#ngayogjazz 2013

Sudah cukup terlambat saya menulis posting tentang #ngayogjazz. Karena event #ngayogjazz sendiri sudah dilangsungkan satu pekan yang lalu di Desa Sidoakur, Godean, Sleman Yogyakarta. Tepatnya hari Sabtu Wage tanggal 16 November 2013.

Tentang apa itu ngayogjazz sebenarnya dan memang tidak perlu dijelaskan lagi. Karena yang baru saja dihelat adalah event #ngayogjazz yang ke-6 yang pernah digelar di Jogja. Ngayogjazz yang pertama digelar pada tahun 2009 di Pasar Seni, Gabusan, Bantul. Namun sederhananya Ngayogjazz adalah konser Jazz semacam Java Jazz di Jakarta namun mengusung konsep yang jauh lebih kreatif, yaitu konsep kerakyatan. Perhelatannya pun selalu dilaksanakan dari satu desa wisata ke desa wisata lainnya. Tentu tidak Jogja bila tidak kreatif yang njawani, hehe

Berbekal dengan pengalaman diguyur hujan semalaman ketika menonton Ngayogjazz tahun sebelumnya, yaitu di Ngayogjazz 2012 yang dihelat di desa wisata Brayut, Pendowo Harjo, Sleman, kali ini saya dan teman saya sudah mempersiapkan antisipasi terhadap turunnya hujan. Kami sudah berbekal kerudung plastik yang siap digunakan. Sebenarnya ini kerudung plastik yang saya beli tahun lalu tetapi karena teman saya itu open makanya plastik itu masih tersimpan dan bisa dimanfaatkan lagi.

Dan benar saja, sejak berangkat menuju Desa Sido Akur hujan yang rauwis-uwis telah membasahi perjalanan kami menuju venue Ngayogjazz di Desa Sidoakur yang terletak cukup jauh dari pusat kota Jogja. Apalagi bagi saya yang harus menempuh perjalanan lebih jauh lagi menuruni Yogyakarta Lantai 2 (baca: Gunungkidul).

Melihat beberapa dari 5 panggung Ngayogjazz, ada yang saya lihat berbeda dengan Ngayogjazz di Desa Brayut pada tahun lalu. Yaitu tata panggungnya. Bila Ngayogjazz di desa Brayut ada beberapa panggung outdoor yang didesain tanpa atap. Semua panggung di Ngayogjazz Sido Akur semua beratap. Jadi ini sudah merupakan antisipasi yang lebih baik terhadap turunnya hujan di awal musim penghujan ini. Jadi meskipun turun hujan tidak akan ada lagi pembatalan manggung.

Saya pun segera mengitari sepenjuru Desa Sido Akur untuk menonton satu panggung ke panggung yang lain. Dan tentu saja sambil jepret sana jepret sini sekenanya. Berikut sebagaian jepretan saya yang tidak ada bagus-bagusnya. hehehe

 

Hujan dan Selamat Pagi

Hari ini hujan sudah turun sejak habis subuh tadi. Sampai waktunya ke pabrik pun hujan masih menjadi-jadi. Rauwis-uwis begitu. Padahal saya harus ke jalan raya terdekat untuk menunggu angkot agar bisa sampai pabrik. Padahal saya belum beli payung. Ya, salah saya sendiri sih kenapa ngga dari kemarin-kemarin beli payung. Jangan jadikan alasan beberapa waktu lalu ke minimarket dan ke warung kelontong beli payung tetapi saat itu belum ada stok payung ya..

Karena mau tidak mau ke pabrik itu tidak bisa menunggu. Ke pabrik pagi ini seyogyanya tidak telat. Saya pun dengan terpaksa tidak memilih ngangkot seperti biasa. Begitu selesai mengemas laptop kedalam tas, memakai baju alakadarnya, saya mengenakan jas hujan yang saya beli beberapa waktu lalu, mengencangkan pengait helm yang kemudian saya pakai, dan yah.. saya ke pabrik naik motor.

