Monitor Touch Screen, Memang Perlu?

Saya baru saja menyunting dokumen sekaligus mengevaluasi kecocokannya dengan suatu file presentasi. Phew.. Capeee. Jadi saya istirahat sambil nge-blog dulu. Hitung-hitung ini sebagai relaksasi (dan distraksi) diri.

Untuk memudahkan pekerjaan saya tadi, menyunting dokumen sekaligus memeriksa kecocokannya dengan file presentasi, saya menyambung sebuah layar monitor ke laptop yang saya pakai. Jadi laptop saya berlayar 2. Layar laptop itu sendiri dan sebuah layar tambahan seukuran 19″. Layar laptop saya gunakan untuk menempatkan window text editor, tentu saja dengan window-window lain yang saya butuhkan. Layar eksternal yang 19″ saya gunakan untuk menampilkan presentasi itu secara full screen.

Menggunakan cara ini seolah akan terasa nyaman. Saya bisa melakukan penyuntingan sambil sekali kali melongok ke layar yang lebih gede dimana presentasi ditampilkan. Memang demikian. Lebih enak.

Masalahnya adalah ketika saya ingin mengganti slide berikutnya atau sebelumnya pada tampilan presentasi. Saya harus membawa cursor saya ke monitor ke-2, ke monitor tambahan. Dan bila sudah diganti saya perlu membawa kembali cursor ke monitor/layar laptop. Ternyata cara ini tidak sepenuhnya praktis. Saya sering kagok kemana seharusnya membawa kursor. Mentok ke arah paling kanan atau mentok ke arah layar paling kiri. Seperti ini membuat saya tadi pusing sendiri, sebel dan terkadang kekagokan yang berulang-ulang itu membuat saya ketawa-ketiwi sorangan.

Saya jadi membayangkan: Seandainya layar eksternal, layar ke-2 ini berteknologi touch screen Β Pasti saya tidak perlu membawa cursor kemana-mana. Cukup menjulurkan tangan dan memencet tombol next atau prev di layar monitor, hehehe. Sepertinya enak, nyaman dan sangat efisien ya.

Padahal beberapa waktu lalu saya sempat sinis, mempertanyakan apa manfaat laptop yang berteknologi touch screen. πŸ™‚

Iklan

13 thoughts on “Monitor Touch Screen, Memang Perlu?

  1. Menurut pengalaman saya, yang lebih canggih pada awalnya akan terlihat merepotkan atau tidak terlalu berguna. Tetapi ketika sudah biasa kita pakai dan mendadak tidak bisa digunakan, barulah kita mengeluh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s