Tidur Pagi Setelah Subuh

Jam di ponsel saya menunjukan 06:12 wib ketika saya terbangun dari tidur yang tidak pulas. Dengan nyawa belum genap saya tergesa ke kamar mandi. Kali ini mandi saya saya cukupkan dengan beberapa siraman air, memakai face wash ala kadarnya dan membusai tubuh dengan sabun secara kilat. Hari ini di pabrik ada pekerjaan yang harus di selesaikan, dan sampai saya istirahat menulis blog ini pekerjaan saya itu belum selesai. Ada banyak hal yang secara mendadak sangat penting segera dirubah, secepatnya.

Tidur setelah pagi subuh tidak baik itu sepenuhnya saya percayai. Ayah dan ibu saya tidak bosan-bosanya menasehati anak-anaknya untuk tidak tidur. Dan bila pun anak-anak ibu bapak nekad biasanya mereka akan berusaha membangunkan dengan segala cara. Saya kira hampir semua orang sepakat bila tidur setelah subuh itu tidak baik. Bahkan agama saya dalam suatu Hadits meriwayatkan,  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi hari mereka”. Ini adalah doa yang agung yang  Rasulullah panjatkan agar umatnya memberi perhatian yang besar kepada waktu pagi.

Namun tadi pagi saya terpaksa mengorbankan beberapa target saya untuk tidur pagi. Saya tidak bisa shalat subuh berjamaah di Masjid, tidak bisa melanjutkan Tadarus pagi, masih ingat dengan program One Juz A Day saya, bukan? Dan beberapa nikmat pagi yang lain.

Kalau boleh beralasan, saya tadi tidur pagi karena kelelahan. Kemarin mulai pagi sampai menjelang sore banyak pekerjaan yang ditargetkan seyogyanya selesai, lebih dari itu saya harus mengebut target-target harian saya, kemudian di tengah kelelahan saya semalam ada beberapa hal trivial yang membuat saya tidak bisa tidur nyanyak sampai jam satu. Dilanjutkan saya harus bangun di antara pukul 02:30 wib – Subuh untuk shalat Tarawih, makan sahur, dan lain-lain. Sampai akhirnya keputusan shalat Subuh sendirian menjadi akhir sebelum saya tidur pagi. 😦

Nampaknya, hari-hari belakang ini, di tengah-tengah saya menjalankan kewajiban berpuasa, banyak pekerjaan yang tidak mudah yang menjadi tanggung jawab saya untuk menyelesaikan. Ya, pekerjaan dan tanggung jawab merupakan bagian dari ibadah puasa saya. Dan rasa kantuk di siang hari ini pun sebenarnya apabila saya tidur akan dihitung sebagai ibadah juga ya?

Puasa dalam arti yang sebenarnya barangkali memang sederhana. Untuk menyebut hal ini saya lebih suka dengan istilah dalam bahasa Jawa yaitu: prasaja.

Selamat Melanjutkan ibadah puasa. 🙂

Satu Juz Tiap Hari #onejuzaday

Sebenarnya saya agak malu menuliskan niat saya untuk bertadarus sebanyak satu juz tiap hari selama bulan Ramadan. Kenapa? Karena belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, niatan yang sama tidak pernah mudah saya tepati dengan mulus. Masalah selalu ada-ada saja.

Tahun kemarin, seingat saya, saya tidak menyelesaikan khatam 30 juz selama Ramadan. Tahun belakangnya tahun kemarin pun tidak mulus. Tahun belakangnya lagi juga tidak mulus satu juz setiap hari. Ada kalanya saya merapel beberapa juz dalam satu hari agar target khatam satu bulan tercapai.

Padahal target utama saya adalah belajar menjaga konsistensi dan persistensi. Bukan dijawab dengan rapelan dan borongan, hehe. Islam mengajarkan ibadah yang kecil-kecil yang rutin jauh lebih baik dari ibadah yang besar namun hanya bisa mengerjakan sekali.

Tetapi tidak apa-apa. Anggap saja niat yang saya tuliskan di sini sebagai doa. Alhamdulillah di hari ke-2 Ramadan 1433 H ini saya mulai menginjak juz ke-2. Mudah-mudahan tahun ini saya bisa konsisten 1 juz tiap hari sampai hari ke-30 ramadan. Aamiiin.

Reciting Qur'an

Reciting Qur’an

 

Sungguh-Sungguh Dalam Beribadah Jum’at

Mengerjakan apapun hendaknya dengan sungguh-sungguh. Apalagi menunaikan ibadah. Apalagi ibadah Jum’at yang wajib hukumnya bagi tiap laki-laki baligh yang sehat jasmani dan rohani. Sehat Jasmani dan Rohani, bukan? 🙂 Kalau dipikir-pikir, asalkan niatnya demi Alloh, apapun yang kita kerjakan merupakan ibadah ya.

