Review League Volans 2.5 : Ringan, Responsif dan Garang

10950482_912557958818119_1587419574_n

Membuka kotak karton berwarna hijau apa yang langsung saya temukan adalah kejutan-kejutan. Kejutan berupa sepasang Volans 2.5 berwarna merah garang. Dan kejutan berupa kaos quick dry yang sama-sama garangnya, merah-hitam. Bahkan saya baru membuka penutup karton pun sepatu ini sudah terlihat menantang. “Percuma kamu latihan bertahun-tahun tapi kecepatanmu segitu-segitu saja!

11371202_1504576876524621_334553124_n

Hmmm…

Kaki saya langsung terasa gatal ingin segera mengaspal. Emosi saya terasa terbakar dibuatnya.

Baca lebih lanjut

Review Teh Javana Candi ke Candi 10K

IMG_20151129_100439

Belum-belum sudah pasang foto selfie. Tapi, benar, dari sekian banyak foto yang tadi saya ambil, foto ini adalah yang paling mewakili apa yang saya lakukan pada tadi pagi selama mengikuti acara Teh Javana Candi ke Candi 10K.

Seperti yang saya tulis dalam posting saya sebelumnya di sini. Bulan ini saya tidak pernah merencanakan untuk mengikuti race. Saya tidak merencanakan apalagi untuk menciptakan catatan PB (personal best). Saya tadi benar-benar ikut fun run ini untuk having fun, untuk mengendurkan ketegangan syaraf-syaraf dan meredakan stres yang mengungkung saya dalam beberapa bulan terakhir. Dan semoga ini awal yang baik untuk memotivasi diri untuk turun mengukur aspal lagi.

Tiba di parkiran kompleks Candi Prambanan, saya langsung diberi tahu oleh panitia agar saya segera bergegas ke (belakang) garis start. Teh Javana Candi ke Candi 10K akan dimulai dalam beberapa menit lagi.

Saya segera memasang BIB number, mengencangkan tali sepatu dan meraih dua ponsel. iPhone 5s untuk menjalankan aplikasi Nike Running+ dan Zenfone 2 Selfie. Ponsel ke dua tentu adalah fun tool/selfie tool. Untuk seru-seruan. Saya kemudian berlari menuju kerumunan di belakang garis start.

IMG_20151129_100816

Langsung deh heboh foto-foto selfie di sini. Baca lebih lanjut

Teh Javana Candi ke Candi 10 K: Ambil Race Pack Collection

Rencananya saya akan mengambil Race Pack Collection Lomba lari Teh Javana Candi ke Candi 10 K saya pada besok sore atau malam. Namun karena hari ini saya ada 2 meeting di Jogja, satu meeting selesai jam 11.00 WIB dan meeting berikutnya dimulai jam 13:30 WIB, saya pun memanfaatkan jam makan siang untuk mengambil RPC. Ini saya pikir lebih hemat tenaga daripada saya besok malam kembali ke kota Jogja lagi.

P_20151126_114420.resized

Pengambilan RPC Teh Javana Candi ke Candi 10 K bertempat di Lobby Mall Lippo Jalan Laksda Adisucipto (Jalan Solo). Bagi yang belum tahu Lippo Mall, Mall ini bisa dituju dari Jembatan layang Janti ke barat kira-kira 2 km atau dari Tugu Yogyakarta tinggal mengikuti arah ke timur kira-kira juga 2 Km. Bila masih bingung bisa bertanya kepada Google Map atau mas-mas tukang becak.

P_20151126_122920.resized

Hari ini adalah hari pertama dari dua hari waktu yang disediakan oleh panitia untuk pengambilan racepack. Pukul 12 -an siang suasa pengambilan Racepack berjalan lancar dan tidak ada antrian yang cukup berarti. Ketika saya menyodorkan email pendaftaran dan identitas, Mas Anggata Rismata dan teman-teman dari komunitas lari Playon Jogja melayani dengan cepat. Cukup ditambah menunjukkan kartu identitas dan membubuhkan tanda tangan pada berkas penerimaan, tas berisi Paket Lomba diserahkan kepada saya.

