Kapan Masuk Waktu Shalat?

Di desa dimana saya tinggal, desa yang bahkan kebanyakan penduduknya adalah muslim, masih menggunakan patokan yang sangat sederhana dalam menentukan kapan memasuki waktu shalat.Β Mereka belum berusaha menggunakan patokan yang lebih presisi, sebagaimana yang kita ketahui di-ikhtiarkan dalam jadwal shalat. Banyak ormas Islam, bahkan pemerintah melalui departemen agama yang telah membuat jadwal shalat.

Di desa dimana saya tinggal seringkali pukul tujuh malam dianggap sudah waktunya shalat Isya, pukul empat pagi waktu Subuh, pukul 12 waktu Dhuhur, pukul 3 sore waktu Ashar dan waktu Maghrib adalah jam enam petang. Jadi tidak heran bila pada jam-jam itu di masjid-masjid di desa dimana saya tinggal, adzan dikumandangkan.

Kita semua tahu, bahwa waktu shalat yang sebenarnya bisa lebih awal atau setelah jam-jam itu. Maksud saya, misalnya waktu masuk Isya, bisa kurang dari jam tujuh malam atau pada hari ini jatuh pada pukul tujuh lewat delapan belas menit. Berarti bila jam tujuh tepat sudah Adzan, kita sudah mendahului waktu shalat.

Memang ketidak tepatan ini bukan sesuatu yang disengaja oleh masyarakat. Mereka umumnya karena belum tahu. Namun mensosialisasikan jadwal shalat juga bukan hal mudah. Tidak mudah menanamkan kebiasaan membaca jadwal shalat yang bahkan telah ditempel di papan-papan pengumuman di masjid-masjid.

Beberapa waktu lalu ketika saya akan shalat Dhuhur di suatu masjid, saya lupa nama masjidnya, yang jelas masjid itu terletak di sebelah tenggara Bioskop XXI Yogyakarta, saya melihat sebuah LED panel besar yang memampang dengan sangat jelas jadwal shalat, dilengkapi count down timer menuju waktu Iqamah. Count down timer ini dimaksudkan agar orang-orang segera bergegas mengikuti shalat jamaah di masjid itu atau agar barangkali orang tidak melakukan shalat sunnat bila waktu shalat jamaah sudah mepet.

Apa yang terbayang oleh saya begitu melihat LED panel itu adalah masjid-masjid di desa dimana saya tinggal yang masih sangat ketinggalan dalam menentukan kepresisian adzan. Lah ada yang azan saja sudah bagus kok. Kemudian saya membayangkan lagi bila LED panel itu ada di setiap masjid, kemudian terkoneksi ke suatu server waktu shalat. Tentu waktu adzan akan lebih presisi. Masjid-masjid akan beradzan pada waktu yang sama. Tidak ada yang mendahului dan tidak ada yang ketinggalan seperti yang banyak terjadi sekarang ini.

OK bila masing-masing masjid mempunyai patokan penghitungan waktu masuk shalat tersendiri, tapi perbedaan keyakinan kapan memasuki waktu shalat itu belum pernah saya dengar, maka suatu masjid bisa memilih sendiri untuk terhubung ke server waktu shalat yang mereka percayai. Misalnya terhubung ke server waktu shalat milik Departemen Agama, atau server milik Nahdatul Ulama, atau ke server milik Muhammadiyah, dan lain-lain.

LED panel yang terkoneksi seperti ini bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih luas lebih dari untuk mensinkronisasikan jadwal adzan. Misalnya untuk broadcast suatu pengumuman, untuk pengumuman dalam keadaan darurat dan penanggulangan bencana, dan sebagainya.

Baksos di Masjid di Pantai Ngrenehan

Pantai Ngrenehan dan Hamparan Pasir Putih

Pantai Ngrenehan dan Hamparan Pasir Putih

Pantai Ngrenehan dan Sepotong Melankoli

Pantai Ngrenehan dan Sepotong Melankoli

Pantai Ngrenehan, suatu pantai nelayan dengan eksotisme hamparan pasir putih. Merupakan salah satu dari ratusan pantai di Gunungkidul, merupakan satu dari kekayaan alam Indonesia.