Bisa dikatakan, saya kurang sungguh-sungguh dalam ibadah Jum’at pekan lalu. Saya terlambat. Khotib sudah membacakan doa begitu saya selesai shalat Tahiyatul Masjid. Artinya saya ketinggalan tidak mengikuti isi khotbah dari Pak Khotib. Jadi saya tidak bisa membagikan isi khotbah di blog ini seperti biasa. Keterlambatan saya kali itu murni karena kekurang sungguh-sungguhan saya. Jum’at kemarin merupakan hari libur yang saya habiskan di rumah dimana saya bisa leluasa mengatur waktu. Nyatanya terlambat. 😦

Insya Alloh, Jum’at kali ini saya tidak terlambat. Masjid dimana shalat Jum’at diselenggarakan ada di Lantai 1. Sementara saya sekarang mengetik posting ini di lantai 2.

Tantangan saya Jum’at ini adalah agar saya tidak mengantuk selama khotbah Jum’at. Sekarang rasa mengantuk itu sudah membelai. Mungkin karena semalam saya begadang. Dan tadi tidak mandi. Padahal mandi itu disunahkan sebelum shalat Jum’at ya. Doa saya, semoga dalam khotbah Jum’at nanti diisi oleh khotib-khotib yang inspiratif yang bisa menantang rasa ingin tahu dan rasa ingin menyimak semua jamaah Jum’at. Aamiin.

Setidaknya niat saya sudah sungguh-sungguh untuk bisa menunaikan ibadah Jum’at dengan sungguh-sungguh. 🙂

 

Khotbah Jum’at: Nasehat Sukses

Berbicara mengenai sukses dan definisinya, seorang khotib dalam khotbah Jum’at menyampaikan sebuah nasihat yang diberikan oleh Rosullulah Muhammad SAW kepada Ibnu Umar. Seperti biasa saya lupa bagaimana persisnya apa yang disampaikan oleh khotib, tetapi dari yang ‘nyantol’ diingatan, saya bisa googling dan menemukanya kembali:

Dari Ibnu Umar ‎رضي الله عنه  beliau berkata: “Rosululloh صلى الله عليه وسلم  pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori) . Sumber dari sini.

Khotib secara singkat menjelaskan begini: Seorang musafir pasti mempunyai tujuan yang jelas ke tempat mana ia ingin mencapai. Seorang musafir tidak boleh berhenti terlalu lama. Begitupun ketika seorang musafir bertamu, singgah di suatu tempat. Ia singgah tidak untuk selamanya. Ia harus kemudian melanjutkan perjalanan. Tatkala ia singgah bertamu, dia harus tahu diri dengan mengikuti peraturan si tuan rumah/si pemilik rumah. Seorang Musafir mampir di dunia, bertamu di dunia ini harus tahu diri bahwa dunia itu milik Alloh dan Musafir harus taat dengan aturan Alloh SWT.

***

Jum’at masih besok, tetapi saya sekarang sudah menuliskan ringkasan khotbah Jum’at seperti yang biasanya saya tuliskan sepulang dari shalat Jum’at. Ringkasan ini saya buat untuk khotbah Jum’at lalu. Saya masih ingat ketika seminggu hampir berlalu. Berarti khotib sukses menciptakan suatu kesan dalam diri saya.

Semoga menjadi amal kebaikan bagi beliau. Oh, iya nama sang khotib adalah Bapak Sandi Rochman, SAg 🙂

Khotbah Jum’at, Teman dan Orang Bodoh

Peran teman sangat penting dalam muamallah dan pembentukan pribadi seorang muslim. Pertemanan turut mempengaruhi arah keberhasilan seseorang. Pun bisa membawa ke arah kegagalan. Sehingga khotib khotbah Jum’at siang tadi merasa perlu untuk menyampaikan pesan akan seperti apa orang yang tidak layak dijadikan teman/sahabat, yaitu:

  1. orang kikir/bakhil, karena orang ini akan menjauh pada saat kita sedang membutuhkan.
  2. pendusta, karena seorang pendusta bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
  3. orang jahat, karena orang jahat akan menjual kita dengan harga murah.
  1. orang bodoh, kerena … (apa)

Sengaja urutan nomor satu dari ciri-ciri orang yang tidak layak dijadikan teman ini saya letakkan di urutan paling bawah, karena Baca lebih lanjut

Melatih Konsistensi

Akui saja kalau saya bukanlah orang yang bisa dengan mudah untuk menjaga konsistensi. Saya adalah tipe orang yang mudah memulai banyak hal baru, mudah menjalin hubungan dengan orang-orang baru dalam pergaulan. Masalahnya adalah untuk merawat dan meneruskan apa yang pernah saya mulai.

