Saya Pengguna kartuHALO, Bagaimana MyTelkomsel Membantu Saya?

Saya menggunakan kartu HALO dari Telkomsel untuk memenuhi kebutuhan komunikasi saya. Dari kebutuhan berkomunikasi sehari-hari seperti menghubungi keluarga dan handai taulan sampai untuk keperluan pekerjaan, bisnis dan profesional. Baik untuk menelepon, mengirim pesan singkat sampai untuk melayani kebutuhan komunikasi data. Alasan saya menggunakan Kartu HALO  adalah ketersediaan jaringan seluler Telkomsel yang modern dan handal yang terpasang sampai ke pelosok negeri, sampai daerah pedesaan dimana saya dan keluarga saya saat ini tinggal. Keandalan dan jangkauan luas jaringan seluler Telkomsel serta kualitas layanan pelanggan kelas atas yang memuaskan dari kartu HALO -lah yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang saya mempunyai 2 nomor kartu HALO yang sejak awal diaktifkan telah terdaftar paket data (internet) Telkomsel Flash. Untuk diketahui kedua nomor kartu HALO itu terpasang pada kedua smartphone saya yang menuntut koneksi data selama 24/7 (24 jam sehari/7hari per minggu).

Bertahun-tahun menggunakan kartu HALO bisa dibilang saya tidak menemukan kendala dan gangguan yang berarti. Saya jarang mengalami drop call saat menelepon atau  SMS pending. Begitu juga dengan akses data, mengingat Telkomsel memberikan prioritas utama akses jaringan bagi pelanggan kartu HALO. Sedikit kendala saya pada awal-awal menggunakan paket data Telkomsel Flash untuk kartu HALO  adalah kendala untuk mengecek kuota paket data yang saya langgani. Pada awal paket Telkomsel Flash dihadirkan kepada pengguna kartuHALO, Telkomsel memang belum memberikan fitur untuk mengecek volume pemakaian data. Karena belum tahu bagaimana cara memeriksa sisa kuota paket data, saya saat itu sering kali telah kehabisan kuota pada tengah bulan berjalan. Kalau sudah kehabisan kuota maka tidak ada cara lain untuk mendapatkan koneksi data cepat Telkomsel kecuali dengan membeli paket turbo, atau bila saya sedang ingin berhemat maka saya harus bersabar sampai awal bulan depan. Berhemat kuota data seperti ini tidak pernah mudah. Koneksi data jaringan Telkomsel yang cepat, handal dengan jaringan 3G dan bahkan di beberapa kota telah dilengkapi dengan jaringan HSDPA+ yang kecepatanya mencapai 21 Mbps adalah godaan untuk tidak bisa berhenti browsing, audio/video streaming, online gaming dan aplikasi online haus data lainnya.

Sampai beberapa hari yang lalu, ketika saya blog walking dan menemukan sebuah posting dari teman saya Nike yang membahas tentang aplikasi MyTelkomsel. Dari apa yang saya baca dari posting Nike, saya menangkap bahwa MyTelkomsel adalah aplikasi mobile yang bagus yang berguna bagi pelanggan Telkomsel seperti saya. Ketersediaan MyTelkomsel apps baik di Appstore, Appworld maupun Play Store mendorong saya untuk segera menginstall MyTelkomsel apps di Samsung Galaxy Core yang saya pakai.

Instalasi My Telkomsel Apps

Instalasi Aplikasi MyTelkomsel

Proses instalasinya sendiri berlangsung sangat cepat. Aplikasi MyTelkomsel  yang berukuran sekitar 2,3 Mb dalam beberapa detik terdownload melalui jaringan  data Telkomsel. Saya pun segera menjalankan MyTelkomsel apps. Seperti yang ditunjukan dalam tangkapan layar yang saya sertakan di atas, saya perlu menyetujui ketentuan penggunaan sebelum aplikasi berjalan.  Ketentuan penggunaan memang penting, tetapi yang membuat saya segera menekan tombol “ACCEPT” adalah karena My Telkomsel itu GRATIS untuk diunduh maupun digunakan. 🙂

Home screen MyTelkomsel apps dalam beberapa detik langsung terbuka dengan sempurna di ponsel saya. Aplikasi MyTelkomsel cukup ringan dijalankan oleh smartphone Android entry level yang saya pakai.

Namun yang mengagetkan saya adalah di Home Screen MyTelkomsel apps semua apa yang saya perlukan telah tersaji. Mulai dari jumlah pemakaian sementara, nama paket data aktif, berapa MB paket internet terpakai, total kuota internet dan lain-lain. Dari apa yang ditampilkan oleh Home Screen MyTelkomsel saja saya tidak akan perlu lagi menekan *888#, *887#, *889#, *999#, mengirim SMS ke 3636 untuk memeriksa sisa kuota paket data, dan lain-lain. Kemudahan seperti inilah yang saya tunggu-tunggu selama beberapa tahun. Kemudahan yang juga sangat dielu-elukan oleh pengguna tablet yang tidak memiliki fitur telepon. Bagi pengguna tablet  tanpa fitur telepon pasti sering merasakan betapa repotnya hanya untuk mengecek sisa pulsa, mengisi pulsa dan memdaftar/membeli paket internet di nomor Telkomsel-nya.

