
Garmin VO2 max Prediction Bikin Saya Ge-er



Merupakan produk sepatu lari flagship dari League, Volans mendapat prioritas untuk mendapatkan pembaruan-pembaruan. Tak heran pada generasi ke-4 Volans ini, Evo nampak amat berbeda dibanding pendahulunya, yaitu League Volan 2.5 maupun League Volans 2.0. Perbedaan itu bisa dilihat dari desainnya yang menonjol serta teknologi yang digunakan.
Lomba lari yang bertajuk Sermo Challenge untuk yang ketiga kalinya sudah selesai dihelat pada hari Minggu, 3 Desember 2017. Untuk yang ketiga kalinya pula saya mengikuti event yang selalu digelar pada penghujung tahun itu.
Saya mengikuti event lomba ini secara berturut-turut. Jadi jangan tanyakan apakah Sermo Challenge merupakan lomba yang bagus atau bukan. Saya pasti punya alasan yang kuat untuk mengikuti satu event lari sampai berturut – turut 3 kali. Bahkan seingat saya baru gelaran Sermo Challenge ini, dalam seumur hidup, yang pernah saya ikuti sampai tiga kali.
Sermo Challenge 3 sempat membuat saya galau. Event yang jauh-jauh hari saya ketahui akan diselenggarakan secara lebih kaya dan akan diperbagus dari banyak sisi ini hampir tidak bisa saya ikuti.
Awal November, salah seorang anggota keluarga saya mengabari akan berkunjung pada awal Desember. Antara bahagia dan dilema, saya harus memilih salah satu. Saat itu saya memutuskan untuk menanggalkan Sermo Challenge 3 berharap event ini akan terus diadakan pada tahun berikutnya. Tak dinyana, keluarga kami mengabari tentang perubahan jadwal kunjungannya. Baca lebih lanjut
Berlari di treadmill adalah sesuatu yang amat baru bagi saya. Seumur-umur saya baru sekali mencoba berlari di treadmill. Itu pun langsung memberi pengalaman kurang menyenangkan. Dengkul kanan saya memar terjatuh di treadmill di percobaan pertama saya pada beberapa bulan yang lalu di fitness centre di hotel Pullman Central Park.
Treadmill challenge. Ini membuat saya nervous. Apalagi saya yang akan menjadi kapten tim untuk berlomba dalam 3 Minutes Challenge.
Menerima tantangan untuk membentuk tim yang akan saya kapteni untuk memenangkan 3 minutes treadmill challenge saya tahu tidak akan mudah. Namun saya tahu apa yang pertama kali harus saya lakukan. Pertama-tama adalah mencari anggota agar tim saya memenuhi persyaratan 2 pelari putra (termasuk saya) dan 2 pelari putri. Satu syaratnya lagi adalah pelari yang boleh direkrut adalah para pelari non atlet.
Mencari pelari untuk diajak bergabung menjadi bagian tim saya sepintas nampak mudah. Toh selama ini saya cukup aktif di komunitas – komunitas lari. Baik di Facebook maupun Instagram saya juga mempunyai banyak kawan pelari.
Kenyataannya menggemaskan. Tawaran pertama saya ditolak oleh Sri Kustadi. Dengan berbagai alasan mahasiswa pasca sarjana UGM sekaligus pelari Purworejo Runner ini tidak mau bergabung. Baca lebih lanjut
Sebenarnya saya tidak pernah berniat untuk mengikuti ajang lomba lari ini. Saya mengikutinya karena “kecelakaan”. Kecelakaan itu berupa salah kirim biodata. Saya salah mengirimkan biodata saya kepada teman yang celakanya adalah seorang petugas pendaftaran kolektif komunitas untuk Malioboro Kulinerun.
Terlanjur, saya pun memilih kategori 10K. Biar uang pendaftaran yang saya bayarkan pas, Rp 100.000,-. Lagi pula bagi pendaftar kolektif komunitas mendapatkan potongan harga Rp 25.000,- dari harga umum Rp 125.000,-
Sehari menjelang lomba, di grup komunitas ada update informasi. Berisi mengenai perubahan jadwal/rundown acara Malioboro Kulinerun. Bila di website, lomba lari akan dimulai pukul 07.00 pagi, disebutkan di grup lomba ini akan dimulai pukul 06.00 pagi. Saya yang rumahnya berjarak 50 km dari tempat lomba terpaksa berangkat lebih awal dari yang sebelumnya kami rencanakan.