Dingin sekali rasanya pagi-pagi mengendarai motor menembus hujan yang cukup lebat. Balutan jas hujan plastik yang merangkapi kaos dan baju saya tidak cukup melindungi diri dari dingin. Brrrrr

Sesampainya di pabrik, sebenarnya saya ingin ngeteh-ngeteh pas dulu. Tapi ya jam segini mana ada. Kali ini saya pemanasan dengan menulis posting curhat ini dulu… 😀

Shalat Jum’at di Sekolah

Sejak beberapa lama saya sering mendengar tentang Kurikulum 2013. Kurikulum baru yang mulai diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Kurikulum yang konon mengedepankan pendidikan karakter. Kurikulum yang saya ingat pernah menjadi heboh di social media, di twitter, di facebook, dll. Kurikulum yang bisa mengaitkan pergerakan atom dan elektron dengan keesaan Tuhan.

Hari Jum’at beberapa pekan yang lalu, kebetulan saya berkunjung ke suatu sekolah di daerah saya tinggal. Di sekolah yang katanya telah ditunjuk untuk melaksananakan Kurikulum 2013. Saya merasa agak aneh ketika pada waktunya Shalat Jum’at dan saya ingin numpang shalat Jum’at di masjid sekolah itu mendapatkan masjid tidak digunakan untuk shalat Jum’at. Sampai akhirnya saya bergegas mencari masjid di luar lingkungan sekolah untuk menunaikan shalat Jum’at.

Ya, tentu saja pikiran saya susah untuk tidak mengkaitkan Shalat Jum’at dengan pendidikan karakter. Meski saya sendiri mungkin tidak bisa diajak untuk memperdebatkan keduanya, hehe.

Memang melihat ukurannya, Masjid di sekolah itu tidak cukup untuk menampung semua siswa muslim yang saya perkirakan berjumlah lebih dari 1.000 siswa. Jadi pihak sekolah  membiarkan siswa-siswa hanya bermain-main di waktu shalat Jum’at tidak bisa disalahkan begitu saja. Fasilitasnya memang belum memadai.

Hmm.. Jadi bagaimana dengan pendidikan karakter tadi? Atau karakter itu cukup diajarkan teorinya saja?

Hujan

Hujan lagi. Padatahal sebentar lagi waktunya pulang lagi. Tapi tidak apa-apa.  Saya sih penyuka hujan. Baik hujannya itu sendiri maupun aroma yang ditimbulkan oleh kombinasi air hujan dan tanah. Kalau kemarin saya mengeluh, sebenarnya itu karena saya belum makan siang. Bagaimana tidak mengeluh coba, terjebak hujan di tengah perut yang kelaparan.

Ini merupakan hujan yang ketiga di desa dimana saya tinggal. Hujan yang turun berturut-turut dalam 3 hari terakhir. Ini kabar baik. Di desa dimana saya tinggal hujan disambut dengan suka cita. Hujan di sini tidak dikutuk seperti ketika air hujan jatuh di Jakarta yang dituduh sebagai biang banjir dan penyebab kemacetan di jam-jam orang-orang pulang kerja. Musim hujan adalah harapan yang tunggu para petani. hehehe

Dalam beberapa hari ke depan, saya dan keluarga akan segera merayakan musim hujan kali ini dengan menanam aneka tanaman pangan seperti jagung, kedelai, singkong, padi, dan lain-lain.

Sekarang biar saya melihat hujan, mendung dan langit dari balik jendela saja. Doa saya untuk hari ini semoga listrik tidak mati. Kalau sampai listrik mati selain gelap, koneksi internet saya akan terputus. Baterai Laptop sebenarnya bisa bertahan sampai sore nanti. Tetapi Hotspot dan jaringan internet di sini tidak dipasangi baterai cadangan. Jaga listrikmu agar tidak ‘aliran’ ya petugas PLN. 🙂

Ngomong-ngomong, apa sih yang kau sukai tentang hujan?

Dukungan Blogger Untuk PLN Bersih Anti Korupsi

Berencana mengerjakan pekerjaan kehumasan Blogger Nusantara secara online di rumah, hari ini saya pulang kantor lebih awal. Sayangnya rencana kembali jadi wacana. Rencana mengerjakan tugas sebagai seorang Community Relation Manager #BN2013 harus kandas karena listrik di rumah mati. Listrik baru hidup sekitar pukul 16 sore ini.

Hari ini saya benar-benar kecewa terhadap PLN. Hari ini (Kamis, 24 Oktober 2013) seharusnya di desa dimana saya tinggal tidak ada kejadian mati listrik dari pagi sampai sore. Seharusnya mati listrik terjadi kemarin. Karena beberapa hari yang lalu melalui facebook fanpage stasiun radio lokal saya membaca pengumuman ini:

plnpengumuman

Ini jelas pengumuman yang menyesatkan. Sehingga orang-orang tidak bisa mempersiapkan diri menyambut kematian listrik dengan benar. Termasuk saya, bila saya sejak tadi malam sudah tahu bahwa listrik hari ini akan padam, tentu saya akan mengisi penuh pundi-pundi batere agar laptop saya bisa menyala seharian atau saya bisa saja tetap tinggal di kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan listrik dan koneksi internet.