Selengkapnya tentang tampilan aplikasi MyTelkomsel yang informatif silakan melihat tangkapan layar di bawah ini:

Halaman Utama Aplikasi MyTelkomsel yang informatif

Halaman Utama Aplikasi MyTelkomsel yang informatif

Tangkapan layar di atas saya buat pada tanggal 9 Desember 2013. Melihat pemakaian data saya yang baru menghabiskan 526.00 MB dari 3.07 GB, atau baru 17% saja, maka saya bisa memperkirakan penggunaan data pada bulan ini agar tidak terlalu boros. Agar pada akhir tahun ini saya masih mempunyai kuota yang cukup untuk digunakan mengunggah foto-foto pesta kembang api ke sosial media melalui ponsel saya pada malam pergantian tahun kelak.

Kesan pertama MyTelkomsel apps yang mengagumkan mendorong saya untuk mencoba-coba fitur-fitur lain di dalam apps ini.

Sampai ketika menekan tombol Lokasi Grapari di dalam kelompok menu Layanan Pelanggan (lihat tangkapan layar di sebelah kiri di bawah ini), saya merasa seolah ada sebuah kebetulan. Sejak beberapa hari yang lalu saya memang berencana walk in ke Grapari untuk menukar SIM Card kartu HALO dengan micro SIM yang compatible dengan smartphone yang akan saya pakai, namun selalu urung mengingat satu-satunya Grapari yang saya tahu beralamat di Jalan Jendral Sudirman Yogyakarta yang jaraknya kira-kira 50 km dari tempat tinggal saya di Gunungkidul. Namun seperti yang ditunjukan oleh tangkapan layar, MyTelkomsel apps memberi tahu bahwa di kota saya, di Wonosari pun terdapat perwakilan Grapari. Yay. Akhirnya niat saya untuk menukar SIM Card kesampaian. 🙂

My Telkomsel apss : Layanan Pelanggan

MyTelkomsel apps : Layanan Pelanggan

Menggunakan operator telekomunikasi dalam jangka waktu lama sudah lumrah kiranya bila kita menemukan kendala, baik itu kendala seperti gangguan jaringan, produk layanan dan lain-lain.  MyTelkomsel apps membuat pengaduan sangatlah mudah. Tinggal memilih kategori, sub kategori dan menuliskan isi pesan aduan, kemudian tekan tombol kirim. Beberapa saat setelah tombol kirim ditekan kita akan mendapatkan Tiket Pengaduan yang bisa kita gunakan untuk mengecek sejauh mana aduan kita ditindak lanjuti.

Karena itu saya mencoba menggunakan menu “Pengaduan” ini untuk bertanya beberapa hal.

Mencoba mengecek status aduan saya menggunakan MyTelkomsel apps membuat saya sangat yakin bahwa Telkomsel tidak pernah main-main dalam melayani pelanggan-pelanggannya. Di halaman status pengaduan ternyata saya tidak hanya bisa melihat aduan yang baru saja saya buat dengan MyTelkomsel Apps, melainkan di halaman status pengaduan tertera riwayat aduan- aduan saya terdahulu. Bahkan permintaan penggantian SIM Card kartu HALO pada tanggal 6 Desember 2013 yang saya ceritakan di atas pun tertera di halaman status aduan. Lihat di tangkapan layar di atas.

Bagaimana aduan yang tadi saya buat dengan MyTelkomsel apps ditangani? Tim Costumer Service Telkomsel menyelesaikan aduan saya dalam hitungan menit. Yang melebihi ekspektasi saya adalah adanya notifikasi penanganan aduan melalui SMS. Telkomsel rupanya sangat tahu dengan kebiasaan pelanggan yang tidak selalu sewaktu-waktu terhubung ke internet. Dan pada saat itu juga kendala saya yang lain, yaitu sering tidak sampainya tagihan kartu HALO ke meja saya juga sudah diselesaikan dengan cara yang lebih inovatif, yaitu dengan aktivasi kilat pengiriman tagihan kartu HALO via email. Lihat tangkapan layar di atas.

Untuk fitur-fitur  MyTelkomsel Apps yang lain seperti memeriksa sisa pulsa dan kuota internet pada tablet, membeli paket internet pada tablet, berbagi pulsa, berbagi kuota data, membeli paket Flash Gift untuk diberikan ke nomor Telkomsel dan lain-lain, silakan menonton video berikut ini:

MyTelkomsel Apps merupakan aplikasi yang dibuat oleh Telkomsel dan disediakan cuma-cuma/gratis diunduh dan digunakan oleh semua pelanggan Telkomsel, baik itu pelanggan kartu HALO, simPATI maupun kartu AS.