Sampai di Hotel Grand Inna Malioboro dimana lomba akan diselenggarakan pada sekitar pukul 05.20 baru nampak sedikit peserta dan panitia di lokasi. Bagi saya ini menguntungkan karena saya masih bisa memarkir motor di lingkungan hotel.
Malioboro Kulinerun 2017 tidak benar-benar dimulai pada pukul 06.00 pagi. Peserta lomba baru mulai berkumpul di garis start sekitar pukul 06.10. Melewati beberapa rangkaian acara seperti pemanasan berupa senam Zumba, pementasan tari tradisonal dan sambutan-sambutan, bendera start dilakukan sekitar pukul 06.30 pagi. Untuk kategori lomba 5K dan 1.5K akan dilepas kemudian.
Untungnya, cuaca Jogja, 26 November 2017 itu cukup sejuk, tidak panas karena sisa-sisa hujan yang mengguyur selama beberapa hari terakhir.
Menurut saya Malioboro Kulinerun 2017 adalah cara lain menikmati kota Jogja. Saya sebagai orang Jogja merasa heran merasakan sendiri Jalan Malioboro bisa benar-benar ditutup, bisa dinikmati karena steril dari kendaraan bermotor. Andai saya tidak berlari pemandangan bebas kendaraan di area O KM, cityscape Gedung DPRD Propinsi, Gedung Kepatihan, Gedung Istana Negara sampai Gedung BNI merupakan obyek foto yang ciamik.
Namun berlari mengikuti rute 10K di sepanjang jalan KH Ahmad Dahlan, jalan KH Wahid Hasyim, jalan MT Haryono, jalan Kol Sugiyono, jalan Taman Siswa sampai jalan Mataram, para pelari harus berbagi jalan dengan pengguna lalu lintas. Meski saya tidak merasa khawatir karena marshall dan polisi bisa menjalankan tugas dengan baik mengamankan para pelari.
Water Station untuk kategori 10K saya menemukan ada 3. Masing-masing menyediakan air mineral dan isotonik dalam jumlah yang melimpah. Saya bahkan selalu mengguyurkan beberapa gelas air mineral untuk mendinginkan tubuh.
Cek poin untuk kategori 10K saya jumpai ada 1 saja, terletak di ujung Jalan Taman Siswa. Di Cek poin untuk masing-masing pelari diberikan satu kalung warna ungu sebagai bukti pelari itu telah melintasi rute seharusnya.

Semua ruas jalan yang dipilih sebagai rute Malioboro Kulinerun 2017 adalah jalan aspal yang bagus. Setengah rute 10K cenderung menurun. Setengah terakhir cenderung menanjak tipis. Pelari yang sudah jarang latihan seperti saya akan menikmati kecepatan di setengah rute. Setengah berikutnya adalah masalah. Berlari di jalan yang menanjak tipis di KM akhir tidak mudah. Saya berhenti beberapa kali sampai akhirnya saya memberikan sedikit push di KM terakhir. Bukan untuk mengejar Personal Best melainkan agar seolah – olah saya nampak seperti pelari.
Sayangnya di area finish gate saya tidak melihat banyak photographer. MC pun suaranya tidak saya dengar menyambut pelari yang akan menginjakkan kaki di garis finish.
Di garis finish pelari tidak bisa langsung mendapatkan minuman. Pelari harus mengantri untuk mengambil air mineral, refreshment fruit, medal dan finisher tee. Saya yang masih terengah – engah menjadi frustasi melihat ularan antrian pelari kategori 5K yang sudah finish lebih dulu.
Saya memilih minggir untuk mematikan aplikasi tracking di handphone. Sambil terengah-engah saya mendapatkan Strava menginformasikan bahwa saya baru saja selesai berlari sejauh 9.8 KM dengan pace 4.42. Sambil sepatah dua patah kata ngobrol dengan teman yang finish duluan, saya pun menenggak air mineral yang saya minta darinya.
Merasa tenggorokan sudah cukup basah, saya kemudian ikut masuk ke dalam antrian. Bila menundanya saya khawatir antrian akan memanjang. Dalam beberapa menit saya pun bisa mendapatkan sebotol air mineral, satu paket refreshment fruit dan sepotong kaos finisher.
Masih mendapatkan bagian kaos finisher berarti saya masih masuk 25 pelari 10K yang paling awal mencapai finish. Melihat masih banyak tumpukan kaos finisher 10K saya memprediksi saya mencapai garis finish antara no 10 – 15.
