Ubuntu One Kini Bisa Diinstall Dimana

Bagi yang belum tahu, Ubuntu One adalah layanan penyimpanan file online atau disebut juga cloud drive. Ubuntu One menawarkan layanan penyimpanan data seperti halnya Dropbox, Google Drive, Boxnet, One Drive dan sejenisnya.

Sebenarnya, saya telah lama mendaftar layanan Ubuntu One, namun sampai sekarang belum termanfaatkan. Kenapa? Karena sebelumnya saya telah menggunakan layanan dari Dropbox dan Google Drive yang lebih baik. Lagi pula, pada saat itu baik Dropbox maupun Google Drive menawarkan ruang penyimpan yang lebih lega dan aplikasi klien yang bisa berjalan di berbagai platform OS, baik itu OS Desktop maupun Desktop Mobile.

Saya pagi ini iseng membuka Ubuntu One melalui web karena tadi malam @milisdad beberapa kali menyebutnya di twitter. Dan di dashboard Ubuntu One saya melihat bahwa kini aplikasi klien Ubuntu One bisa diinstall tidak hanya di linux (ubuntu) melainkan telah tersedia di Windows, Mac, Android dan iOS. Ini menarik, pikir saya.

“Don’t put everything in one basket” begitu kata para pendahulu. Benar saja, akan ada banyak alasan kenapa kita sebaiknya tidak menaruh semua barang-barang kita dalam satu keranjang, termasuk file dan data-data penting kita. Itulah alasan kenapa sekarang saya kembali melirik untuk memberdayakan Ubuntu One. 

Sependek yang saya tahu, Ubuntu One mempunyai fitur yang mirip-mirip dengan yang dipunyai dropbox. Kapasitas penyimpanan gratis sebesar 5 GB, aplikasi klien yang tersedia di banyak platform, file sharing, dan lain-lain. Ubuntu One malah mempunyai fitur kontak yang berguna untuk mem-backup data kontak di gadget kita.

Sepintas Ubuntu One terasa lebih baik dari Google Drive karena Google Drive tidak mempunyai aplikasi klien native untuk Linux. Memang ada aplikasi klien Google Drive pihak ketiga seperti lsync, tapi aplikasi itu berbayar dan belum terbukti menerapkan standar keamaan yang terpercaya. Kelebihan Google Drive dibanding Ubuntu One (dan Dropbox) adalah integrasi dengan produk-produk Google yang lain seperti Gmail, Google Doc, Google+ dan lain-lain.

Ubuntu One Desktop dan Mobile

Ubuntu One Desktop dan Mobile

Yuk, mencoba-coba layanan Ubuntu One. Klik: http:/ /goo.gl/o9dSiV

Teknologi Modifikasi Cuaca dan Pawang Hujan

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bukanlah teknologi  yang bisa memindahkan awan hujan dari suatu daerah ke daerah lain. Teknologi ini adalah tentang bagaimana agar suatu daerah yang mempunyai potensi awan hujan yang tinggi tidak terjadi hujan selebat potensi hujan yang sebenarnya,. Teknologi Modifikasi Cuaca akan mengurangi tingginya curah hujan saja.

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)  yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi , berdasarkan apa yang saya baca, menggunakan dua teknik. Pertama: Teknik Powder, yaitu dengan menebar garam di awan sehingga pembentukan awan hujan bisa terjadi lebih cepat. Dengan cara ini diharapkan hujan sudah turun sebelum awan hujan sampai ke suatu tempat. Kedua: Teknik Flair atau Partikel Generator. Teknik kedua ini bertujuan untuk mengganggu pertumbuhan awan hujan. Atau istilahnya dimandulkan. Baca lebih lanjut

Khotbah Jum’at: Menunaikan Hak Jalan

Jum’at sudah beberapa hari berlalu. Jumat yang akan datang pun masih lusa. Tetapi kenapa tiba-tiba saya ingin menulis tentang khotbah Jum’at. Biasanya saya menulis isi khotbah Jumat di blog ini setelah saya selesai beribadah Jumat. Tidak lain karena: khotbah yang disampaikan dengan baik akan lebih lama membekas di dalam ingatan dan diri jamaah. Sekarang sudah hari Rabu. Jadi saya akan menulis jejak-jejak khotbah yang masih “nyantol” di dalam kepala saya.