P_20151126_120206.resized

Paket Lomba yang saya terima berisi: sebuah Topi, sebuah Jersey, BIB number yang dilengkapi RFID dan sebotol Teh Javana. Saya memeriksa isi paket lomba dan beberapa menit kemudian menenggak Teh Botol dalam paket lomba. Siang tadi saya cukup haus.

P_20151126_115420.resized

Ini No BIB saya, kalau besok bertemu seseorang yang ber-BIB ini, awas kalau tidak menegur. 😀

Sebenarnya pada bulan ini saya tidak pernah merencanakan untuk mengikuti suatu lomba lari. Maklum beberapa bulan belakangan ada beberapa pekerjaan saya yang memaksa saya begadang. Terlalu sering begadang membuat saya tidak memungkinkan untuk berlatih lari secara rutin dan baik. Kawan sayalah yang beberapa waktu lalu mengajak saya ikut. Meski akhirnya teman saya itu malah tidak jadi ikut. Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai mula bagi saya untuk turun mengukur jalan aspal lagi. Lari! Baca lebih lanjut

League Ghost Runner: Sepatu Long Run yang Responsif, Ringan, Soft dan Berdesain Keren

League Ghost Runner

League Ghost Runner

Desain sepatu long run ini keren sekali. Begitu kesan pertama saya ketika unboxing League Ghost Runner dari kotak kemasannya yang minimalis berwarna hijau. Kombinasi warna hijau volt dan biru navy, serta warna putih di bagian midsole yang dipilih oleh desainer untuk sepatu ini dengan cepat saya rasakan mampu memberikan suatu ‘bold message‘ sebuah long run shoes yang tidak akan biasa-biasa saja menyelesaikan sebuah lintasan lari. Curved line warna hijau volt di sekujur sepatu yang dikombinasi dengan exo skin yang didesain sebentuk polygonal menciptakan kesan kokoh sekaligus membawa nuansa aestetik tersendiri. Aesthetic feels ini dipermanis dengan digunakannya tali sepatu berpola seperti batik. Saya suka.

Dibanding produk sepatu League lain, apa yang paling saya suka dari desain Ghost Runner adalah penempatan logo L (League) yang sekarang dipindah di sisi belakang sepatu. Karena entah kenapa saya tidak suka dengan logo L yang ditempatkan di samping luar sepatu.

Sampai ke tangan saya pada awal Ramadhan bulan lalu, Ghost Runner telah menjadi bagian dari ujian kesabaran tersendiri. Ketika sedang berpuasa jelas-jelas saya tidak akan bisa mencoba menggunakan sepatu ini untuk long run. Saya yang kebetulan sedang sakit flu dan batuk pada bulan puasa telah memaksa untuk membatalkan niat untuk beberapa kali berlari pada malam hari. Baiklah, saya harus menunggu sampai hari raya Iedul Fitri usai.

Apa yang bisa saya lakukan dengan ‘keluarga baru’ ini pada Ramadhan lalu adalah sebatas mencoba-coba mengenakan sepatu ini di kaki, merasakan insole yang lembut di kaki, merasakan toebox yang roomy dan tentu saja suka dengan desain sepatu yang menurut saya terasa sporty. Itulah kenapa pertengahan Ramadhan kemarin saya ‘meng-abuse’ kenyamanan dan desain sporty sepatu ini ketika saya sebagai blogger diundang oleh PT Sampoerna untuk mengikuti Cultural Trip dan Parade Bedug asyik selama sehari-semalam di kota tetangga.

First 10 KM with League Ghost Runner

First 10 KM with League Ghost Runner

Lari pertama saya setelah beristirahat latihan selama hampir satu bulan pada tanggal  19/07/2015 saya persiapkan dengan hati-hati. Melengkapi League Ghost Runner sebagai pilihan sepatu untuk sebuah easy paced medium distance run, saya memilih menggunakan kaos kaki dry fit namun yang lebih chussy dari biasanya. Saya menginginkan perlindungan maksimal untuk telapak kaki dan jari-jari kaki. Untuk itulah saya juga mengoleskan Vaseline di sela-sela jari-jari kaki.