Tidak sulit untuk menjangkau pantai ini. Hanya diperlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kota Wonosari –ibu kota kabupaten Gunungkidul, atau kira-kira 30 menit dari desa dimana saya tinggal bila ditempuh dengan sepeda motor. Pantai Ngrenehan merupakan sudut tersendiri bagi saya. Sampai entah sudah ke berapa kali saya ke sana sendirian, menikmati potongan-potongan melankoli.

Ngrenehan tidak hanya menarik bagi saya. Ngrenehan mempunyai eksotisme yang menyebar, apalagi setelah internet menjaman, seperti sekarang ini. Pesona Ngrenehan mengundang makin banyak wisatawan tiap harinya. Bukan hanya wisatawan dari desa-desa di sekitar Saptosari, Paliyan dan sekitarnya, tetapi juga wisatawan-wisatawan dari jauh, bahkan dari luar daerah.

Mungkin juga dialami oleh para wisatawan yang berlibur ke Pantai Ngrenehan, apa yang saya rasakan kurang dan agak mengganggu kenyamanan adalah keterbatasan fasilitas umum di lokasi pantai ini. Saya sendiri tidak menuntut di kawasan Ngrenehan dibangun fasilitas yang wah begitu. Bagi seorang muslim seperti saya, dan saya yakin kebanyakan pengunjung pantai adalah muslim, keberadaan tempat ibadah, tempat shalat adalah hal penting.

Saya sendiri tidak pernah merasa nyaman bila liburan saya terkendala masalah shalat. Saya dan banyak orang tidak ingin bersenang-senang di tempat wisata sampai lalai beribadah. Baca lebih lanjut

Lebaran, Malah Jadi Masalah Kesehatan

Lebaran, berlebaran memang sebuah kearifan lokal (tradisi Indonesia) yang membawa tantangan tersendiri. Tradisi Lebaran dan Syawalan telah menjadi tantangan untuk melaksanakan puasa sunnah Syawal. Saya pernah menceritakannya dua tahun yang lalu di sini. Sekaligus menantang pola hidup sehat yang kita inginkan.

Ini sebenarnya terlalu pribadi dan masalah pribadi saya. Bagi Anda yang lebih disiplin dibanding saya tentu tidak masalah.

Saya sendiri langsung mengalami gangguan kesehatan seketika pada hari pertama lebaran. Asam lambung saya meningkat. Perut saya sakit. Gara-gara apalagi kalau bukan kecerobohan saya menuruti selera lidah. Beberapa hari berikutnya, menyusul masalah pencernaan adalah radang tenggorokan. Hewduh. πŸ˜€ Masih disebabkan hal yang sama, makanan. Lebaran membuat seolah ngemil aneka gorengan, makanan berlemak, camilan serba manis dan cokelat menjadi halal. Memang halal ya, tidak haram, hanya mungkin kurang Thoyibah. hehe

Untungnya hari ini kesehatan saya sudah mulai membaik. Indikatornya saya sudah bisa menulis blog lagi. Saya bisa memulai aktifitas sehari-hari sebagaimana mestinya.

Tantangannya bagaimana meneruskan disiplin dan hal baik yang dengan mudah bisa dilaksanakan selama Ramadhan di hari-hari pada bulan-bulan berikutnya. Yang sekarang saya rasakan sangat tidak mudah.

Semalam saya berniat untuk bangun dini hari untuk ber-shalat Tahajud. Benar saya bisa bangun. Hanya untuk mematikan alarm dan tidak jadi shalat, melainkan tidur lagi. 😦 Puasa sunnah Syawal juga belum saya mulai. Niat saya baru akan saya mulai pekan depan. Setelah hajatan di tempat saudara selesai. Tantangan kali ini bertambah lagi. Bukan hanya acara Syawalan tetapi juga hajatan. πŸ˜€

Selamat Iedul Fitri 1433 H

Kalau boleh saya mengatakan Ramadhan 1433 H ini sangatlah istimewa. Istimewa sedari awal sampai akhir. Sampai Iedul Fitri hari ini.