Untuk lomba lari dengan biaya pendaftaran yang murah, Rp 125.000,-, menurut saya fasilitas yang didapatkan pelari selama mengikuti Malioboro Kulinerun cukup baik. Sebut saja medal yang cukup baik, race jersey, finisher tee, aneka makanan seperti gudeg, pecel dan soto yang kesemuanya bisa dinikmati gratis.
Sambil menunggu awarding, karena salah seorang anggota komunitas kami podium 2 untuk kategori 2.5K, kami pun duduk di depan panggung menikmati aneka band performing.

Mengusung konsep Fun Run, Malioboro Kulinerun yang diikuti sekitar 1.500 pelari itu memang tidak dilengkapi dengan chip time dan official race result, namun demikian bila tahun depan akan diadakan lagi, Malioboro Kulinerun adalah salah satu event yang saya rekomendasikan.
Sedikit saran saya untuk panitia sebaiknya Malioboro Kulinerun dilengkapi dengan official photographer. Jadi event ini akan membuat peserta terkesan lebih lama.
ikut jakarta marathon rasanya kurang afdol bila belum ikut-ikutan menuliskan kisah heroik selama berlari di lomba yang terkenal garang, kejam nan brutal itu.
agar punya waktu leluasa untuk persiapan dan pemanasan di race central, saya meninggalkan hotel sekira pukul 3.30 am. tiba di monas masih gelap. pukul 3.50 am.
sayang sekira pukul 4.10 am baru open gate. terlambat dari jadwal yang dalam publikasi disebut pukul 3.00 am. saya dan para pelari yang ada di bagian belakang ularan antrian jelas geram.
petugas drop bag yang melayani antrian amat panjang nampak tak gegas, tak menghargai arti waktu bagi pelari. saya banyak menghabiskan waktu di sini sebelum saya berlari mencari mushala untuk shalat subuh.
mushala dan fasilitas wudlu sangatlah terbatas. para pelari muslim harus pandai-pandai berbagi fasilitas seperti saling pinjam sandal, sarung, dan sebagainya.
antrian toilet bagi saya adalah mula dari drama. setahu saya hanya ada 2 mobil toilet portable. sedangkan saya berada di antrian di belakang ratusan orang. saya mengantri menahan pipis sekaligus harap cemas mengingat waktu semakin mendekati jam 5.00 am
setahu saya flag off fm dijadwalkan jam 5.00 am. jam lima kurang beberapa detik saya sprint menuju garis start.
dari kejauhan nampak pelari yang berjubel sudah banyak sekali. sayup-sayup terdengar mc mengumumkan “… kategori hm akan diberangkatkan lebih dulu, kategori yang lain berikutnya …”
dalam benak saya berpikir, ini aneh kenapa kategori hm di-start lebih dulu dari kategori fm, apa karena sandiaga uno, pak wagub ikut kategori ini.
setelah cukup waktu berpikir dan melihat-lihat keadaan, ternyata kategori lomba fm sudah start. saya langsung panik. akan tetapi langsung berlari saat itu juga tidak memungkinkan. saya menungu kategori hm dilepas dan keadaan memungkinkan untuk menembus kerumuman peserta hm yang amat banyak itu.
menunggu seperti ini membuat saya frustasi. apalagi teringat target sub4 yang saya bawa dari kampung halaman. tertinggal start kira 15 menit jelas memupus harap di dada.
akan tetapi saya tidak menyerah begitu saja. i am not give up (yet). bismillah. saya menerjang kerumunan dari belakang. tak terhitung berapa banyak pelari hm yang saya sikut, dorong, tendang. tak terhitung berapa banyak teriakan pisuhan keluar dari mulut saya yang mengering.
saya berlari lebih cepat sejak awal berusaha mengkompensasi 15 menitan ketertinggalan. persetan dengan teori negative split dan pace plan yang sebelumnya saya susun rapi.
berlari brutal sepanjang 3 km ternyata amat melelahkan. saya langsung minum di ws pertama. tidak skip menuju ws 3 seperti yang saya rencanakan.
di km 15 saya mulai mengecek waktu. jam menunjukkan sekitar pukul 6.18 am. permasalahan muncul lagi kalau tidak salah mulai km16 sampai km18. di sana saya harus berjibaku membelah kerumunan pelari 10k dan orang-orang yang berjalan-jalan.