Sambil menjalankan aplikasi Running Tracking, saya mengingatkan diri sendiri sekaligus berjanji agar tidak tergoda untuk tergesa-gesa menaikan pace. Saya mulai berlari dengan pelan, memastikan foot strike saya benar, memastikan gesture dan cadence agar saya berlari dengan running form terbaik yang saya bisa, termasuk bagaimana seharusnya saya mengatur pernafasan.

Ghost Runner memberikan kaki saya landing yang lembut di jalan aspal jam 6 pagi yang masih lengang di desa dimana saya tinggal.  Saya tidak merasa sepatu ukuran 42 ini memberikan berat pada kaki saya selayaknya baru saja mengenakan sebuah sepatu long run setelah tidak menggunakannya selama sebulan. Rasanya Ghost Runner jauh lebih ringan dari sepatu lari harian saya. Benar saja karena kemudian menurut timbangan sepatu ini hanya berbobot kurang dari 250 gram. Jauh lebih ringan dari sepatu harian saya dari brand lain yang berbobot lebih dari 320 gram.  Baca lebih lanjut

Sermo Challenge, #RunForNepal

IMG_3935

Bila sedang sakit, beristirahatlah. Beristirahatlah dari semua jenis latihan dan olah raga. Bila nekad memaksakan diri, bukan manfaat olah raga yang didapat melainkan kondisi makin memburuk sampai yang paling apes: cidera permanen. Begitu malam minggu kemarin saya menasihati diri saya sendiri.

Hati dan jiwa saya berkecamuk oleh dorongan pikir yang selalu menyodorkan argumen antara keutamaan menjaga tubuh yang sedang sakit dan hal-hal indah yang akan saya temui di sepanjang lintasan lari Sermo Challenge yang terbentang mengelilingi Waduk Sermo sepanjang 16,8 km di Kulon Progo-Yogyakarta. Keriangan kawan-kawan Playon – Jogja selama berlari hadir terbayang lebih awal.

Rasa nyeri gejala maag yang sudah berlangsung selama 3 hari masih terasa pada pukul 03:00 wib Minggu dini hari ketika alarm iPhone membangunkan. Sakit ini seolah menjadi alasan untuk mematikan alarm dan kembali tidur dalam nyenyak. Tapi bukankah gempa di Nepal beberapa waktu lalu jauh lebih menyakitkan dari sakit maag ini. Sisi lain saya seolah membentak: Ayo jangan sampai sakit menghentikanmu! Baca lebih lanjut

Nike Air Zoom Pegasus 31 Flash, Mari Terus Berlari

Nike Air Zoom Pegasus 31 yang saya beli sekitar 8 bulan yang lalu sudah menempuh jarak lebih dari 600 km. Saatnya untuk dipensiunkan. Sepatu yang saya pilih untuk long run dan recovery tetap dari keluarga Pegasus 31. Kali ini saya memilih Nike Air Zoom Pegasus 31 Flash.

Nike Air Zoom Pegasus 31 Flash

Nike Air Zoom Pegasus 31 Flash

Kenapa saya tidak memilih seri Pegasus 31 reguler? Karena dalam beberapa bulan kemudian, eh sekarang sudah ya, Nike sudah akan mengeluarkan Pegasus 32 yang pasti akan membawa beberapa update penting. Sepatu ini masuk dalam wishlist saya. Pegasus 31 Flash saya pilih karena dalam hitungan saya sepatu ini kelak akan saya gunakan selang-seling sesuai kebutuhan dengan Pegasus 32 baru saya kelak.

Pegasus 31 Flash dibuat sedikit berbeda dengan versi Pegasus 31 reguler, yaitu mempunyai fitur water repellant sehingga akan nyaman digunakan pada jalanan basah dan Pegasus 31 Flash dibuat dengan materi yang mempunyai visibility bagus. Cocok digunakan untuk berlari malam hari dan low light condition. Pegasus 31 Flash cocok digunakan berlari pada malam dan dini hari yang basah atau sedang hujan ringan.

Untuk ukuran, berbeda dengan Pegasus terdahulu, saya memilih satu ukuran lebih tinggi. Kali ini saya memilih ukuran/nomor 42.