Masalah konsistensi saya memang tidak mudah terlihat oleh banyak orang. Saya tidak pernah terlalu cepat bosan. Namun saya juga tidak betah-betah amat lama bertahan. Saya umumnya masih tegar bertahan ketika banyak orang sudah jatuh. Namun saya bukanlah bagian dari orang-orang pilihan yang tetap betah berdiri memanen buah manis konsistensi yang telah dipelihara.

Umumnya saya tidak betah melanjutkan apa yang saya mulai itu bukan karena permasalahan pelik yang tak terpecahkan. Namun kebanyakan karena bosan dan jenuh. Bosan dan jenuh.

Beberapa tahun terakhir saya mulai merasakan tentang ketidakmampuan menjaga apa yang telah saya mulai untuk jangka waktu yang lama itu tidak baik. Saya harus melakukan sesuatu. Saya akan menambahkan tag onepostaday2012 pada posting ini. 🙂

One Post 2012 ini merupakan kelanjutan One Post 2011 saya. Alhamdulillah belum bosan. Sebelumnya saya pernah mengikuti gerakan #365shots di sini. Walaupun baru bertahan kurang setahun dan sekarang terbengkelai. Mencoba baca Qur’an satu juz per hari juga pernah. Sangat sulit dan hanya bertahan pada bulan puasa.

Sebenarnya saya ingin membaca Qur’an setiap hari sebagaimana One Post A Day yang sudah bisa saya jalankan sejauh ini sebagai bagian penguatan konsistensi dan spiritualitas. Mungkin terlalu berat untuk satu juz per hari. Namun setidaknya saya harus memulai dengan satu ruku’ per hari, atau satu ayat per hari. Kalau satu ayat per hari nanti bisa diberi tag oneverseaday, one verse a day. hehehe!

Reciting Progress ...

Reciting Progress ...

Difoto pada tanggal 15 Agustus 2010 dan pernah diupload di blog Posterous di sini.

Pertanyaannya barangkali: Kapan memulai? Dari sekarang atau menunggu momentum yang kuat dan tepat? Sejauh mana momentum yang tepat berarti bagi konsistensi? 🙂

Mendengarkan Khotbah Jum’at

Sebelum dilaksanakan khotbah Jum’at pada pekan lalu, Ustadz Sandi Rochman yang bertindak sebagai khotib mengingatkan jamaah akan adab Khotbah Jum’at sebagai rangkaian tak terpisah dari ibadah Jum’at. Salah satu adab Jum’at yang kedengarannya mudah tetapi tidak mudah adalah mendengarkan Khotbah Jum’at.

Saya sendiri tidak selalu mudah untuk bisa mendengarkan khotbah Jum’at. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa saya merasa mengantuk ketika mendengarkan Khotbah Jum’at. Ketidak mudahan mendengarkan shalat Jum’at itu memang sudah terjadi pada jaman Rosulullah. Bukan hanya masalah saya dan orang-orang jaman sekarang. Diriwayatkan banyak hadits tentang peringatan mendengarkan khotbah Jum’at itu.

Salah satu hadits yang disampaikan Ustadz Sandi Rochman :

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam  bersabda, ‘Jika engkau berkata kepada rekanmu, ‘Diamlah’, pada Jum’at padahal imam sedang menyampaikan khutbah, berarti engkau telah mengucapkan perkataan yang rusak’.”

Barang siapa menyentuh pasir ia telah batal. Dan barang siapa batal ia tidak mempunyai Jum’at” (HR Muslim)

Di hadits yang kedua di atas barangkali seorang jamaah tidak sengaja bermain-main pasir. Masjid yang ada pada saat itu tidak berlantai keras seperti yang ada sekarang, melainkan lantai pasir. Bisa jadi jamaah itu sedang jenuh atau bermain pasir untuk mengusir deraan rasa kantuk.

Bermain pasir saja sudah membatalkan Jum’at. Bagaimana kalau me-live tweet khotbah Jum’at? Membatalkan Jum’at ya walaupun niatnya untuk membagikan isi khotbah kepada orang-orang yang tidak bisa mengikuti Jum’at. Kalau niat baik ingin berbagi isi khotbah kenapa tidak mencoba menyimak baik-baik isi khotbah untuk kemudian menuliskannya sebagai posting blog setelah shalat Jum’at tertunaikan. Insya Alloh cara seperti itu bisa membantu mengurangi rasa jemu dan mengantuk yang mungkin terjadi di tengah khotbah sedang berlangsung. 🙂

PS : Saya tidak ingat betul hadits yang disampaikan oleh Ustadz Sandi Rochman pada Jum’at pekan lalu. Saya hanya ingat inti-intinya saja dan googling untuk mendapatkan kalimat Haditz yang lebih utuh. 🙂

