap Batik sebagai budaya asli Indonesia, dan sekaligus apresiasi saya terhadap pengakuan Mozilla Firefox terhadap Batik Indonesia, saya pun langsung memasang add-on #FirefoxBatik di web browser Mozilla Firefox di laptop yang saya pakai sehari-hari.
Seperti yang terpampang di atas, saya memasang add on #FirefoxBatik pada tanggal 21 Nopember 2013. Saya sekaligus turut berpartisipasi dalam kontes #FirefoxBatik dengan mengambil tangkapan layar, men-twitpic tangkapan layar #FirefoxBatik sekaligus membuat ulasan tentang #FirefoxBatik di akun AMO saya yang bisa dibaca di sini.
Dan saya bersyukur untuk beberapa waktu kemudian melalui akun twitter @Firefox_ID saya membaca pengumuman bahwa saya menjadi pemenang Kontes #FirefoxBatik Minggu pertama.
Senang sekali bukan, sudah digratisi web browser berkode sumber terbuka, tema Batik Indonesia yang sangat keren, masih menang kontes mingguan lagi. Sambil menulis posting blog ini saya masih harap-harap sambil berdoa menjadi pemenang utama kontes #FirefoxBatik yang berhadiah sangat fantastis. Cek apa saja hadiah bagi para pemenang kuis #FirefoxBatik dan #BanggaPakaiFirefox di sini. 🙂
Jadi bagaimana? Bila Anda suka batik seperti saya, bangga dengan batik seperti saya, bangga pakai Firefox seperti saya, bangga pakai #FirefoxBatik seperti saya, kenapa tidak berpartisipasi dalam kontes #FirefoxBatik dan #BanggaPakaiFirefox ? Jangan sia-siakan kesempatan yang masih beberapa Minggu ini dan semoga Anda menjadi pemenang seperti saya.
Mengikuti kontes #BanggaPakaiFirefox dan #FirefoxBatik itu sendiri sangat mudah. Tata caranya bisa Anda baca di:
Oh, iya.. Posting ini pun saya buat dengan menggunakan web browser Mozilla Fifefox dengan tema #FirefoxBatik yang tampilan warna-warninya menggairahkan.
Kadang-kadang sebuah cita-cita tiba-tiba tercapai secara kebetulan, hehe. Kalau kejadiannya seperti ini tidak bisa disebut cita-cita ya. Sebut saja kebetulan. Karena toh semua cita-cita harus dikejar. Kalau perlu sampai ke langit ke tujuh.
Adalah ‘cita-cita’ lama saya untuk memotret pelangi dengan tangan saya sendiri yang kemarin menjelang petang tiba-tiba tercapai. Secara kebetulan.
Kemarin sore itu ceritanya begini:
Ketika saya sedang rebahan di rumah karena hujan dan mendung yang terus menggelayut, secara tiba-tiba saya dikagetkan oleh cahaya warna jingga yang menerobos ke dalam rumah. Spontan saya mengira itu semburat senja. Saya langsung meraih ponsel untuk membingkai senja berornamen jingga.
Dan memang benar, semburat senja warna jingga yang menerobos awan sisa hujan itu ada di ufuk barat. Saya berusaha mencara tempat memotret yang bebas halangan. Dan mata saya yang ‘pencilakan’ alih-alih menangkap pesona yang tiba-tiba saya ingat saya cita-citakan untuk saya potret sejak lebih dari 3 tahun yang lalu. Pelangi yang terbentang berhadapan dengan ufuk senja.
Saya pun segera berbalik haluan. Kalau tadi saya mencari hamparan agar leluasa menangkap senja. Kali ini saya tidak akan menyiakan pelangi ini. Tahukah kalau saya langsung berlari ke tengah sawah demi pelangi. Saya tidak peduli menjadi basah, kotor dan kedinginan. Saya tahu pelangi tidak akan hadir lama. Saya tidak boleh menyiakan untuk segera memotret pelangi yang kehadirannya sejak lama dinanti.