di km 24, rupanya sudah pukul jam 7 lebih. saya sudah berlari lebih dari 2 jam atau sudah sekitar 2.15 terhitung dari gun time kategori hm.
ini menjadi awal bagian berat dari marathon kali ini. menurut perhitungan primbon target sub4 saya sudah terlepas. hitungannya dari mulai berlari saya berlari dengan average pace 5.06 dan bila dihitung dari gun time saya hanya berlari average pace 5.40 untuk 24km pertama. mustahil saya bisa menyelesaikan remaining km dalam pace yang sama. menurut penerawangan saya, km 34 – 41 pasti tidak steril sehingga saya pasti akan berlari stop and go.
saya kemudian bisa berlari dalam pace ini sampai km 26 saja. apa pasal karena ujung kaki saya terasa kaku-kaku dan kadang gagal dikontrol. saya pun mendadak khawatir kram apalagi teringat untuk marathon ini saya tidak sempat melakukan pemanasan.
untuk mencegah situasi buruk saya memilih minggir ke tenda medis untuk semprotan pain killer. saya tidak ingin target tak tercapai dipaket dengan kram dan cedera sepertiga lintasan marathon ini.
usaha menyemprotkan pain killer diikuti mengguyur air dan mengusap sponge es di hampir tiap ws yang tersedia hampir di tiap 1 km ini membantu dengan baik. semua gejala kram berangsur menghilang dan saya bisa berlari dengan santai.
target finish yang terlepas membuat saya mengubah orientasi. saya kali ini memilih piknik menikmati sisa kilo meter dengan mencicipi semua sajian di tiap ws komunitas, bertegur sapa dan menikmati anugrah berupa banyaknya fotografer yang tak akan ada sebanyak ini di lomba lain di indonesia.
saya bisa “nrima”
:-p dan menikmati tanpa ada lagi beban untuk mengejar waktu.
saya berlari lagi di km 41, dipacerin sepanjang beberapa ratus meter oleh Sara Lea Tunas
😀 menjelang finish gate. ini menyenangkan apalagi di finish sudah ada room mate yang menyambut dengan senyum-senyum setelah mungkin sebel menunggu saya tidak finish tepat waktu.
terlepas dari segala drama dan kegagalan sub 4, jakarta marathon adalah race pertama dimana saya tiba di garis finish tanpa terlihat banyak cucuran keringat, selalu banyak guyon (meski diawal ribuan pisuhan seisi kebun binatang terlontar ke udara), tidak begitu cape, tidak kram dan tidak penyot (lha lomba 10k saja saya kadang penyot kok). terbukti kaki saya masih sangat mampu ditopang backpack berisi penuh berlari dari drop off stasiun gambir mengejar taksaka pagi menuju jogja.
bila di lomba lain saya hanya menikmati befoto-foto di race central, di jakmar kali ini saya menikmatinya di course di jalanan. finisher medal saya sampai sekarang masih terbungkus plastik tanpa saya gunakan bernarsis narsis. foto foto yang bertebaran di facebook adalah foto-foto yang diambil oleh fotografer di jalan.
apakah tahun depan saya akan ikut jakmar lagi?
nampaknya saya akan remidi di sana. saya tidak kapok. i am not give up. doakan saya mempunyai rejeki untuk mempersiapkan segala sesuatunya tahun depan.
Positive
Negative

sumber foto: kompas.com
Borobudur Marathon telah rampung. Namun euforia lomba lari yang mengambil start dan finish di Taman Lumbini kawasan Candi Borobudur itu tetap bergempita. Di social media kita dengan mudah menemukan event lari yang diikuti oleh 8.754 orang peserta ini menuai banyak pujian. Bank Jateng Borobudur Marathon oleh banyak pihak bahkan disejajarkan atau bahkan dinilai lebih baik dengan Maybank Bali Marathon dan event-event lari berkualitas di luar negeri.
Ada yang istimewa ketika memperhatikan kategori lomba 10K Bank Jateng Borobudur Marathon 2017. Kategori 10K BJBM 2017 menjadi istimewa karena mempunyai peserta yang amat banyak. Sejumlah 6.322 orang pelari berpartisipasi menjadi peserta dalam kategori ini. Bukan itu saja, Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo pun turun berlomba dalam kategori 10K.

