ASUS Zenflash, Jangan Takut (Memotret di) Kegelapan

Sebenarnya saya masih belum puas mengeksplorasi fitur-fitur dan keunggulan Asus Zenflash yang diberikan oleh Mba Davina Larissa di Hotel Victoria – Yogyakarta beberapa waktu lalu. Sayangnya saat ini saya tidak bisa lagi bermain-main mengeksplorasi Asus Zenflash lebih lanjut. Asus Zenfone Selfie yang saya pasangkan dengan Zenflash ini, kemarin siang, “disukai” dan diambil orang secara diam-diam.

zenflash

Jadi saya pun pagi ini segera menuliskan pengalaman saya selama menggunakan ASUS Zenflash. Tentu saja tulisan saya ini berdasarkan apa yang saya ingat saja. Saya tidak bisa menyertakan foto-foto yang saya jepret dengan alat bantu Zenflash. Foto-foto di Asus Zenfone Selfie belum sempat saya salin ke komputer. Begitu pula dengan screenshot-screenshot di sana. Ini adalah “efek samping” dari smartphone berkapasitas penyimpanan besar. Smartphone yang sekaligus saya gunakan untuk ngeblog secara mobile. (mobile blogging)

Begini …

Biasanya ketika mendapatkan gadget baru, saya segera melalukan unboxing dan mencoba-cobanya secara langsung. Begitu pula terhadap Zenflash ini. Dengan Zenflash di tangan, mengamatinya, dan membolak-balikannya beberapa lama saya tetap bingung bagaimana cara memasang Zenflash ini dengan Zenfone Selfie. Kalau bagaimana merekatkannya ke badan Zenfone saya bisa langsung tahu. Dengan terpaksa akhirnya saya membuka buka buku manual untuk menemukan bagaimana cara mengurai kabel USB yang dilipat di tubuh Zenflash ini. Nah, ingat pepatah lama. RTFM. Read The F*ck Manual. 😀 Baca lebih lanjut

Sharing Tentang Mobile Blogging dengan OPPO Community

Cerita ini bermula ketika Pihak OPPO Community bertanya kepada Om Yahya berkaitan tentang siapa yang bisa berbicara mengenai Mobile Blogging dan Mobile Photography. Hidung saya pun langsung ditunjuk oleh Om Yahya. Mas Kalil (sebagai representative dari OPPO Community) pun langsung menghubungi saya.

Perlu waktu beberapa lama bagi saya untuk meng-iya-kan. Kalau tema yang diusung, tentang Mobile Blogging dan Mobile Photography, sebenarnya saya memang praktisi hobi di kedua hal tersebut. Sedikit banyak saya tahu. Masalah utamanya, bila tidak karena terpaksa dan hal yang sangat penting saya biasanya agak malas berbicara di depan publik. Masalah lainnya adalah tempat diselenggarakan acara itu, yaitu di WestLake Resto yang terletak di sisi paling barat Yogyakarta. Tempat itu “sangat” jauh dari tempat dimana saya tinggal saat ini, yaitu di Kab. Gunungkidul. Kira-kira 60 km.

Sayangnya, Mas Kalil saat itu berhasil meyakinkan saya bila acaranya bukan formal, ngobrol-ngobrol santai, acara kasual saja.

Di tengah kesibukan saya berkecimpung di dapur pengolahan data di pabrik tempat saya bekerja, saya pun mulai menyiapkan materi. Saya membuat slide presentasi singkat yang saya kerjakan dengan Google Slide. Kenapa menggunakan Google Slide? Ini untuk menyiasati di tengah kesibukan saya. Agar saya selalu bisa sewaktu-waktu di waktu yang tepat melakukan tweak, mengutak-atik slide presentasi itu dengan smartphone saya. Dan ini memang kebiasaan saya mengerjakan banyak hal secara mobile bersenjatakan smartphone. 🙂

Ini adalah slide a la saya:

 

Saya yakin tanpa datang langsung di presentasi saya agak sulit untuk memahami maksud yang saya bawakan. Kenapa? Karena datang langsung mendengarkan saja belum tentu semua orang paham akan semua maksud saya. Tidak apa-apa. Bukan salah mereka. Saya saja lebih banyak banyolan daripada seriusnya.