Sepatu yang saya beli secara online ini begitu sampai ke alamat saya, pada Minggu pagi kemudian langsung saya gunakan untuk Half Marathon. Berlari pada awal gelap pagi dengan sepatu ini saya mendapatkan semua keuntungan dan kenyamannya. Saya selamat tanpa cedera berlari half marathon santai yang saya tempuh kurang dari 2 jam. Dari kenyamanan ini kemudian saya mendapatkan hal baru, bahwa memang ukuran sepatu lari yang tepat bagi kaki saya adalah 42, bukan 41. Baca lebih lanjut

Review Armband Buatan Lokal: DNA Sportwear

Mengritik produk-produk lokal sebenarnya tidak enak untuk saya lakukan. Di satu sisi saya tidak ingin mematahkan semangat dan kreatifitas kawan-lawan yang telah secara perwira menciptakan produk dan mengembangkan brand/label mereka sendiri. Di sisi lain, pelit memberikan kritik terhadap produk-produk mereka akan membuat mereka kurang kompetitif. Produk akan sulit bertemu atau terlambat bertemu dengan harapan pengguna bila kita enggan menyampaikan umpan balik. Menurut saya memberikan kritik terhadap sebuah produk jauh lebih baik daripada kita kecewa kemudian diam-diam menginggalkan produk itu dan memilih produk kompetitor.

Alasan terakhir ini yang mendorong saya untuk menulis review arm band dan phone bottle belt (tas pinggang tempat botol dan handphone) merk DNA INDsportswear yang saya beli secara online beberapa waktu yang lalu.

Memutuskan untuk membeli armband buatan lokal secara online tidak mudah. Dari pencarian di google umumnya penjual-penjual produk ini hanya menggunakan media gratisan seperti forum jual beli di Kaskus, Bukalapak, Tokopedia, Facebook, Instagram dan sejenisnya. Cara menampilkan display produknya pun seringkali kurang meyakinkan. Perlu waktu beberapa lama untuk mengamati perilaku si penjual di Facebook sampai saya yakin saya tidak membeli kepada orang yang salah.

Chit-chat di FB dengan beberapa orang penjual akhirnya saya memilih untuk membeli Arm Band dan Phone and Bottle Belt kepada seseorang. Saya memilih masing-masing satu untuk kedua produk itu. Arm Band berharga Rp 69.900,- dan Phone and Bottle Belt berharga Rp 89.900,-. Harga yang tidak mahal sebenarnya. Jumlah total harga keduanya masih jauh lebih murah dari Arm Band merk Capdase yang saya beli di Toko Apple beberapa bulan yang lalu. Saya berhati-hati sebelum membeli karena saya tahu betapa sakit hatinya bila tertipu oleh pedagang online yang nakal.

Saya sempat ragu dengan penjual ini karena ia cukup responsif menjawab pertanyaan saya tentang produk-produk yang ia jual, namun setelah saya mintai konfirmasi pembayaran yang baru saya lakukan malah tidak responsif, sampai saya berkali-kali menghubunginya melalui Facebook chat dan Whatsapp. Setelah saya melakukan pembayaran, saya juga baru diberitahu kalau salah satu produk yang saya beli saat ini sedang tidak ready. Menurutnya saya harus menunggu sampai 2 minggu. Ya ampun. Sampai di sini saya sudah tidak banyak berharap kedua produk yang saya beli mendarat ke alamat saya.

Hampir 2 minggu kemudian, melalui Whatsapp, saya diberitahu kalau produk yang saya beli sudah dikirim ke alamat saya. Dari bukti pengiriman via JNE yang fotonya ia kirimkan, ternyata nama dan nomor handphone saya salah eja. Karena memang saya sudah tidak begitu berharap dengan barang ini, saya pun santai saja. Syukur alhamdulillah barang tersebut sampai ke alamat saya tepat sebelum saya berangkat ke luar kota. Jadi saya baru akan bisa mencoba kedua produk itu setibanya saya di rumah satu minggu yang akan datang.

Arm Band

Membuka arm band merk DNA Sportwear dari kemasan pengiriman, saya menemukannya dengan tampilan handmade, namun cukup solid dan jahitannya bagus. Saya kemudian menggunakannya untuk lari di jalan raya sepanjang 5 km.

