Menyikapi Informasi Bencana Gempa

Beberapa jam yang lalu sampai sekarang, di timeline twitter saya dipenuhi dengan kabar terjadinya gempa berkekuatan 8,7 SR. Bagi saya ini suatu kabar yang mengagetkan sekaligus mengerikan. Seketika apa yang terbayang di kepala saya adalah gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004 dan gempa yang berkuatan enam koma SR yang terjadi di tempat tinggal saya pada tahun 2006.

Saya memang seketika panik. Akan tetapi saya tadi berusaha menenangkan diri dan mencoba membaca timeline twitter dengan lebih teliti. Saya berusaha membedakan mana tweet yang merupakan retweet, mana tweet yang berasal dari media mainstream, kapan tweet itu di-tweet dan yang paling penting siapa dan dimana orang yang men-tweet suatu kabar pertama kali.

 

Sejujurnya, jari-jari tangan saya terasa gatal untuk segera me-retweet suatu tweet. Dan saya me-retweet beberapa tweet yang menurut saya bisa dipercaya dan layak tweet. Sampai beberapa tweet saya memutuskan untuk lebih selektif lagi dalam men-tweet dan lebih baik tidak nge-tweet dulu. Lebih baik mengamati informasi yang mengalir di twitter. Pertimbangan saya: biarlah timeline twitter dialiri oleh informasi yang benar-benar berkualitas sehingga memudahkan orang-orang yang mengikuti kabar terkini melalui timeline.

Pengalaman saya sendiri, tidaklah mudah untuk memilih mana informasi yang layak dipercaya dan mana informasi sampah. Media main stream, sependek ingatan saya sama sekali tidak bisa dijadikan patokan terkait akurasi informasi. Masih kuat di ingatan saya tentang gempa Jogja 2004 dimana pada saat itu kami menderita kemiskinan informasi. Ceritanya di sini. Dan bencana Erupsi Merapi yang kebanjiran informasi dan kebanjiran informasi sampah. Salah satu ceritanya ada di sini.

Jadi menurut saya, bagi kita yang tinggal jauh dari lokasi kejadian, lebih baik berhati-hati dalam merespon, menanggapi dan meneruskan suatu informasi. Jangan mudah menyebarkan informasi yang mengandung/menyebabkan kesedihan. Lebih baik kita menenangkan diri, mendinginkan kepala dan berdoa.

Link terkait:

Lomba Blog Promosi Wisata Daerah

Saya perhatikan saat ini di blogosphere Indonesia sedang marak berbagai macam lomba blog. Ada banyak sekali. Salah satu yang menarik untuk saya komentari adalah Lomba Blog Promosi Wisata Daerah.

Menariknya, lomba-lomba ini mampu menarik minat yang sangat besar bagi blogger. Makin banyak yang berpartisipasi makin banyak pula konten positif di internet tentang tempat wisata dan apa yang menarik untuk diwisatakan di suatu daerah. Sehingga diharapkan orang-orang akan lebih mudah mendapatkan informasi yang sesuai dan menimbulkan minat untuk berwisata ke suatu daerah yang sebelumnya belum dikenal dengan baik.

Hal yang tidak kalah menarik sebagai dampak lomba-lomba semacam ini adalah mendorong pertumbuhan dunia blogging itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, dunia blogging di Indonesia mengalami masa penurunan yang cukup signifikan begitu jejaring sosial, media sosial, semakin populer. Diakui atau tidak, pada jamannya, blog juga memainkan peran sebagai media sosial untuk berinteraksi. Minimal interaksi antar sesama blogger.

Kembali ke tujuan semula tentang kemauan dan keinginan berbagai pihak untuk mempromosikan wisata daerah melalui media online, terutama blog, mungkin ada sedikit yang terlewat.

Begini, ketika saat ini lomba blog promosi wisata daerah makin marak, dengan berbagai hadiah yang sangat menggiurkan, kenapa saat ini setidaknya saya belum banyak mendengar adanya reward yang diberikan kepada blogger wisata. Menurut saya blogger yang rajin menulis wisata daerah baik ada maupun tidak ada lomba adalah mereka yang sebenarnya peduli dan lebih tulus. Dan umumnya merekalah yang lebih mengerti tentang bagaimana sebaiknya menulis dan membagikan pengalaman berwisata yang sebenarnya. Bukan untuk berburu hadiah semata. 🙂

Tidak Posting Bukan Karena Sibuk

Kemarin saya tidak membuat tulisan untuk One Post A Day seperti yang saya rencanakan pada awal tahun lalu. Permasalahanya adalah bukan karena saya sibuk sampai tidak punya waktu untuk menulis. Bukan pula karena tidak punya ide menulis. Sepanjang hari Jum’at kemarin saya bisa dibilang ‘selo‘, luang. Tidak ada hal-hal penting sekaligus genting yang harus selesai hari itu juga.