Sebagai kesimpulan, fitur-fitur kunci aplikasi MyTelkomsel adalah:

  1. Gratis diunduh dan digunakan oleh semua pelanggan Telkomsel, baik pelanggan pra bayar maupun pasca bayar.
  2. Ukuran file kecil sehingga bisa diunduh dengan mudah dan cepat, tidak memenuhi memori aplikasi pada smartphone dan ringan dijalankan bahkan oleh smartphone entry level sekalipun.
  3. User Interface yang instuitif, mudah dipelajari oleh pengguna smartphone pemula.
  4. Menggantikan fungsi-fungsi shortcode dan perintah SMS seperti *888#, *887#, *889#, *999#, SMS seperti UL dikirim ke 3636 dan lain-lain. Menggunakan aplikasi MyTelkomsel pelanggan Telkomsel tidak perlu lagi mengingat fungsi-fungsi perintah SMS dan shortcode tersebut. Hal ini memudahkan pengguna tablet yang tidak memiliki fitur telepon.
  5. Aplikasi MyTelkomsel tidak berdiri sendiri melainkan terintegrasi dengan sistem backend Telkomsel seperti data penggunaan dan Sistem Pelayanan Pelanggan seperti riwayat dan pelacakan pengaduan.
  6. Fitur Test Speed yang sangat penting untuk memeriksa kecepatan dan keandalan jaringan data Telkomsel.
  7. Terintegrasi dengan fitur geo lokasi pada ponsel untuk membantu pelanggan menemukan. kantor palayan Grapari terdekat.
  8. Aplikasi MyTelkomsel tidak hanya tersedia untuk platform Android tetapi juga tersedia untuk platform Blackberry dan iOS.

Jadi tunggu apalagi, baik Anda pengguna Blackberry, Android atau iPhone/iPad segeralah memasang dan menikmati kemudahan yang ditawarkan oleh MyTelkomsel apps seperti saya. Bila Anda belum menggunakan layanan Telkomsel, saya menyarankan Anda untuk segera ke jalan yang benar dengan menggunakan produk-produk dari operator seluler Paling Indonesia.

Mau tahu kecepatan jaringan data Telkomsel Flash. Berikut adalah kecepatan rata-rata jaringan Telkomsel Flash yang saya test dengan fitur Speedtest pada Aplikasi MyTelkomsel di ponsel Samsung Galaxy Core:

Average Speed of Telkomsel Flash on my Samsung Galaxy Core

Average Speed of Telkomsel Flash on my Samsung Galaxy Core

Minum Minuman Ber-Es

Sudah beberapa tahun saya tidak meminum minuman dingin/minuman ber-es. Kenapa? Itu sejak saya merasa mudah sekali sakit, entah itu pilek, radang tenggorokan, demam dan sejenisnya. Apalagi saya mulai mengalami gangguan pencernaan/maag. Jadi sejak saat itu saya tidak mau mengambil resiko sakit dengan meminum semua jenis minuman ber-es. Artinya saya merelakan kenikmatan meminum minuman ber-es berpisah dengan kehidupan saya. 😀

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, dengan perasaan was-was saya memaksakan diri meminum es. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir saya meminum es lagi. Es pertama yang saya minum adalah Es Degan. Meminumnya pada tengah hari yang panas di Pantai Sepanjang. Saya meminum Es Degan traktiran teman saya Wawan. Orang bilang semua makanan dan minuman gratis itu selalu nikmat. Untuk kali itu rasanya memang seger-seger nikmat di sela-sela kekhawatiran akan sakit lagi. Untungnya sampai beberapa hari kemudian saya mendapatkan diri tidak sakit. Saya sehat tak kurang suatu apa.

Es kedua yang saya minum adalah Iced Chocolate Frappe di JCO Ambarukmo Plaza. Kali ini karena saya salah pesan. Sebenarnya saya ingin memesan Non Iced Chocolate Frappe. Karena sudah terlanjur dipesan dan dibayar ya saya dengan galau memutuskan untuk meminumnya saja. Kali ini saya mulai sedikit berani mengambil resiko. Meski kekhawatiran sakit karena es tetap saya ceritakan dengan teman minum saya, Puji Wijaya.

Es Degan

Es Degane

Minggu  kemarin adalah untuk ketiga kalinya saya meminum Es. Siang yang cukup panas setelah berjalan-jalan mengantarkan teman saya, Prita, mengelilingi lokasi wisata Air Terjun Sri Gethuk adalah dorongan yang sulit ditahan untuk tidak meminum Es. Apalagi penjual Es Degan terlihat dimana-mana, hehe.  Kalau kali ini saya memang sudah kepingin meminum es beneran. Pengalaman 2 kali meminum minuman ber-es dan tidak sakit membuat saya makin berani saja.

Dan Alhamdulillah 3 kali meminum es dalam satu bulan terakhir ini tidak membuat saya sakit. Apakah ini berarti Minuman ber-es sudah halal untuk saya? 😀

#ngayogjazz 2013

Sudah cukup terlambat saya menulis posting tentang #ngayogjazz. Karena event #ngayogjazz sendiri sudah dilangsungkan satu pekan yang lalu di Desa Sidoakur, Godean, Sleman Yogyakarta. Tepatnya hari Sabtu Wage tanggal 16 November 2013.