Ummat Islam di Indonesia mengawali Ramadhan pada hari yang berbeda. Setidaknya ada yang memulai pada tanggal 20 Juli dan ada yang memulai pada tanggal 21 Juli. Dan semuanya baik-baik saja. Lebih istimewa adalah pada 10 hari terakhir Ramadhan. Tiap malam merupakan malam ganjil. Malam dimana dikisahlakn Lailatul Qadar turun. πŸ™‚

Hari ini ummat Islam berlebaran di hari yang sama. Jamnya berbeda-beda tentu saja.

Saya mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir Bathin. Kembali ke Fitri. Tekan tombol reset. Kosong-kosong. πŸ™‚

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Ada yang sama antara lebaran tahun ini dan tahun lalu, yaitu sama-sama dilaksanakan dibawah kehangatan Matahari musim kemarau. Jadi Anda jangan suudzan mengira foto-foto ini saya ambil dari foto-foto tahun lalu hanya karena ingat Ramadhan 1432 H di sini. πŸ™‚ Anggap saja nampak sama nyata beda. πŸ˜€

 

Merayakan Buka Puasa Terakhir

Kemarin saya tidak sempat nge-blog. Jadi peristiwa kemarin akan saya blog -kan sekarang.

Sabtu kemarin kami genap berpuasa 30 hari. Dengan demikian, tanpa perlu menunggu keputusan sidang isbat, sudah bisa dipastikan hari ini kami berlebaran. Ber-Iedul Fitri. Petang kemarin merupakan buka puasa terakhir. Alhamdulillah. Allohuakbar.

Saya mengundang adik-adik dan teman-teman saya untuk berbuka puasa bersama. Saya ingin mengajak adik-adik dan teman-teman yang sekarang sudah tidak bisa saya jumpai sewaktu-waktu itu karena telah merantau dengan sedikit istimewa. Istimewa tidak harus mewah bukan. Istimewa ala kadarnya. Ngumpul-ngumpul itu sendiri bagi saya merupakan peristiwa teristimewa itu sendiri.

Saya mengistimewakan buka bareng itu dengan ingin mengajak makan-makan dengan masakan yang kami masak sendiri. Tidak masalah kami tidak bisa memasak. Ada google yang bisa menyodorkan aneka resep dan cooking tips dalam sekejap. Apa yang kami masak adalah daging dan iga sapi. Sapi yang sembelihan hasil patungan oleh teman-teman sekerjaan saya.

Jam setengah lima sore, saya mengajak teman-teman untuk menikmati sunset di Bukit Sodong. Sengaja menjadikan pendakian bukit sodong yang terjal dan suram sebagai ujian terakhir pada penghujung Ramadhan 1433 H. Perjalanan mendaki yang berat ini tidak sia-sia. Sunset yang indah mewah keemasan menyambut kami dengan pesonanya sendiri.

Sunset di Bukit Sodong

Sunset di Bukit Sodong

Matahari tenggelam sore itu berlangsung begitu cepat. Dalam hitungan menit. Matahari berlindung di balik haribaan semesta. Masya Alloh.

Menit-menit berikutnya kami habiskan dengan foto-foto berikut ini:

Berpose di puncak Bukit Sodong - Paliyan

Berpose di puncak Bukit Sodong – Paliyan

Berpose di puncak Bukit Sodong - Paliyan

Berpose di puncak Bukit Sodong – Paliyan

Begitu waktu berbuka tiba kami segera berbuka dengan air mineral, beberapa teh botol dan biskuit yang kami beli tadi di suatu mini market di Paliyan.

Kami segera bergegas beberapa saat kemudian menuruni bukit dan segera kembali ke rumah saya yang berjarak kira-kira 7 km. Shalat Maghrib. Dan berbuka dengan menu daging sapi yang kami persiapkan tadi ….

