Mata Terasa Cepat Lelah

Menjelang dan beberapa hari setelah lebaran kemarin aktifitas membaca saya menurun secara signifikan. Kecuali membaca update di twitter dan jejaring sosial. Saat itu saya jarang membaca dalam durasi yang lama seperti hari-hari biasanya. Bacaan yang serius pun umumnya saya hindari.

Begitu Senin kemarin saya sudah beraktifitas seperti sedia kala. Saya merasakan ada yang tidak biasa. Mata saya terasa menjadi mudah lelah baik untuk membaca di monitor maupun untuk membaca buku. (buku dalam arti sebenarnya, bukan e-book) Senin kemarin itu saya mengira kalau hal ini hanya akan berlangsung beberapa saat saja. Sampai terbiasa kembali.

Nyatanya sampai sekarang mata saya masih saja cepat merasa lelah. Sedikit membaca saja, huruf-huruf di bacaan saya menjadi lebih sulit terlihat fokus. Beberapa menit membaca saja rasa ngantuk Β dan lelah menjadi-jadi.

Sebenarnya saya agak khawatir dan ingin periksa apa terjadi sesuatu dengan mata saya. Hanya yang saya takutkan adalah bila dokter akhirnya menyuruh saya memakai kaca mata. Saya tidak ingin menggunakan kacamata sebagai penopang aktifitas sehari-hari. Kalau memakai kacamata untuk gaya-gayaan sih tidak masalah. …

Semut Juga Perlu Minum

Saya heran dengan gelas dan tempat minum yang saya gunakan yang belum berapa lama saya tinggalkan baik di meja maupun di bangku di teras mengapa akhir-akhir ini sering dikerumui semut. Padahal air yang saya minum tidak mengandung pemanis. Air jernih saja. Bukankah biasanya semut hanya mengerumuni air yang berpemanis atau apa pun yang mempunyai kadar manis tertentu.

Dugaan saya sebelumnya, barangkali ada bekas makanan atau bekas manis dari bibir saya yang ikut menempel di bibir gelas.

Sampai kemudian saya menemukan tempat penyimpanan air minum di rumah juga dikerumi semut. Di tempat air minum yang satunya juga terdapat kerumunan semut. Sampai di sini saya jadi berpikir, barangkali semut-semut ini bukan mencari gula/rasa manis/makanan, melainkan memang mencari air untuk minum.

Pada musim kemarau yang kering seperti sekarang, barangkali semut kesulitan mencari air permukaan/air tanah untuk mereka gunakan untuk minum. Semut juga perlu minum. hehehe.

Memang makhluk hidup asa sih, selain barangkali jin dan setan yang bisa bertahan hidup tanpa air. πŸ˜€ Seharusnya mengamati semut yang perlu minum sudah saya lakukan pada saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar atau Taman Kanak-Kanak. Bukan sekarang. hihihi

Badan Sedang Tidak Enak

Senin pagi ini, sebenarnya sejak Sabtu pekan lalu, badan saya terasa tidak enak. Mungkin karena kecapean dan atau perubahan cuaca. Menuju musim kemarau yang panas dan dingin.

Bila menghadapi kondisi seperti ini, saya dihadapkan kepada setidaknya dua pilihan. Tetap beraktivitas seperti biasa. Dengan konsekuensi pekerjaan bisa jadi diselesaikan dengan tidak excellent, seadanya, asal jadi, mediocare. Lebih parahnya bila nanti saya terbawa terlalu memaksakan diri sehingga badan tambah tidak enak.

Pilihan lain yang saya ambil sekarang adalah bersabar dan istirahat di rumah. Dengan harapan badan kembali enak dan fit di kemudian harinya. Efeknya adalah beban kerja hari ini menumpuk untuk dikerjakan bersamaan pada hari kapan saya sudah kembali beraktivitas.

Selamat Hari Senin buat yang merayakan dengan penuh semangat.

Ditukar Dengan Sakit Perut

Saat ini saya sedang sakit perut. Sudah dua hari. Bermula Sabtu sore ketika tidak tahan untuk tidak mencicipi gulai kambing. Tentu saja gulai kambing berpotensi membuat perut saya ngambek karena kandungan santan kental dan bumbu rempah seperti merica dan sebagainya. Iya lemak daging kambing yang digulai utu juga ngeri. hiiiy.

Pertolongan pertama saya saat itu adalah dengan minum Mylanta. Benar saja. Hari berikutnya sakit perut saya sudah mereda. Dan tadi malam sudah lebih enak. Pagi tadi makin enak.