sumber foto: LRB JOGJA
Baca juga review Leaguerunning shoes saya:

sumber foto: LRB JOGJA
Di tengah-tengah ribuan pelari kategori 10K yang mengenakan jersey BJBM 2017 berwarna orange, ada yang nampak mencuri perhatian. Sebanyak 6 orang pelari mengenakan kostum berwarna hijau tosca tambil berbeda di tengah – tengah banjir warna orange. Mereka ber-6 adalah League Running Buddies Jogja yang berlomba menaklukan race course dengan League Volans Evo (mengenai Volans Evo akan saya tulis kelak dalam artikel tersendiri) sekaligus memperkenalkan League Hub Jogja kepada khalayak pelari.
League Hub menurut Asep Hadian (Senior Manager, League Sports Marketing) mirip dengan Kantor Cabang. Selain berfungsi sebagai kantor, League Hub Jogja akan merangkap sebagai Retail Store. Lebih dari itu, League Hub mempunyai fungsi yang lebih luas, menjadi ware house untuk menyuplai toko-toko yang berada di wilayah terdekat HUB tersebut. Nah untuk HUB Jogja ini akan fokus mengcover toko-toko yang menjual produk League di area Solo, Klaten, Purwokerto, Jogja hingga Magelang.
Menurut rencana, League HUB Jogja akan di-launch pada awal Desember tahun 2017. HUB ini akan terletak di Jalan Adi Sucipto – Yogyakarta, berdekatan dengan Rodalink, atau berdekatan dengan jembatan layang Janti.
Diharapkan dengan adanya HUB ini kegiatan supply chain ke toko-toko sekitar lebih cepat dan lebih efektif dibandingkan sebelumnya atau yang masih berjalan saaat ini yang harus dari kantor pusat Jakarta ataupun kota terdekat yaitu Surabaya. Untuk diketahui saat ini League HUB sudah hadir di Bali, Makassar, BSD Tangerang dan Malang,. Jogja adalah yang ke-5 tahun ini dan akan bertambah lagi di kota-kota besar lainnya.
Bagi saya kehadiran League HUB di Jogja menjadi jawaban terhadap sulitnya menemukan produk-produk terbaru League running shoes. Saya masih ingat betapa sulitnya saya pada 2 tahun yang lalu ketika ingin menjajal League Volans 2.0 yang review nya pernah saya tulis di sini.
Harapan saya League HUB Jogja menghadirkan sebuah retail store yang menampilkan produk-produk running shoes terbaru, terletak di lokasi yang mudah diakses dan ramah terhadap komunitas dan para pelari di Jogja dan sekitarnya. Sehingga pelari-pelari di Jogja bisa dengan mudah mencoba dan menemukan pilihan sepatu lari yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Pada hari-hari menjelang lomba full marathon, kebanyakan pelari hobi seperti saya umumnya merasa gugup dan gelisah. Pengalaman berlomba saya mengikuti kategori lomba half marathon di Jakarta Marathon 2016 terdahulu rasa gugup itu datang dari pertanyaan apakah latihan saya selama ini sudah cukup. Gelisah? Sambil menulis artikel ini saja saya sudah mulai merasa gelisah. Bisakah saya mencapai target #Breaking4 di gelaran Jakarta Marathon 2017 seperti yang saya tuliskan sebagai resolusi pada awal tahun ini.
Jakarta Marathon 2017 akan digelar pada tanggal 29 Oktober 2017 di Lapangan Banteng – Jakarta Pusat. Masih tersisa kira-kira satu setengah bulan untuk menyelesaikan program latihan dengan baik dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan detil dan teliti. Mumpung masih cukup waktu untuk mempersiapkan diri dan mumpung rasa gugup belum menjadi-jadi, saya akan mulai membuat daftar apa saja kebutuhan lomba yang harus saya bawa. Baca lebih lanjut

Setelah sukses menyelenggarakan ISOPLUS CITY RUN di berbagai kota di Indonesia. ISOPLUS kembali menghadirkan kompetisi lari yang berbeda dari sebelumnya dan lebih menantang yaitu ISOPLUS BEACH RUN di Pantai Krakal, Gunung Kidul – Yogyakarta. Yogyakarta menjadi kota pertama dalam rangkaian event ISOPLUS BEACH RUN yang rencananya akan dilaksanakan juga di Pangandaran, Jepara, Lombok, Balikpapan, dan Manado. ISOPLUS BEACH RUN akan menantang peserta untuk menjelajahi pasir pantai yang lebih sulit dibandingkan lari di jalanan biasa. Selain harus menaklukkan lintasan lari yang menantang, berlari di tengah alam dengan udara yang segar dan sambil menikmati keeksotisan alam pantai akan memberikan pengalaman baru yang berbeda.
