Komputer Kok Cuman Buat Dengerin Lagu

Saya suka musik. Tiada hari tanpa musik mengalir ke kedua telinga saya. Kegemaran akan musik sudah ada sejak jaman radio AM/MW bertenaga batu baterai pada era 90-an. Setelah itu saya mulai mengenal toko kaset. Kemudian jaman Compact Disk yang segera disingkirkan oleh MP3.

Music player yang saya punya sekarang adalah komputer. Kadang – kadang memutar musik menggunakan ponsel saya. Habis tidak punya iPod sih. Kadang – kadang itu diantaranya adalah bila sedang mati listrik. 😀

Tidak ada lagi tape recorder/player, Compo CD Player di kamar saya. Entah gadget – gadget itu sudah berpindah tempat kemana. Saya lebih enjoy mendengarkan musik dengan komputer yang saya sambungkan ke stereo set dengan power amplifier yang saya rangkai sendiri sesuai selera.

Komputer memang alat bantu yang keren. Alat bantu yang cukup handal untuk menikmati musik tanpa repot. Tanpa repot mengganti – ganti kepingan CD. Mudah menyusun playlist, mudah menemukan lagu – lagu dalam koleksi audio digital saya yang seabreg seukuran lebih dari 40 Giga itu, secara otomatis menemukan lagu dan playlist favorit serta dijaman yang serba terkoneksi ini untuk membagikan semangat playlist dengan kawan – kawan. Baca lebih lanjut

Promosi Bagus, Distribusi Jelek

Menurut saya, promosi Vaselinemen yang cukup kreatif di social media pada beberapa bulan yang lalu cukup sukses. Di twitter dan facebook, Vaseline cukup sukses menjaring interaksi dari onliner Indonesia dan melibatkan mereka dalam berbagai quiz dan game dengan hadiah bermacam – macam. Kalau tidak salah pada saat itu hadiah utamanya berupa nonton World Cup di Afrika Selatan, Ipad dan Camera DSLR Canon.

Saya-pun sambil lalu iseng – iseng ikut – ikutan quiz yang merupakan bagian dari promo Vaselinemen di twitter dan mendapatkan salah sample produk yang dikirimkan ke alamat saya.

Melalui quiz ini sebenarnya pemenangnya bukanlah saya dan orang – orang yang mendapatkan sample product dari Unilever itu. Vaselinemen -lah yang memenangkan kesempatan untuk dipakai di ruang yang cukup pribadi dalam kehidupan seseorang. Bukankah perawatan tubuh merupakan bagian yang sangat personal bagi seseorang? 😀 Baca lebih lanjut

Paradok: Satu Keluarga Berduka, Tetangganya Pesta – Pesta

Salah satu keluarga tetangga saya saat ini sedang berduka. Keluarga itu pada malam hari ini sedang menyelenggarakan amalan tahil/yasinan. Salah satu anggota keluarga mereka pagi tadi meninggal dunia dan baru dikebumikan siang hari tadi setelah waktu shalat Jum’at. Semoga dosa kekhilafan wo Ngadinah diberikan ampunan oleh Allah dan arwahnya mendapatkan tempat terbaik di sisi -Nya. Wo Ngadinah adalah nenek dari kawan saya Mina dan Ari.

Saya menyebutnya sebagai suatu Paradox, ketika pada malam yang sama ada keluarga bertahlil dalam duka, sementara tidak jauh dari rumah duka, tetangga yang lain sedang pesta – pesta hajatan. Musik dangdut diputar dengan lantang. Bahkan suara dari sound system di tempat hajatan masih meraung – raung pada jam 22 -an WIB saat saya menuliskan unek – unek ini sambil tidak habis pikir geleng – geleng kepala pusing – pusing.

Perlu saya jadikan catatan bagi diri saya sendiri terutama, selain ada satu keluarga yang sedang berduka kesripahan, ada beberapa tetangga lain, yaitu mbah Mento, mbah Wir Mangil, mbah Karso, mbah Ponco dan beberapa beliau berusia sepuh ini sedang sakit lanjut usia. Baca lebih lanjut

Macet Jakarta di Google Map

Traffic on Google Map

Apakah ada yang pernah mencoba Google Map untuk memantau kemacetan yang terjadi di kota Jakarta? Apakah indikator kemacetan dan kelancaran lalu lintas yang ditunjukan dengan warna – warna ini cukup akurat?