Khotbah pekan lalu membahas tentang: hak-hak jalan yang dijelaskan oleh Rasulullah kepada sahabat-sahabat yang karena suatu hal tidak bisa menghindari duduk-duduk di jalan. Itu saja yang saya ingat. Selebihnya apa yang saya ingat itu saya pakai sebagai key word di google untuk mencari hadits selengkapnya. Hadits itu begini:

“Janganlah kamu duduk-duduk di atas jalan.”
Maka mereka (para sahabat) berkata, “Sesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincang.”

Nabi menjawab, “Jika kamu tidak dapat beranjak melainkan perlu duduk-duduk, maka berikanlah hak-hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak-hak jalan tersebut wahai Rasulullah?”

Nabi menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu (atau menyakiti) orang, menjawab salam, dan memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mencegah dari kemungkaran.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 8/351, no. 2285)

Ini penjelasan penting bagi saya sendiri. Karena duduk-duduk di jalan termasuk yang sulit saya hindari. Setiap hari saya banyak menghabiskan waktu untuk menunggu angkot. (Sebenarnya saya tidak duduk-duduk di jalan, tetapi di tepi jalan ya)

Menunaikan hak-hak jalan itu sulit. Menundukan pandangan bagi saya sulit. Terlalu banyak ragam orang yang menjadi pemandangan menarik untuk sebentar-sebentar mengangkat pandangan. Tidak mengganggu orang? Rasanya ini pernah saya lakukan, tetapi relatif jarang. Menjawab salam. Untungnya di jalanan di sini jarang-jarang orang mengucapkan salam. Paling-paling menyapa. Jadi saya terbebas dari kewajiban ini

Yang terberat adalah: Memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mencegah kemungkaran…

Wisata Jogja: Grebeg Muludan, Puncak Acara Sekaten

Pemuda dalam foto, yang belakangan saya ketahui berasal dari daerah Wonosobo – Jawa Tengah masih terlihat gemetaran menggenggam benda-benda yang berhasil ia perebutkan dengan ribuan orang lainnya di halaman Masjid Gege Kauman di Yogyakarta. Pemuda asal Wonosobo ini berniat jauh-jauh datang ke Jogja untuk ikut berebut Gunungan Grebeg Mulud pada puncak acara Sekaten yang berlangsung kemarin. (Selasa, 14 Januari 2014/Selasa, 12 Rabiul Awwal 1435 H ) Pemuda ini dan ribuan orang lainnya rela berdesakan untuk berebut Gunungan di bawah terik siang hari karena sebuah kepercayaan. Kepercayaan bahwa apa yang mereka dapatkan dari berebut Gunungan akan membawa berkah. Sehingga mendapatkan kehidupan yang lebih baik, lebih bahagia atau terkabul cita-citanya.

Ini masalah kepercayaan. Tidak perlu dipertentangkan. Anda boleh tidak percaya atau Anda boleh mencobanya.

Grebeg Mulud sebagai Puncak Perayaan Sekaten di Yogyakarta selalu menjadi magnet kuat pariwisata Jogja. Dari tahun ke tahun, acara rutin tahunan yang diselenggarakan di Kraton Yogyakarta-Alun Alun Utara-Masjid Gede Kauman ini, selalu dibanjiri wisatawan yang jumlahnya makin banyak saja. Grebeg Mulud bukan hanya menjadi daya tarik untuk wisatawan lokal, bahkan Grebeg telah lama menjadi destinasi wisatawan asing dari seluruh dunia. Kemarin, saya menjadi “one day tour guide” untuk seorang teman blogger dari Jakarta yang datang ke Jogja untuk membuktikan hebohnya Grebegan ini.