Gara-gara sakit lagi, ceritanya begini, tadi pagi saya dan seorang teman diundang untuk sharing-sharing di suatu SMA Negeri di kota saya. Maksudnya kota terdekat dari desa dimana saya tinggal. πŸ˜€ Undangan jam 9 pagi. Tepat jam 9 saya sudah sampai venue, namun di sana belum ada yang datang.

Daripada menjadi jompo menunggu di venue, saya memutuskan untuk mengajak teman saya mencari sarapan dan minum hanya untuk menunggu waktu dan ngobrol-ngobrol santai. Nah, teman saya memilih warung nasi goreng yang pernah ia sambangi. Nasi goreng Ciamis.

Nasi Goreng Ciamis, Playen

Nasi Goreng Ciamis, Playen

Benar saja. Rasa nasi gorengnya lumayan mantabh. Teh pocinya tidak kalah mantabh. Untuk rasa-rasa mantabh ini saya harus siap dengan konsekuensinya. Lidah saya merasakan enak. Dan perut saya beberapa jam kemudian merasakan sebaliknya.

Selalu ada yang harus dipertukarkan. Untuk kali ini saya harus menukar kepuasan di lidah yang hanya beberapa menit dengan rasa nyeri di perut yang mungkin akan bertahan sampai beberapa hari. πŸ˜€ Yah, that’s life.

 

Hanya Curhat, Tidak Penting!

Orang yang sedang sakit akan lebih baik bila beristirahat dengan nyaman agar tubuh bisa lebih cepat memperbaiki diri. Sebagaimana seharusnya ketika pada hari Selasa dan Rabu kemarin saya memutuskan untuk beristirahat tidak keluar rumah. Sebenarnya bukan sakit yang berbahaya, “hanya” flu dan radang tenggorokan. Pikir saya, daripada kelamaan dan keterusan sakit akan lebih mengganggu produktivitas.

Halah! Memangnya produktivitas apaan πŸ˜€

Kenyataanya ketika sendirian berdiam diri di rumah sambil tiduran saja membuat saya merasa tidak betah. Seolah-olah ada yang salah dengan keputusan saya untuk beristirahat. Apakah kurang tidur selama beberapa hari itu tidak cukup menjadi alasan beristirahat. Akhirnya, setelah Selasa itu saya tidur berjam-jam, berikutnya pada hari Rabu, saya memilih untuk membaca-baca buku yang seharusnya sudah saya baca beberapa minggu sebelumnya.

Bosan membaca-baca beberapa buku dan majalah, saya teringat dengan salah satu kerjaan saya. Pekerjaan itu deadline nya masih lama, tetapi seharusnya sudah mulai saya kerjakan sejak minggu lalu. Pekerjaan itu sengaja saya tunda dulu karena saya merasa belum siap. Pekerjaan itu terlihat cukup rumit dan prediksi saya memerlukan waktu serius setidaknya dua minggu.

Di tengah kebosanan, saya malah memulai pekerjaan rumit itu. Data, data dan data lagi. Processing data lagi. Entah karena saya pada Rabu itu tidak merasa terbebani target untuk melakukan pencapaian sekian-sekian, saya melakukanya sebatas sebagai pengusir kebosanan. Saya mencoba beberapa skenario sederhana dan sedikit tweak and tune.

Ahaaaa. Tak diduga tak dinyana saya menemukan solusi untuk pekerjaan itu. Hari itu ‘pekerjaan rumit’ itu saya anggap 80% selesai. Tinggal finishing dan merias-rias untuk saatnya dipresentasikan kelak. Santai. Berhenti jeda di sini dulu. Bukankah masih beberapa minggu lagi deadline nya? hihi.

Merasa senang “fly”, saya meneruskan dengan melakukan ini itu sampai malah lupa waktu lagi. Sampai malam harinya saya hampir tidak bisa tidur. Dan tahu sendiri apa akibatnya. Kamis saya belum benar-benar sembuh, akan tetapi saya harus melakukan aktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya. Saya tidak mau merasa bersalah lagi …

Tulisan ini sudah panjang. Dan saya sendiri bingung apa lesson learned yang bisa dipetik dari kejadian yang saya ceritakan ini. Tidak apa-apa. Namanya curhat, kalau tidak dituntaskan malah bikin sesak hati. πŸ˜€