Tentang apa itu ngayogjazz sebenarnya dan memang tidak perlu dijelaskan lagi. Karena yang baru saja dihelat adalah event #ngayogjazz yang ke-6 yang pernah digelar di Jogja. Ngayogjazz yang pertama digelar pada tahun 2009 di Pasar Seni, Gabusan, Bantul. Namun sederhananya Ngayogjazz adalah konser Jazz semacam Java Jazz di Jakarta namun mengusung konsep yang jauh lebih kreatif, yaitu konsep kerakyatan. Perhelatannya pun selalu dilaksanakan dari satu desa wisata ke desa wisata lainnya. Tentu tidak Jogja bila tidak kreatif yang njawani, hehe

Berbekal dengan pengalaman diguyur hujan semalaman ketika menonton Ngayogjazz tahun sebelumnya, yaitu di Ngayogjazz 2012 yang dihelat di desa wisata Brayut, Pendowo Harjo, Sleman, kali ini saya dan teman saya sudah mempersiapkan antisipasi terhadap turunnya hujan. Kami sudah berbekal kerudung plastik yang siap digunakan. Sebenarnya ini kerudung plastik yang saya beli tahun lalu tetapi karena teman saya itu open makanya plastik itu masih tersimpan dan bisa dimanfaatkan lagi.

Dan benar saja, sejak berangkat menuju Desa Sido Akur hujan yang rauwis-uwis telah membasahi perjalanan kami menuju venue Ngayogjazz di Desa Sidoakur yang terletak cukup jauh dari pusat kota Jogja. Apalagi bagi saya yang harus menempuh perjalanan lebih jauh lagi menuruni Yogyakarta Lantai 2 (baca: Gunungkidul).

Melihat beberapa dari 5 panggung Ngayogjazz, ada yang saya lihat berbeda dengan Ngayogjazz di Desa Brayut pada tahun lalu. Yaitu tata panggungnya. Bila Ngayogjazz di desa Brayut ada beberapa panggung outdoor yang didesain tanpa atap. Semua panggung di Ngayogjazz Sido Akur semua beratap. Jadi ini sudah merupakan antisipasi yang lebih baik terhadap turunnya hujan di awal musim penghujan ini. Jadi meskipun turun hujan tidak akan ada lagi pembatalan manggung.

Saya pun segera mengitari sepenjuru Desa Sido Akur untuk menonton satu panggung ke panggung yang lain. Dan tentu saja sambil jepret sana jepret sini sekenanya. Berikut sebagaian jepretan saya yang tidak ada bagus-bagusnya. hehehe

 

Hujan dan Selamat Pagi

Hari ini hujan sudah turun sejak habis subuh tadi. Sampai waktunya ke pabrik pun hujan masih menjadi-jadi. Rauwis-uwis begitu. Padahal saya harus ke jalan raya terdekat untuk menunggu angkot agar bisa sampai pabrik. Padahal saya belum beli payung. Ya, salah saya sendiri sih kenapa ngga dari kemarin-kemarin beli payung. Jangan jadikan alasan beberapa waktu lalu ke minimarket dan ke warung kelontong beli payung tetapi saat itu belum ada stok payung ya..

Karena mau tidak mau ke pabrik itu tidak bisa menunggu. Ke pabrik pagi ini seyogyanya tidak telat. Saya pun dengan terpaksa tidak memilih ngangkot seperti biasa. Begitu selesai mengemas laptop kedalam tas, memakai baju alakadarnya, saya mengenakan jas hujan yang saya beli beberapa waktu lalu, mengencangkan pengait helm yang kemudian saya pakai, dan yah.. saya ke pabrik naik motor.

Dingin sekali rasanya pagi-pagi mengendarai motor menembus hujan yang cukup lebat. Balutan jas hujan plastik yang merangkapi kaos dan baju saya tidak cukup melindungi diri dari dingin. Brrrrr

Sesampainya di pabrik, sebenarnya saya ingin ngeteh-ngeteh pas dulu. Tapi ya jam segini mana ada. Kali ini saya pemanasan dengan menulis posting curhat ini dulu… 😀

Shalat Jum’at di Sekolah

Sejak beberapa lama saya sering mendengar tentang Kurikulum 2013. Kurikulum baru yang mulai diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Kurikulum yang konon mengedepankan pendidikan karakter. Kurikulum yang saya ingat pernah menjadi heboh di social media, di twitter, di facebook, dll. Kurikulum yang bisa mengaitkan pergerakan atom dan elektron dengan keesaan Tuhan.