Melalui microsite www . isoplusbeachrun . com, registrasi peserta ISOPLUS BEACH RUN dibuka dari tanggal 5 Agustus 2017 dan ditutup pada tanggal 12 Oktober 2017 atau jika kuota peserta telah terpenuhi. Ada 3 kategori yang dapat diikuti dalam event ini, yaitu 21K, 10K, dan 5K. ISOPLUS BEACH RUN ini dapat diikuti oleh pria dan wanita dengan usia minimal 12 tahun untuk kategori 5K dan 10K, sedangkan untuk 21K minimal usia 17 tahun. Peserta merupakan Warga Negara Indonesia atau Warga Negara Asing pemegang KITAS. Biaya pendaftaran untuk masing-masing kategori adalah sebagai berikut : Baca lebih lanjut

Berlari di alam bebas merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Sesuatu yang seumur-umur belum pernah saya coba. Selama ini berlari di jalan raya saya anggap cukup dan menyenangkan.
Sampai pekan lalu, dengan perasaan enggan saya mengiyakan ajakan dari teman-teman Playon Jogja (Indorunner Jogja) untuk nge-trail di Hutan Edukasi Wanagama. Sebenarnya saat itu saya mengiyakan karena: Hutan Edukasi Wanagama dekat dengan tempat tinggal saya dan kapan lagi saya bisa membantu komunias. Masa iya saya ikut bersenang-senang menikmati event melulu, hahaha.
Sehari sebelumnya saya melakukan survey lokasi secara ala kadarnya. Setidaknya saya mencari tempat yang paling nyaman untuk memarkir kendaraan kami. Dan tak kalah penting adalah menyampaikan pemberitahuan kepada pihak pengelola akan kedatangan dan maksud kami.
Hutan Edukasi Wanagama yang terletak di Playen – Gunungkidul merupakan tempat yang nampak asyik untuk Trail Runcation. Aneka rute bisa dibuat sesuai tujuan Runcation, bisa disesuaikan dengan kesulitan dan tantangannya, dari yang mudah dan fun sampai yang benar-benar mentally challenging. Contoh yang challenging adalah menyusuri bantaran sungai sampai di Desa Wisata Jelok.
Akan tetapi Sunday Morning Runcation (20 Mei 2016) itu tidak menantang dengan rute menyisir bantaran sungai Oya sampai Desa Wisata Jelok yang terkenal eksotis itu. Pertimbangannya karena saat itu kemampuan peserta Runcation beragam. Kemudian dipilihlah rute yang paling menyenangkan.
Rute Sunday Morning Runcation Wanagama yang kami pilih mengambil start di Asrama 1 Hutan Edukasi Wanagama, berlari turun melalui petak 4 hutan, melewati air terjun, mampir berendam di kesegaran air sungai oya, melewati Museum Kayu Wanagama, melewati Rest Area Bunder, menyisir pinggir Oya arah Bumi Perkemahan Kalingga, naik melewati Pabrik Penyulingan Kayu Putih, Penangkaran Rusa, Taman Hutan Raya dan melewati perempatan Gading dan Banaran kembali menuju tempat dimana kami mengambil mula.
Total jarak yang kami tempuh sekiar 16 km. Lumayan jauh dan cape juga berlari sepanjang ini dibawah paparan matahari jam 9 pagi. Ngga terbayang capenya bila di dekat Penangkaran Rusa kami jadi belok kiri agar bisa berlari melewati Lapangan Udara TNI AU Pangkalan Gading – Playen. haha
Lelah, cape ditampar matahari memang pedih, tapi percayalah, sepadan dengan keasyikan dan kebahagian yang kami dapatkan.

Sunday Morning Runcation Wanagama tidak berakhir di sini. Rute Runcation dilanjutkan dengan berburu kuliner. Target berburu kali ini adalah Soto Tan Proyek yang kemungkinan sudah habis. Alternatifnya adalah Soto Batas Kota. Soto Tan Proyek benar-benar habis begitu kami tiba di sana. Soto Batas Kota malah tidak buka. Akhirnya adalah Plan C, yaitu Soto dan Baso Pak Wariyun di Taman Parkir Wonosari.


Entah karena memang enak atau karena kami sudah kelaparan, Baso dan Soto Pak Wariyun semua terasa enak, haha.