Cukup ah curhatnya. Sekarang kembali ke laptop, ke topik yang kali ini ingin saya tulis, yaitu Blogger Dukung PLN Bersih.

Listrik bukan hanya kebutuhan saya saja. Bukan blogger saja yang butuh listrik. Listrik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari apalagi di tengah teknologi yang berkembang pesat saat ini. Listrik merupakan hajat hidup orang banyak yang oleh negara pemenuhannya hanya dipercayakan kepada sebuah BUMN yang bernama Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Tidak ada perusahaan listrik di Indonesia yang berhak menjual tenaga listrik langsung kepada masyarakat kecuali BUMN tersebut. PLN sebagai satu-satunya perusahaan listrik yang melayani segenap masyarakat Indonesia memang memudahkan pihak negara untuk mengatur kebijakan energi (listrik). Di sisi lain masyarakat tidak akan mempunyai pilihan lain selain mau tidak mau harus berlangganan listrik kepada PLN. Sebaik atau seburuk apa pun kualitas listrik PLN, masyarakat tidak akan bisa berbuat banyak. Hal ini jelas berbeda dengan layanan telepon seluler. Bila kita tidak puas dengan satu provider maka kita akan dengan sangat mudah untuk saat itu juga berganti operator.

Sudah lama menjadi rahasia umum,  amanat sangat besar yang didapatkan PLN dari negara telah banyak disalah gunakan.  Wewenang besar itu telah mendorong banyak oknum di PLN baik dari tingkat manajemen sampai operator terlibat banyak kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Bahkan tidak jarang praktik tidak terpuji ini banyak melibatkan para birokrat.

Praktik tidak terpuji ini bukan hanya sinisme keluarga saya yang berpenerangan pelita yang sekitar 18 tahun lalu pengajuan sambungan listriknya sempat terkatung-katung tidak jelas, padahal keluarga saya sudah membayar di muka dengan uang hasil penjualan beberapa ekor kambing, bukan hanya sinisme masyarakat yang kecewa dengan pelayanan-pelayanan PLN. Praktik tidak terpuji ini bahkan telah banyak disinggung oleh Pak Dahlan Iskhan dalam CEO note yang ditulisnya. Kumpulan CEO note yang ditulis Pak DI telah didokumentasikan oleh seorang Mas Pramudya, seorang teman blogger saya di sini. Silakan baca sendiri.

Bapak Nur Pamuji, direktur CEO PLN saat ini tahu betul bahwa mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap PLN bukanlah pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat. PLN saat ini memang telah membuat banyak sekali terobosan  selain roadmap (bisa dibaca di sini dan di sini)  dan program berjangka untuk meningkatkan profesionalisme, kualitas pelayanan dan transparansi di tubuh PLN. Tidak tanggung-tanggung PLN saat ini telah menggandeng Transparansi Internasional untuk membantu meningkatkan akuntabilitas publiknya. Ini menurut saya terobosan yang berani.

Terobosan-terobosan internal PLN tersebut masih dianggap belum cukup. Lebih dari itu, untuk mewujudkan cita-cita mulia itu, PLN saat ini memerlukan sehingga menggalang dukungan seluas-luasnya dari masyarakat. Ada yang unik sekaligus kreatif di sini. PLN menggalang dukungan dari para blogger untuk menjalankan kampanye PLN Bersih No Suap. Penggalangan dukungan dari blogger ini telah dilaksanakan berupa menggelar acara “Blogger Bicara” yang bekerjasama dengan Blogdetik. Acara blogger bicara kerjasama PLN dan Blogdetik  ini seingat saya telah berlangsung 2 kali. Dan pada acara Blogger Bicara PLN yang kedua merupakan sekaligus launching Lomba Blog yang bertema “Blogger Dukung PLN Bersih”.

Sebagai seorang blogger tentu saya mendukung langkah PLN ini. Saya pikir ini sebuah kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Bukankah tidak akan ada bangsa yang berkualitas saat ini tanpa aliran listrik yang baik. Mengutuk gelap tidak akan menyalakan terang. Terus-terusan mengutuk PLN saja belum cukup untuk memperbaiki keadaan.