Bila iya, tentu aplikasi buatan Google ini bermanfaat sekali buat umat manusia Jakarta untuk menghindarkan diri dari kemacetan. Setidaknya ada alat bantu untuk memilih menghabiskan waktu di tengah – tengah kemacetan atau memilih alternatif. Tetap tinggal di rumah tidak bepergian termasuk alternatif juga kan … 😀

Traffic on Google Map ini selain bisa dilihat dari web browser pada pc/laptop seperti ini juga bisa dilihat melalui Google Map Apps pada ponsel. Baca lebih lanjut

Unggah Ungguh

Seorang kawan saya, dia berusia beberapa tahun lebih senior dari saya, mengungkapkan kejengkelannya di depan saya akan perilaku anak – anak muda jaman sekarang yang ia nilai tidak tahu unggah – ungguh dan mengesampingkan tata krama. Kawan saya itu merasa tidak nyaman/tersinggung karena baru saja ada remaja usia belasan yang memanggil namanya tanpa embel – embel “mas”, “pak” atau panggilan sopan lainnya.

Di lingkungan dimana saya tinggal, yang mana budaya jawa sangat mewarnai etika pergaulan, adalah hal yang lumrah apabila orang – orang yang relatif lebih muda menunjukan rasa hormat kepada orang – orang yang lebih senior. Misalnya seseorang menaruh hormat kepada kakaknya, kepada para orang tua dan kepada orang yang dituakan. Orang yang mengabaikan panggilan sopan ini disebut “nranyak/njangkar

Bentuk rasa hormat dalam budaya jawa bisa diungkapkan diantaranya dengan menempatkan kata panggilan “Mas” atau “Mbak” untuk orang yang lebih senior, kata panggilan “Pak” atau “Bu” untuk para orang tua, dan lain – lain. Tidak kalah pentingnya di dalam pergaulan Jawa, untuk menjaga kesopanan seseorang harus menggunakan Boso Jawa Kromo/ Bahasa Halus dengan orang yang lebih senior, orang tua, atau orang yang dituakan. Orang jawa menyebut anak yang tidak bisa berbahasa Jawa Halus ini dengan sebutan/ungkapan “ora iso nekuk ilatBaca lebih lanjut

Install Firefox 5.0 pada Ubuntu 11.04

Boleh jadi software yang paling ketat dalam adu cepat me-release versi terbarunya adalah web browser. Dan yang paling jadi perhatian banyak orang adalah browser open source Mozilla Firefox. Meskipun saya lebih merasa mapan menggunakan Google Chrome, tetapi setiap kemunculan release baru Firefox membuat tangan saya gatal untuk segara cepat – cepat mencicipi. Apalagi seperti dikatakan bahwa Firefox 5.0 membawa 1.000 perbaikan dari versi 4.0.

Berikut ini adalah langkah – langkah instalasi yang saya lakukan pagi ini pada ubuntu 11.04 Natty Narwhal 64 bit :

untuk Ubuntu 32 Bit :

cd

wget ftp://ftp.mozilla.org/pub/mozilla.org/firefox/releases/5.0/linux-i686/it/firefox-5.0.tar.bz2

untuk Ubuntu 64 Bit :

cd

wget ftp://ftp.mozilla.org/pub/mozilla.org/firefox/releases/5.0/linux-x86_64/it/firefox-5.0.tar.bz2

tar xvjf firefox-5.0.tar.bz2

sudo mv firefox /opt/firefox

sudo rm firefox-5.0.tar.bz2

sudo mv /usr/bin/firefox /usr/bin/firefox-old

sudo ln -s /opt/firefox/firefox /usr/bin/firefox

sudo mv /usr/bin/firefox-old /usr/bin/firefox

sudo rm -r firefox /opt/firefox

sudo apt-get update

sudo apt-get upgrade

Nah, sekarang Firefox 5.0 siap digunakan. Mengenai review tentang firefox 5.0 di banding firefox 4.1 saya tuliskan belakangan. Baca lebih lanjut

Pelatihan Software/Program Komputer di Ruang Rapat

5 tahun yang lalu, bila suatu instansi ingin menyelenggarakan pelatihan menggunakan software/program komputer, maka yang pertama kali perlu dipikirkan adalah sebuah lab komputer. Lab komputer itu harus disiapkan terlebih dahulu dengan pengadaan. Bisa pula dengan menyewa di kampus – kampus atau di sekolah – sekolah untuk lebih menghemat anggaran. Yang perlu dicermati kemudian tinggal berapa jumlah lab yang perlu disewa diperhitungkan dari jumlah peserta pelatihan. Kemudian menjadwalkan pelatihan yang akan mereka selenggarakan. Tentu saja hal tetek bengek lain juga harus dipikirkan. 😀

Nampaknya kini jaman sudah berubah dan berkompromi dengan penyelenggara pelatihan. Untuk menyelenggarakan pelatihan penggunaan suatu program/software seperti pada 5 tahun lalu, panitia sudah menganggap tidak lagi perlu memikirkan pentingnya Lab Komputer. Asumsinya saat ini semua orang sudah mempunyai Laptop. Cukup dalam Undangan pelatihan dicantumkan: Peserta Pelatihan Wajib membawa Laptop sendiri dengan spesifikasi bla bla bla …

Aula atau Ruang Rapat pun dalam sekejab sudah bisa disulap jadi Ruang Pelatihan penggunaan software/program. Panitia cukup menyediakan Viewer/Projector dan kabel roll untuk colokan listrik. Banyaknya jumlah peserta pun tidak lagi masalah. Jaman dulu kalau tidak salah maksimal 40 peserta untuk 1 lab komputer. Sekarang satu angkatan pelatihan bisa sama dengan kapasitas maksimal ruang rapat. Baca lebih lanjut

Perencanaan?

