Stop Kontak di Jepang dan di Indonesia

Gambar di atas saya comot dari sini. Memperlihatkan bagaimana orang – orang Jepang mengikuti standar keselamatan dalam situasi gempa. Berlindung di bawah meja dan berusaha tidak panik.

Di depan mereka nampak stop kontak. Colokan listrik yang tidak dipasang permanen beserta charger yang terpasang. Ini juga tidak kalah menarik. Karena saya kira colokan listrik, kabel dan charger yang dipasang seperti itu hanya ada di Indonesia dan tidak ada di negara maju. Saya sendiri sering menggelengkan kepala dengan ruwet kabel listrik. Seperti yang pernah saya posting di sini. 😀

Dan sekarang gambar itu saya tempel lagi di bawah ini :

 

Wedang Teh Nasgitel & Pak Beder

Saya sudah berulangkali memposting foto – foto ini dan foto – foto yang mirip baik di blog ini, di blog saya yang ada di sebelah maupun di beberapa social media. Ya, karena saya memang menikmati wedang teh “nasgitel”.

Nasgitel berarti panas, legi (manis), kentel (kental). Sebuah akronim yang dipopulerkan oleh iklan sebuah merek teh yang entah sejak kapan mengudara melalui radio lokal yang pada jamannya akrab bagi keluarga di pedesaan.

Di desa dimana saya tinggal, teh merupakan minuman bagi semua. Bisa dipastikan anda akan mendapati suguhan wedang teh bila bertamu. Teh menjadi minuman default pada pesta tradisional atau rapat rembug desa di balai padukuhan/kelurahan. Bila  tidak minum teh maka anda boleh memesan sesuai selera. Ingin air putih, kopi atau yang lain. Silakan. Asal jangan minta coca cola, fanta atau terlebih vodca martini. Kecuali anda siap dipisuh pisuhi dan diumpat tidak tahu adat unggah ungguh tata krama tata trapsilo. hehe

Baca lebih lanjut

Tidak Percaya Dengan Petugas Pengisian SPBU

Siapa tidak jengkel berlama – lama mengular antri untuk mengisi bensin di SPBU yang mana di musim mudik lebaran ini seolah olah semua motor dan mobil berebut minuman energi bau fosil. Entah itu diguyur hujan entah itu di tengah terik, mau tidak mau ya harus antri. Agar kuda – kuda besi mereka dapat dihela mengantar ke tujuan.

Tidak salah bila semua orang ingin dapat pelayanan cepat. Kalau perlu berebut. Untung ada mekanisme antri. Saya kira kebanyakan orang Indonesia tidak mau antri, kecuali bila terpaksa, termasuk saya tentu saja.

Uniknya ketika di POM bensin pak sopir tidak hanya harus ikhlas ngantri, tetapi juga harus turun dari dashboard kemudi. Apa yang dilakukan seorang pak sopir itu adalah untuk memperhatikan indikator volume pengisian bahan bakar dan jumlah biaya yang harus dibayarkan. Memang, bukan rahasia lagi bila di banyak SPBU banyak petugas – petugas pengisian yang nakal yang mencari THR secara diam – diam secara tidak legal. Tidak tahu apakah cara seperti ini dilakukan karena juragan SPBU tidak mengganti labor hour secara layak, Tunjangan Hari Raya yang tidak comply dengan kebutuhan berlebaran minimum propinsi atau memang itu sudah gawan bayi/ sifat warisan nenek moyang bawaan sejak mereka dilahirkan ke muka bumi yang konon subur tongkat kayu dan batu jadi tanaman itu.

Imaginasi liar saya hanya bisa berandai, bila ke insyaf an terjadi secara masal berjamaah terhadap semua petugas SPBU, dengan asumsi waktu untuk pak sopir turun dari mobil memeriksa indikator pengisian adalah 2 menit maka pengantri ke 30 di suatu pom bensin akan menikmati discount waktu seharga 60 menit.

Kapan mimpi saya itu menjadi kenyataan? Silakan tanya pada gurita Paul yang telah sukses meramal kemenangan pertandingan di Word Cup Africa

Masjid Unik

Bisa dikatakan masjid unik, setidaknya menurut saya. Keunikan masjid ini mudah kita lihat dari interiornya yang di dominasi oleh kayu dan anyaman bambu. Ini merupakan satu – satunya yang pernah saya lihat yang mana masjid – masjid lain biasanya berdinding tembok beton.

Masjid ini saya temui kemarin petang pada saat menunaikan Shalat Maghrib diperjalanan saya dari Imogiri melalui jalan alternatif di desa Terong. Desa yang terletak diperbukitan batas antara Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Sayang kemarin saya lupa mengecek apa nama masjid itu.

Foto diatas saya ambil dengan Camera Ponsel. Jadi tidak bisa sepenuhnya membagikan keartistikan masjid.

Jajan Pasar : Meniran, Tempe Benguk

Jajan Pasar

Jajan Pasar

Jajanan Tempe Benguk

Jajanan Tempe Benguk

Di ujung lintasan jogging saya, ada suatu pasar tradisional. Pasar Paliyan. Bila jadwal jogging sedang beruntung bertepatan dengan hari pasaran. Saya akan menemui suasana riuh hiruk pikuk salah satu dari  roda – roda yang berputar mengantarkan perekonomian kecamatan ini. Utamanya komoditas lokal diperdagangkan di pasar ini.

Berjenis – jenis jajan pasar tersedia disini. Apa yang terlihat di foto, mulai dari meniran, gethuk, gorengan, tahu bacem, sampai tempe bongkrek. Kita bebas memilih milih mana yang cocok dengan selera.

Kabar Duka, MbahAtemo Meninggal

Hari ini jumlah penduduk dusun Karangmojo B telah berkurang satu. Siang nanti jenazah Mbah Atemo Bodil akan dikebumikan di pemakaman umum Tungu. Beliau meninggal dunia di rumah duka, meninggalkan istri tercinta, anak – anak dan cucu terkasih pada kira – kira pukul 16:00 WIB kemarin sore.

Semoga beliau diterima disisi Allah SWT serta semua kebajikannya diperhitungkan sebagai amal shaleh serta mendapatkan pengampunan dan pembebasan dari khilaf yang mungkin pernah diperbuat. Amiin.