Saya memang lebih lancar menyampaikan dengan tulisan daripada berbicara dengan lisan. Itulah salah satu alasan kenapa saya lebih betah ngeblog. Itulah kenapa saya lebih banyak menyampaikan gagasan-gagasan dalam bentuk tulisan dan visual.

Tahu akan hal ini, sebelumnya saya sudah menulis tentang Mobile Blogging di blog ini. Tulisan saya itu bisa dibaca di:

Nah bagi yang tidak bisa datang di West Lake Cafe Yogyakarta, pada Sabtu tanggal 16 Januari 2016 silakan baca tulisan yang saya link di atas. Begitu pun bagi teman-teman yang datang tapi tetap belum mengerti apa maksud yang ingin saya sampaikan.

Slide Presentasinya sendiri bisa diunduh di SINI.

 

 

Zenfone 5 vs Upgrade ke Zenfone 2 Laser

image

Beberapa waktu yang lalu seorang teman mendatangi saya dengan membawa handphone Zenfone 5 dan Tongsis yang baru saja ia beli. Ia menanyakan kepada saya kenapa shutter release yang ada di Tongsis yang baru dibeli itu tidak bisa digunakan sebagai shutter camera Zenfone 5 -nya. Padahal ia buru-buru ingin berfoto selfie ria.

Saya sendiri tidak punya Tongsis. Jadi saya tidak bisa langsung menjawab pertanyaan tersebut. Apa yang bisa saya lakukan terlebih dahulu adalah mempelajari bagaimana Zenfone 5 dipasangkan ke Tongsis. Melihat bagaimana shutter release di tongsis itu disambungkan dengan sebuah kabel ke Zenfone 5 melalui konektor 3,5mm yang biasanya dipasangi headphone, bukan dengan koneksi bluethooth. Shutter release di Tongsis itu memang tidak bekerja ketika saya coba sendiri. Hmmm

Saya pun mengambil handphone ASUS Zenfone 2 Selfie saya dan memasangkannya dengan Tongsis milik teman itu. Dan, rupanya shutter release di Tongsis ini bekerja dengan baik.

“Kalau suka selfie-selfie -an nih pakai Zenfone Selfie. Mau dijepret pakai tongsismu dan pasti fotonya jauh lebih bagus. Secara camera depannya 13 MP dan ada laser focus nya” ucap saya sambil tertawa-tawa.

Teman saya mengamat-amati Zenfone Selfie saya. Dia nampak tertarik. Tapi tidak jadi tertarik setelah tahu harganya hampir 3 jutaan. Menurutnya lagi, dia lebih suka handphone yang ukurannya 5″ ke bawah. Zenfone Selfie yang 5,5″ susah masuk kantong. Benar juga sih, Saya sendiri sering mengeluarkan Zenfone Selfie dari kantong celana ketika ingin duduk-duduk. Menaruhnya di meja atau memasukkannya ke dalam tas.

Untuk teman saya itu kemudian saya menyarankan untuk meng-upgrade Zenfone 5 -nya dengan Zenfone 2 Laser (ZE500KL). Alasannya: ukuran layarnya 5″, persis dengan Zenfone 5 yang sekarang dimiliki (1), berikutnya: harga tidak mahal, kira-kira 1,8 juta rupiah saja. (2)

Sebenarnya bukan dua di atas itu saja alasan saya menyarankan upgrade ke Zenfone 2 Laser ZE500KL. Berikut ini adalah alasan berikutnya:
Baca lebih lanjut

Membiasakan Diri dengan Sepeda Motor

11357413_1653620451583119_875234900_n

Yamaha All New Soul GT

Awal bulan Ramadhan tahun lalu saya memutuskan untuk membeli Sepeda Motor yang akan saya gunakan untuk menunjang mobilitas saya sehari-hari. Untuk menggantikan angkot (transportasi publik) yang makin lama makin tidak handal saya gunakan untuk mengejar terutama absen sidik jari di pabrik. Setelah melalui riset kecil-kecilan (halah) dengan googling, tanya-tanya pengalaman penggunaan teman-teman saya, sampai mencoba beberapa tipe dan jenis sepeda motor, sebuah Yamaha All New Soul GT akhirnya membuat hati saya tertambat.