Hari Jum’at beberapa pekan yang lalu, kebetulan saya berkunjung ke suatu sekolah di daerah saya tinggal. Di sekolah yang katanya telah ditunjuk untuk melaksananakan Kurikulum 2013. Saya merasa agak aneh ketika pada waktunya Shalat Jum’at dan saya ingin numpang shalat Jum’at di masjid sekolah itu mendapatkan masjid tidak digunakan untuk shalat Jum’at. Sampai akhirnya saya bergegas mencari masjid di luar lingkungan sekolah untuk menunaikan shalat Jum’at.

Ya, tentu saja pikiran saya susah untuk tidak mengkaitkan Shalat Jum’at dengan pendidikan karakter. Meski saya sendiri mungkin tidak bisa diajak untuk memperdebatkan keduanya, hehe.

Memang melihat ukurannya, Masjid di sekolah itu tidak cukup untuk menampung semua siswa muslim yang saya perkirakan berjumlah lebih dari 1.000 siswa. Jadi pihak sekolah  membiarkan siswa-siswa hanya bermain-main di waktu shalat Jum’at tidak bisa disalahkan begitu saja. Fasilitasnya memang belum memadai.

Hmm.. Jadi bagaimana dengan pendidikan karakter tadi? Atau karakter itu cukup diajarkan teorinya saja?

Ke Baturaden Purwokerto

Peristiwa yang kita lalui, baik itu peristiwa yang membawa kenangan manis atau pun kenangan buruk, seiring waktu akan kehilangan detilnya. Apalagi peristiwa yang biasa-biasa saja. Detilnya akan lebih cepat luruh, hehe. Maka saya memberi tagline blog saya ini “Menuliskan Sebelum Terlupakan”. Makanya saya ingin menuliskan jalan-jalan saya beberapa waktu yang lalu ke Taman Wisata Baturaden Purwokerto. Sekaligus biar pembaca blog ini tahu kalau saya juga pernah jalan-jalan selayaknya manusia. Tidak hanya ngoprek saja.

Saat itu, sekitar jam enam pagi waktu Gunungkidul, hari Kamis, 17 Oktober 2013, yah saya memang tadinya tidak ingat dengan pasti kapan kami berangkat ke sana, tanggal ini saya ketahui setelah melihat metadata dari foto-foto yang saya ambil waktu itu, hehe. Berangkat sepagi itu bagi saya memang tidak mudah. Suasana liburan Iedul Adha di tengah musim kemarau Gunungkidul dengan kedinginan yang memeluk membuat saya biasanya malas sekali bangun. Tetapi untuk hari itu saya bisa bangun sebelum Subuh, mandi dengan gagah berani dan masih sempat sarapan pula, sarapan di warung soto Lek Prapto.

Bus kami pun akhirnya pelan-pelan berjalan menuju Purwokerto. Bukan jarak yang dekat dari Gunungkidul. Perlu waktu setengah hari untuk mencapai Taman Wisata Baturaden. Waktu setengah hari ini saya gunakan untuk menikmati panorama alam di sepanjang jalan. Panorama yang kebanyakan merupakan tanah persawahan di musim kemarau. Sehingga tidak banyak saya lihat pemandangan sawah hijau.

IMG_6459

Lepas tengah hari kami sampai di terminal bus di Baturaden Purwokerto. Untuk mencapai Taman Wisata, perjalanan kami diteruskan dengan shuttle transport. Shuttle transport ini kalau di desa dimana saya tinggal disebut Angkot. Sebenarnya untuk ke Taman Wisata bisa ditempuh dengan jalan kaki bila mau. Jaraknya tidak jauh untuk ukuran saya. Satu-satunya yang membuat malas jalan kaki adalah kedatangan kami yang tepat pada tengah hari. Cuacanya sangat panas dan terik.

IMG_8602

IMG_6385

IMG_6397

IMG_8577

IMG_8579

IMG_8593

Taman Wisata Baturaden pada saat itu tidak sedang ramai-ramainya karena kami datang ke sana memang bertepatan dengan bukan hari libur. Jadi meski di tengah terik siang hari, taman kelihatan hijau,  rapi, tertata dan tidak kotor oleh sampah-sampah pengunjung. Kami pun dengan leluasa berjalan-jalan keliling-keliling taman. Hanya keliling-keliling saja sambil sesekali foto-foto. Ada banyak wahana dan permainan yang bisa dicoba di sana. Namun saya dan teman-teman tidak cukup tertarik untuk mencobanya.

IMG_8606

IMG_8638

IMG_8640

Tidak lama kami sudah mengelilingi hampir semua bagian Taman Wisata Baturaden untuk segera bergegas ke tempat tujuan kami berikutnya.

DSC_0254

Ngomong-ngomong tempat semacam Taman Wisata Baturaden belum terlalu cocok dengan single seperti saya. Taman Wisata Baturaden kelihatannya cocok sebagai tempat rekreasi keluarga. Melihat aneka wahana yang peruntukannya untuk anak-anak di sana, makananan dan jajanan yang ada. Anak-anak yang dibawa keluarganya di sana pun saya lihat sangat menikmati. hehe

DSC_0694

Bersambung …

Hujan

Hujan lagi. Padatahal sebentar lagi waktunya pulang lagi. Tapi tidak apa-apa.  Saya sih penyuka hujan. Baik hujannya itu sendiri maupun aroma yang ditimbulkan oleh kombinasi air hujan dan tanah. Kalau kemarin saya mengeluh, sebenarnya itu karena saya belum makan siang. Bagaimana tidak mengeluh coba, terjebak hujan di tengah perut yang kelaparan.