Melamun Ketika Sedang Makan

Sariawan di bibir kiri bawah saya sudah sembuh. Sariawan yang termasuk agak lama menemani hidup saya. Bukan sariawan yang disebabkan kekurangan vitamin C. Sariawan ini akibat tergigit gigi saya sendiri ketika makan. Bagaimana bisa? Bisa saja. Bukan karena saya makan sambil berbicara. Melainkan makan sambil terlalu anteng, terlalu diam. Sariawan ini bisa lama karena belum sembuh sariawan ini, peristiwa bibir tergigit terulang lagi. hehe. Sampai ujung-ujungnya ya dibantu dengan asupan vitamin C sintetis. πŸ˜€

Saya jadi senyum senyum seorang teringat bapak penjual soto langganan saya beberapa Minggu yang lalu. Beliau menegur ketika saya sedang makan di warung soto milik beliau. “Mas, kalau makan soto jangan sambil melamun.” tegur penjual soto itu. Saya tetap terdiam sampai beberapa saat sebelum tersenyum kecut menjawab “Wah, seniman harus banyak melamun, pak. Pencarian inspirasi”, “Memang kamu seniman apa?”, “Fotografer termasuk seniman, kan?”, “Oh, pantesan! Spesialis menfoto-foto orang gila ya!” Memang bapak-bapak penjual soto itu pernah melihat saya mengejar orang gila demi sekumpulan jepretan foto.

“Iya pak, lihat di handphone saya ini juga ada banyak foto-foto bapak lhoooh” tukas saya. Sambil terbahak-bahak bapak penjual soto itu, “Sempruuuul”.

Apa yang saya sadari aneh, lebih seringnya sih tidak saya sadari, beberapa tahun terakhir ini saya sering tiba-tiba menemukan sesuatu ketika sedang makan. Entah itu ide-ide baru, ide untuk merangkai ide-ide yang random menjadi rangkaian ide yang lebih logis, atau benang merah ketika saya dihadapkan keterpaksaan untuk mengurai benang kusut.

Ini saya rasakan ada baiknya sekaligus menjadi masalah tersendiri. Saya pernah ditegur oleh teman-teman saya ketika sedang lunch mereka menemukan saya ndomblog dan tidak nyambung diajak ngobrol. πŸ˜€ Kalau sedang parah, saya bisa tidak hanya ndomblong ketika sedang makan, tetapi juga ketika sedang berjalan atau mengendari kendaraan. Lebih gawat lagi hal ini bisa mengganggu kekhusukan dalam shalat.

Alih-alih, ketika sariawan di bibir sembuh, sekarang gantian tumbuh dua jerawat. Satu di pipi kanan bawah. Satunya lagi di bawah mata kanan. Kalau ini kali akibat malas cuci muka sebelum tidur. πŸ˜€

Ngantuk Tetapi Susah Tidur

Sejak hari Kamis pekan lalu saya tidak bisa memenuhi waktu tidur dengan baik. Saya sering mulai tidur setelah jam satu dini hari dan bangun jam 5, malam minggu kemarin saya tidur jam setengah empat, dan bangun jam lima lebih sedikit, malam seninnya saya bisa tidur malam sekitar 5 jam, gilanya, malam selasa kemarin saya tidak tidur semalaman. Saya tidak punya tidur siang selama seminggu terakhir ini.

Saya tidak tidur bukannya tanpa alasan. Ada saja yang harus saya kerjakan dan selesaikan. Apakah saya tidak cape dengan tidur yang tidak berpola seperti itu? Tentu saja sangat cape. Tetapi secape-capenya saya, kalau ada sesuatu yang harus dikerjakan dan agak menantang, rasa kantuk akan sirna seketika. Apalagi ditantang berdebat untuk topik-topik yang saya suka. πŸ˜€

Mata memerah, kelopak mata berkantung dan berair, muka terasa tebal, kusut, kucel, menggelap legam, tumbuh dua jerawat di pipi kanan saya sudah saya rasakan sejak Jum’at malam lalu. Padahal sesekali saya juga sudah mandi.

Sekarang, tepatnya mulai tadi malam, sebenarnya saya sudah bisa tidur karena apa yang saya kerjakan sudah hampir sepenuhnya selesai. Senang. Pikiran sudah tidak overloaded lagi. Tapi, entahlah, saya tetap harus melewati semalam insomnia sehingga sekarang tubuh belum terasa bugar.

Kecapean dan kurang tidur seperti ini membuat saya akhir-akhir ini menjadi temperamental, reaktif,pemarah dan cenderung destruktif gara-gara dipicu hal-hal yang sebenarnya sepele dan sangat bisa diabaikan ketika saya sedang berkecukupan stok kebugaran. Jadi sebelum menimbulkan lebih banyak korban, haruskah untuk nanti malam saya menggunakan bantuan obat tidur? Saya belum pernah sih menggunakan obat tidur.

