Selamat Tahun Baru 1433 Hijriah

Tahun baru Hijriyah, satu Muharam, atau orang Jawa menyebutnya siji suro akan jatuh setelah tenggelamnya matahari pada tanggal 25 November 2011 petang ini. Ini adalah penanggalan hijriyah menurut hitung-hitungan Muhammadiyah yang saya ketahui dari apa yang disampaikan pada khotbah Jum’at yang saya ikuti siang tadi. Suatu awal tahun yang berbeda dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia pada penanggalan dan hari besar nasional.

Pemerintah Indonesia dalam kalendarnya menetapkan tanggal satu Muharam yang ditetapkan sebagai hari libur nasional ini pada kali ini akan jatuh kebetulan pada hari Minggu tanggal 26 November 2011. Suatu kebetulan yang tidak menguntungkan bagi karyawan pabrik dengan 6 hari kerja per minggu. Artinya bila 1 muharam itu jatuh pada hari minggu para karyawan dan pelajar tidak akan menikmati tanggal merah itu. hehe

Bagi yang ingin menikmati tanggal merah, hitungan muhammadiyah yang jatuh pada hari sabtu itu sebenarnya tidak akan berdampak banyak. Kecuali barangkali di perusahaan, amal usaha dan sekolah muhammadiyah. Di luar itu tidak usah banyak berharap ya. 🙂

Atau bagaimana bila 1 Muharam ditunda pada hari Senin kemudian?

Saya kok malah jadi semangat sekali membahas libur tanggal merah. Harusnya bagi orang yang bermental produktif malah akan bingung mengatur waktu sepekan bila ada hari libur tanggal merah. Muncul pertanyaan, apakah orang yang banyak mengharapkan libur kerja tanggal merah, sekolah dan kuliah itu termasuk kategori orang yang tidak menikmati pekerjaan (termasuk didalamnya sekolah dan kuliah)? Atau sesuatu yang normal dan manusiawi? 🙂

Atau ada yang akan menggunakan momentum 1 Muharam ini untuk hal-hal khusus yang bersifat pribadi. Untuk refleksi tahunan dan menentukan resolusi misalnya.

Tidak bisa dipungkiri, di lingkungan dimana saya tinggal khususnya dan di Jawa umumnya, banyak orang mengaitkan 1 suro dengan banyak hal dalam kehidupanya. Saya melihat dan tahu itu meskipun saya menganggap setiap pergantian tahun baik itu masehi dan muharam sebagai sesuatu yang biasa yang sama pentingnya sebagaimana tiap detik berdetak berganti.

Saya ingat betapa orang menyakralkan siji suro ketika pada sekitar 12 tahun lalu, sekitar tahun 1999 diajak oleh kawan saya, Catur Hambawanto melihat orang melakukan ritual dengan keyakinan mereka di Jimatan, makam raja-raja Mataram di Imogiri-Bantul. Dari situ saya melihat dan belajar untuk menerima dan menghormati perbedaan keyakinan dengan orang!

Daripada makin ngelantur, sebelum saya mengakhiri tulisan ini, perkenankan saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah baik bagi yang menyakini jatuh pada petang ini atau esok petang bagi yang merayakan.

Tulisan ini Insya Alloh akan terbit tepat pada jatuh waktu Maghrib untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya yang akan jatuh pada pukul 17:40:39 WIB. Untuk pengaturan waktu ini saya mempercayakan fitur scheduled post pada wordpress.com. 🙂

Iklan

22 thoughts on “Selamat Tahun Baru 1433 Hijriah

  1. Ping-balik: Rasan-Rasan dan Kebetulan « Menuliskan Sebelum Terlupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s