Ini merupakan hujan yang ketiga di desa dimana saya tinggal. Hujan yang turun berturut-turut dalam 3 hari terakhir. Ini kabar baik. Di desa dimana saya tinggal hujan disambut dengan suka cita. Hujan di sini tidak dikutuk seperti ketika air hujan jatuh di Jakarta yang dituduh sebagai biang banjir dan penyebab kemacetan di jam-jam orang-orang pulang kerja. Musim hujan adalah harapan yang tunggu para petani. hehehe

Dalam beberapa hari ke depan, saya dan keluarga akan segera merayakan musim hujan kali ini dengan menanam aneka tanaman pangan seperti jagung, kedelai, singkong, padi, dan lain-lain.

Sekarang biar saya melihat hujan, mendung dan langit dari balik jendela saja. Doa saya untuk hari ini semoga listrik tidak mati. Kalau sampai listrik mati selain gelap, koneksi internet saya akan terputus. Baterai Laptop sebenarnya bisa bertahan sampai sore nanti. Tetapi Hotspot dan jaringan internet di sini tidak dipasangi baterai cadangan. Jaga listrikmu agar tidak ‘aliran’ ya petugas PLN. 🙂

Ngomong-ngomong, apa sih yang kau sukai tentang hujan?

Dukungan Blogger Untuk PLN Bersih Anti Korupsi

Berencana mengerjakan pekerjaan kehumasan Blogger Nusantara secara online di rumah, hari ini saya pulang kantor lebih awal. Sayangnya rencana kembali jadi wacana. Rencana mengerjakan tugas sebagai seorang Community Relation Manager #BN2013 harus kandas karena listrik di rumah mati. Listrik baru hidup sekitar pukul 16 sore ini.

Hari ini saya benar-benar kecewa terhadap PLN. Hari ini (Kamis, 24 Oktober 2013) seharusnya di desa dimana saya tinggal tidak ada kejadian mati listrik dari pagi sampai sore. Seharusnya mati listrik terjadi kemarin. Karena beberapa hari yang lalu melalui facebook fanpage stasiun radio lokal saya membaca pengumuman ini:

plnpengumuman

Ini jelas pengumuman yang menyesatkan. Sehingga orang-orang tidak bisa mempersiapkan diri menyambut kematian listrik dengan benar. Termasuk saya, bila saya sejak tadi malam sudah tahu bahwa listrik hari ini akan padam, tentu saya akan mengisi penuh pundi-pundi batere agar laptop saya bisa menyala seharian atau saya bisa saja tetap tinggal di kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan listrik dan koneksi internet.

Cukup ah curhatnya. Sekarang kembali ke laptop, ke topik yang kali ini ingin saya tulis, yaitu Blogger Dukung PLN Bersih.

Listrik bukan hanya kebutuhan saya saja. Bukan blogger saja yang butuh listrik. Listrik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari apalagi di tengah teknologi yang berkembang pesat saat ini. Listrik merupakan hajat hidup orang banyak yang oleh negara pemenuhannya hanya dipercayakan kepada sebuah BUMN yang bernama Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Tidak ada perusahaan listrik di Indonesia yang berhak menjual tenaga listrik langsung kepada masyarakat kecuali BUMN tersebut. PLN sebagai satu-satunya perusahaan listrik yang melayani segenap masyarakat Indonesia memang memudahkan pihak negara untuk mengatur kebijakan energi (listrik). Di sisi lain masyarakat tidak akan mempunyai pilihan lain selain mau tidak mau harus berlangganan listrik kepada PLN. Sebaik atau seburuk apa pun kualitas listrik PLN, masyarakat tidak akan bisa berbuat banyak. Hal ini jelas berbeda dengan layanan telepon seluler. Bila kita tidak puas dengan satu provider maka kita akan dengan sangat mudah untuk saat itu juga berganti operator.

Sudah lama menjadi rahasia umum,  amanat sangat besar yang didapatkan PLN dari negara telah banyak disalah gunakan.  Wewenang besar itu telah mendorong banyak oknum di PLN baik dari tingkat manajemen sampai operator terlibat banyak kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Bahkan tidak jarang praktik tidak terpuji ini banyak melibatkan para birokrat.