Kali ini saya tidak akan menulis betapa menyebalnya angkot atau menulis review tentang sebuah produk otomotif Sepeda Motor Yamaha Scutic All New Soul GT. Saya hanya akan menuliskan pengalaman saya sebagai orang yang sehari-hari sebelumnya tidak bersepeda motor yang tiba-tiba mengandalkan sepeda motor sebagai andalan dalam bermobilitas.

Bila menggunakan sepeda motor untuk bermobilitas menjadikan saya lebih hemat uang dan hemat waktu, itu sangat betul. Untuk mencapai suatu tempat di kota Jogja dari rumah saya yang jaraknya kira-kira 40 km dengan sepeda motor bisa saya tempuh dalam antara 60 menit sampai 80 menit. Bila dengan angkot dan bus Antar Kota Dalam Propinsi per hari saya terbiasa mengeluarkan uang puluhan sampai seratusan ribu rupiah per hari, dengan sepeda motor paling boros saya hanya menghabiskan uang sekitar 30 ribu rupiah. ( 3 liter pertamax).

Apa yang agak berbeda adalah ketika turun hujan saya mau tidak mau harus mau agak basah sampai basah kuyup. Kebiasaan sayang yang berubah adalah: jalan kaki dari rumah ke tempat pemberhentian bus/angkot. Dari apliasi Health di iPhone saya tahu betapa drastis jumlah langkah kaki karian saya. Ini perlu perhatian serius. Kebiasaan membaca dan bermain social media ketika menunggu angkot dan menunggu angkot sampai ke tempat tujuan kini tidak bisa saya lakukan. Tidak beradap tentu bila saya mainan handphone sambil mengemudi. Akan membahayakan keselamatan diri dan orang lain di jalan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu catatkan di sini sebagai pengalaman saya bersepeda motor: Baca lebih lanjut

Hand on Review Oppo R7s Gold

Selama lebih dari satu bulan terakhir di linimasa baik di Facebook maupun di Twitter saya lihat deras berseliweran tanda pagar atau hashtag #AllAboutFlash dan menangkan sebuah smartphone Oppo R7s. Ya, lomba yang diselenggarakan oleh Oppo Community itu banyak diikuti oleh teman-teman Facebook maupun teman-teman Twitter saya.

Batas waktu pengiriman karya lomba blog tersebut sepertinya sudah berakhir. Kini mungkin waktunya teman-teman menunggu dengan harap-harap cemas apakah ia akan keluar sebagai pemenang atau bila belum silakan mencoba lagi pada kesempatan yang akan datang. Nah, sambil menunggu hadiah dari Oppo tiba di meja, silakan teman-teman membaca review singkat Oppo R7s yang saya tulis. Kebetulan selama seminggu saya beruntung bisa bermain-main dengan review unit Oppo R7s yang dikirim oleh pihak Oppo.

R7s merupakan varian dari seri Oppo R7, yang bersaudaraan dengan seri Oppo R7 lite dan Oppo R7s plus yang berukuran layar lebih bongsor. Membuka kotak paket pengiriman unit Oppo R7s yang berukuran lebih besar dari biasanya saya mendapatkan isinya yang cukup istimewa. Kotak pengiriman itu berisi dus Oppo R7s warna rose gold, kaos Oppo Community, Topi dan Buku Agenda warna hijau yang keseluruhan memberi tema modern sekaligus sangat muda.

Saya pun tidak sabar untuk segera melakukan unboxing. Di dalam dus warna putih itu berisi: 1 unit smartphone Oppo R7s, 1 unit VOOC Charger, 1 unit headset dan 1 nano SIM ejector. Mencoba menyalakan unit Oppo R7s ternyata smartphone itu baterenya sudah diisi penuh sebelum dikirimkan ke saya. Pengalaman  dimulai dengan  sebuah smartphone yang mampu melakukan booting dalam waktu cepat. Mengkoneksikan R7s ke wi-fi hotspot dan memasukkan Google ID agar smartphone ini selekasnya bisa berguna. Baca lebih lanjut

BARON TECHNO PARK Destinasi Wisata Edukasi di Gunungkidul

Baron Techno Park di Gunungkidul, tempat dimana energi baru dan terbarukan saat ini dikaji, diteliti dan dikembangkan.

Gunungkidul tersohor akan pantai pasir putih yang eksotis, pegunungan karst yang khas untuk menikmati sunset dan sunrise, gua dengan stalaktit dan stalakmit serta keunikan yang tidak ada duanya, curuk dan air terjun, pun budaya lengkap dengan adat istiadat kejawaannya.