Karena saya memang memesan ukuran untuk lengan saya, rasanya arm band ini memang benar cukup pas dikaitkan dengan lengan saya. Permasalahannya, dibanding arm band saya terdahulu, bahan armband ini sangat kaku sehingga saya kesulitan untuk dengan cepat memasukkan iPhone 5s saya ke dalam arm band setelah saya menjalankan aplikasi Nike Running+. Materi transparan arm band ini tidak touch sensitive sehingga melaluinya saya tidak bisa mengoperasikan iPhone saya. Masalah kedua adalah armband ini tidak ada tempat untuk menaruh kunci dan uang sebagaimana armband saya terdahulu. Keberadaan tempat kunci dan uang bagi saya sangat penting, karena biasanya saya memarkir motor di suatu tempat, baru kemudian berlari. Tempat uang sama pentingnya. Ketika berlari jarak jauh saya biasa membeli air mineral atau isotonik di tengah jalan raya yang saya lintasi. Masalah ketiga adalah lapisan pinggir arm band terbuat dari bahan yang kasar/tidak soft, sehingga ketika saya sudah berlari, gesekan yang terjadi dengan kulit lengan bisa menyebabkan iritasi dan kulit lecet-lecet.

Arm Band merk DNA Sport Wear

Arm Band merk DNA Sport Wear

Arm Band merk DNA Sport Wear

Arm Band merk DNA Sport Wear

Mungkin arm band merk DNA INDSportswear ini kurang cocok digunakan oleh  pelari jarak jauh (lebih dari 5km) di jalan raya yang ingin memperbaiki pacenya. Saat ini saya berlari dengan pace 5 menit/km dan ingin lebih cepat lagi.  Baca lebih lanjut

Review Sepatu: League Volans 2, Sepatu Lari Ringan dan Responsif

Bagi yang tinggal di Yogyakarta seperti saya, mendapatkan sepatu lari buatan anak negeri ini tidaklah mudah. Sejak beberapa bulan yang lalu saya menyisir toko-toko olah raga di Ambarukmo Plaza, Malioboro Mall dan toko-toko sepatu di bilangan jalan Margo Mulyo (jalan Malioboro) Yogyakarta, hasilnya nihil. Di beberapa toko memang ada sepatu buatan League seperti Kumo dan Phoenix, tapi bukan Volans 2. Volans 2 juga cukup sulit didapatkan di toko-toko online seperti ePlanetsport, Zalora, Tokopedia dan sejenisnya. Di Lazada ada League Volans Nocturnal, tapi ini bukan Volans yang saya cari.

Sampai beberapa waktu yang lalu di group Facebook Indorunner ketika saya menanyakan dimana bisa membeli League Volans 2 ada member group yang men-tag Asep Hadian yang belakangan saya tahu adalah Product Manager -nya League. Beberapa kali chit chat akhirnya saya meminta tolong untuk dibelikan sepatu ini di League Store untuk dikirimkan ke alamat saya. Rasa senang sepatu seharga Rp 549.000,- ini selamat mendarat di alamat saya. Saya senang mendapatkan bonus promo sebuah kaos lari slim fit warna biru buatan League.

League Volans 2

League Volans 2

Sepatu warna biru saya keluarkan dari kotak karton minimalis warna hijau yang mengemasnya. Sore itu saya tidak bisa langsung mencobanya untuk menyusuri aspal karena cuaca sedang kurang bersahabat. Hujan. 😦 Saya hanya bisa mencermati detil sepatu mulai midsole, upper yang berupa single layar mesh, insole chussion, tali sepatu warna hijau volt dan reflective di bagian belakang sepatu dan sisi atas toe box.

Kemudian saya mencoba mengenakan sepatu ini. Mencoba beberapa shoe lacing dan mencoba beberapa tingkat kekencangan sampai kaki merasa lebih nyaman. Nyaman di sini dalam arti nyaman untuk dipakai berjalan di dalam rumah. Toh belum dicoba untuk berlari.