Permasalahan yang sebenarnya adalah karena saya suka menunda-nunda. Nanti juga ada waktu, begitu tiap kali saya berkata untuk diri sendiri. Sampai di akhir hari rasa malas semakin menumpuk yang terus menjadi penghalang yang akhirnya tidak bisa saya lewati.

Hal ini mengingatkan saya akan nasihat Fauzan, sahabat karib saya, yang ia katakan pada sekitar tahun 1998 kalau bukan tahun 1999. Kurang lebih begini kata Fauzan, “Serahkan pekerjaan kepada orang sibuk, bukan kepada orang yang tidak sibuk. Karena orang sibuk akan selalu mencari waktu luang untuk menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan orang tidak sibuk, orang selo, akan selalu mencari kesibukan untuk mengisi waktu luangnya.”

Benar juga yah! Nah, sekarang saya lebih tahu dan sadar permasalahan. Namun bukan berarti saya bisa langsung meningalkan kebiasaan dan tabiat buruk ini. Bisa saja tahu atau tidak tahu hanya akan sama saja bagi diri saya. 🙂

Produktifitas dan Rapat Tidak Penting

Beberapa waktu lalu saya diundang untuk mengikuti suatu rapat yang menurut saya tidak penting. Sebagian peserta rapat itu sebenarnya sepakat kalau itu bukanlah rapat penting, bisa dibilang tidak terlalu berguna. Tetapi rapat itu harus ada dan harus dihadiri.

Kenapa tidak penting? Karena topik dan permasalahan yang akan dibahas di ruang rapat itu sebelumnya sudah “dirapatkan” secara online selama beberapa hari oleh sebagian peserta rapat yang biasanya aktif. Aneka gagasan, usulan, skenario dan permasalahan sudah dibahas sampai dihasilkan suatu solusi yang kami anggap matang. Palu maya sudah diketok mengikuti beberapa keputusan strategis.

Tetapi kenapa rapat “tidak penting” itu harus ada dan harus dihadiri? Kalau tidak ada rapat fisik mana ada uang transport untuk rapat. Kedengaran lucu ya. 😀 Belakangan diketahui, permasalahanya bukan hanya ada di uang transport. Dalam menyusun anggaran tahunan, instansi itu merencanakan dan menganggarkan beberapa kali rapat. Masing-masing rapat yang direncanakan idealnya menurut mereka harus dilaksanakan dan ada bukti fisiknya. Dalam hal ini diskusi online, seberapa baguspun ide dan solusi yang dihasilkan tidak akan atau belum bisa dijadikan bukti untuk dijadikan bagian dari laporan program kerja tahunan ala birokrat.

Sebenarnya apa susahnya sih menghadiri rapat fisik yang didukung acara banyak makan-makan. Begitu saja kok repot. 😀 Sebenarnya lagi saya ingin memasang foto-foto makanan di sepanjang rapat itu, tetapi biar lidah saja yang tahu apa yang kami makan. Alasan tidak jadi memajang foto makanan adalah karena melihat dari makanannya itu akan mudah menebak instansi apa yang saya maksud. 😀

Instagram Tidak Jalan di Samsung Galaxy Young

Begitu kehadiran Instagram for Android heboh sejak beberapa hari, pagi ini saya ikut dalam penasaran mencoba Instagram di Samsung Galaxy Young. (Operating System masih bawaan, yaitu 2.3.6)

Saya menginstall Instagram dari Google Play. Proses instalasi berjalan lancar, login lancar, melihat foto-foto Instagram yang di-upload orang-orang lancar.

Permasalahanya, saya tidak bisa memberikan efek-efek Instagram di baik foto yang diambil langsung dari Camera maupun untuk foto-foto yang ada di gallery.Tiap kali saya menerapkan efek apapun, hasilnya hanya sebuah image/gambar hitam gelap mutlak. Saya berusaha mencari masalah kenapa efek instagram tidak bisa diterapkan. Sampai install ulang dan hard reboot handset.