Namun keberadaan Gunungkidul sebagai destinasi wisata edukasi belum banyak dilirik orang. Padahal di bumi Dhaksinarga ini telah dibangun sarana uji terap, edukasi dan wisata teknologi pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Baron Techno Park yang dibangun dengan dana hibah NORAD – Norwegia pada tahun 2009 di Pantai Parang Racuk (sebelah barat Pantai Baron) ini keberedaannya memang belum begitu banyak diketahui oleh bahkan masyarakat Gunungkidul sendiri.

img20160110071721.jpg

Baron Technopark Gunungkidul

Saya memang sudah agak lama mendengar kabar di Parang Racuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut. Akan tetapi, Minggu pagi, 10 Januari 2016 adalah untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Techno Park yang hanya berjarak kurang lebih 23 km dari rumah dimana saya tinggal, yaitu di Kec. Paliyan, Kab. Gunungkidul.

Saat itu masih cukup pagi ketika saya selesai menuntaskan latihan lari pertama saya di awal tahun ini. Hitung-hitung untuk menghadiahi diri yang berhasil mengalahkan rasa malas setelah libur (latihan) akhir tahun, saya pun menuju ke kompleks Techno Park yang jaraknya cukup saya tempuh dalam hitungan belasan menit.

2016-01-10 10.19.26 1.jpg

Menara Prasasti Jam di Baron Techno Park

img20160110073350.jpg

Prasasti Jam di Baron Techno Park

Baron Techno Park nampak sepi ketika saya meminta ijin masuk kepada petugas keamanan yang sedang berjaga. Bapak Petugas Jaga itu mempersilakan saya dengan baik dan menunjukkan saya tempat dimana bisa memarkir kendaraan.

Apa yang pertama kali menarik perhatian saya di kompleks Techno Park adalah beberapa menara Kincir Angin dan Solar Panel yang nampak dari kejauhan. Baca lebih lanjut

Aplikasi Android Wajib Untuk Mobile Blogging

Saya percaya di tahun 2016 yang masih gres ini, banyak  yang sudah mengganti smartphone lamanya dengan yang baru dengan spefisikasi yang lebih tinggi. Bila belum segerakanlah. 🙂 Tidak baik menunda-nunda. Namun bagi yang masih setia dengan smartphone lamanya tidak perlu berkecil hati. Di sini saya akan berbagi tips untuk mengoptimalkan smartphone kita untuk mobile blogging. Untuk membantu meningkatkan produktifitas ngeblog kita dan untuk membantu membulatkan tekad bagi yang baru akan memulai nge-blog.

Kali ini saya akan membagikan aplikasi apa saja yang wajib/setidaknya yang sebaiknya dipasang di smartphone agar kita dimudahkan dalam melaksanakan mobile blogging.

1. Blog Editor

Ini adalah aplikasi yang paling kita butuhkan untuk nge-blog dengan smartphone. Aplikasi ini akan memudahkan kita dalam menulis artikel/menulis blogpost/posting untuk diterbitkan di blog kita. Apa platform blog yang kita gunakan dan dimana blog kita di-host yang akan mendasari kita dalam memilih aplikasi Blog Editor yang akan dipasang di smartphone kita.

Blog saya ini, http://jarwadi.me, menggunakan platform WordPress dan di-host di WordPress.com. Jadi saya memasang WordPress for Android di smartphone android yang saya gunakan. Untuk diketahui aplikasi WordPress for Android pun bisa digunakan untuk mengelola blog yang berplatform WordPress namun dihosting di server kita sendiri (self hosted).

Aplikasi WordPress for Android mempunyai fungsi yang lengkap yang akan memberi banyak kemudahan bagi blogger. Aplikasi ini selain mempunyai fungsi utama untuk membuat blogpost, juga dilengkapi fitur untuk menampilkan statistik, mengelola komentar, mengikuti blog WordPress teman-teman kita, melakukan serangkaian pengaturan, dan lain-lain.

pixlr_20160111075959828_20160111084539464.jpg

Blogger, Medium and Tumbr App for Android on Oppo R7s

Platform blog lain seperti Blogspot, Tumblr, Medium dan beberapa yang lain pun mempunyai aplikasi android tersendiri. Di smartphone saya saat ini setidaknya telah saya pasangi WordPress, Blogspot, Tumblr dan Medium. Iya, saya saat ini mengelola beberapa blog baik yang saya punyai sendiri atau dimana saya menjadi kontributor saja.

