Khotbah Jum’at, Teman dan Orang Bodoh

Peran teman sangat penting dalam muamallah dan pembentukan pribadi seorang muslim. Pertemanan turut mempengaruhi arah keberhasilan seseorang. Pun bisa membawa ke arah kegagalan. Sehingga khotib khotbah Jum’at siang tadi merasa perlu untuk menyampaikan pesan akan seperti apa orang yang tidak layak dijadikan teman/sahabat, yaitu:

  1. orang kikir/bakhil, karena orang ini akan menjauh pada saat kita sedang membutuhkan.
  2. pendusta, karena seorang pendusta bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
  3. orang jahat, karena orang jahat akan menjual kita dengan harga murah.
  1. orang bodoh, kerena โ€ฆ (apa)

Sengaja urutan nomor satu dari ciri-ciri orang yang tidak layak dijadikan teman ini saya letakkan di urutan paling bawah, karena saya tadi kurang bisa menangkap penjelasan khotib tentang definisi orang bodoh. Sedangkal intepretasi saya, orang bodoh, ber-IQ rendah seperti saya tidak layak untuk menjadi teman bagi siapapun, hehe.

Sebenarnya tidak hanya ciri pertama saja yang menurut saya kurang penjelasan. Keempatnya menurut saya dijelaskan secara kurang gamblang. Satu-satunya yang petang ini masih saya ingat adalah bahwa itu merupakan wasiat Imam Ali bin Abi Thalib.

Tidak apa-apa. Setidaknya ini bisa saya jadikan kata kunci Google untuk mencari penjelasan yang lebih lengkap untuk dimengerti.

Google mengarahkan saya pada halaman sini untuk ucapan wasiat Ali bin Abi Thalib yang lebih utuh. Sekalian saya quote:

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: Wahai anakku, jangan sekali-kali memilih seorang bodoh sebagai kawan karibmu, sebab ia hanya akan mendatangkan kesulitan bagimu sementara ia justru

ingin menolongmu. Jangan kaujadikan seorang bakhil sebagai temanmu, sebab ia akan menjauhkan diri darimu justru pada saat kau sangat membutuhkannya. Jangan berkawan dengan orang yang berbudi rendah, sebab ia akan โ€œmenjualmuโ€ dengan semurah harga. Dan jangan berteman dengan seorang pendusta, sebab ia sama saja dengan fatamorgana, mendekatkan bagimu yang jauh dan menjauhkan yang dekat. (Syarah Nahjul Balaghah III Syeikh Muhammad Abduh)

dan banyak halaman lain yang memuat penjelasan, bacaan dan diskusi yang lebih bisa dimengerti.

Sedikit hikmah yang bisa saya ambil:

Khotbah pak Khotib memang tidak memberikan penjelasan yang bagus, tetapi bisa menantang saya (dan jamaah lain yang tidak tertidur selama khotbah berlangsung) untuk memperkaya wacana akan pemenuhan rasa penasaran. Untungnya saya hidup di jaman internet. Andai saya hidup pada tahun 1200 M, tentu penasaran ini akan membuat orang mengembara dari satu ulama ke cendekiawan yang lain.

Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh ternyata bukan kalimat umpatan yang layak diberikan kepada Facebook dan Twitter. Kalimat ini sudah ada sejak jaman sahabat, 1300 tahun sebelum Facebook dan Twitter diketikan code php -nya ๐Ÿ˜€

Iklan

4 thoughts on “Khotbah Jum’at, Teman dan Orang Bodoh

  1. kalau tidak umpatan ya sindiran jawardi,”mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat” imajiku melayang teman kantor asyik chattingan nun jauh di negeri orang he he teman di belakang kursi ngantuk karena dicuekin gak diajak ngobrol.

  2. Nyebur ditulisan ini,….
    Mas Jawardi saya lihat benar2 mendengarkan khutbah Jumatan, seperti postingan yang lalu. saya beranggapan, mungkin tak lebih dari setengah jamaah jumat dikota yang benar2 memahami inti khutbah. Padahal bagi saya khutbah jumat sebagai pencerahan yang membersihkan jiwa dalam seminggu ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s