Pertanyaan saya: Apakah perlu minimum system requirement untuk menginstall Instagram for Android? Masalah seperti ini rupanya tidak terjadi ketika dicoba pada Samsung Galaxy yang berspesifikasi hardware lebih tinggi. Saya belum mencoba menginstallnya di handset Android lain dengan OS dan hardware yang setara dengan Galaxy Young sih 🙂

h. Atau karena masih ada issu/bug di Instagram for Android ini. Ada yang tau masalah ini?

 

 

Desa Grogol : Lomba Desa

Minggu sore, bapak ketua RT di lingkungan saya tinggal mengantarkan undangan untuk bapak saya. Intinya melalui undangan itu, Pemerintah Desa Grogol menghendaki bapak untuk menghadiri acara Penilaian Lomba Desa di Balai Desa Grogol yang berlangsung pada hari Senin 2 April 2012. Miyanto, tetangga saya, mendapatkan undangan yang sama. Baik bapak maupun Miyanto bukanlah siapa-siapa, bukan perangkat desa, bukan pula pemegang kepengurusan apapun di desa. Singkat kata bapak dan Miyanto (dan warga yang lain) diperlukan kehadiranya di Balai Desa sebagai penggembira. 😀

Lomba Desa Grogol

Lomba Desa Grogol

Foto oleh Agung Thet

Meskipun akhirnya baik Bapak maupun Miyanto tidak hadir ke Balai Desa. Bukan bermaksud mbalelo. Permasalahannya adalah apa relevansi ‘penggembira’ dengan penilaian lomba.  Gayeng regeng?

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Pertanyaan yang diposting di dinding group facebook teman-teman di desa, Konco Ndeso,  ini adalah salah satu dari banyak diskusi baik offline maupun online terkait masih relevankah format Lomba Desa seperti yang diikuti oleh Desa Grogol tercinta sekarang ini dalam mengukur pembangunan dan pertumbuhan desa. Meminjam kata satire, Lomba Desa apa Lomba Bethek? Pembangunannya atau seremonialnya?

Saya melihat munculnya pertanyaan dan diskusi semacam ini sangat wajar. Dan arahnya positif. Dari sini paling tidak bisa digunakan sebagai indikator untuk melihat arah pertumbuhan pola pikir, terutama pemuda-pemudi di Desa Grogol.

Sebuah pertanyaan “Apa manfaatnya?” merupakan hal yang alamiah ketika kita harus mengeluarkan uang (kenyataanya ada banyak iuran baik itu yang dipungut langsung dari KK maupun pungutan dari dana kas kelompok), waktu tenaga (untuk bekerja bakti, memperbaiki pagar, sarana umum secara dadakan dan meluangkan waktu sebagai penggembira di Balai Desa pada hari H -nya) dan kondisi psikologis yang memanas karena rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi. (kenyataanya meskipun harga BBM belum jadi naik, tetapi harga-harga kebutuhan masyarakat mendahului naik)

Seorang tetangga saya yang berprofesi sebagai buruh tani, yang kebetulan menjanda, suatu kali mengeluhkan pekarangannya yang cukup luas yang dikelilingi jalan. Ia pusing dengan uang yang harus ia belanjakan untuk membeli bambu untuk gapit pagar yang jumlahnya tidak sedikit, dan masih harus membayar tenaga kerja untuk menyelesaikan bethek yang bukan jenis pekerjaan wanita.

Ala Indonesia memang apa-apa serba mendadak. Infrastruktur, sarana dan prasarana dipersiapkan ‘dalam rangka’ Penilaian Lomba Desa. Ibu Rumah Tangga tetangga saya berhari-hari lemburan mengerjakan kelengkapan dan buku administrasi kegiatan di lingkungan dimana saya tinggal. Bisa dibayangkan bila buku keuangan, dokumentasi, notulen rapat, dan sejenisnya dikerjakan lembur demi nilai. Saya tidak mengatakan mereka memanipulasikan lhooo, hehehe  Dan lain-lain, dll dll.

