Menara Mercusuar Pantai Baron, Menikmati Keindahan dari Ketinggian

Menara Mercusuar Tanjung Baron/Tanjung Baron Light House Tower

Menara Mercusuar Tanjung Baron/Tanjung Baron Light House Tower

Pantai Baron itu membosankan! Tidak ada kok istimewa-istimewa -nya dibanding pantai-pantai lain di Gunungkidul.

Ah, siapa bilang? Baca lebih lanjut

Pelangi Itu Akhirnya Hadir

Kadang-kadang sebuah cita-cita tiba-tiba tercapai secara kebetulan, hehe. Kalau kejadiannya seperti ini tidak bisa disebut cita-cita ya. Sebut saja kebetulan. Karena toh semua cita-cita harus dikejar. Kalau perlu sampai ke langit ke tujuh.

Adalah ‘cita-cita’ lama saya untuk memotret pelangi dengan tangan saya sendiri yang kemarin menjelang petang tiba-tiba tercapai. Secara kebetulan.

Kemarin sore itu ceritanya begini:

Ketika saya sedang rebahan di rumah karena hujan dan mendung yang terus menggelayut, secara tiba-tiba saya dikagetkan oleh cahaya warna jingga yang menerobos ke dalam rumah. Spontan saya mengira itu semburat senja. Saya langsung meraih ponsel untuk membingkai senja berornamen jingga.

Dan memang benar, semburat senja warna jingga yang menerobos awan sisa hujan itu ada di ufuk barat. Saya berusaha mencara tempat memotret yang bebas halangan. Dan mata saya yang ‘pencilakan’ alih-alih menangkap pesona yang tiba-tiba saya ingat saya cita-citakan untuk saya potret sejak lebih dari 3 tahun yang lalu. Pelangi yang terbentang berhadapan dengan ufuk senja.

Saya pun segera berbalik haluan. Kalau tadi saya mencari hamparan agar leluasa menangkap senja. Kali ini saya tidak akan menyiakan pelangi ini. Tahukah kalau saya langsung berlari ke tengah sawah demi pelangi. Saya tidak peduli menjadi basah, kotor dan kedinginan. Saya tahu pelangi tidak akan hadir lama. Saya tidak boleh menyiakan untuk segera memotret pelangi yang kehadirannya sejak lama dinanti.

 

Pelangi sore kamarin petang itu mengajarkan kepada saya sesuai. Memotret sesuatu yang langka, memotret sesuatu yang telah ditunggu lama tapi hadir secara tiba-tiba itu tidak mudah. Memotret pelangi yang diam ini pun tidak mudah. Ketika pelangi yang saya tunggu hadir, saya malah nerveous, gugup. Saya bingung sendiri mau memotret pelangi dengan angle seperti apa, dengan komposisi yang bagaimana, bahkan saya kebingungan dan grogi sampai kelupaan bagaimana mengatur setting pada camera ponsel saya. Coba kemarin saya memakai camera DSLR, pasti tambah kacau sampai tidak jadi motret keburu pelanginya menghilang, hehe

Semoga besok pelangi datang lagi, dan saya dalam kondisi yang lebih siap. 🙂

 

Camping Ceria, Goa Senen, Pantai Siung

Siang itu mendung masih menggelayut dan sesekali gerimis jatuh. Saya masih tidur-tiduran dibelai hawa malas akhir pekan. Keinginan saya untuk mengikuti caving Goa Senen, Camping Ceria di Pantai Siung dan eksplorasi Pantai Ngetun bersama teman-teman Photography Gunungkidul masih menggantung. Pikir saya apa asyiknya kemah dan eksplorasi pantai tanpa cuaca bagus. Apa enaknya tidur beratapkan tenda yang diguyur hujan. Sementara Goa Senen merupakan nama goa yang baru saya dengar. Belum ada yang membawa untuk saya kabar keindahan Goa Senen yang menghebohkan. Paling-paling Goa Senen itu biasa-biasa saja, dalam hati saya berguman.

Tetapi Sabtu siang itu tiba-tiba saya berangkat. Hanya dengan berbekal naluri. Bagaimana tidak. Jam satu lebih saya belum mempersiapkan apa pun. Dengan tergesa-gesa saya mengemas satu setel pakaian ganti, ponsel, kamera praktis dan toiletris. Ah iya saya juga harus membawa biskuit dan apel karena siang itu saya belum sempat makan siang. Saya segera memacu motor ke arah Lembah Ngingrong.

Dan benar saja, di Lembah Ngingrong sudah berkumpul beberapa orang teman GP, seingat saya Mas Joko, Depri, Hery Fosil, Totok dan Hari Widodo. Hore saya tidak jadi ketinggalan. Dan hore lagi masih menunggu beberapa teman yang masih di perjalanan. Ini bisa saya manfaatkan untuk “makan siang” saya yang tertunda.

Menempuh perjalanan jauh dengan mengendarai sendiri sepeda motor merupakan pengalaman tersendiri, pengalaman pertama saya. Desa Purwadadi Kecamatan Tepus dimana Goa Senen berada memang masih kabupaten Gunungkidul, tetapi bisa dibilang jarak yang jauh untuk ditempuh dengan motor. Apalagi jalanan pegunungan yang naik turun berkelok elok. Apalagi lagi beberapa kilometer terakhir menuju gua merupakan jalanan batu dan cor blok yang sangat ekstrim.

Perjalanan menuju goa harus dilanjutkan dengan berjalan kaki kira-kira 1 km. Motor kami parkir di pinggir jalan berbatu di sekitar ladang pertanian. Tidak perlu khawatir dengan keamanan motor yang ditinggal. Bapak Suroyo (Kabag Pembangunan Desa Purwadadi) menjelaskan keamanan sepeda motor yang diparkir di sini akan aman-aman saja. Suasana tanpa kekhawatiran memang nampak di kanan kiri jalan menuju goa. Sapi-sapi penduduk yang aman-aman saja dikandangkan di lokasi yang jauh dari pengawasan.

Kira-kira Pukul 16 WIB kami sudah mencapai mulut Goa Senen yang kecil yang terletak di suatu bukit.

Goa Senen adalah goa vertikal yang untuk mencapai dasar goa harus menuruni sekitar 30 meter ketinggian. Untuk aman menuruni ketinggian ini teman-teman memilih menggunakan teknik SRT (single rope transport). Saya sendiri awam terkait SRT. Apa yang perlu saya lakukan hanya mempercayakan diri pada kepiawaian Depri, Hery Fosil dan teman-teman saya yang berjam terbang jelajah alam tinggi.

senen_01

senen_02

Baca lebih lanjut