Kata orang, ke Alun-Alun Utara Jogja belum lengkap kalau belum mencicipi Nasi Gurih. Nasi Gurih adalah makanan khas yang banyak dijual di sekitar Alun-Alun dan daerah Kauman. Saya mengajak wisatawan blogger ini untuk sarapan Nasi Gurih Bu Pah di Jalan Kauman sebelah barat Alun-alun. Warung Makan Bu Pah saya pilih karena terkenal enak dan tempatnya nyaman. Harga pun tidak mahal. Harga 2 porsi Nasi Gurih ditambah 2 paha ayam jawa adalah Rp 45.000,- Porsi Nasi Gurih ini saya pikir akan cukup menjadi bahan bakar untuk sepanjang hari berdiri, berdesakan dan berlari-lari di sepanjang acara Grebeg Mulud.

Selesai sarapan, kami segera berjalan kaki menuju sebelah selatan Alun-Alun. Tepatnya di pintu utara Pagelaran Kraton Yogyakarta, tempat dimana acara festival Grebeg dimulai. Sebenarnya saya ingin mengajak kawan saya untuk masuk Kraton, sayang karena tiket sudah ludes terjual, kami memilih untuk berdiri menunggu jalannya festival yang akan dimulai pukul 10:30 WIB.

Grebeg Mulud Festivel

Saya agak khawatir dengan stamina teman saya. Berdiri di bawah terik siang hari sambil berdesakan dan saling injak kaki di tengah ribuan macam bau keringat pasti bukan hal yang mudah. Untungnya kekhawatiran saya tidak terbukti. Pengalaman menonton Grebeg Mulud ternyata memberikan sensasi tersendiri. Apalagi kami mendapat tempat berdiri paling depan di antara penonton Grebeg yang lain. Meski tidak mudah, kami lebih leluasa untuk memotret event Grebeg Mulud yang tersohor ini:

Parade Marching Band dari berbagai jenis berbaga prajurit kraton, yang diantaranya adalah Bergada Patang Puluhan, Bergada Lombok Abang, Bergada Lombok Ijo dan lain-lain sangatlah menarik. Ini bagian dari sejarah kejayaan kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat yang masih bisa kita saksikan sekarang.

Gunungan adalah puncak acara yang ditunggu-tunggu. Ada beberapa Gunungan yang dibawa oleh abdi dalem kraton/prajurit dalam puncak Grebeg Mulud ini. Gunungan-Gunungan itu akan dibagi-bagi di Kepatihan, di Pakualaman dan di halaman Masjid Kauman.

Begitu berjalan Gunungan terakhir, saya segera menarik tangan teman saya untuk segera mengikuti dari belakangan. Mengajaknya bagaimana merasakan sensasi menjadi bagian dari arakan masyarakat yang ingin berebut. Namun di tengah jalan arakan menuju Kepatihan ini saya mengajak teman saya untuk keluar dari arak-arakan ini.

Baca lebih lanjut

Jogging dan Trekking

Hujan di penghujung tahun 2013 sampai awal Januari 2014 ini membuat saya lama tidak lagi jogging tiap minggu pagi. Ini alasan. Alasan yang tidak akan lari bila dicari, hehe. Sebenarnya saya sudah lama tidak jogging karena masalah komitmen. Itu saja.

Menyadari makin lama tidak jogging akan berakibat makin buruk bagi diri saya sendiri, tadi pagi saya memulainya. Cuaca pagi yang cerah merupakan berkah. Teman yang mau menemani jogging adalah berkah yang satunya lagi. Kalau ini sekaligus musibah pula.

Betapa tidak, kalau jogging sendirian saya akan dengan mudah menempuh jarak beberapa kilometer, dengan teman saya harus menyesuaikan dengan kemampuan fisiknya. Menyesuaikan ritme maupun jarak tempuh jogging. Saya harus menurunkan idealisme (baca: ego) dengan berhenti jogging pada kilometer pertama. Kilometer-kilometer berikutnya dilanjutkan dengan walking. Jalan kaki saja.

Jalan kaki juga olah raga bukan, bisa membakar kalori. Jalan kaki tidak sendirian ternyata asyik juga, ada teman ngobrol, sampai tanpa disadari jarak tempuh jalan kakinya sendiri mencapai 7 kilometer-an. Ini selain terbantu ada temannya, pemandangan di kiri kanan jalan yang banyak dihiasi pohonan dan hamparan kebun jagung yang berbunga-bunga menjadi energi tersendiri.