Praktik tidak terpuji ini bukan hanya sinisme keluarga saya yang berpenerangan pelita yang sekitar 18 tahun lalu pengajuan sambungan listriknya sempat terkatung-katung tidak jelas, padahal keluarga saya sudah membayar di muka dengan uang hasil penjualan beberapa ekor kambing, bukan hanya sinisme masyarakat yang kecewa dengan pelayanan-pelayanan PLN. Praktik tidak terpuji ini bahkan telah banyak disinggung oleh Pak Dahlan Iskhan dalam CEO note yang ditulisnya. Kumpulan CEO note yang ditulis Pak DI telah didokumentasikan oleh seorang Mas Pramudya, seorang teman blogger saya di sini. Silakan baca sendiri.

Bapak Nur Pamuji, direktur CEO PLN saat ini tahu betul bahwa mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap PLN bukanlah pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat. PLN saat ini memang telah membuat banyak sekali terobosan  selain roadmap (bisa dibaca di sini dan di sini)  dan program berjangka untuk meningkatkan profesionalisme, kualitas pelayanan dan transparansi di tubuh PLN. Tidak tanggung-tanggung PLN saat ini telah menggandeng Transparansi Internasional untuk membantu meningkatkan akuntabilitas publiknya. Ini menurut saya terobosan yang berani.

Terobosan-terobosan internal PLN tersebut masih dianggap belum cukup. Lebih dari itu, untuk mewujudkan cita-cita mulia itu, PLN saat ini memerlukan sehingga menggalang dukungan seluas-luasnya dari masyarakat. Ada yang unik sekaligus kreatif di sini. PLN menggalang dukungan dari para blogger untuk menjalankan kampanye PLN Bersih No Suap. Penggalangan dukungan dari blogger ini telah dilaksanakan berupa menggelar acara “Blogger Bicara” yang bekerjasama dengan Blogdetik. Acara blogger bicara kerjasama PLN dan Blogdetik  ini seingat saya telah berlangsung 2 kali. Dan pada acara Blogger Bicara PLN yang kedua merupakan sekaligus launching Lomba Blog yang bertema “Blogger Dukung PLN Bersih”.

Sebagai seorang blogger tentu saya mendukung langkah PLN ini. Saya pikir ini sebuah kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Bukankah tidak akan ada bangsa yang berkualitas saat ini tanpa aliran listrik yang baik. Mengutuk gelap tidak akan menyalakan terang. Terus-terusan mengutuk PLN saja belum cukup untuk memperbaiki keadaan.

Namun demikian sebelum saya membubuhkan sebuah dukungan, saya harus memastikan dulu bahwa langkah-langkah PLN saat ini telah membawa ke arah perbaikan yang berarti. Itulah mengapa saya menulis posting ini pada hari-hari terakhir Lomba Blog ini.

Beberapa waktu yang lalu saya sengaja ngobrol-ngobrol dengan salah seorang teman yang bekerja sebagai seorang teknisi yang bekerja di suatu kontraktor instalasi listrik/biro teknik listrik. Saya bertanya-tanya tentang  cara lebih cepat mendapatkan sambungan listrik baru. Saya terkejut mendengar jawaban teman saya itu. Dia malah menjelaskan bahwa sambungan listrik baru bahkan bisa diajukan secara online. Teman saya itu menjelaskan apa saja yang perlu diisikan dalam formulir online itu secara sangat detil. Ini sungguh mengejutkan karena teman saya itu sebelumnya sangat gaptek, tidak melek internet. Pikir saya sistem baru PLN ini sekaligus berhasil mengedukasi masyarakat menjadi melek internet.

Berikutnya saya mencoba layanan pembayaran rekening listrik di kantor PLN.

Kantor Pelayanan PLN di kota Wonosari yang terletak di Jalan Kolonel Sugiyono, Wonosari, Gunungkidul itu saya dapati sudah sangat berubah. Kantor Pelayanan saat ini menghadap ke Barat, ke arah jalan sehingga memudahkan orang menuju ke sana. Sebelumnya kantor pelayanan menghadap ke selatan dengan pintu masuk yang kecil di sebelah tenggara. Saat ini tepat di parkiran ada penunjuk-penunjuk arah sesuai pelayanan yang dibutuhkan pengunjung. Memasuki ruang pelayanan pembayaran rekening saya mendapati kursi kursi di ruang tunggu kosong, tidak ada orang mengantri. Dalam beberapa menit dua orang petugas wanita yang cantik melayani saya dengan ramah dan cepat. Ini sungguh tidak terbayangkan 4 tahun yang lalu ketika saya harus mengantri kadang sampai dua jam hanya untuk membayar tagihan listrik. Sistem pembayaran listrik online PLN ternyata sangat digemari orang sehingga terbukti mencegah kontak langsung pelanggan dengan petugas PLN.

Mungkin terlalu tergesa-gesa, tetapi dua bukti yang saya dapatkan di atas merupakan optimisme saya bahwa PLN Bersih No Suap bukanlah impian di siang bolong. Memberikan dukungan yang tulus adalah cara lebih baik untuk PLN Bersih Tanpa Korupsi menjadi kenyataan lebih cepat.

Namun apakah dukungan saya hanya akan berhenti sebatas mengikuti lomba ini saja? Dalam lomba ini saya akan sekaligus memberikan masukan-masukan untuk PLN:

Libatkan blogger untuk mensosialisasikan program-program dan layanan yang dijalankan oleh PLN.