2. Keyboard

Namanya mobile blogging, pasti apa yang paling banyak kita lakukan adalah mengetik. Itulah kenapa keyboard yang memudahkan kita ketika mengetik dan menyunting tulisan sangatlah vital keberadaannya. Bagi saya keyboard yang baik adalah keyboard yang bisa membantu kita menulis dengan cepat, mengurangi kesalahan ketik (typo) dan cukup ergonomis atau sesuai dengan jari-jari kita.

Keyboard favorit saya adalah Swiftkey Keyboard, tentu Anda boleh berbeda dengan saya. Itulah kenapa dalam setiap smartphone yang baru saya gunakan hampir pasti aplikasi ini yang pertama saya pasang.

Alasan utama saya menyukai Swiftkey adalah layout keyboard yang saya rasa simple, ergonomis dan terhubung dengan layanan cloud yang didukung dengan teknologi pengenalan pengetikan yang pintar.

Baca lebih lanjut

Mau Lebih Hemat Membeli Bluetooth Headset secara Online?

Pada kesempatan-kesempatan sebelumnya saya telah menceritakan pengalaman-pengalaman menikmati konten multi media dari sisi pribadi dengan menggunakan perangkat-perangkat gadget pribadi saya pula. Tengok cerita saya di sini atau di sini.

polytron

Puas dengan menikmati film, musik, podcast dan konten multi media lainnya dengan menggunakan gadget pribadi yaitu tablet dan smartphone, rasanya pada kesempatan berikutnya saya ingin membawa pengalaman tersebut ke tingkatan yang baru. Pada tingkatan tersebut, saya ingin menikmati konten multimedia dengan tingkat kualitas audio yang lebih baik dan bebas belitan kabel atau secara wireless.

Singkatnya saya menginginkan sebuah bluetooth wireless head set dengan kualitas suara high fidelity (hi-fi) yang saat ini belum saya punyai. iPhone 5s hanya menyertakan earpod berkabel yang meskipun kualitas suaranya cukup baik namun koneksi kabelnya seringkali merepotkan dan ketika mengenakannya saya menjadi nampak tidak fashionable. Apalagi Asus Zenfone dan Asus Zenpad yang saya miliki, keduanya bahkan tidak menyertakan headset/earpod dalam paket penjualan yang saya terima.

Mau tidak mau saya harus membeli lagi perangkat bluetooth wireless headset secara terpisah. Baca lebih lanjut

Menikmati Konten Multimedia dengan ASUS Zenpad 7.0 Z370CG

Menjelang liburan pergantian tahun ini hadir anggota baru di keluarga gadget di rumah saya. Anggota keluarga baru itu adalah ASUS Zenpad 7.0 Z370CG. Seperti yang telah saya ceritakan dalam tulisan saya terdahulu di sini, tablet baru ini telah saya setup dengan mudah dan cepat sehingga bisa segera saya gunakan untuk menemani liburan akhir tahun yang akan lebih banyak saya habiskan di rumah. Alhamdulillah, anggota baru ini mampu membawa warna tersendiri bagi masa liburan saya.

wp-1451961545980.jpegNah, kali ini saya akan menceritakan keseluruhan pengalaman saya menikmati konten multimedia dengan tablet berlayar 7.0″.

Dalam paket penjualan yang saya terima ASUS Zenpad 7.0 Z370CG dikemas dengan menyertakan sebuah Audio Cover. Ini menurut saya istimewa karena biasanya perangkat asesoris dijual dalam paket terpisah. Sebuah charger 3A 5V pun tak luput disertakan dalam paket penjualan tablet ini. Memang tanpa power charger, tablet ini mau di-charge menggunakan apa? hehe. Sayangnya, earphone/headset untuk menikmati konten audio secara lebih personal luput tidak disertakan dalam paket. Ini mungkin gaya ASUS, karena di Zenfone yang legendaris pun tidak pernah menyertakan headset/earphone dalam paket penjualannya.