Merasa ada sisa tenaga, kami memutuskan untuk trekking. Baca lebih lanjut

Pemilu 2014, Masyarakat Tidak Bodoh dan Tidak Mau Dibodohi

Apatisme akan Pemilu 2014 bisa menghasilkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas tidak hanya milik orang-orang terpelajar, golongan menengah ngehe dan orang perkotaan. Siapa pun yang jadi wakil rakyat, dari partai apa pun akan saja. Sama-sama akan mengeluarkan banyak uang yang dihamburkan selama masa kampanya. Sama-sama tidak akan membawa perubahan menuju perbaikan. Kepercayaan apatis seperti ini pun saya dapati telah merambah ke desa dimana saya tinggal. Suatu pedesaan di kabupaten Gunungkidul.

Ketidak percayaan masyarakat di desa dimana saya tinggal terhadap para calon wakil rakyat dan wakil rakyat ini membuat rakyat menjadi pragmatis. Pragmatisme itu kini mudah dilihat ketika akhir-akhir ini banyak calon wakil rakyat yang sosialisasi (baca: curi-curi start berkampanye di masyarakat) di lingkungan dimana saya tinggal. Masyarakat kini tidak acuh terhadap program kampanye yang diusung calon wakil rakyat. Mereka tidak percaya janji-janji kampanye, sama sekali.

Misalnya: Di desa dimana saya tinggal, pada bulan lalu ada seorang calon legislatif yang mensosialisasikan pencalonannya. Masyarakat pun tanpa basa-basi langsung bertanya apa yang bisa diberikan sang caleg kepada masyarakat sekarang dalam bentuk yang kongkrit. Poinnya adalah “sekarang” Masyarakat tidak mau percaya apa pun yang dijanjikan akan dipenuhi bila sang calon legislatif terpilih.

Akhirnya antara masyarakat dan sang calon logislatif terjadi kesepakatan. Baca lebih lanjut

Harga LPG Turun Naik

Mulai hari ini harga LPG 12 kg sudah turun. Tepatnya mulai pukul 00:00 wib dini hari tadi harga LPG 12 kg telah diturunkan menjadi Rp 82.200,-. Harga di masyarakat, dipastikan lebih dari itu. Harga di tingkat konsumen konon akan bervariasi sampai di kisaran 90 ribuan rupiah. Harga kenaikan sebelumnya yang banyak diributkan karena dianggap terlalu mahal adalah Rp 117.708,-

Saya mengetahui kabar kenaikan harga LPG 12 kg ini belum lama, setelah ramai dibicarakan di media. Saya sendiri dan tetangga-tetangga di desa dimana saya tinggal tidak terdengar meributkan kenaikan harga LPG 12 kg. Kenapa?

Karena untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di lingkungan dimana saya tinggal, untuk membuat dapur mengepul, bahan bakar yang digunakan kebanyakan adalah kayu bakar. Ada memang yang menggunakan bahan bakar LPG 3kg dan 12 kg di dapur. Tapi tidak banyak. Hanya beberapa rumah tangga saja. Itu pun mereka bisa dengan mudah berganti menggunakan kayu bakar lagi. Di desa dimana saya tinggal kayu bakar banyak tersedia dan relatif mudah didapat. Baca lebih lanjut

Monitor Touch Screen, Memang Perlu?

Saya baru saja menyunting dokumen sekaligus mengevaluasi kecocokannya dengan suatu file presentasi. Phew.. Capeee. Jadi saya istirahat sambil nge-blog dulu. Hitung-hitung ini sebagai relaksasi (dan distraksi) diri.

Untuk memudahkan pekerjaan saya tadi, menyunting dokumen sekaligus memeriksa kecocokannya dengan file presentasi, saya menyambung sebuah layar monitor ke laptop yang saya pakai. Jadi laptop saya berlayar 2. Layar laptop itu sendiri dan sebuah layar tambahan seukuran 19″. Layar laptop saya gunakan untuk menempatkan window text editor, tentu saja dengan window-window lain yang saya butuhkan. Layar eksternal yang 19″ saya gunakan untuk menampilkan presentasi itu secara full screen.