Dalam hal ini saya lihat yang menjadi permasalahan adalah format Lomba Desa yang digunakan yang sepintas dari kejauhan terlihat sebagai warisan saklek dari jaman Orde Baru. 😀

Saya punya angan-angan seperti ini:

  • Dalam suatu periode Lomba Desa, Desa itu dipertandingkan dengan desa-desa lain dalam satu kecamatan atau desa-desa yang bertetangga. Misalnya Desa Grogol, Desa Plembutan, Desa Pampang, Desa Karang Asem.
  • Penilaiannya, sebaiknya penilaiannya dilakukan dalam satu tahun atau dalam 6 bulan. Bukan satu hari seperti model yang digunakan sekarang.
  • Apa yang dinilai, bisa diantaranya adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan perangkat desa (instrumen dan indikatornya merupakan masalah teknis yang bisa didiskusikan bersama), pertumbuhan pendidikan, pertumbuhan perekonomian, tingkat pengembalian kredit, keamanan lingkungan, pelayanan kesehatan, indeks korupsi, dan lain-lain. Olah raga, kesenian, budaya, kehidupan beragama bisa dimasukan kedalam penilaian.
  • Apa lagi … ? (silakan ditambahkan)

Inti dari ide saya ini adalah bagaimana Lomba Desa bisa memberi manfaat sebaik-baiknya bagi masyarakat. Makin baik manfaat kegiatan Lomba Desa bagi masyarakat otomatis akan meningkatkan partisipasi dan dukungan dari elemen masyarakat tanpa rasa ngowel dan keterpaksaan.

Lomba Desa bukanlah selalu identik menang kalah dan bubar cangak gulung tenda begitu penilaian lomba selesai dibacakan. 🙂

Melamun Ketika Sedang Makan

Sariawan di bibir kiri bawah saya sudah sembuh. Sariawan yang termasuk agak lama menemani hidup saya. Bukan sariawan yang disebabkan kekurangan vitamin C. Sariawan ini akibat tergigit gigi saya sendiri ketika makan. Bagaimana bisa? Bisa saja. Bukan karena saya makan sambil berbicara. Melainkan makan sambil terlalu anteng, terlalu diam. Sariawan ini bisa lama karena belum sembuh sariawan ini, peristiwa bibir tergigit terulang lagi. hehe. Sampai ujung-ujungnya ya dibantu dengan asupan vitamin C sintetis. 😀

Saya jadi senyum senyum seorang teringat bapak penjual soto langganan saya beberapa Minggu yang lalu. Beliau menegur ketika saya sedang makan di warung soto milik beliau. “Mas, kalau makan soto jangan sambil melamun.” tegur penjual soto itu. Saya tetap terdiam sampai beberapa saat sebelum tersenyum kecut menjawab “Wah, seniman harus banyak melamun, pak. Pencarian inspirasi”, “Memang kamu seniman apa?”, “Fotografer termasuk seniman, kan?”, “Oh, pantesan! Spesialis menfoto-foto orang gila ya!” Memang bapak-bapak penjual soto itu pernah melihat saya mengejar orang gila demi sekumpulan jepretan foto.

“Iya pak, lihat di handphone saya ini juga ada banyak foto-foto bapak lhoooh” tukas saya. Sambil terbahak-bahak bapak penjual soto itu, “Sempruuuul”.

Apa yang saya sadari aneh, lebih seringnya sih tidak saya sadari, beberapa tahun terakhir ini saya sering tiba-tiba menemukan sesuatu ketika sedang makan. Entah itu ide-ide baru, ide untuk merangkai ide-ide yang random menjadi rangkaian ide yang lebih logis, atau benang merah ketika saya dihadapkan keterpaksaan untuk mengurai benang kusut.

Ini saya rasakan ada baiknya sekaligus menjadi masalah tersendiri. Saya pernah ditegur oleh teman-teman saya ketika sedang lunch mereka menemukan saya ndomblog dan tidak nyambung diajak ngobrol. 😀 Kalau sedang parah, saya bisa tidak hanya ndomblong ketika sedang makan, tetapi juga ketika sedang berjalan atau mengendari kendaraan. Lebih gawat lagi hal ini bisa mengganggu kekhusukan dalam shalat.

Alih-alih, ketika sariawan di bibir sembuh, sekarang gantian tumbuh dua jerawat. Satu di pipi kanan bawah. Satunya lagi di bawah mata kanan. Kalau ini kali akibat malas cuci muka sebelum tidur. 😀

April Mob

Siapa sih yang tidak tahu bohong-bohongan yang marak tiap tanggal 1 April. Atau keren disebut sebagai April Mob. Bukan serius membohongi sih, hanya untuk lucu-lucuan. Namanya lucu-lucuan, ada yang bikin orang tertawa ketiwi, ada yang bikin orang yang dibohongi marah-marah tidak karuan.