Saya membeli kartu perdana XL paket 2 GB untuk saya pasang di tablet ini. Agar nanti saya mudah memasang aplikasi-aplikasi yang saya butuhkan. Sebuah micro SD card berkapasitas 32 GB class 10 merk Trancend saya beli dari toko asesoris terdekat di kota saya. Saya ingin ruang penyimpan yang leluasa untuk menampung konten-konten multimedia yang ingin saya nikmati.

Untuk memasang SIM Card dan SD Card saya harus terlebih dulu membuka back cover. Ini harus dilakukan dengan cukup hati-hati karena pengait di back cover terasa sangat kuat ketika saya coba menyisirnya dengan kuku jempol saya. Memasang SIM Card dan SD Card -nya sendiri bisa dilakukan dengan cukup mudah. Apa yang terpenting diperhatikan adalah gambar penunjuk arah di masing-masing slot SIM maupun SD. Awas jangan terbalik. Toh kalau terbalik kedua kartu ini tidak akan bisa masuk dengan baik.

Penasaran dengan kualitas suara yang dibawa oleh Audio Cover, kali ini Cover ASUS Zenpad ini segera saya pasang menggantikan back cover bawaan. Sedikit catatan saya adalah bahwa Audio Cover harus dipasang secara cermat dengan hati-hati. Pasang dengan mulai memasukkan pengait di sisi bawah, kemudian berturut-turut dirapatkan dibagian atas. Tekan dengan lembut sampai terdengar bunyi “klik”.

Baca lebih lanjut

5 Tips Memilih Operator Seluler Untuk Smartphone

opselBeberapa teman saya heran dan sering bertanya-tanya kenapa saya menggunakan beberapa operator seluler sekaligus. Apa tidak ribet? Pertanyaan berikutnya kenapa saya tetap memakai layanan operator seluler pasca bayar dari operator pelat merah yang terkenal paling mahal itu.

Jawaban saya untuk pertanyaan pertama adalah: karena saya mempunyai beberapa gadget. Kalau saya hanya punya satu gadget pasti saya hanya akan menggunakan layanan dari satu operator seluler. Benar ngga? Keuntungan menggunakan beberapa operator seluler yang berbeda-beda adalah bila satu operator sedang mengalami gangguan, saya akan tetap bisa eksis dengan operator yang sedang tidak gangguan. Semua gadget saya mempunyai fitur portable hotspot/tethering yang sangat memudahkan.

Jawaban untuk pertanyaan kenapa saya setia menggunakan nomor pasca bayar dari operator pelat merah (Telkomsel) yang terkenal mahal adalah: karena nomor itu sudah lama saya gunakan. Mengganti nomer handphone utama bagi saya ibarat membakar investasi dan branding yang sudah puluhan tahun saya semai. (1) dan Operator ini mempunya coverage area tak tertandingi. Jadi kemana pun saya bepergian kemungkinan blank spot nya lebih minim. (2)

Berikut ini adalah tips-tips dari saya tentang memilih operator seluler untuk koneksi internet gadget-gadget kita. Saya percaya sekarang ini setiap satu orang mempunyai lebih dari sebuah gadget.

1. Posisi Menentukan Prestasi

Kenali lokasi kita tinggal. Kenali daerah dan lokasi dimana sehari-hari kita beraktifitas baik itu kantor, pabrik, atau tempat favorit dimana kita asyik mengerjakan pekerjaan kita (bagi freelancer).

Di lokasi-lokasi dimana kita lebih banyak beraktifitas, kenali operator apa saja yang sinyalnya di situ bagus. Bagaimana caranya? Anda bisa mengamati operator apa saja yang digunakan oleh rekan-rekan, kolega dan orang-orang di sekitar Anda. Tanya dan amati operator apa saja yang sinyalnya bagus dan koneksi internetnya cepat dan stabil. Bila cara ini belum memuaskan, pergilah ke counter pulsa/simcard, mintalah rekomendasi dan beli beberapa simcard dari operator yang berbeda sekaligus. Ujilah masing-masing operator dengan beberapa skenario, misal untuk melakukan panggilan, untuk SMS, untuk browsing, untuk streaming, untuk download, chatting dan sebagainya. Lakukan hal itu di beberapa tempat berbeda dan dalam rentang waktu yang berbeda. Operator seluler tertentu bagus untuk koneksi internet pada siang hari dan buruk pada malam hari, dan sebaliknya.  Baca lebih lanjut