Menu Berbuka yang Sederhana

Menu Berbuka yang Sederhana

 

Menonton Upacara 17 -an

Upacara 17 Agustus 2012 di Kecamatan Playen

Upacara 17 Agustus 2012 di Kecamatan Playen

Untuk ketiga kalinya kemarin saya menonton Upacara 17 Agustus -an yang dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan sekaligus bertepatan dengan musim kemarau yang kering dan panas.

Upacaranya sendiri berlangsung lancar. Hanya saja kelihatan kurang khitmad dan tertib. Barisan kurang terlihat tegap dan rapi.Β Tidak mudah melaksanakan Upacara Bendera di lapangan di tengah lapangan terbuka di bawah terik matahari yang mana sebagian besar peserta upacara merupakan siswa-siswa yang kebanyakan juga sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Peserta upacara dari kelompok masyarakat umum pun tidak ubahnya seperti siswa-siswi itu.

Tidak banyak kemeriahan sepanjang peringatan tahun (tahun) ini.

Saya jadi membayangkan, betapa penuh perjuangan dan dedikasinya para founding father dan pahlawan pejuang kemerdekaan yang mempersiapkan kemerdekaan kita 67 tahun yang silam yang juga dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sekaligus berhadapan dengan ancaman Jepang dan Belanda. πŸ™‚

 

 

Mudik Telah Tiba

Melalui Facebook (hehehe, lagi-lagi sumber facebook), pagi ini saya mengetahui salah seorang teman kampung saya telah tiba di rumah dengan selamat, alhamdulillah :), Β setelah menempuh perjalanan jauh mudik, pulang dari tanah rantau, Jakarta, untuk merayakan lebaran bersama keluarga di kampung tumpah darah tercinta. Selamat berbahagia.

Di desa dimana saya tinggal, yang mana kebanyakan pemuda-pemudinya mengadu nasib di rantau, mudik lebaran merupakan bagian istimewa dari ibadah Ramadhan. Rutin tiap musim lebaran. Ada yang kurang bila ibadah mudik belum tertunaikan. Mereka rela membayar ongkos mahal untuk mudik. Mudik harus dibayar dengan ongkos angkutan yang melambung, keruwetan lalu lintas arus mudik, kenaikan harga kebutuhan sampai masalah pengupahan di tempat kerja dan tunjangan hari raya yang belum bisa dinikmati semua pekerja.

Saya sendiri belum pernah menunaikan ibadah mudik. Saya termasuk pemuda di desa dimana saya tinggal yang masuk dalam pengecualian. Saya memutuskan untuk tidak merantau. Paling tidak sampai saya mengetik posting ini. Jikalau saya sering bepergian menempuh jarak yang bahkan lebih jauh belumlah bisa dianggap merantau, apalagi mengembara. Rutinitas terkait mudik yang saya lakukan tiap lebaran adalah menyambut teman-teman saya sepulang mengadu nasib.

Ini menyenangkan sekaligus mengharukan. Saya bisa belajar banyak hal dari oleh-oleh cerita yang sarat experience yang dibawa oleh teman-teman dari tanah rantau. Ada kisah sukses, ada perjalanan, ada perjuangan hidup, ada pengorbanan yang harus dibayarkan ketika keputusan meninggalkan zona aman (baca: kampung halaman) yang dibuat dengan gagah berani. Tentu saja keputusan itu tidak selalu bisa membawa pulang harapan. Tetapi pelajaran pentingnya adalah tidak ada yang bisa diharapkan tanpa keberanian (mengambil keputusan).

*Mengelus-elus jidat merasa habis ditepok*

Bukankah Nabi Muhammad dulu juga berhijrah untuk menggapai sukses berdakwah. Dalam taraf tertentu saya pikir merantau bisa diartikan sebagai hijrah. Berlebihan? Tidak ya?

Selamat Mudik. πŸ™‚

Bulan Bintang

Dalam perjalanan kaki ke masjid untuk shalat Subuh kali ini, saya melihat ada pemandangan malam (menjelang pagi) yang menurut saya langka. Yaitu satu bintang berhadapan dengan bulan sabit. Seperti visual yang kita lihat di mustaka/kubah masjid. Ini pemandangan anggun.