Pelangi sore kamarin petang itu mengajarkan kepada saya sesuai. Memotret sesuatu yang langka, memotret sesuatu yang telah ditunggu lama tapi hadir secara tiba-tiba itu tidak mudah. Memotret pelangi yang diam ini pun tidak mudah. Ketika pelangi yang saya tunggu hadir, saya malah nerveous, gugup. Saya bingung sendiri mau memotret pelangi dengan angle seperti apa, dengan komposisi yang bagaimana, bahkan saya kebingungan dan grogi sampai kelupaan bagaimana mengatur setting pada camera ponsel saya. Coba kemarin saya memakai camera DSLR, pasti tambah kacau sampai tidak jadi motret keburu pelanginya menghilang, hehe
Semoga besok pelangi datang lagi, dan saya dalam kondisi yang lebih siap. 🙂
Lebih dari seminggu menunggu-nunggu digelarnya acara Startup Day dan Startup Pitching di Telkom JDV Yogyakarta yang digelar hari Rabu, 11 Desember 2013 kemarin pun berakhir dengan kecewa. Bukan kecewa karena acaranya, tetapi saya kecewa karena saya sendiri tidak bisa datang. Saya hanya bisa kecewa di tengah hujan lebat tak henti yang mengguyur Jogja sambil sekelali mengintip timeline twitter.
Yah, hujan sesorean sampai malam kemarin berhasil menghalangi jalan saya ke JDV dari Yogyakarta lantai 2. Sebagai pengingat kekecewaan saya, berikut ini saya tempel serangkaian twit dari akun @Telkom_JDV
Sudah 2 startup yang present di Jogja Pitching Competition #JSD2013. Masih ada 8 startup lagi, mari rasakan keseruannya sebentar lagi!
Saya mengucapkan selamat kepada semua startup. Bagi saya semua startup adalah para juara, para pemenang yang telah memenangkan pertarungan dengan susahnya memulai sesuatu dan memperjuangkannya sampai bentuk yang lebih kongkrit. Tanpa mengurangi respect saya kepada pemenang yang dipilih oleh yuri, yaitu Amagine Interactive, Fitinline.com , http://Getourguide.com , LendaBook.co, http://Pasarcepat.com  bahwa kemenangan berdasarkan seleksi yuri adalah sebagai bonus saja. Pertarungan sesungguhnya yang lebih layak dimenangkan adalah persaingan dan pasar.
Sudah beberapa tahun saya tidak meminum minuman dingin/minuman ber-es. Kenapa? Itu sejak saya merasa mudah sekali sakit, entah itu pilek, radang tenggorokan, demam dan sejenisnya. Apalagi saya mulai mengalami gangguan pencernaan/maag. Jadi sejak saat itu saya tidak mau mengambil resiko sakit dengan meminum semua jenis minuman ber-es. Artinya saya merelakan kenikmatan meminum minuman ber-es berpisah dengan kehidupan saya. 😀
Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, dengan perasaan was-was saya memaksakan diri meminum es. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir saya meminum es lagi. Es pertama yang saya minum adalah Es Degan. Meminumnya pada tengah hari yang panas di Pantai Sepanjang. Saya meminum Es Degan traktiran teman saya Wawan. Orang bilang semua makanan dan minuman gratis itu selalu nikmat. Untuk kali itu rasanya memang seger-seger nikmat di sela-sela kekhawatiran akan sakit lagi. Untungnya sampai beberapa hari kemudian saya mendapatkan diri tidak sakit. Saya sehat tak kurang suatu apa.
Es kedua yang saya minum adalah Iced Chocolate Frappe di JCO Ambarukmo Plaza. Kali ini karena saya salah pesan. Sebenarnya saya ingin memesan Non Iced Chocolate Frappe. Karena sudah terlanjur dipesan dan dibayar ya saya dengan galau memutuskan untuk meminumnya saja. Kali ini saya mulai sedikit berani mengambil resiko. Meski kekhawatiran sakit karena es tetap saya ceritakan dengan teman minum saya, Puji Wijaya.
Es Degane
Minggu  kemarin adalah untuk ketiga kalinya saya meminum Es. Siang yang cukup panas setelah berjalan-jalan mengantarkan teman saya, Prita, mengelilingi lokasi wisata Air Terjun Sri Gethuk adalah dorongan yang sulit ditahan untuk tidak meminum Es. Apalagi penjual Es Degan terlihat dimana-mana, hehe.  Kalau kali ini saya memang sudah kepingin meminum es beneran. Pengalaman 2 kali meminum minuman ber-es dan tidak sakit membuat saya makin berani saja.
Dan Alhamdulillah 3 kali meminum es dalam satu bulan terakhir ini tidak membuat saya sakit. Apakah ini berarti Minuman ber-es sudah halal untuk saya? 😀