Namun demikian sebelum saya membubuhkan sebuah dukungan, saya harus memastikan dulu bahwa langkah-langkah PLN saat ini telah membawa ke arah perbaikan yang berarti. Itulah mengapa saya menulis posting ini pada hari-hari terakhir Lomba Blog ini.

Beberapa waktu yang lalu saya sengaja ngobrol-ngobrol dengan salah seorang teman yang bekerja sebagai seorang teknisi yang bekerja di suatu kontraktor instalasi listrik/biro teknik listrik. Saya bertanya-tanya tentang  cara lebih cepat mendapatkan sambungan listrik baru. Saya terkejut mendengar jawaban teman saya itu. Dia malah menjelaskan bahwa sambungan listrik baru bahkan bisa diajukan secara online. Teman saya itu menjelaskan apa saja yang perlu diisikan dalam formulir online itu secara sangat detil. Ini sungguh mengejutkan karena teman saya itu sebelumnya sangat gaptek, tidak melek internet. Pikir saya sistem baru PLN ini sekaligus berhasil mengedukasi masyarakat menjadi melek internet.

Berikutnya saya mencoba layanan pembayaran rekening listrik di kantor PLN.

Kantor Pelayanan PLN di kota Wonosari yang terletak di Jalan Kolonel Sugiyono, Wonosari, Gunungkidul itu saya dapati sudah sangat berubah. Kantor Pelayanan saat ini menghadap ke Barat, ke arah jalan sehingga memudahkan orang menuju ke sana. Sebelumnya kantor pelayanan menghadap ke selatan dengan pintu masuk yang kecil di sebelah tenggara. Saat ini tepat di parkiran ada penunjuk-penunjuk arah sesuai pelayanan yang dibutuhkan pengunjung. Memasuki ruang pelayanan pembayaran rekening saya mendapati kursi kursi di ruang tunggu kosong, tidak ada orang mengantri. Dalam beberapa menit dua orang petugas wanita yang cantik melayani saya dengan ramah dan cepat. Ini sungguh tidak terbayangkan 4 tahun yang lalu ketika saya harus mengantri kadang sampai dua jam hanya untuk membayar tagihan listrik. Sistem pembayaran listrik online PLN ternyata sangat digemari orang sehingga terbukti mencegah kontak langsung pelanggan dengan petugas PLN.

Mungkin terlalu tergesa-gesa, tetapi dua bukti yang saya dapatkan di atas merupakan optimisme saya bahwa PLN Bersih No Suap bukanlah impian di siang bolong. Memberikan dukungan yang tulus adalah cara lebih baik untuk PLN Bersih Tanpa Korupsi menjadi kenyataan lebih cepat.

Namun apakah dukungan saya hanya akan berhenti sebatas mengikuti lomba ini saja? Dalam lomba ini saya akan sekaligus memberikan masukan-masukan untuk PLN:

Libatkan blogger untuk mensosialisasikan program-program dan layanan yang dijalankan oleh PLN.

Menurut saya PLN bisa mengajak blogger seperti saya dan teman-teman untuk mensosialisasikan transparansi biaya sambungan listrik baru yang mungkin berbeda dari satu daerah ke daerah yang lain di Indonesia, mensosialisasi biaya tambah daya, mensosialisasikan tarif pemakaian listrik, dan sejenisnya.

Blogger bisa diajak untuk mensosialisasikan kanal-kanal layanan pelanggan PLN seperti telepon 123, akun twitter @PLN_123 dan kanal lainnya. Saya sendiri akan dengan senang hati membantu mengedukasi masyarakat tentan bagaimana cara melaporkan gangguan dengan baik agar PLN bisa lebih cepat mengatasi bila terjadi gangguan listrik di lapangan.

Cerita saya pada awal tulisan ini tentang kekecewaan saya terhadap PLN karena kesalahan informasi gangguan PLN sebenarnya akan bisa dicegah bila PLN sudah merangkul blogger untuk membantu menyebarkan informasi gangguan dan perbaikan jaringan PLN. Blogger selain aktif menulis umumnya juga aktif di sosial media. Informasi gangguan dari PLN akan lebih cepat menyebar di tengah masyarakat bila banyak blogger yang menuliskannya di group-group facebook komunitas, twitter, forum, dan lain-lain/

Galang dukungan blogger-blogger di daerah-daerah di Indonesia.