Review Sepatu League lainnya bisa dibaca di:

Kesan pertama sepatu ini terasa sangat ringan. Ketika saya coba untuk berjalan seolah ada suara “kresek-kresek”. Begitu ringan seolah saya merasa mengenakan sepatu yang terbuat dari kertas karton. Kesan kedua adalah sepatu ini mempunyai toe box yang lapang sehingga saya merasa nyaman dengan ujung kaki saya. Seolah ini antitesis dari sepatu lari sehari-hari yang bila saya tidak mengoles vaseline pada jari-jari kaki akan menyebabkan blister pada jembol dan jari tengah kaki. Upper sepatu single layer mesh yang berongga membuat kaos kaki yang saya kenakan nampak terlihat jelas. Saya terbayang akan kulit kaki saya bila bersepatu League Volans 2 tanpa kaos kaki. Kaos kaki kotor tentu malu-maluin bila dipakai dengan sepatu ini.

Saatnya berlari: Baca lebih lanjut

Apple Watch? Saya Garmin Forerunner FR 225

Garmin Forerunner FR 225

Garmin Forerunner FR 225 (foto diambil dari garmin.blogs.com)

“Bagaimana, mau beli Apple Watch?” Koh Afit Husni, seleb blogger asal Jogja, menanyai saya ketika akan makan siang di media gathering Indosat Super 4G di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. “Tidak, Watch tidak fungsional, pilih Garmin atau Polar” jawab saya. “Iya, atau Suunto” koh Afit melanjutkan.

Bagi saya, Apple Watch secara artistik dan desain memang nampak menarik, namun sependek yang saya tahu kurang fungsional untuk dipakai baik sehari-hari maupun untuk mendukung program latihan lari yang sedang saya jalani. Kekurangan Apple Watch setidaknya adalah: sangat tergantung dengan iPhone (1), tidak memiliki GPS sendiri (2) dan daya tahan batere yang sangat terbatas (3), hanya beberapa jam bila digunakan untuk latihan dan kurang dari 24 jam untuk fungsi sehari-hari. Mengisi batere setiap hari untuk sebuah “jam tangan” bagi saya sangat merepotkan.

Ketergantungan Apple Watch dengan iPhone akan membuat tidak elok menjalani program latihan lari dengan mengenakan Watch di pergelangan tangan sambil mengaitkan iPhone di lengan dengan bantuan Armband atau WaistPack di pinggang. Merepotkan. Apalagi ketika saat ini Armband saya rusak dan sudah merasa bosan memasang band di lengan.

Ini semakin mengokohkan niat shalih saya untuk menabung demi sebuah GPS Sportwatch. Dalam berlatih kebutuhan saya tidaklah demanding. Sebatas kebutuhan dasar untuk time logging, route mapping, coaching dan kalau bisa sebagai heart rate monitor. Saya tidak mempunyai preferensi terhadap brand atau tipe smartwatch tertentu. Cukup Smartwatch itu mempunyai kompatibilitas dengan iPhone dan Android yang menjalankan aplikasi Nike Running Plus yang sudah bertahun saya gunakan. Karena saya tidak ikhlas bila catatan pahala lari saya di Nike Running Plus sia-sia tidak berkelanjutan.

Sampai kemarin saya membaca Garmin akan meluncurkan GPS Sportwatch kelas menengah dari seri Forerunner, yaitu Garmin Forerunner FR 225. Bila selama ini FR 220 sudah akrab dengan banyak pelari kasual dan rekreasional, maka tidaklah salah bila menebak FR 225 adalah upgrade dari FR 220 tersebut.  Baca lebih lanjut

Nike Running Plus, Aplikasi Pencatat Pahala dan Pelatih Lari Pribadi

Nike Running Plus Home Screen

Nike Running Plus Home Screen

Home Screen aplikasi Nike Running Plus di atas menampilkan 2 hal menyenangkan bagi saya. Pada bulan ini saya mengumpulkan km paling banyak di antara kawan-kawan saya (1), dan sampai saat saya sudah mengumpulkan km sebanyak 774,5 tidak termasuk lari yang tidak tercatat karena kebetulan saya tidak membawa ponsel (2).

Baca lebih lanjut