Sajadah

Besok hari Jum’at. Jadi teringat Jum’at lalu dan beberapa  Jum’at sebelumnya saya agak terlambat datang shalat Jum’at, sehingga shaf-shaf depan di dalam Masjid sudah terisi jama’ah. Saya pun hanya kebagian tempat di shaf bagian balakang. Bukan shaf di dalam masjid, melainkan shaf-shaf di teras masjid. Shaf-shaf di teras-teras Masjid itu tidak berkarpet dan hanya beralaskan lantai keramik. Sudah dingin masih sedikit basah karena percikan air hujan musim hujan yang masuk ke teras  dan sisa-sisa air wudhu yang masih menempel di kaki-kaki jamaah yang berjalan memasuki ruang masjid.

Sebenarnya salah saya sendiri kenapa tidak bisa datang Jum’at lebih awal, ya saya kan suka pelancongan, jadi tidak tentu bisa shalat Jum’at di Masjid mana. Makanya malam ini saya menyempatkan untuk membeli Sajadah. Niatan saya Sajadah itu akan saya jadikan ‘gear’ wajib yang senantiasa ada di tas saya. Di tas yang sama dimana biasanya saya membawa gadget kemana-mana. Kalau saya menaruh Sajadah di tas berbeda, takutnya Sajadah yang saya bela-belain beli ini suatu kali ketinggalan.

Mudah-mudahan mulai besok biarpun terpaksanya saya agak terlambat shalat Jum’at, namun saya sedikit tertolong dari dingin lantai keramik masjid yang terkadang juga tidak higienis. Saya bisa jadi mudah-mudahan  lebih menyimak khotib berkhotbah dan shalat dengan lebih khusuk.

Aamiiin

MUI: Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Pada posting kali ini saya hanya menuliskan kembali serial tweet oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertanggal 24 Desember 2011. Agar mudah dibaca, untuk urutan tweet ini saya tuliskan kembali dengan urutan mulai dari twit yang terdahulu.

Saya menuliskan kembali serial tweet dari Majelis Ulama Indonesia ini dengan maksud agar isi dari tweet tersebut mudah ditemukan kembali di kemudian hari karena seperti yang kita tahu keberadaan suatu tweets tidak akan mudah lagi ditemukan ketika sudah berusia beberapa waktu. Saya tidak tahu persis seberapa lama twitter menjaga suatu konten agar mudah ditemukan pembaca di internet.

Dan posting ini tanpa saya maksudkan sebagai pembelaan diri karena selama ini saya sering mendapatkan kritik baik secara langsung maupun no mention ketika saya sendiri memilih untuk memberikan/menyampaikan/mengatakan Selamat Natal. Urusan dosa dan tidak dosa saya yakini sebagai otoritas Tuhan sebagai satu-satunya Yang Maha Menentukan.

Dan bila ada yang tidak setuju atau kurang setuju dengan pendapat MUI, silakan langsung menyampaikan kepada Majelis Ulama Indonesia melalui account twitter @tweet_MUI atau channel komunikasi yang lain. Saya tidak cukup punya kapasitas untuk membahas dan memperdebatkan topik-topik diluar bidang keilmuan yang saya tekuni sehari-hari. 🙂

 

 

 

 

 

Masing-masing tweet di atas saya berikan link langsung agar mudah diverifikasi.

Selamat Tahun Baru 1433 Hijriah

Tahun baru Hijriyah, satu Muharam, atau orang Jawa menyebutnya siji suro akan jatuh setelah tenggelamnya matahari pada tanggal 25 November 2011 petang ini. Ini adalah penanggalan hijriyah menurut hitung-hitungan Muhammadiyah yang saya ketahui dari apa yang disampaikan pada khotbah Jum’at yang saya ikuti siang tadi. Suatu awal tahun yang berbeda dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia pada penanggalan dan hari besar nasional.

Pemerintah Indonesia dalam kalendarnya menetapkan tanggal satu Muharam yang ditetapkan sebagai hari libur nasional ini pada kali ini akan jatuh kebetulan pada hari Minggu tanggal 26 November 2011. Suatu kebetulan yang tidak menguntungkan bagi karyawan pabrik dengan 6 hari kerja per minggu. Artinya bila 1 muharam itu jatuh pada hari minggu para karyawan dan pelajar tidak akan menikmati tanggal merah itu. hehe

Bagi yang ingin menikmati tanggal merah, hitungan muhammadiyah yang jatuh pada hari sabtu itu sebenarnya tidak akan berdampak banyak. Kecuali barangkali di perusahaan, amal usaha dan sekolah muhammadiyah. Di luar itu tidak usah banyak berharap ya. 🙂

Atau bagaimana bila 1 Muharam ditunda pada hari Senin kemudian? Baca lebih lanjut