PLN saat ini mengadakan dua program Blogger Bicara PLN di Jakarta. Ingatlah bahwa PLN tidak hanya melayani ibukota. PLN melayani Indonesia dari sabang sampai Merauke. Masyarakat di daerah tidaklah seberuntung warga Jakarta yang punya akses luas terhadap hampir semua media. Di daerah orang-orang tidak seberuntung itu. Banyak daerah yang malah mengandalkan jurnalisme warga untuk pemenuhan kebutuhan informasinya. Banyak masalah di daerah  yang hanya diberitakan oleh blogger atau radio komunitas.

Blogger Nusantara pada tanggal 29 November sampai 1 Desember 2013 akan mendatangkan blogger dari segenap penjuru Indonesia untuk mengadakan kopdar nasional di Yogyakarta. Saya mengusulkan kepada PLN untuk menjajaki kerjasama dan meminta dukungan PLN Bersih No Suap dengan mengajak blogger-blogger dari daerah-daerah ini. PLN mungkin bisa membuka booth untuk sosialisi PLN Bersih No Suap. Syukur-syukur PLN bersedia menjadi salah satu sponsor #BN2013 di kota istimewa ini.

Tentang Kopdar Nasional Blogger Nusantara di Yogyakarta bisa di baca di: http://bloggernusantara.com/2013/

Semoga PLN Bersih No Suap segera menjadi kenyataan. Selamat Ulang Tahun PLN. Selamat Hari Blogger Nasional

Panggilan Sopan

Untuk berkomunikasi dengan orang-orang, apalagi dengan orang yang lebih tua maupun dengan orang yang baru saja saya kenal, rasanya tidak sopan bila saya langsung menyebut nama begitu saja. Langsung memanggil nama bagi saya kurang “unggah-ungguh”, kurang sopan apalagi santun. Mungkin ini karena bawaan saya sebagai orang yang dibesarkan di desa.

Untuk memanggil orang-orang yang terlihat lebih tua dan lebih senior rasanya panggilan “Pak” dan “Bu” cukup bisa diterima dimana saja. Kalau di lingkungan akademik mungkin lebih mudah dengan “Prof”, “Doc”, dll. Nah yang tidak selalu mudah adalah bila berkomunikasi dengan orang yang baru kita kenal dan kelihatan sebaya.

Umumnya saya memperhalus dengan kata “Mas” atau “Mba” sebelum nama orang. Namun setelah saya pikir-pikir kata  ini terlalu njawani. Bukankah yang ditemui tidak tentu orang Jawa. Saya perlu kata yang lebih umum. Sapaan bang sepertinya juga identik dengan suku tertentu. Sapaan bung sepertinya sudah jarang kedengeran dipakai. Padahal dulu “bung” berkesan menggelorakan semangat ketika dipadukan menjadi Bung Karno, Bung Hatta, dll.

Baru-baru ini saya sering dipanggil bro. Mendengar seorang teman wanita dipanggil sista tidak kalah seringnya. Begitupula “gan”, “agan”. Meski kata-kata ini belum cukup compatible dengan lidah saya. Saya merasa canggung memanggil seseorang dengan kata “gan” maupun “bro sista”.

Oh iya adalagi orang memanggil orang yang begitu dikenal dengan kata “kakak”, tapi kok kedengeran lebay yah. Apa karena saya yang so 90? hihi.

Menurut Anda kata apa yang lebih cocok digunakan untuk mempersopan panggilan kepada seseorang yang baru kita kenal yang baru kita temui?

Internetan dengan 3 (tri), Lumayan Bagus.

Bermaksud ingin segera merespon milis yang berisi kepanitian kegiatan sosial yang sedang saya jalankan, begitu sampai di rumah, saya langsung membuka laptop dan mengeklik network manager untuk membuat sambungan internet. Beberapa kali klik connect di network manager tidak juga berhasil tersambung. LED di modem berkedap-kedip menyala hijau. Hihi, beberapa saat kemudian saya tahu kenapa saya gagal connect. Teryata sekarang sudah tanggal 21 dan saya belum membayarkan tagihan kartu Halo dimana saya berlangganan paket internet. Cape deh.