Saya terpesona. Saya menikmati.

Sepulang dari shalat Subuh, bulan dan bintang yang sama, alhamdulillah masih bisa saya nikmati kembali. Hanya kali ini awan-awan tipis yang bergerak membuatnya nampak lebih redup.

Begitu saya membuka twitter, saya jadi tahu, saya bukanlah satu-satunya orang yang beruntung yang menikmati pemandangan yang saya katakan langka ini. Ada banyak orang yang timeline-nya membicarakan bulan bintang. Ini foto yang saya dapat di twitter. πŸ™‚

Memasuki Sepertiga Terakhir Ramadhan

Tidak terasa Ramadhan kali ini berjalan seolah dengan kecepatannya sendiri. Rasanya sepertiga terakhir Ramadhan datang tiba-tiba. Bagi saya dan muslim yang memulai Ramadhan pada tanggal 20 Juli, malam ini merupakan malam ke-21.

Sebenarnya kabar bagus bagi yang ingin segera merayakan lebaran. Apalagi bagi teman-teman yang ingin segera mudik lebaran dan merayakannya di kampung halaman bersama sanak keluarga dan handai taulan. Saya sendiri di satu sisi merasa senang karena akhir perjuangan (akhir?) akan segera tercapai. Di sisi lain saya merasa belum optimal beribadah selama Ramadhan ini. Target #onejuzaday saya saja yang seharusnya sudah menginjak juz ke-21 malah masih berjuang di juz 19. Baca lebih lanjut

Sepertiga Pertama Ramadhan 1433H

Sore ini saya menjelang waktu berbuka puasa untuk yang kesepuluh kalinya. 10 hari insya Alloh akan genap saya tempuh pada Ramadan 1433 H ini. Sementara saudara-saudara saya seiman yang lain yang memulai Ramadhan pada tanggal 21 Juli 2012 insya Alloh petang ini akan menikmati kebahagian buka puasa untuk yang kesembilan kalinya. Pendek kata, sepertiga puasa hampir terlampaui.

Sampai sepertiga pertama Ramadan ini, ada beberapa hal yang saya amati terjadi di tengah umat di lingkungan dimana saya tinggal. Yaitu:

Puasa kali ini terasa lebih sederhana. Tenang dan tidak ada hingar-bingar. Puasa yang terjadi di tengah-tengah musim kemarau yang kering dan dingin.

Sejak pertama Ramadhan, jamaah di masjid-masjid tidaklah sama ramainya dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya masih ingat beberapa tahun lalu jamaah meluber sampai ke halaman masjid. Yang sama adalah jumlah jawaah yang tiap malam makin berkurang.

Ceramah Tarawih dan Kuliah Subuh. Sepanjang yang saya ingat dan saya ikuti, di masjid dimana saya mengikuti jamaah isya, tarawih dan jamaah subuh baru satu kali mendengarkan ceramah tarawih dan satu kali kuliah subuh. Barangkali pemuka agama sekarang memandang berdakwah di social media dan blog dianggap lebih tepat, hehehe. Atau program Ramadan di media TV, radio, dan lain-lain sudah mereka anggap memenuhi kebutuhan jamaah. πŸ™‚

Tadarus Al Qur’an. Di kedua masjid dimana saya gunakan selang seling berjamaah, tidak ada lagi remaja dan jamaah yang bertadarus bersama. Saya jadi rindu tahun-tahun sebelumnya dimana kami bisa saling menyimak bacaan dan membenarkan bacaan-bacaan yang dieja belum tepat. Kali ini saya bertadarus sendiri di rumah saja.

… apa lagi ya. Mungkin ada beberapa hal yang kemudian perlu saya tambahkan.

Apa pun semoga Ramadan kali membawa banyak maghfirah dan kesan mendalam untuk kehidupan kita selanjutnya. πŸ™‚ Sekarang waktu berbuka puasa di sini kurang sekitar 40-an menit lagi. πŸ™‚

Selamat menunaikan ibadah-ibadah Ramadan.