I believe that, no matter how random things might appear, there’s still a plan

Saya pikir kutipan yang saya ambil dari film The A Team diatas benar. Terlepas dari seberapa acak dan random situasi yang melatari, perencanaan itu tetap ada.

Mungkin kita pernah mengalami, ketika kita sudah merencanakan suatu hal dengan rapi, di tengah jalan yang terjadi malah seolah – olah seisi galaxy Bima Sakti berkonspirasi untuk menggagalkan rencana kita itu.

Jalan – jalan menjadi terjal, banyak tikungan tajam, tanjakan dan turunan curam menantang untuk kita takhlukan. Ya, padahal segala rintangan itu sudah berusaha kita minimalkan dalam perencanaan. Tapi apa daya bila itu realitanya. Harus kita takhlukan kalau kita tidak ingin menyerah dan gagal.

Selamat hari Senin. Jangan bosan merencanakan dan menjalankan rencana kita. Seberat apapun keep track on the plan adalah jauh lebih baik daripada tanpa perencanaan sama sekali.

Seberapa Sering Menggunakan Google Mobile?

Dokter memberikan beberapa obat setelah memeriksa apa penyakit yang kita keluhkan. Dokter memberitahu cara pakai obat – obatan yang diberikan kepada kita sebagai pasien. Misalnya obat yang ini 2 x sehari 1 tablet setelah makan. Sirup ini diminum satu jam sebelum makan. Tanpa memberi penjelasan apa fungsi masing – masing obat. Pemberian obat oleh dokter setelah pemeriksaan ini disebut self dispensing. Hal ini lumrah terjadi bila kita berobat ke Puskesmas, dokter praktek swasta dan klinik – klinik di daerah dimana saya tinggal.

Berbeda dengan kalau kita berobat ke Rumah Sakit yang lebih besar. Biasanya setelah pemeriksaan, dokter memberikan resep obat untuk bisa dibeli di Apotek manapun. Ketika kita membeli resep obat di Apotek, maka Apoteker atau petugas di Apotek akan menjelaskan kepada kita aturan pakai masing – masing obat beserta fungsi/khasiat dari obat – obat itu. Misalnya, ini adalah paracetamol untuk meredakan rasa nyeri dan menurunkan demam. Ini adalah Amoxilin, antibiotik untuk membunuh pathogen dan bibit bibit penyakit di dalam tubuh dan harus diminum sampai habis. Baca lebih lanjut

Ketinggalan Dompet (Lagi)

Pagi pagi sudah panik dag dig dug degdegan. Betapa tidak. Di tengah perjalanan naik angkot ternyata dompet saya tidak ada di dalam tas. Pikir saya mau dibayar pakai apa ongkos angkot yang saya tumpangi ini.

Untungnya saya segera teringat kalau biasanya saya menaruh uang – uang receh kembalian belanja dibagian lain tas saya. Tidak apa – apa sekali – kali membayar ongkos angkot dengan uang recehan. Saya segera memeriksa sisa – sisa receh itu. Alhamdulillah, saya menemukan pecahan lima ratusan, seribuan dan sepuluh ribuan. Berarti lebih dari cukup untuk membayar ongkos angkot pagi ini.

Kejadian kelupaan bawa dompet yang menimpa saya berulang – ulang dan uang receh yang tidak jarang disepelekan yang pada saat genting tampil sebagai penyelamat membuat saya jadi bisa menghargai arti tiap – tiap nominal uang.

Saya jadi ingat film Eurotrip (2004) tentang beberapa pemuda Amerika yang ingin beperjalanan ke Berlin, tetapi malah nyasar ke Amsterdam dan dirampok di kota kincir angin itu. Untungnya ada salah satu di antara mereka yang mempunyai kebiasaan menyimpan koin – koin kecil. Kebiasaan menyimpan koin koin kecil di tempat tempat berbeda, di dalam saku, di dalam sepatu, dan lain – lain itu ia dapat dari sebuat buku Travel tip yang entah ditulis siapa saya lupa. Uang receh juga lah yang menyelamatkan perjalanan mereka sampai Berlin.

Baiklah, saya menuliskan cerita ini dengan besar harapan di kemudian hari frekuensi ketinggalan dompet saya makin jarang. Syukur – syukur tidak pernah kejadian lagi 🙂