Malas menuju ATM terdekat untuk menyelesaikan masalah dengan si merah, alih-alih saya ke counter pulsa tetangga. Saya pikir akan lebih cepat dapat sambungan internet bila saya membeli kartu perdana paket internet. Dan kebetulan ada paket murah yang dijual counter sebelah. Kartu perdana 3 seharga Rp 60.000 yang berisi paket 5 giga. Yang menurut penjaga counter tetangga bermasa aktif satu tahun.

Sesampai di rumah saya langsung memasang kartu perdana 3 (tri) ini pada modem bawaan si merah. Modem kemudian saya tancapkan ke laptop ber-Ubuntu 13.10. Saya langsung mengikuti wizard pada network manager untuk menyesuaikan setting dengan provider ini. Mudah sekali. Setting default pada Network Manager dalam beberapa saat sudah bisa memberi saya koneksi internet.

Saya pun langsung menggunakannya untuk browsing. Rasanya lancar-lancar saja untuk browsing. Penasaran dengan kecepatan data provider ini, saya mencoba mengujinya dengan Speedtest.net. Hasil test pertama kali menunjukan angka download 1 Mega. Lumayan. Meski dalam beberapa kali test saya ketahui kecepatannya memang naik turun.

Hasil test speed saya bisa dilihat di sini.

Test ini saya lakukan di desa dimana saya tinggal. Di desa Grogol, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Sinyal 3 G yang saya dapat 2 bar saja. Terlihat dari indikator di Ubuntu 13.10 Network Manager.

Masih penasaran dengan kartu perdana yang saya beli ini, saya mencoba mencari tahu apa sebenarnya paket yang saya beli ini. Syarat dan ketentuannya bagaimana. Baca di sini.  Berdasarkan situsnya, paket saya adalah Always On yang menggratiskan akses ke beberapa jejaring sosial dan situs berita populer, punya masa aktif panjang, boles kuota bulanan, dll. Kedengaran cukup manarik meski apa manfaatnya buat saya masih tetap perlu saya buktikan sendiri.

kuota3

Jadi sampai sependek ini saya berkomentar:

Kecepatan data 3 ini cukup lumayan, memang tidak secepat si merah, si merah bisa beberapa kali lebih cepat, namun bila dilihat dari harga, kuota dan masa aktif yang panjang maka tidak ada ruginya untuk mengeluarkan uang Rp 60.000 untuk membeli paket internet ini. Apalagi bila kebutuhan kita untuk browsing. Apalagi kalau kebutuhannya sebatas untuk buka facebook dan twitter. (karena akses ke situs jejaring itu digratiskan sepanjang kartu masih aktif).

Untuk posting blog ini juga lancar-lancar saja. Tidak ada kesulitan membuka dashboard dan text editor wordpress seperti yang saya alami beberapa waktu lalu dengan provider 3g kompetitor. Sekarang coba lihat apakah saya akan berhasil mem-publish posting ini?

3.. 2.. 1.. (hit publish)

Optimisme dan Komunitas Wirausaha

Yogyakarta, Sabtu, 19 Oktober 2013.

Bangsal Mataram Gedung Bank Indonesia Yogyakarta yang berkapasitas lebih dari 400 tempat duduk dipenuhi oleh antusiasme peserta acara seminar wirausaha yang diorganisir oleh @TDAKampus_jogja. Saking antusiasnya sampai saya lihat banyak peserta yang berdiri di belakang karena tidak kebagian kursi. Antusisme ini memang luar biasa. Istimewa karena Jogja, bukan? 😀 Bagi saya ini jauh lebih istimewa karena antusiasme itu terlihat dari hampir semua peserta seminarnya adalah mahasiswa-masiswa Joga dan sekitarnya.

Bagi saya antusiasme mahasiswa yang tinggi terhadap wirausaha, apalagi minat mereka untuk berwirausaha adalah kabar baik, berita yang bernada positif yang menarik untuk disebarkan, untuk saya tuliskan di blog ini, hehe. Agar antusisme dan optimisme itu sedikit banyak beresonansi, dan menyebar melenyapkan pesimisme yang saat ini menjadi masalah bangsa.

Minat mahasiswa untuk berwirausaha bagi saya merupakan suatu kemajuan tingkat pemikiran. Mahasiswa adalah orang-orang yang lebih beruntung mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Yang seharusnya mempunyai mindset setingkat lebih tinggi daripada lulusan SMK misalnya. Bila lulusan SMK berorientasi untuk mencari pekerjaan setelah lulus. Maka seorang lulusan perguruan tinggi harus lebih banyak yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan, dengan berwirausaha. Bukan sama-sama menjadi pencari kerja.