Menggunakan cara ini seolah akan terasa nyaman. Saya bisa melakukan penyuntingan sambil sekali kali melongok ke layar yang lebih gede dimana presentasi ditampilkan. Memang demikian. Lebih enak.

Masalahnya adalah ketika saya ingin mengganti slide berikutnya atau sebelumnya pada tampilan presentasi. Saya harus membawa cursor saya ke monitor ke-2, ke monitor tambahan. Dan bila sudah diganti saya perlu membawa kembali cursor ke monitor/layar laptop. Ternyata cara ini tidak sepenuhnya praktis. Saya sering kagok kemana seharusnya membawa kursor. Mentok ke arah paling kanan atau mentok ke arah layar paling kiri. Seperti ini membuat saya tadi pusing sendiri, sebel dan terkadang kekagokan yang berulang-ulang itu membuat saya ketawa-ketiwi sorangan.

Saya jadi membayangkan: Seandainya layar eksternal, layar ke-2 ini berteknologi touch screen  Pasti saya tidak perlu membawa cursor kemana-mana. Cukup menjulurkan tangan dan memencet tombol next atau prev di layar monitor, hehehe. Sepertinya enak, nyaman dan sangat efisien ya.

Padahal beberapa waktu lalu saya sempat sinis, mempertanyakan apa manfaat laptop yang berteknologi touch screen. 🙂

1 Januari 2014

Ketika orang-orang mungkin masih tidur karena semalam begadang merayakan malam pergantian tahun, memotret pesta kembang api atau hanya ngopi-ngopi sambil bedagang dengan teman-temannya, pagi ini alhamdulillah, saya sudah bisa bangun seperti biasa. Tapi setelah bangun, saya juga bingung mau ngapain dengan kondisi badan yang masih pilek dan belum sepenuhnya pulih sepulang dari dirawat di Rumah Sakit selama hampir 2 hari. Jadi saya sejak awal pagi tadi memilih untuk tidak beranjak dari kamar dan internetan saja seperti biasa.

Browsing-browsing membaca apa saja, membaca-baca update-an twitter, melihat-lihat foto-foto di Facebook dan Google+. Biasa sekali ya, tidak ada bedanya antara tahun baru dengan hari yang biasa-biasa saja.

Saya tadi jadi teringat, suatu pagi tahun baru 21 tahun yang lalu. Tepatnya 1 Januari 1993. Saat itu saya dan pemuda pemudi di desa dimana saya tinggal merayakan tahun baru 1991 dengan hiking ke pantai Baron. Jarak antara desa dimana saya tinggal dengan pantai Baron sekitar 30 km. Itu jelas bukan jarak yang dekat bila ditempuh dengan berjalan kaki. Menempuh jarak sejauh itu dengan berjalan kaki memang lelah, cape, tapi pada jamannya ya enak-enak seneng-seneng saja.

Untuk mengusir rasa cape berjalan kaki, kami pada saat itu mengisi waktu perjalanan dengan ngobrol-ngobrol bersendau guru. Ada yang membawa senapan atau ketapel untuk sesekali membidik burung. Ada yang iseng ngembat buah-buahan mangga dan srikaya yang ditemui di sepanjang jalan. Saat itu belum ada camera digital. Kamera film saja masih mahal. Jadi pemuda-pemudi saat itu tidak senarsis sekarang. Pun tidak menempuh perjalanan sambil twitter-an atau facebook-an. Yakali jaman segitu internet mana ada.