Menurut saya PLN bisa mengajak blogger seperti saya dan teman-teman untuk mensosialisasikan transparansi biaya sambungan listrik baru yang mungkin berbeda dari satu daerah ke daerah yang lain di Indonesia, mensosialisasi biaya tambah daya, mensosialisasikan tarif pemakaian listrik, dan sejenisnya.

Blogger bisa diajak untuk mensosialisasikan kanal-kanal layanan pelanggan PLN seperti telepon 123, akun twitter @PLN_123 dan kanal lainnya. Saya sendiri akan dengan senang hati membantu mengedukasi masyarakat tentan bagaimana cara melaporkan gangguan dengan baik agar PLN bisa lebih cepat mengatasi bila terjadi gangguan listrik di lapangan.

Cerita saya pada awal tulisan ini tentang kekecewaan saya terhadap PLN karena kesalahan informasi gangguan PLN sebenarnya akan bisa dicegah bila PLN sudah merangkul blogger untuk membantu menyebarkan informasi gangguan dan perbaikan jaringan PLN. Blogger selain aktif menulis umumnya juga aktif di sosial media. Informasi gangguan dari PLN akan lebih cepat menyebar di tengah masyarakat bila banyak blogger yang menuliskannya di group-group facebook komunitas, twitter, forum, dan lain-lain/

Galang dukungan blogger-blogger di daerah-daerah di Indonesia.

PLN saat ini mengadakan dua program Blogger Bicara PLN di Jakarta. Ingatlah bahwa PLN tidak hanya melayani ibukota. PLN melayani Indonesia dari sabang sampai Merauke. Masyarakat di daerah tidaklah seberuntung warga Jakarta yang punya akses luas terhadap hampir semua media. Di daerah orang-orang tidak seberuntung itu. Banyak daerah yang malah mengandalkan jurnalisme warga untuk pemenuhan kebutuhan informasinya. Banyak masalah di daerah  yang hanya diberitakan oleh blogger atau radio komunitas.

Blogger Nusantara pada tanggal 29 November sampai 1 Desember 2013 akan mendatangkan blogger dari segenap penjuru Indonesia untuk mengadakan kopdar nasional di Yogyakarta. Saya mengusulkan kepada PLN untuk menjajaki kerjasama dan meminta dukungan PLN Bersih No Suap dengan mengajak blogger-blogger dari daerah-daerah ini. PLN mungkin bisa membuka booth untuk sosialisi PLN Bersih No Suap. Syukur-syukur PLN bersedia menjadi salah satu sponsor #BN2013 di kota istimewa ini.

Tentang Kopdar Nasional Blogger Nusantara di Yogyakarta bisa di baca di: http://bloggernusantara.com/2013/

Semoga PLN Bersih No Suap segera menjadi kenyataan. Selamat Ulang Tahun PLN. Selamat Hari Blogger Nasional

Panggilan Sopan

Untuk berkomunikasi dengan orang-orang, apalagi dengan orang yang lebih tua maupun dengan orang yang baru saja saya kenal, rasanya tidak sopan bila saya langsung menyebut nama begitu saja. Langsung memanggil nama bagi saya kurang “unggah-ungguh”, kurang sopan apalagi santun. Mungkin ini karena bawaan saya sebagai orang yang dibesarkan di desa.

Untuk memanggil orang-orang yang terlihat lebih tua dan lebih senior rasanya panggilan “Pak” dan “Bu” cukup bisa diterima dimana saja. Kalau di lingkungan akademik mungkin lebih mudah dengan “Prof”, “Doc”, dll. Nah yang tidak selalu mudah adalah bila berkomunikasi dengan orang yang baru kita kenal dan kelihatan sebaya.

Umumnya saya memperhalus dengan kata “Mas” atau “Mba” sebelum nama orang. Namun setelah saya pikir-pikir kata  ini terlalu njawani. Bukankah yang ditemui tidak tentu orang Jawa. Saya perlu kata yang lebih umum. Sapaan bang sepertinya juga identik dengan suku tertentu. Sapaan bung sepertinya sudah jarang kedengeran dipakai. Padahal dulu “bung” berkesan menggelorakan semangat ketika dipadukan menjadi Bung Karno, Bung Hatta, dll.

Baru-baru ini saya sering dipanggil bro. Mendengar seorang teman wanita dipanggil sista tidak kalah seringnya. Begitupula “gan”, “agan”. Meski kata-kata ini belum cukup compatible dengan lidah saya. Saya merasa canggung memanggil seseorang dengan kata “gan” maupun “bro sista”.

Oh iya adalagi orang memanggil orang yang begitu dikenal dengan kata “kakak”, tapi kok kedengeran lebay yah. Apa karena saya yang so 90? hihi.

Menurut Anda kata apa yang lebih cocok digunakan untuk mempersopan panggilan kepada seseorang yang baru kita kenal yang baru kita temui?