Pemikiran seperti ini setidaknya nampak ada pada 2 orang pemuda yang duduk di sebelah saya. Nanan, seorang mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi UGM yang bersamaan dengan mengerjakan skripsinya, ia tetap berbisnis tas dan berbisnis batik Pekalongan. Sama seperti halnya Arifin, pemuda asal Kulon Progo mahasiswa tingkat akhir Amikom Yogyakarta ini sudah memiliki bisnis Angkringan.

Saya sendiri merasa senang berkesempatan diundang (dalam kapasitas sebagai blogger) untuk menghadiri acara ini. Banyak yang saya dapatkan di sini. Mengenal Nanan, Arifin dan anak-anak muda enterpreneur yang lain adalah inspirasi terbesar bagi saya. Saya ingin tertular dengan semangat mereka, keberanian mereka membentuk masa depan.

Tentu ada banyak juga yang saya dapatkan dari pemateri acara. Dari Pak Dahlan misalnya yang berpendapat bahwa kesuksesan hanya bisa datang dari dua hal, yaitu keprihatinan/prihatin (1) dan takdir (2). Keprihatinan/prihatin ini sebenarnya istilah jawa. Mungkin bahasa Indonesia-nya adalah berjuang dulu atau bersakit-sakit dulu. Sedangkan untuk yang kedua, sukses karena takdir tidaklah perlu dibahas. 😀

Tidak kalah inspiratif adalah sesi sharing selanjutnya yang diisi oleh Mas Nanang Fahrurrozi (pemilik Rumah Warna) dan Mas Hanafi Rais (pemilik yayasan pendidikan Budi Mulia Dua). Silakan baca kompilasi sharing mereka dilini masa @TDAJogja dan @TDAKampus_Jogja. Tidak elok rasanya kalau twit-twit itu latah saya embed di sini. hehehe

Menurut Tangan Di Atas, definisi sukses adalah bisa memberi lebih banyak daripada meneri. Tangan di atas lebih mulia dari tangan yang meminta. Maka akan bagus bila Komunitas Tangan Di Atas terus berbagi inspirasi, berbagi semangat, berbagi optimisme dengan mengadakan acara-acara seperti ini. Undang lebih banyak wirausahawan untuk sharing. Buat lebih banyak kesempatan untuk menjalin relasi dan saling terkoneksi. 🙂

Cuaca Jogja Panas

Beberapa hari terakhir ini saya merasakan cuaca di lingkungan dimana saya tinggal sangat panas. Cuaca terasakan panas bahkan sejak matahari mulai beranjak, sejak pukul tujuh pagi dan baru mulai berangsur reda pada menjelang maghrib. Jangan ditanya seperti apa panas pada siang hari. Tidak banyak beraktifitas saja keringat sudah meleleh dari sekujur tubuh.

Petang ini saja saya masih keringatan ketika akan mandi. Padahal biasanya saya menggigil bila tersiram air pada saat mandi sore. Dipastikan saya memilih tidak mandi bila saya pulang malam. Atau terpaksanya saya memanaskan air untuk mandi.

Apakah tubuh yang terlalu gerah ini karena saya banyak makan daging kambing dan sapi. Daging pemberian korban? Karena saya memang sedang banyak makan daging belakangan ini.

Ternyata tidak. Bukan hanya saya saja yang merasakan peningkatan suhu lingkungan belakangan ini. Keluhan akan panasnya cuaca akhir-akhir ini rupanya banyak dikeluhkan orang. Bukan hanya orang-orang di lingkungan saya tinggal. Orang-orang di twitter pun mengeluhkan hal serupa.

Sampai saya tahu kalau perubahan cuaca yang terbilang ekstrim ini memang gejala alam. BMKG mencatat kemarin suhu tertinggi mencapai 38 derajat celcius. Phew. Perubahan yang drastis karena biasanya suhu di sini sering tidak mencapai 30 derajat. Kalau pagi malah sedingin 22 derajat. Baca di sini.

Kalau panas-panas begini rasanya ingin terus-terusan minum. Sebentar-sebentar haus. Penginnya sih ingin minum yang segar-segar. Seperti es buah, es jus, es teh, dan sejenisnya. Sayangnya beberapa tahun belakangan ini saya sudah tidak lagi minum es. Saya sudah tidak berani minum es. Habis tiap kali minum es akan berujung flu …