Sarana elektronik yang digunakan untuk mengusir kejenuhan adalah radio tape portable yang bertenaga betere. Saya masih ingat saat itu di sepanjang perjalanan apa yang kami dengarkan di radio adalah siaran kelaidoskop yang disiarkan oleh RRI yang dipancarluaskan oleh semua stasiun radio. Selesai kelaidoskop kalau bukan sandiwara radio ya dipastikan dengerin musik dangdut kalau bosan diganti dengan lagu-lagu rock Indonesia. hehe

Sudah ah bernostalgilanya. Alih-alih selamat tahun baru 2014. Semoga di tahun 2014 ini saya makin rajin ngeblog. 🙂

Kopdar KBJ dan QwordsRoadshow Berlangsung Maksimal

Komunitas Blogger Jogja (KBJ) menyelenggarakan acara kopdar rutin setiap hari Rabu malam. Yang ngetren disebut Raul, atau Rabu Gaul. Namun berbeda dari biasanya, pada penghujung tahun 2013 ini, kopdar rutin KBJ diadakan pada hari Kamis, 26 Desember 2013, bertempat di Angkringan Galau (Joglo Panunggalan) Yogyakarta. Kopdar KBJ kali ini tidak hanya berbeda pada hari penyelenggarannya, lebih dari itu kopdar kali ini menjadi istimewa karena dipadukan dengan acara #QwordsRoadshow. Acara Roadshow 5 kota program dari perusahaan web hosting terkemuka di Indonesia, Qwords.com.

Saya pun sejak awal meniatkan diri untuk menghadiri acara ini. Hari Kamis pukul 5 sore, saya berangkat dari rumah saya di Gunungkidul dengan mengendarai sepeda motor. Saya bermaksud berangkat awal agar bisa tiba tepat waktu di Angkringan Galau. Namun malang tidak bisa ditolak. Kecelakaan sepeda motor yang menimpa saya terjadi di Jalan Wonosari – Jogja di sekitar kecamatan Patuk kabupaten Gunungkidul membuat saya tidak bisa datang tepat waktu. Terjatuh dari sepeda motor, meski tidak sampai menyebabkan luka-luka memar di tubuh membuat saya memilih melanjutkan perjalanan dengan kecepatan hati-hati. Pelan-pelan saja.

Hampir pukul 7 malam saya tiba di Angkringan Galau. Di sana saya mendapati teman-teman komunitas sudah banyak yang berkumpul dan menikmati makam malam. Saya pun tidak mau ketinggalan. Segera mengisi registrasi di meja panitia dan segera mengambil makan malam khas Angkriangan Galau yang tersaji melimpah dan kelihatan enak-enak semua.

Mba Mini GK (member Komunitas Blogger Jogja) MC acara Kopdar KBJ dan #QwordsRoadshow

Mba Mini GK (member Komunitas Blogger Jogja) MC acara Kopdar KBJ dan #QwordsRoadshow

Belum selesai menikmati makan malam, saya mendengar suara khas Mbak Mini GK berbicara di mic. Berarti acara akan segera dimulai. Saya pun buru-buru menyelesaikan makan malam saya untuk menyimak dan me-live tweet jalannya acara. Sulit bukan, bila saya menyimak dan me- live tweet jalannya acara sekaligus sambil makan.

Mba Abel (Tim #QwordsRoadshow) pemandu acara #QwordsRoadshow goes to Jogja

Mba Abel (Tim #QwordsRoadshow) pemandu acara #QwordsRoadshow goes to Jogja

Acara pertama adalah sharing tentang Web Hosting dan Qwords.com. Disampaikan oleh Mas Berry di depan sekitar 60-an blogger Jogja yang sangat antusias. Saya pun khusuk menyimak sharing dari Mas Berry ini. Sebagai seorang blogger yang dari pertama kali nge-blog sampai sekarang masih mengandalkan layanan gratis dari penyedia layanan blogging seperti WordPress.com, Blogspot.com, Tumblr.com dan lain-lain tentu saya penasaran dengan kelebihan, keuntungan dan kekurangan nge-blog dengan hosting sendiri. (self hosted) Pikir saya: siapa tahu suatu saat nanti saya bisa nge-blog secara serius dengan blog yang self hosted dan tidak lagi nebeng layanan blogspot, wordpress, tumblr dan sejenisnya. Syukur-syukur bisa membuat dan mengelola blog/web/portal yang profesional suatu saat nanti. Baca lebih lanjut