Review Running Shoes: League Kumo Racer

League Kumo Racer

League Kumo Racer

Sejujurnya League Kumo Racer Men’s Running berwarna merah bagi saya nampak lebih menantang, lebih garang, lebih greget. Tegas menampakan peruntukannya sebagai sepatu balap lari.

Kali ini saya memilih running shoes warna hitam karena sampai sejauh ini saya belum punya sepasang sepatu lari berwarna hitam. Sepatu lari-sepatu lari yang sudah saya punyai berwarna merah, biru dan hijau. Kumo Racer akan menjadi sepatu lari berwarna hitam pertama saya.

Rupanya pilihan warna hitam saya ini tidak salah. Setidaknya komentar teman saya, Dewi KR, di Facebook membuat saya tersenyum lega. Menurut Dewi, warna League Kumo Racer yang fotonya saya unggah di Facebook nampak keren. Ia ingin saya segera mereviewnya. Ia ingin memiliki sepatu ini karena League Ghost Runner yang ia punya sudah habis kilo meternya.

Kumo Racer merupakan sepatu yang peruntukannya berbeda dengan Ghost Runner, pun berbeda dengan Volans 2.0/Volans 2.5. Bila Ghost Runner diperuntukkan sebagai sepatu lari harian, Kumo Racer, sesuai namanya diperuntukan sebagai race shoes alias sepatu balap. Kumo Racer diperuntukkan untuk lomba lari cepat jarak dekat sampai menengah.

Secara fisik Kumo Racer mempunyai beberapa persamaan dengan Volans 2.0 dan Volans 2.5. Persamaan itu meliputi outsole, midsole maupun insole.

Perbedaan yang paling mencolok antara Kumo Racer dan Volans adalah penggunaan laces lock, lacing yang cukup berbeda, tanpa lidah (tongueless) dan upper mesh yang lebih rapat.

Kumo Racer mempunyai reflective material yang diletakkan di sisi belakang sepatu (di atas bagian tumit) dan di ujung sepatu (di atas toebox). Reflective material seperti yang digunakan oleh Volans dan merupakan apa yang tidak dipunyai Ghost Runner. Ini memungkinkan Kumo Racer aman digunakan untuk berpacu pada malam hari atau dalam kondisi low light lainnya.

Ketika mengetik tulisan ini, saya sudah mencoba menggunakan League Kumo Racer sebanyak 3 kali.

Baca juga review running shoes saya yang lain:

  1. Review Running Shoes: League Ghost Runner
  2. Review Running Shoes: League Volans 2.0
  3. Review Running Shoes: League Volans 2.5

Saya memakainya pertama kali untuk membuatnya kenal dengan kaki-kaki saya. Saya menggunakannya untuk berlari santai kira-kira sejauh 1,5 km. Dengan telapak kaki dilapisi kaos kaki Nike cushioned socks, berlari santai menggunakan Kumo Racer terasa cukup empuk nyaman. Seolah kaki saya tidak sedang berlari menggunakan sebuah race running shoes.

Tumit kaki saya merasakan kesan pertama yang dibawa Kumo Racer. Sepatu ini mempunyai bagian tumit yang terasa pas, terasa fit. Seolah merupakan jawaban bagi kaki saya ketika menemukan tempat tumit di League Volans 2.5 yang terasa loosy (longgar).

Setelahnya saya menggunakan sepatu ini untuk ngantor selayaknya sepatu kasual. Dilihat-lihat Kumo Racer ini keren juga dipakai selayaknya sepatu kasual.

Kedua kalinya adalah pada tanggal 14 Agustus 2016. Kali ini saya memang berniat menjajal kecepatan sepatu running besutan League ini. Di jalanan aspal saya memulainya dengan menggunakannya untuk pemanasan berupa easy pace sejauh kira-kira 1,5 km. Easy paced yang benar-benar easy paced, kira-kira pace 05:30.

Kemudian saya melakukan sprint sejauh 1 km. Kumo Racer kali ini menunjukkan jati dirinya. Enak banget dipacu dengan pace 03:30 menit/km. Saya rasanya ingin memacunya lebih cepat lagi. Namun hasrat untuk memacu Kumo Racer berusaha saya kendalikan. Alasannya karena saya sudah jarang melakukan sprint. Alasan keduanya karena saya berlari di jalan raya dimana saya harus berbagi pakai jalan dengan para pengendara kendaraan.