Perlu Musik Teman Kerja

Untuk menemani saat santai, membaca atau menyelesaikan kerjaan, saya suka mendengarkan musik. Boleh itu musik pop, keroncong, slow rock, heavy metal, blues, jazz, klasikal maupun uyon-uyon gendhing jawa. Asal bukan dangdut dan boyband/girl band kekorea-koreaan.

Bagi saya musik bisa membantu memecahkan kesuntukan ketika kerjaan yang dipikirkan dari pagi hingga siang menemui kebuntuan melulu. Mendengarkan musik bisa membantu mengurangi stres saya ketika otak dituntut untuk memikirkan ini itu. Bisa memperlancar aliran darah di otak dan seolah-olah otak lebih enak dipakai. Ini mungkin mitos karena kecanduan saya akan musik sudah sampai ke urat nadi.

Namun sesuka-sukanya saya dengan musik, siang ini saya merasakan dengan kepala sendiri, tidak semua lagu bagus cocok digunakan teman untuk menyelesaikan kerjaan yang perlu dukungan otak secara intensif. Lagu yang tidak saya cocoki untuk teman kerja kali ini ternyata bukan lagu-lagu yang jelek yang tidak saya suka. Lagu-lagu ini adalah lagu-lagu yang sebenarnya saya suka yang relatif baru dipendengaran. Lagu yang baru pertama kali saya dengar, atau lagu yang baru dua atau tiga kali masuk telinga.

Alih-alih saya memikirkan kerjaan, malah perhatian otak saya terbagi, terdistraksi, sebagian otak tersandera oleh lagu baru yang harusnya hanya menjadi sound track kisah kerja. Barangkali ini kenapa radio yang membidik pendengar bekerja memilih memutar lagu-lagu jadul pada jam kerja. πŸ˜€

Nah, setelah saya jeda sebentar dan menyelingi siang dengan menulis posting ini, saya akan segera mengganti playlist di media player dengan lagu-lagunya Norah Jones dan Beyonce saja.

Lagu siapa saja yang Anda suka sebagai musik teman kerja? πŸ˜‰

 

Duduk Dekat Pintu Darurat

Emergency Exit

Emergency Exit

Suatu penerbangan saya menuju ke barat dengan menggunakan maskapai yang bersemboyan “We Make People Fly” secara kebetulan menempatkan saya di salah satu kursi di dekat pintu darurat. (Emergency Exit) Saya memang tidak sempat memilih tempat duduk pada saat tergesa membeli tiket. Baca lebih lanjut

Membuka Kado

Adalah kebanggaan tersendiri bagi banyak orang ketika di hari-hari istimewa seperti ulang tahun, anniversary dan sejenisnya mendapatkan perhatian dari sahabat, keluarga dan handai taulan berupa hadiah dan aneka kado yang dipersiapkan secara special pula. Tidak jarang pula saya melihat orang-orang dengan bangga dan perasaan lepas menceritakan dapat kado ini itu dari si Ini si Anu sampai berbusa-busa.

Namun lain halnya saya. Saya merasa bingung harus menjawab apa bila ditanya, “Eh kemarin kado dari si Anu apaan sih?“, “Siapa saja kemarin yang ngasih Kado Ultah. Ada banyak kan?“, “Eh, maaf ya, kemarin saya kelupaan ngga ngasih Elu, kado?“, “iPad 2 yang kamu pakai itu kado dari siapa?” Enak saja, ini iPad 2 Β sih bukan kado. “Trus?” Pinjaman dari corporate. :p

Pikir saya begini: Kalau saya mengumbar si A ngasih hadiah X, si B ngasih kado Y dan si C mengirim gift Z, takutnya dikira saya membanding-bandingkan. Tetapi kalau saya menyimpan kado-kado yang saya terima seperti sekarang, mungkin saya akan memakai gadget-gadget yang dikadokan itu setelah cukup waktu berselang, bisa jadi si pemberi kado mengira saya sebagai orang yang tidak tahu berterimakasih. Namun saya percaya teman-teman saya tidak seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang bisa mengerti. Termasuk mengerti pemikiran saya bahwa sebuah perhatian tulus itu bisa diungkapkan dengan cara apa saja.

Bagaimana? Apakah Anda akan menyimpannya sebagai sesuatu yang personal? Atau membuka kado dan mempersilakan orang lain untuk tahu?