Seperti yang sudah terjadi sepanjang hari ini di twitter, banyak orang-orang marah-marah dengan kontes RT (adu banyak me-retweet suatu tweet) dengan hadiah iPad. Belakangan diketahui sebagai Mob belaka. Yang lucu seperti dibawah ini:

Hihi, beginilah kadang men-follow anak-anak muda di twitter. 🙂

April Mob tidak hanya dijadikan oleh anak-anak muda dan orang-orang yang selo sedang tidak punya kerjaan. Google biasanya juga turut merayakan April Mob dengan Goodle Doodle -nya. Namun saya lihat tadi Google belum memasang Doodle April Fool. Mungkin besok. Sekarang di Amerika sana belum tanggal 1 April.

Sebenarnya apa dan sejak kapan sih April Mob. Rujukan pertama tentu wikipeda. Lihat di: http://en.wikipedia.org/wiki/April_Fools%27_Day

 

It was Locallized, Try Original Sumatra Food!

This morning I had a nice gtalk chat with my India friend. Yes, its been six months since we had our last dinner in Bali.  Just as we used to, there’re many things to talk about, until he said that he loves Sumatra food:

he :

heh
I love sumatra food

me : 

I like sumatra food too
especially padang food (west sumatra)
have you ever visited sumatra?
he :
Nope, not yet!
me :
dont say you love sumatra food, if you never been there tried original sumatra taste :D
hehe
he :
Well, there’s a sumatra restaurant in phnom penh
the cooks are all sumatran
me :
here in yogyakarta, there’re many sumatra restaurants, but the taste have been localized
until one day I stepped foots there and got the original padang taste
he :
ah I see. :-)
lol, doesn’t that happen everywhere?
Kounila and I went to a Thai restaurant yesterday.
The food was more salty than we were used to
and the soup was served continental style
me :
that why you have to try the original sumatra food, soon!
***
:)
:-)

 

Simpan Kerjaan Anda Sesering Mungkin

Sejak kemarin pagi, saya mengerjakan proyek kecil-kecilan, yaitu menyunting (editing) suatu bagian dari proyek video komunitas. Saya mengerjakanya tidak sendirian. Saya ditunggui oleh Director video komunitas itu. Director itu sekaligus teman akrab saya. Jadi meskipun berkerja sambil ditunggui itu bukan masalah. Saya malah bisa mendiskusikan banyak hal dengan dia, dari konsep video sampai ke hal-hal yang sangat teknis.

Semuanya lancar-lancar saja, sampai kira-kira jam setengah tiga siang. Ketika saya sedang optimis-optimisnya video itu akan selesai dikerjakan pada sore harinya, Sofware Video Editing (Adobe Premiere CS 3) yang saya gunakan “crash”.

Pikir saya, crash itu tidak akan membuat saya banyak kehilangan. Saya segera menghidupkan ulang Windows 7 dan Adobe Premiere CS 3 dan membuka kembali project itu. Ternyata file project itu berantakan. Saya masih berusaha mencari sesuatu di folder autosave -nya Premiere CS 3 itu. Saya mulai panik ketika mendapatkan di folder itu hanya ada satu file autosave untuk project yang saya kerjakan. File itu bertanda disimpan pada jam 10:47 pagi. Hawduuh. Saya memang tidak trouble shooting kenapa autosave tidak berjalan semestinya. Bukan komputer milik saya sih. 😀

Daripada makin emosi, saya berbicara dengan Director untuk berhenti melakukan penyuntingan dulu dan baru melanjutkan esok harinya. (maksudnya tadi pagi). Dan tadi pagi saya memulai project itu lagi. Tidak benar-benar dari nol sebenarnya. Mungkin mulai dari sekitar 30% -an. Dan siang ini sudah selesai. Alhamdulillah.

Insiden ini secara tidak sengaja mengingatkan saya akan suatu pengumuman yang banyak ditemukan di rental-rental komputer di kota Yogya pada sekitar tahun 1995-2000-an awal. “Simpan Perkerjaan Anda Sesering Mungkin“. 17 tahun kemudian, ketika masih menggunakan komputer Wind*ws, ternyata pengumuman itu masih relevan dan berharga. Iyah di studio dimana saya mengerjakan project social ini menggunakan komputer Windows dan Adobe Creative Suites. 😀

Selamat akhir pekan kawan. Semoga Malam Mingguan Anda (dan saya) tidak crash. 🙂