Produktifitas dan Rapat Tidak Penting

Beberapa waktu lalu saya diundang untuk mengikuti suatu rapat yang menurut saya tidak penting. Sebagian peserta rapat itu sebenarnya sepakat kalau itu bukanlah rapat penting, bisa dibilang tidak terlalu berguna. Tetapi rapat itu harus ada dan harus dihadiri.

Kenapa tidak penting? Karena topik dan permasalahan yang akan dibahas di ruang rapat itu sebelumnya sudah “dirapatkan” secara online selama beberapa hari oleh sebagian peserta rapat yang biasanya aktif. Aneka gagasan, usulan, skenario dan permasalahan sudah dibahas sampai dihasilkan suatu solusi yang kami anggap matang. Palu maya sudah diketok mengikuti beberapa keputusan strategis.

Tetapi kenapa rapat “tidak penting” itu harus ada dan harus dihadiri? Kalau tidak ada rapat fisik mana ada uang transport untuk rapat. Kedengaran lucu ya. πŸ˜€ Belakangan diketahui, permasalahanya bukan hanya ada di uang transport. Dalam menyusun anggaran tahunan, instansi itu merencanakan dan menganggarkan beberapa kali rapat. Masing-masing rapat yang direncanakan idealnya menurut mereka harus dilaksanakan dan ada bukti fisiknya. Dalam hal ini diskusi online, seberapa baguspun ide dan solusi yang dihasilkan tidak akan atau belum bisa dijadikan bukti untuk dijadikan bagian dari laporan program kerja tahunan ala birokrat.

Sebenarnya apa susahnya sih menghadiri rapat fisik yang didukung acara banyak makan-makan. Begitu saja kok repot. πŸ˜€ Sebenarnya lagi saya ingin memasang foto-foto makanan di sepanjang rapat itu, tetapi biar lidah saja yang tahu apa yang kami makan. Alasan tidak jadi memajang foto makanan adalah karena melihat dari makanannya itu akan mudah menebak instansi apa yang saya maksud. πŸ˜€