Ketiga kalinya adalah kemarin sore, 22 Agustus 2016. Saya mencobanya sama-sama di jalan raya. Bedanya kali ini saya mencobanya untuk berlari tanpa mengenakan kaos kaki. Tanpa mengenakan cushioned socks seperti sebelum-sebelumnya.

Tanpa mengenakan kaos kaki apa yang pertama kali saya cek dari Kumo Racer adalah lacing -nya, tali sepatunya. Saya memastikan betul Kumo Racer terkenakan dengan baik dan pas di kaki. Saya memperbaikinya dengan mengencangkan lacing -nya dan mengatur ulang laces locknya.

Kali ini saya mencoba League Kumo Racer untuk latihan interval. Di awali dengan warming up berupa easy pace sejauh 1,5 km diteruskan dengan 0,5 km fast paced – 0,5 km easy paced – 0,5 fast paced – 1,5 km easy paced – 05 fast paced – 1 km medium paced. Total sejauh 6 km.

Kesan saya saya rasakan Kumo Racer mudah dipacu dari easy paced ke fast paced. Transisinya enak. Saya bisa dengan mudah mencapat pace 03.30 menit/km. Mungkin karena belum terbiasa. Apa yang menurut saya tidak mudah adalah mengendalikan kaki ketika memperlambat gerakan dari fast paced menuju ke slow paced. Rasanya kaki-kaki saya menjadi kurang stabil dan running gait terasa aneh.

Ini barangkali perasaan saya, toh saya tidak mem-video-kan running gesture saya ketika mencoba sesi interval dengan Legue Kumo Racer.

Sesi interval saya kali ini mungkin belum optimal, karena selain saya melakukannya di jalan raya, saya pun berlari sambil menggenggam iPhone untuk merekam pergerakan lari saya. Menggenggam iPhone terasa sangat tidak nyaman ketika telapak tangan sudah bersimbah keringat. Ini menjadi dilema tatkala saya ingin berlari top speed dan di sisi lain tidak ingin iPhone saya terlembar.

Ini memang derita saya yang berkeinginan mempunyai sebuah Sportwatch namun tidak kunjung kesampaian, hahaha.

Kali ini saya mempunyai catatan menarik terkait berlari dengan Kumo Racer tanpa menggunakan kaos kaki.

Dibanding ketika menggunakan chusioned socks, Kumo Racer terasa jauh lebih responsif ketika dipacu. Sedikit masalahnya dirasakan oleh kelingking kaki saya, terutama oleh kelingking kaki kanan. Jahitan di atas jari kelingking kaki begitu terasakan sehingga menjadi mengganggu ketika digunakan untuk berlari. Pengalaman saya ini mungkin belum tentu dirasakan oleh pelari lain. Hanya lain kali saya memastikan diri untuk menggunakan kaos kaki ketika berlari dengan League Kumo Racer. Agar tetap responsif tentu saja saya akan menggunakan kaos kaki yang bukan berjenis chusioned, kaos kaki yang tipis saja, asal cukup melindungi jari-jari kaki saya.

Catatan lainnya adalah Kumo Racer optimal digunakan untuk berlari dipermukaan yang solid. Bisa dipacu di jalan aspal atau mungkin di syntetic surface (yang terakhir ini saya belum mencobanya) dan saya rasakan tidak begitu nyaman digunakan berlari dipermukaan tanah, rerumputan dan jalan-jalan yang berbatu dan berkerikil.

Berdasarkan pengalaman saya mencoba Kumo Racer dalam satu pekan terakhir saya mulai menyimpulkan bahwa saya suka dengan sepatu berjenis balap ini. Bahkan akhir pekan ini (28 Agustus 2016) saya akan mencobanya untuk mengikuti Sleman Temple Run 8 K.

Bagi anda atau siapa pun yang saat ini sedang mempertimbangkan sepasang sepatu balap (racing shoes), Kumo Racer merupakan salah satu yang saya rekomendasikan. Apalagi harganya yang hanya dibanderol Rp 649.000,- membuatnya semakin layak dipinang.

PS :

Tulisan ini akan saya update kelak seiring saya menggunakan League Kumo Racer

Iklan

18 thoughts on “Review Running Shoes: League Kumo Racer

  1. Ping-balik: Sleman Temple Run 2016 – Gadget, Running & Travelling Light

  2. Ping-balik: Mengikuti Lomba Lari di Luar Kota, Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan? – Gadget, Running & Travelling Light

  3. Ping-balik: Review Running Shoes: Nike Lunarglide 8 – Gadget, Running & Travelling Light

  4. Ping-balik: League Volans Evo – Gadget, Running & Travelling Light

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s